Bombana Effect: Menguatkan Mutu dari Hulu untuk Menembus Pasar Ekspor

  • Whatsapp
Pada Senin yang cerah, bersama tim Inspektur Mutu dari Badan Mutu KKP Kendari, kami mengunjungi salah satu pemasok produk perikanan di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kunjungan ini bukan sekadar kegiatan pemeriksaan, melainkan bagian dari upaya pendampingan dan penyadartahuan kepada pelaku usaha mengenai pentingnya sistem jaminan mutu dalam distribusi hasil perikanan.

Oleh: Muhammad Zamrud

PELAKITA.ID – Di sektor perikanan, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk saat tiba di pasar internasional. Fondasi utamanya justru dibangun jauh di hulu, sejak ikan dan udang pertama kali ditangani, disimpan, hingga didistribusikan.

Karena itu, standar mutu tidak boleh dipahami sebagai kewajiban administratif semata, melainkan sebagai budaya kerja yang harus dijaga oleh seluruh mata rantai usaha perikanan.

Di mana pun berada, saya selalu menggaungkan pentingnya penerapan standar mutu sejak awal proses produksi sebelum produk dieksekusi di hilir.

Rantai dingin harus terjaga dengan baik, distribusi dilakukan secara higienis, dan seluruh proses pengendalian dilaksanakan melalui pendekatan berbasis risiko. Mutu bukan hanya urusan pabrik pengolahan atau eksportir, tetapi menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari nelayan, pembudidaya, pemasok, pengangkut, hingga pelaku usaha pengolahan.

Pada Senin yang cerah, bersama tim Inspektur Mutu dari Badan Mutu KKP Kendari, kami mengunjungi salah satu pemasok produk perikanan di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kunjungan ini bukan sekadar kegiatan pemeriksaan, melainkan bagian dari upaya pendampingan dan penyadartahuan kepada pelaku usaha mengenai pentingnya sistem jaminan mutu dalam distribusi hasil perikanan.

Di daerah ini, kami bertemu dengan Ibu Maryana, seorang pelaku usaha yang tetap bersemangat meskipun usianya tidak lagi muda.

Dengan ketekunan dan pengalaman yang dimiliki, beliau memasok bahan baku udang segar ke Unit Pengolahan Ikan (UPI) di Kendari yang produknya kemudian diekspor ke Singapura.

Kisah Ibu Maryana menunjukkan bahwa daya saing ekspor Indonesia tidak hanya bertumpu pada perusahaan besar, tetapi juga pada pelaku usaha kecil dan menengah yang bekerja dengan penuh dedikasi di daerah.

Tugas kami sesungguhnya sederhana, tetapi sangat penting. Kami hadir untuk mengawal, mendampingi, dan mempermudah proses sertifikasi bagi pelaku usaha.

Setelah itu, langkah berikutnya adalah membantu mereka naik kelas, agar mampu memenuhi standar yang lebih tinggi dan memiliki akses pasar yang lebih luas. Pendampingan seperti ini menjadi bagian penting dari pembangunan ekosistem mutu yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, kami juga mengajak para penyuluh perikanan dan Dinas Perikanan Kabupaten Bombana untuk memperkuat sinergi. Pembinaan dan pengendalian mutu harus berjalan beriringan.

Tidak boleh ada sekat antarinstansi ataupun ego sektoral yang menghambat pelayanan kepada masyarakat. Sebaliknya, ruang diskusi harus dibuka, pengetahuan perlu dibagikan, dan praktik-praktik baik harus direplikasi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

Bombana memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan perikanan yang berorientasi ekspor tidak hanya membutuhkan sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga tata kelola mutu yang kuat dan kolaborasi yang erat. Ketika pemerintah, pelaku usaha, penyuluh, dan masyarakat bergerak dalam irama yang sama, maka daya saing perikanan daerah akan tumbuh secara berkelanjutan.

Dari Bombana, semangat itu terus kita gaungkan. Mari menguatkan mutu dari hulu, memperkuat kolaborasi, dan bersama-sama mengencangkan ekspor perikanan Sulawesi Tenggara menuju pasar dunia.