- Banner-banner yang dipamerkan tidak hanya memperlihatkan nama program dan dokumentasi kegiatan, tetapi merekam proses perjumpaan antara para peneliti dan pengabdi dengan masyarakat, persoalan lokal, potensi sumber daya, serta upaya bersama untuk menemukan solusi.
- Unhas alokasikan sekitar Rp2 miliar untuk mendukung lebih dari 100 program pengabdian kepada masyarakat yang dikompetisikan. Dari total 103 pengabdi yang memperoleh pendanaan, sebanyak 100 tim melaksanakan kegiatan di Kabupaten Bulukumba dan Selayar.
- Selain pendanaan internal, LPPM Unhas juga mengelola sejumlah program pengabdian dengan dukungan eksternal. Pada tahun ini, sekitar 30 program memperoleh pendanaan pengabdian dari kementerian dengan nilai total sekitar Rp1,7 miliar.
PELAKITA.ID — Pelaksanaan 50 kegiatan riset dan pengabdian kepada masyarakat yang difasilitasi melalui hibah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin di Kabupaten Kepulauan Selayar pada tahun 2026 memperlihatkan satu hal penting: perguruan tinggi hadir dengan keragaman ilmu, pendekatan, dan solusi yang saling melengkapi.
Dari pulau-pulau hingga desa-desa di daratan Selayar, kegiatan yang dijalankan para dosen dan mahasiswa menyentuh persoalan pangan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, pendidikan, kebudayaan, teknologi, demokrasi, hingga pengembangan pariwisata.
Puluhan kegiatan tersebut membentuk sebuah mozaik besar tentang bagaimana pengetahuan akademik diterjemahkan menjadi aksi nyata sebagaimana dipamerkan di Ruang Pola Kantor Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, Selasa 1 September 2026.
Banner-banner yang dipamerkan tidak hanya memperlihatkan nama program dan dokumentasi kegiatan, tetapi merekam proses perjumpaan antara para peneliti dan pengabdi dengan masyarakat, persoalan lokal, potensi sumber daya, serta upaya bersama untuk menemukan solusi.
Salah satu kelompok kegiatan terbesar berkaitan dengan penguatan ekonomi masyarakat dan pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal.
Di bidang perikanan, inovasi mesin pembuat pelet ikan dikembangkan di Desa Bontosunggu sebagai jawaban terhadap persoalan tingginya biaya pakan.
Teknologi tersebut didampingi dengan pelatihan pengolahan bahan baku hingga menghasilkan pakan siap digunakan, sehingga masyarakat memiliki peluang mengurangi ketergantungan terhadap pakan dari luar sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.
Pemberdayaan ekonomi juga diarahkan kepada kelompok perempuan melalui pengembangan model rekayasa dan ekonomi berbasis digitalisasi di Kecamatan Pasimasunggu.
Kegiatan ini memperkuat keterampilan perempuan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pengembangan usaha dan pemasaran produk.
Pada saat yang sama, pengembangan produk olahan hasil perikanan dilakukan melalui inovasi bakso cumi, bakso ikan teri, dan nugget ikan teri. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengolahan produk, tetapi juga menghubungkan sumber protein lokal dengan penguatan ekonomi keluarga serta percepatan penurunan stunting.
Penguatan usaha kecil juga terlihat melalui pendampingan produksi dan peningkatan kualitas keripik pisang di Kecamatan Benteng.
Pendampingan mencakup identifikasi persoalan, pengembangan kemasan, perbaikan desain, simulasi produksi, hingga evaluasi produk. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas, masa simpan, nilai jual, dan daya saing produk lokal agar usaha masyarakat mampu berkembang secara lebih profesional.
Sektor pertanian, peternakan, dan pemanfaatan sumber daya hayati juga menjadi perhatian. Penerapan Zero Waste System di Kelompok Tani Permata Hijau, Desa Bontolempangan, mengintegrasikan pertanian dan peternakan melalui pemanfaatan limbah feses dan urin ternak menjadi pupuk cair dan kompos.
Pendekatan ini mengurangi limbah sekaligus menciptakan sistem produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kegiatan lain mendorong transfer teknologi budidaya jamur kuping berbasis limbah lignoselulosa kepada masyarakat Desa Laiyolo Baru.
Limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal didorong menjadi bahan produktif melalui pelatihan pembuatan baglog, pengembangan demplot, pendampingan budidaya, hingga proses panen.
Sementara itu, pemanfaatan kayu kelapa sebagai bahan pembuatan stup lebah tanpa sengat dikembangkan untuk mendukung budidaya lebah Trigona dan menciptakan alternatif pemanfaatan sumber daya kelapa yang tersedia di masyarakat.
Bidang kesehatan, gizi, dan pencegahan stunting menjadi salah satu fokus penting dari rangkaian kegiatan LPPM Unhas. Program Gerakan Desa Bebas Stunting di Desa Bonerate mengangkat pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari strategi perbaikan gizi anak dan keluarga.
Edukasi kesehatan dan gizi, penguatan peran ibu serta keluarga, pemantauan tumbuh kembang anak, dan pengenalan bahan pangan bergizi dilakukan untuk membangun pemahaman bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak dini dan dilakukan secara berkelanjutan.
Tema yang sama dikembangkan melalui pemberdayaan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak berbasis pangan lokal.
Penguatan pengetahuan dan keterampilan keluarga diarahkan agar bahan pangan yang tersedia di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Berbagai kegiatan ini saling melengkapi dengan pengembangan produk olahan perikanan yang kaya protein dan dapat mendukung perbaikan konsumsi pangan keluarga.
Di bidang kesehatan remaja, Program GESIT atau Gerakan Edukasi Bebas HIV Terpadu memberikan edukasi kepada pelajar SMA mengenai HIV/AIDS.
Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun perilaku pencegahan dan mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS.
Pendekatan yang digunakan mencakup edukasi interaktif, pembentukan peer educator, konseling, serta evaluasi perubahan pengetahuan dan perilaku melalui pengukuran sebelum dan sesudah intervensi.
Inovasi kesehatan juga diterapkan dalam edukasi kesehatan gigi berbasis teknologi digital. Pemanfaatan Virtual Reality dan Augmented Reality digunakan untuk memperkuat kapasitas kader Posyandu dalam menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat pesisir.
Teknologi tersebut menghadirkan cara belajar yang lebih interaktif dan mudah dipahami, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi digital dapat diterapkan secara kontekstual dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Kegiatan pengabdian LPPM Unhas turut memperlihatkan perhatian pada penguatan karakter, kepedulian sosial, dan pembangunan generasi muda.
Edukasi pemeliharaan hewan diarahkan untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab, disiplin, empati, dan kepedulian terhadap makhluk hidup. Pendidikan mengenai kebutuhan dasar, kebersihan, kesehatan, dan kesejahteraan hewan digunakan sebagai media pembelajaran karakter bagi peserta.
Generasi muda juga menjadi sasaran penting dalam program pemberdayaan Gen-Z untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Melalui edukasi partisipatif dan aksi berbasis komunitas, generasi muda diperkenalkan pada persoalan perubahan iklim, kesiapsiagaan bencana, penanaman mangrove, dan pengelolaan sampah.
Penggunaan media inovatif seperti komik dan permainan bertema kebencanaan memperlihatkan upaya untuk menyampaikan isu yang kompleks dengan cara yang lebih mudah diterima oleh kalangan remaja.
Di bidang lingkungan dan keberlanjutan, kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga berbasis komunitas di Kelurahan Benteng Utara memperkenalkan prinsip ekonomi sirkuler.
Masyarakat didorong untuk memulai dari pemilahan sampah, pengolahan dan pemanfaatan kembali, hingga pengembangan nilai ekonomi. Sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi dilakukan untuk membangun perubahan perilaku sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola persoalan sampah secara mandiri.
Program Gerakan Menanam Lima Juta Kelapa atau GEMERLAP di Desa Bontomaranu juga menunjukkan keterhubungan antara lingkungan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan keluarga. Kader PKK diperkuat perannya sebagai penggerak masyarakat dalam penanaman dan pemanfaatan sumber daya kelapa. Pendekatan tersebut tidak hanya berorientasi pada kegiatan menanam, tetapi juga membangun pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya sumber daya lokal bagi masa depan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat.
Sementara itu, bidang pendidikan, literasi, dan pengembangan kapasitas memperoleh perhatian melalui program peningkatan keterampilan menerjemahkan teks budaya berbasis kearifan lokal bagi guru MGMP Bahasa Inggris SMA di Kecamatan Benteng.
Melalui pendampingan, workshop, coaching clinic, dan penyelesaian karya, guru didorong untuk lebih mandiri dalam mengembangkan bahan ajar yang kontekstual.
Kearifan lokal Selayar dengan demikian tidak hanya menjadi objek pembelajaran budaya, tetapi dapat diterjemahkan dan diperkenalkan melalui bahasa global.
Aspek literasi juga berkembang dalam bentuk literasi politik di era media sosial. Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya kemampuan menyaring informasi, mengenali hoaks dan misinformasi, serta menggunakan media sosial secara cerdas dalam kehidupan demokrasi.
Ruang digital dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan publik yang membutuhkan warga dengan kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab.
Perlindungan seni, budaya, dan kekayaan intelektual juga menjadi bagian dari spektrum pengabdian LPPM Unhas. Kegiatan yang dilakukan di Kelurahan Benteng memberikan pemahaman tentang pentingnya pencatatan dan perlindungan karya budaya melalui berbagai instrumen Kekayaan Intelektual.
Masyarakat diperkenalkan pada perlindungan hak cipta, merek, desain industri, indikasi geografis, dan kekayaan intelektual komunal. Melalui pendekatan tersebut, budaya lokal tidak hanya dilihat sebagai warisan yang harus dijaga, tetapi juga sebagai aset yang memiliki hak dan potensi nilai ekonomi.
Dalam bidang pariwisata, kegiatan pengembangan wisata edukasi berbasis budaya dan lingkungan diarahkan untuk mengintegrasikan potensi lokal dengan pendidikan dan kepedulian terhadap keberlanjutan. Masyarakat didorong untuk mengembangkan atraksi yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada pengunjung sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi warga.
Penguatan desa wisata juga dilakukan melalui pemberdayaan Karang Taruna di Desa Bontomaranu. Pemuda diberikan pendampingan dalam pengelolaan potensi alam dan agro desa, penguatan kelembagaan, pelatihan, serta perencanaan pengembangan destinasi.
Program tersebut menempatkan generasi muda sebagai aktor utama yang dapat menghubungkan potensi lokal dengan pengelolaan ekonomi desa yang lebih kreatif dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kegiatan-kegiatan tersebut memperlihatkan keragaman pendekatan yang dikembangkan oleh LPPM Unhas. Ada kegiatan yang bertumpu pada penerapan teknologi, seperti mesin pelet ikan, teknologi digital, VR dan AR, serta budidaya berbasis inovasi.
Ada pula yang berfokus pada pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat, mulai dari perempuan, kelompok tani, kader PKK, guru, tenaga kesehatan, remaja, hingga Karang Taruna.
Di sisi lain, sejumlah kegiatan menggabungkan penguatan ekonomi dengan penyelesaian persoalan sosial dan lingkungan. Produk olahan perikanan dihubungkan dengan perbaikan gizi dan pencegahan stunting. Limbah peternakan dimanfaatkan menjadi pupuk.
Sampah rumah tangga didorong menjadi bagian dari ekonomi sirkuler. Budaya dilindungi melalui instrumen kekayaan intelektual dan dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan serta pariwisata.
Inilah gambaran penting dari pelaksanaan 50 kegiatan riset dan pengabdian LPPM Unhas di Kabupaten Kepulauan Selayar tahun 2026.
Kegiatan-kegiatan tersebut bukan sekadar kumpulan program yang berdiri sendiri, melainkan memperlihatkan sebuah peta intervensi akademik yang luas. Persoalan masyarakat kepulauan yang kompleks dijawab melalui beragam disiplin ilmu dan kolaborasi, mulai dari teknologi dan kesehatan, ekonomi dan pertanian, pendidikan dan kebudayaan, hingga lingkungan dan pariwisata.
Setiap kegiatan memang memiliki sasaran, metode, dan luaran yang berbeda. Namun seluruhnya memiliki satu benang merah yang sama: membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang kampus untuk bekerja bersama masyarakat.
Melalui 50 kegiatan tersebut, Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi ruang belajar, ruang kolaborasi, sekaligus laboratorium sosial bagi Universitas Hasanuddin untuk mempertemukan riset, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Pameran 50 kegiatan LPPM Unhas sesungguhnya tidak hanya menampilkan 50 banner. Di balik setiap banner terdapat persoalan yang diidentifikasi, masyarakat yang menjadi mitra, proses pendampingan yang dilakukan, teknologi dan pengetahuan yang diperkenalkan, serta harapan akan perubahan yang dapat terus berlanjut setelah program selesai.
Bersama-sama, seluruh kegiatan itu membentuk sebuah mozaik pengabdian: dari desa ke pulau, dari ilmu ke aksi, dan dari pengetahuan menuju perubahan bagi Kepulauan Selayar.
Proyeksi LPPM Unhas
Lebih dari sekadar pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat, kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menghadirkan gagasan yang lebih besar, bagaimana riset, inovasi, pendidikan, dan pengabdian perguruan tinggi dapat benar-benar dihubungkan dengan agenda pembangunan daerah serta kebutuhan nyata masyarakat di wilayah kepulauan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin, Prof. dr. Andi Nasrum Massi, Ph.D., kepada Pelakita.ID, mengenai pentingnya membangun model kolaborasi yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat.
Menurut Prof. Nasrum, pengabdian kepada masyarakat tidak boleh dipandang hanya sebagai program akademik yang datang ke suatu daerah, melaksanakan kegiatan, kemudian berakhir setelah laporan pertanggungjawaban selesai.
Bagi Kabupaten Kepulauan Selayar, pendekatan tersebut menjadi semakin penting. Karakter geografis Selayar sebagai wilayah kepulauan menghadirkan tantangan sekaligus potensi yang khas.
Pengembangan sektor kelautan dan perikanan, pariwisata bahari, konservasi lingkungan, ketahanan ekonomi masyarakat, kesehatan, pendidikan, energi, hingga pengelolaan pulau-pulau kecil membutuhkan dukungan pengetahuan dan inovasi yang berkelanjutan.
“Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa setiap program yang kita laksanakan benar-benar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan dan diukur oleh masyarakat,” demikian penegasan Prof. Andi Nasrum Massi.
Mulai tahun depan, LPPM Unhas berencana mengembangkan pendekatan pengabdian yang lebih terstruktur melalui model desa binaan. Setiap kegiatan diharapkan tidak lagi berdiri sendiri sebagai program yang datang dan pergi, tetapi menjadi bagian dari proses pendampingan masyarakat secara berkelanjutan.
Salah satu gagasan yang sedang disiapkan adalah menghubungkan sekitar 200 program studi di Universitas Hasanuddin dengan desa-desa yang menjadi lokasi pengabdian.
“Seluruh kegiatan pengabdian akan didasarkan pada desa. Satu desa, satu kegiatan. Karena ini akan melibatkan program studi yang ada di seluruh Universitas Hasanuddin, kami berharap satu program studi akan menangani satu desa,” jelas Prof. Nasrum.
Prof. Nasrum menjelaskan bahwa model pengabdian tersebut akan dihubungkan dengan Thematic Research Group atau kelompok riset tematik yang dikembangkan Universitas Hasanuddin.
Dengan demikian, pengabdian kepada masyarakat tidak berjalan terpisah dari riset yang dilakukan para dosen dan akademisi. Hasil penelitian diharapkan dapat menemukan jalannya menuju masyarakat, sementara persoalan yang dihadapi masyarakat dapat menjadi sumber pertanyaan baru bagi pengembangan riset.
Hubungan tersebut diharapkan menciptakan sebuah siklus yang saling memperkuat: riset menghasilkan pengetahuan dan inovasi, inovasi diterapkan melalui pengabdian, pelaksanaan di lapangan memberikan pembelajaran baru, dan pengalaman tersebut kembali memperkaya penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks Selayar, model tersebut dapat diarahkan pada berbagai isu strategis kepulauan, mulai dari pengelolaan sumber daya laut, perikanan berkelanjutan, konservasi ekosistem, perubahan iklim, pengembangan pariwisata, penguatan ekonomi masyarakat, hingga peningkatan pelayanan dasar di wilayah pulau-pulau.
Tujuan akhirnya, kata Prof. Nasrum, bukan sekadar memperbanyak jumlah kegiatan. Yang lebih penting adalah memastikan setiap intervensi dan kolaborasi memiliki dampak yang dapat diukur terhadap lingkungan, perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat.
Ketua LPPM Unhas mengakui bahwa dana pengabdian yang tersedia untuk setiap program mungkin tidak selalu besar. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi dampak program.
Menurutnya, pendanaan internal dapat menjadi pemantik untuk membangun kolaborasi yang lebih luas dengan kementerian, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dunia usaha, lembaga donor, maupun lembaga internasional.
Program-program yang dilaksanakan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan yang ramai pada saat pelaksanaan, tetapi kehilangan jejak setelah laporan selesai. Pengabdian harus meninggalkan dampak dan melahirkan kapasitas baru bagi masyarakat.
“Dalam bahasa sederhana, pengabdian harus mampu mengubah desa,” ujarnya.
Perubahan itu dapat terlihat melalui lingkungan yang lebih baik, ekonomi masyarakat yang tumbuh, kualitas kesehatan yang meningkat, kapasitas masyarakat yang semakin kuat, atau kemampuan warga mengelola potensi lokal secara lebih mandiri dan berkelanjutan.
Dalam konteks wilayah kepulauan seperti Selayar, perubahan tersebut juga dapat berarti meningkatnya kemampuan masyarakat pulau dalam menjaga sumber daya laut, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, dan membangun konektivitas pembangunan antarwilayah.
Inovasi harus terus dikembangkan hingga benar-benar dapat digunakan masyarakat, memiliki manfaat ekonomi dan sosial, membuka peluang usaha, serta jika memungkinkan masuk ke dalam rantai industri dan pasar yang lebih luas.
“Inovasi yang kita hasilkan harus bisa turun dan hidup di tengah masyarakat. Jangan hanya bagus di kampus atau berhenti pada tahap prototipe,” menjadi salah satu semangat yang ditekankan dalam arah baru pengabdian LPPM Unhas.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin tersebut menandaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat harus semakin bertemu dengan kewirausahaan, inovasi, dan hilirisasi.
Selayar sebagai Laboratorium Pembangunan Kepulauan
Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki posisi yang sangat strategis untuk pengembangan model pengabdian berbasis wilayah kepulauan. Keragaman karakter masyarakat, pulau-pulau, ekosistem pesisir dan laut, serta potensi ekonomi lokal menjadikan Selayar sebagai ruang pembelajaran yang penting bagi Universitas Hasanuddin.
Di Selayar, pembangunan membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sama dengan wilayah daratan. Jarak, konektivitas, ketersediaan layanan dasar, kerentanan terhadap perubahan iklim, serta ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya alam harus menjadi pertimbangan dalam merancang setiap program.
Karena itu, Prof Nasrum mendorong agar kolaborasi antara Unhas dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar dibangun berdasarkan pemetaan kebutuhan dan potensi setiap wilayah.
Dengan pendekatan tersebut, perguruan tinggi tidak datang membawa program yang telah ditentukan dari kampus, tetapi hadir untuk mendengarkan masyarakat, memahami persoalan, dan bersama-sama merancang solusi.
“Harapannya, kita tidak hanya datang ke Selayar untuk melaksanakan kegiatan. Kita ingin membangun sebuah proses bersama, di mana pemerintah, masyarakat, dan Universitas Hasanuddin memiliki tujuan yang sama untuk menghadirkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan,” demikian arah kolaborasi yang disampaikan Prof. Andi Nasrum Massi.
Bagi LPPM Unhas, Selayar bukan sekadar lokasi pelaksanaan program pengabdian. Kabupaten kepulauan ini dapat menjadi ruang kolaborasi jangka panjang untuk mengembangkan model pembangunan berbasis riset, inovasi, dan kekuatan masyarakat.
“Pengabdian kepada masyarakat harus meninggalkan jejak perubahan. Bukan sekadar datang, melaksanakan kegiatan, lalu pulang. Tetapi hadir untuk bersama-sama membangun masa depan,” demikian pesan besar Ketua LPPM Unhas Prof. dr. Andi Nasrum Massi, Ph.D. dalam memandang masa depan kolaborasi Universitas Hasanuddin dan Kabupaten Kepulauan Selayar.
___
Penulis K. Azis









