Ketua LPPM Unhas: Intervensi dan Kolaborasi Program di Bulukumba untuk Perbaikan Kualitas Hidup Masyarakat

  • Whatsapp
Bupati Bulukumba Andi Utta, Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa dan Ketua LPPM Unhas, Prof Andi Nasrum Massi (ujung kanan) (dok: Pelakita.ID)

Dari total 103 pengabdi yang memperoleh pendanaan, sebanyak 50 tim melaksanakan kegiatan di Kabupaten Bulukumba dengan total anggaran internal mencapai sekitar Rp945 juta.

PELAKITA.ID – BULUKUMBA — Lebih dari sekadar pameran hasil pengabdian kepada masyarakat, pertemuan antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Bulukumba, 30 Agustus 2026, menghadirkan gagasan yang lebih besar: bagaimana riset, inovasi, pendidikan, dan program pengabdian perguruan tinggi dapat benar-benar dihubungkan dengan agenda pembangunan daerah dan kebutuhan nyata masyarakat.

 

Di hadapan Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf atau Andi Utta, jajaran pemerintah daerah, pimpinan Unhas, dosen, mahasiswa, dan para pelaksana pengabdian, Ketua LPPM Unhas Prof. Andi Nasrum Massi memaparkan arah baru yang ingin dibangun Universitas Hasanuddin dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Tahun ini, Unhas mengalokasikan sekitar Rp2 miliar untuk mendukung lebih dari 100 program pengabdian kepada masyarakat yang dikompetisikan.

Dari total 103 pengabdi yang memperoleh pendanaan, sebanyak 50 tim melaksanakan kegiatan di Kabupaten Bulukumba dengan total anggaran internal mencapai sekitar Rp945 juta.

Selain pendanaan internal, LPPM Unhas juga mengelola sejumlah program pengabdian dengan dukungan eksternal. Pada tahun ini, sekitar 30 program memperoleh pendanaan pengabdian dari kementerian dengan nilai total sekitar Rp1,7 miliar.

Meski demikian, Prof Nasrum menyebut angka-angka tersebut bukan menjadi tujuan utama.

”Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan melalui kegiatan pengabdian mampu menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan dan diukur oleh masyarakat,” ucapnya.

Satu Desa, Satu Program Studi

Prof. Andi Nasrum Massi mengatakan, mulai tahun depan LPPM Unhas akan mengembangkan pendekatan yang lebih terstruktur melalui model desa binaan.

Setiap kegiatan pengabdian diharapkan tidak lagi berdiri sendiri sebagai program yang datang dan pergi, tetapi menjadi bagian dari proses pendampingan masyarakat yang berkelanjutan.

Salah satu gagasan yang sedang disiapkan adalah menghubungkan sekitar 200 program studi di Universitas Hasanuddin dengan desa-desa yang menjadi lokasi pengabdian.

Melalui pendekatan tersebut, satu program studi diharapkan dapat memiliki satu desa binaan sesuai dengan kompetensi dan bidang keilmuan masing-masing.

“Seluruh kegiatan pengabdian akan didasarkan pada desa. Satu desa, satu kegiatan. Karena ini akan melibatkan program studi yang ada di seluruh Universitas Hasanuddin, kami berharap satu program studi akan menangani satu desa,” demikian arah kebijakan yang disampaikan Prof. Andi Nasrum Massi.

Pendekatan ini akan dihubungkan dengan Thematic Research Group atau kelompok riset tematik.

Dengan demikian, pengabdian kepada masyarakat tidak berjalan terpisah dari riset yang dilakukan dosen dan akademisi, tetapi menjadi bagian dari proses hilirisasi pengetahuan dan inovasi.

LPPM Unhas juga sedang menyiapkan pemetaan desa-desa binaan. Di Kabupaten Bulukumba, terdapat sekitar 124 desa yang berpotensi menjadi ruang kolaborasi jangka panjang antara universitas, pemerintah daerah, alumni, dan masyarakat.

Tujuan akhirnya, kata Prof Nasrum, bukan sekadar memperbanyak kegiatan. Setiap intervensi dan kolaborasi yang dijalankan antara LPPM Unhas dan Pemda Bulukumba diharapkan memiliki dampak yang dapat diukur, baik terhadap lingkungan, perekonomian, kesehatan, maupun perbaikan kualitas hidup masyarakat.

Bukan Sekadar NATO

Prof. Andi Nasrum Massi mengakui bahwa dana pengabdian yang tersedia untuk setiap program studi mungkin belum terlalu besar. Namun, dana tersebut dapat menjadi pemantik untuk membangun kolaborasi pembiayaan yang lebih luas dengan kementerian, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dunia usaha, hingga lembaga internasional.

Karena itu, LPPM Unhas akan mendorong peningkatan kapasitas para dosen dan pengabdi agar mampu mengakses berbagai sumber pendanaan yang tersedia. Harapannya, kegiatan pengabdian tidak hanya bergantung pada satu sumber anggaran.

”Yang lebih penting, pengabdian harus menghasilkan perubahan nyata,” katanya.

Program-program yang dilaksanakan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan yang ramai pada saat pelaksanaan, tetapi kehilangan jejak setelah laporan selesai. Prof. Andi Nasrum Massi mengingatkan pentingnya membangun program yang berdampak dan menghindari kegiatan yang sekadar menjadi rutinitas.

”Dalam bahasa yang sederhana, pengabdian harus mampu mengubah desa. Perubahan itu dapat terlihat dari lingkungan yang lebih baik, ekonomi masyarakat yang tumbuh, kualitas kesehatan yang meningkat, atau kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi lokal secara mandiri,” sebutnya.

50 Tim, 150 Sivitas Akademika, dan Satu Pesan Besar

Pelaksanaan pengabdian Unhas di Bulukumba tahun ini juga memperlihatkan skala kolaborasi yang cukup besar. Lima puluh tim pengabdian datang bersama para dosen, peneliti, mahasiswa, dan sivitas akademika dari berbagai fakultas dan bidang ilmu.

Puluhan mahasiswa turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Sejumlah dekan dan pimpinan universitas juga hadir langsung. Secara keseluruhan, sekitar 150 orang meninggalkan kampus Tamalanrea menuju Bulukumba untuk melihat, mempresentasikan, dan membangun komunikasi langsung dengan masyarakat serta pemerintah daerah.

Bagi Unhas, kehadiran ratusan sivitas akademika di Bulukumba memiliki makna simbolik sekaligus strategis.

”Produk-produk dan inovasi yang dipamerkan memang sebagian masih berada pada tahap prototype. Namun, harapannya tidak berhenti di sana. Inovasi tersebut harus terus dikembangkan hingga menjadi produk yang benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat, memiliki nilai ekonomi, berkembang menjadi usaha, dan bahkan jika memungkinkan masuk ke dalam rantai industri yang lebih besar.” terang Prof Nasrum.

Guru Besar Kedokteran Unhas itu menandaskan, pengabdian masyarakat harus bertemu dengan kewirausahaan, inovasi, dan hilirisasi.

___
Editor K. Azis