Rektor Unhas dan Bupati Bulukumba Tinjau 50 Program Pengabdian, Saat Ilmu Pengetahuan Menyelesaikan Persoalan dari Akar Rumput

  • Whatsapp
Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa bersama Bupati Bulukumba, Andi Utta dan Ketua LPPM Unhas serta tim berkunjung ke 50 booth peserta program pengabdian masyarakat di Bulukumba. Pameran berlangsung di Gedung Pinisi Bulukumba, 30 Agustus 2026 (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Satu per satu booth didatangi. Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc. bersama Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf atau Andi Utta tidak sekadar melihat produk dan mendengarkan penjelasan para pelaksana program.

Keduanya berhenti, berdialog peserta pameran, mencicipi hasil olahan masyarakat, mendengarkan cerita mahasiswa dan dosen, serta melihat bagaimana pengetahuan yang selama ini tumbuh di ruang akademik mulai menemukan bentuknya di tengah kehidupan masyarakat.

Kunjungan ke sekitar 50 booth program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin di Bulukumba, 30 Agustus 2026, menghadirkan satu gambaran yang jauh lebih besar daripada sekadar pameran hasil kegiatan.

Bulukumba sedang menjadi ruang perjumpaan antara kampus dan masyarakat, antara riset dan persoalan nyata, serta antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan pembangunan daerah.

Bertempat di Gedung Pinisi Bulukumba yang megah berlantai empat itu, pengabdian tidak lagi tampak sebagai kegiatan seremonial yang selesai ketika program berakhir.

Ia hadir dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pelakita.ID yang hadir di arena kegiatan mencatat beberapa kegiatan krusial seperti pengolahan limbah peternakan menjadi produk bernilai guna, pengembangan pangan lokal, diversifikasi hasil perikanan, penguatan kelompok tani dan nelayan, pengembangan kesehatan masyarakat, pendidikan generasi muda, perlindungan hukum, penguatan literasi teknologi, hingga keselamatan wisata bahari.

Lima puluh program yang dipamerkan tersebut memperlihatkan keragaman persoalan yang dihadapi masyarakat Bulukumba.

Pada saat yang sama, keragaman itu juga menunjukkan betapa luasnya kemungkinan yang dapat dibangun ketika perguruan tinggi tidak hanya menempatkan masyarakat sebagai penerima program, tetapi sebagai bagian dari proses menemukan persoalan dan membangun solusi.

Persoalan Lapangan, Tumbuh Solusi

Salah satu hal yang paling menarik dari kunjungan tersebut adalah keberagaman tema program yang dikembangkan di berbagai wilayah Bulukumba.

“Kampus hadir di desa, sekolah, kelompok masyarakat, kawasan pesisir, fasilitas kesehatan, hingga lingkungan pemerintahan daerah. Pengetahuan akademik diterjemahkan ke dalam persoalan yang sangat konkret dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Prof Jamaluddin Jompa.

Di Desa Bontosunggu, misalnya, limbah peternakan ayam tidak hanya dipandang sebagai masalah lingkungan.

Melalui program pengabdian, limbah tersebut dikembangkan menjadi pupuk cair ramah lingkungan dan bio tablet. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah kembali menjadi sumber manfaat dan peluang ekonomi.

Di wilayah pertanian, pengabdian mengambil bentuk pendampingan budidaya bawang merah, pembuatan kompos dari limbah rumah tangga, penggunaan biopestisida, penyediaan silase berbahan pakan lokal, hingga pemanfaatan mesin pencacah untuk meningkatkan produktivitas peternakan.

Dari Fakultas MIPA, Prof. Dr. A. Masniawati, S.Si., M.Si. menginisiasi pemanfaatan tumbuhan herbal lokal sebagai dukungan kesehatan sekaligus diversifikasi usaha bagi kelompok nelayan di Kelurahan Bintarore, Kecamatan Ujung Bulu.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu harus berupa teknologi besar dan mahal. Dalam banyak kasus, perubahan justru dimulai dari teknologi yang sederhana, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Di sektor pangan dan ekonomi lokal, program-program tersebut juga mencoba memperpanjang nilai tambah sumber daya yang telah dimiliki masyarakat. Kelapa tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi santan siap pakai.

Ikan tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi diolah menjadi pindang, abon, camilan terfortifikasi, dan berbagai produk lain yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Produk berbahan jahe, kelor, gula aren, hasil perikanan, rumput laut, hingga sumber daya pertanian lokal yang ditampilkan dalam berbagai booth memperlihatkan satu kemungkinan besar bagi Bulukumba: pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dengan mendatangkan sesuatu dari luar.

Dalam banyak hal, sumber daya pembangunan sebenarnya telah tersedia di sekitar masyarakat. Tantangannya adalah menghadirkan pengetahuan, teknologi, manajemen, kualitas produk, dan akses pasar agar potensi tersebut dapat berkembang lebih jauh.

Dr Rijal Idrus, kepala pusat studi Perubahan Iklim Unhas bersama Kadis Pariwisata Bulukumba, dan tim pelaksanaan kegiatan LPPMU terkait penyadaran wisata aman dan nyaman, berikut buku panduan sebagai salah satu output (dok: Pelakita.ID)

Wisata Tidak Hanya Menjual Keindahan, Sebuah Contoh

Salah satu program yang mendapat perhatian dalam kunjungan tersebut adalah penguatan keselamatan wisata, khususnya di kawasan wisata bahari Bira.

Bulukumba memiliki bentang pesisir yang indah dan telah lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata penting di Sulawesi Selatan. Namun, pertumbuhan pariwisata juga menghadirkan tanggung jawab baru untuk memastikan wisatawan dan pelaku usaha berada dalam lingkungan yang aman dan siap menghadapi risiko.

Melalui program pengabdian, dilakukan peningkatan kesadaran terhadap keselamatan dalam pengelolaan wisata pantai. Tim pengabdian membantu mendorong pemahaman tentang pentingnya standar operasional prosedur, kesiapan sumber daya manusia, dan kemampuan menghadapi keadaan darurat.

Bagi Pemerintah Kabupaten Bulukumba, kolaborasi semacam ini menjawab kebutuhan yang sangat nyata di lapangan.

Pemerintah daerah membutuhkan pengetahuan, tenaga ahli, dan dukungan ilmiah untuk memahami persoalan secara lebih mendalam. Sebaliknya, perguruan tinggi membutuhkan ruang nyata untuk menguji relevansi pengetahuan yang dikembangkan di kampus.

Pengalaman di sektor wisata bahari memperlihatkan bahwa kolaborasi tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekadar pelatihan. SOP keselamatan yang dihasilkan oleh Tim Perubahan Iklim Unhas yang dipimpin Dr Rijal Idrus mendapat apresiasi Kadis Pariwisata Bulukumba karena dapat menjadi rujukan bagi pelaku usaha.

“Peningkatan kapasitas dapat menjadi bagian dari standar penyelenggaraan wisata. Kerja sama dapat dilanjutkan dengan lembaga lain untuk memperkuat kemampuan tanggap darurat,” ucap Kadis Pariwisata Bulukumba.

Kata dia, pengabdian masyarakat menjadi strategis karena program tidak berhenti pada transfer pengetahuan melalui pelatihan, tetapi berpeluang menjadi bagian dari perubahan sistem dan tata kelola, yang akan ditindaklanjuti oleh Dinas Pariwisata.

Salah peserta program LPPMU, Prof Itji A. Daud menjelaskan proses pembuatan pupuk organik yang telah dikembangkan di desa pertanian Bulukumba (dok: Pelakita.ID)

Tanggapan Bupati Bulukumba

Bupati Bulukumba, Andi Utta menilai selama ini kampus jarang ada yang menawarkan solusi untuk Pemerintah Daerah, mestinya kampus membawa hasil riset, teknologi, keahlian, metode ilmiah, dan energi mahasiswa.

Di sisi lain, masyarakat membawa pengalaman hidup, pengetahuan lokal, pemahaman terhadap lingkungan, serta pengalaman langsung menghadapi persoalan sehari-hari.

“Kalau keduanya dipertemukan, solusi yang lahir memiliki peluang lebih besar untuk benar-benar sesuai dengan kebutuhan, apalagi jika itu berkaitan dengan manfaat besar bagi masyarakat, pasti kami dukung,” kata Andi Utta.

Ada beberapa hal yang unik dari pendampingan LPPM Unhas kali ini karena dimensinya luas seperti bagaimana masyarakat didampingi melalui sistem bantuan hukum desa berbasis komunitas, perlindungan hak atas tanah, pemetaan partisipatif tanah nonsertifikat, serta penguatan kesadaran hukum generasi muda.

Lalu di bidang pendidikan dan budaya, pengabdian hadir melalui penguatan karakter maritim, literasi bahasa dan pariwisata, literasi kritis artificial intelligence, hingga pengembangan sastra lisan dalam bentuk deklamasi modern.

Sementara itu, di bidang kelautan dan perikanan, program pengabdian menyentuh pemberdayaan siswa jurusan perikanan, diversifikasi olahan ikan, peningkatan keselamatan wisata bahari, dan teknologi pengayaan bibit rumput laut.

Semua itu menunjukkan bahwa kekuatan pengabdian bukan terletak pada satu disiplin ilmu, melainkan pada kemampuan berbagai bidang pengetahuan untuk bekerja bersama menjawab persoalan yang saling berkaitan.

Bidang kesehatan menjadi salah satu wajah penting dari pelaksanaan program pengabdian Unhas di Bulukumba. Program-program tersebut menyentuh berbagai tahap kehidupan, mulai dari anak, remaja, ibu, kelompok rentan, hingga masyarakat pesisir.

Ada pengembangan edukasi kesehatan gigi berbasis teknologi virtual reality, pencegahan stunting, pendampingan kesehatan reproduksi remaja, dukungan psikososial, pencegahan pradiabetes, kesehatan digital, hingga penguatan layanan bagi anak berkebutuhan khusus.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan rumah sakit dan tenaga medis. Kesehatan juga terkait dengan pendidikan, pola makan, teknologi, lingkungan, keluarga, pengetahuan, dan kemampuan masyarakat untuk merawat dirinya sendiri.

Karena itu, banyak program tidak hanya berfokus pada pemberian layanan, tetapi membangun kapasitas kader, ibu, remaja, guru, dan komunitas. Pendekatan ini menjadi penting karena perubahan yang berkelanjutan tidak mungkin sepenuhnya bergantung pada kehadiran program dari luar. Masyarakat harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melanjutkan manfaat setelah pendampingan berakhir.

Bulukumba sebagai Laboratorium Sosial

Menurut Prof Jamaluddin Jompa, jika mlihat keseluruhan program tersebut, Bulukumba sesungguhnya bukan sekadar lokasi pelaksanaan pengabdian.

“Kabupaten ini telah menjadi semacam laboratorium sosial, tempat berbagai disiplin ilmu bertemu dengan persoalan nyata pembangunan, tahun ini kami fokus pada dua kabupaten yaitu Bulukumba dan Selayar dan tentu harapannya ada tindak lanjut setelahnya,” ujar Prof JJ.

Andi Utta menimpali untuk melihat apa saja yang dibutuhkan untuk menambah volume, skala usaha dan interventi dari Pemda Bulukumba.

Kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan Pemerintah Kabupaten Bulukumba memiliki arti yang jauh lebih besar daripada pelaksanaan program tahunan.

Pameran hasil kegiatan LPPMU di Bulukumba dihadiri anggota IKA Unhas Bulukumba, tim LPPM Universitas Hasanuddin, OPD Bulukumba hingga pelaku usaha UMKM dan pemerintah desa dan kelurahan (dok: Pelakita.ID)

Kampus dapat menjadi mitra pembangunan yang membantu pemerintah membaca persoalan berdasarkan data dan pengetahuan. Pemerintah daerah dapat menjadi jembatan yang menghubungkan inovasi dengan sistem pembangunan. Sementara masyarakat menjadi aktor utama yang menentukan apakah sebuah inovasi dapat benar-benar bertahan dan berkembang.

Kunjungan ke 50 booth tersebut tentu hanya memperlihatkan sebagian dari perjalanan setiap program. Sebuah produk yang dipamerkan mungkin membutuhkan waktu panjang untuk mencapai pasar. Sebuah SOP yang telah disusun membutuhkan proses agar benar-benar menjadi kebiasaan. Sebuah pelatihan harus terus diterapkan agar tidak hilang bersama berakhirnya program.

Karena itu, tantangan terbesar setelah kegiatan pengabdian bukan lagi bagaimana menyelenggarakan program, melainkan bagaimana menjaga kesinambungannya.

Produk-produk lokal perlu didorong untuk meningkatkan kualitas dan memperluas pasar. Kelompok masyarakat perlu terus mendapatkan pendampingan sesuai tahap perkembangan usahanya. Inovasi yang telah terbukti relevan perlu dihubungkan dengan kebijakan pemerintah daerah. Sementara pengetahuan yang telah diperkenalkan harus terus dipraktikkan hingga menjadi bagian dari kapasitas masyarakat.

Setelah mengunjungi booth LPPMU tersebut, Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa dan Bupati Bulukumba Andi Utta sependapat bahwa kampus tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan di ruang akademik.

“Pengetahuan harus menemukan jalannya menuju desa, sekolah, pesisir, kelompok usaha, fasilitas kesehatan, dan ruang-ruang kehidupan masyarakat. Sebaliknya, persoalan yang dihadapi masyarakat juga harus menjadi sumber pembelajaran bagi perguruan tinggi. Nanti mestinya 1 desa, satu program, lengkap dengan dananya,” sebut Prof JJ.

Penulis K. Azis