Di tengah pameran 50 Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin di Bulukumba, 30 Agustus 2026, Bupati Bulukumba Andi Utta menyampaikan pesan yang sangat mendasar kepada dunia akademik. Menurutnya, riset dan inovasi harus mampu memberikan jawaban nyata atas persoalan pembangunan yang dihadapi masyarakat dan pemerintah daerah.
PELAKITA.ID – Ketika Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin berbicara tentang desa binaan dan Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa mendorong hilirisasi inovasi, Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf atau biasa disapa Andi Utta menghadirkan perspektif yang sangat membumi.
Bagi pemerintah daerah, ujar Andi Utta, ilmu pengetahuan bukan sekadar kekayaan akademik, melainkan sumber rujukan yang dibutuhkan untuk menentukan arah pembangunan dan menjawab persoalan nyata masyarakat.
Pemerintah daerah, menurutnya, tidak cukup hanya bekerja berdasarkan kebiasaan, pengalaman masa lalu, atau rutinitas pelaksanaan anggaran.
“Setiap kebijakan membutuhkan dasar yang lebih kuat berupa data, kajian ilmiah, inovasi, dan pemahaman mendalam mengenai persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan,” ucapnya.
Andi Utta melihat masih terdapat jarak antara banyaknya riset yang dilakukan oleh perguruan tinggi dengan pemanfaatannya dalam proses pembangunan daerah.
“Banyak penelitian telah dihasilkan, tetapi pemerintah masih membutuhkan jembatan yang dapat menerjemahkan hasil penelitian tersebut menjadi kebijakan, program, teknologi, atau model usaha yang dapat diterapkan,” ujarnya.
Pesan Bupati Bulukumba kepada dunia akademik sebenarnya sederhana, tetapi sangat mendasar. Pemerintah daerah membutuhkan referensi yang jelas mengenai apa yang harus dibangun, apa yang harus dikerjakan, serta pendekatan seperti apa yang paling tepat untuk menjawab persoalan masyarakat berdasarkan karakter dan potensi daerah.
Sebuah daerah, menurutnya, membutuhkan hasil riset yang tidak berhenti pada kesimpulan akademik, tetapi mampu diterjemahkan menjadi langkah nyata.
“Bulukumba membutuhkan pengetahuan yang dapat membantu pemerintah menentukan pilihan, menetapkan prioritas, mengembangkan komoditas, memperkuat ekonomi masyarakat, serta mengurangi berbagai risiko pembangunan yang mungkin muncul,” sebutnya.
Dari Daerah Konsumtif Menjadi Daerah Produktif
Bulukumba memiliki sumber daya yang besar di sektor pertanian, perikanan, kelautan, peternakan, dan berbagai bidang lainnya.
Bagi Andi Utta, pertanyaan mendasarnya bukan hanya seberapa besar potensi tersebut, melainkan bagaimana potensi itu dapat dikelola secara produktif dan menghasilkan nilai ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Bagi Bupati Bulukumba, pembangunan pada akhirnya sangat berkaitan dengan produktivitas ekonomi masyarakat. Sebuah daerah dapat memiliki jalan yang baik, fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, dan berbagai infrastruktur lainnya, tetapi kesejahteraan berkelanjutan tetap sulit tercapai jika masyarakat tidak memiliki aktivitas ekonomi yang produktif dan memberikan pendapatan yang cukup.
Karena itu, ia ingin Bulukumba berkembang sebagai daerah yang produktif, bukan sekadar menjadi daerah konsumtif.
“Lahan pertanian, perikanan, peternakan, dan berbagai sumber daya lokal lainnya harus dikelola dengan pendekatan yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka kesempatan kerja, serta memperkuat kemampuan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Dalam pandangan tersebut, berbagai pertanyaan sederhana justru menjadi sangat penting bagi perguruan tinggi dan peneliti untuk dijawab.
Komoditas apa yang memiliki nilai ekonomi paling menjanjikan? Teknologi apa yang paling tepat diterapkan? Bagaimana meningkatkan produksi dan produktivitas? Bagaimana mengurangi risiko penyakit dan kegagalan usaha? Serta bagaimana menghasilkan produk yang dapat dijual dengan nilai lebih tinggi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi ruang penting bagi dunia riset untuk memberikan kontribusi nyata.
“Pemerintah daerah membutuhkan inovasi yang bukan hanya menarik ketika dipresentasikan dalam seminar atau dituliskan dalam laporan penelitian, tetapi dapat diterapkan oleh masyarakat dan menghasilkan perubahan yang terukur dalam kehidupan mereka,” tambahnya.
UMKM, Kemasan, dan Penciptaan Nilai Tambah
Perspektif pembangunan tersebut juga terlihat dari perhatian Andi Utta terhadap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Menurutnya, sebuah produk lokal yang baik tidak cukup hanya memiliki kualitas dan cita rasa yang bagus. Produk tersebut juga harus memiliki kemasan, identitas, dan citra yang mampu membuatnya menarik serta bersaing di pasar yang lebih luas.
Ia melihat bagaimana sebuah produk sederhana dapat memperoleh nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi ketika dipadukan dengan pengemasan yang baik dan branding yang kuat.
Karena itu, pengembangan produk lokal Bulukumba tidak hanya membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga dukungan dalam desain kemasan, pemasaran, promosi digital, serta penguatan identitas merek.
Potensi pangan lokal, hasil laut, komoditas pertanian, dan berbagai produk masyarakat Bulukumba perlu terus didorong agar tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.
“Tantangannya adalah bagaimana mengolah potensi tersebut menjadi produk yang memiliki kualitas, identitas, dan nilai tambah sehingga mampu membuka pasar yang lebih luas dan memberikan keuntungan yang lebih besar kepada masyarakat,” lanjutnya.
Di sinilah kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi semakin penting. Kampus memiliki keahlian dalam bidang riset, teknologi, desain, manajemen, pemasaran, dan pengembangan produk.
Sementara pemerintah daerah memiliki kedekatan dengan masyarakat, kelompok usaha, kebijakan, serta berbagai sumber daya yang dapat mendukung penerapan inovasi secara lebih luas.
Ketika keduanya bekerja bersama secara berkelanjutan, inovasi dapat bergerak lebih cepat dari ruang penelitian menuju kehidupan masyarakat.
Hasil kajian tidak lagi berhenti sebagai dokumen, teknologi tidak hanya tersimpan sebagai prototype, dan gagasan akademik dapat menemukan bentuknya dalam usaha masyarakat, produk lokal, serta kebijakan pembangunan daerah.
Kolaborasi untuk Masa Depan
Pameran 50 Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin di Bulukumba memperlihatkan sebuah kesadaran bersama bahwa pengabdian tidak boleh sekadar menjadi kewajiban akademik.
Bahwa pengabdian harus menjadi jalan untuk menghadirkan perubahan, sementara riset harus menjadi sumber jawaban bagi persoalan pembangunan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Menurut Andi Utta, riset tidak seharusnya hanya menjadi dokumen yang tersimpan di perpustakaan atau laporan yang selesai setelah penelitian berakhir.
“Hasil penelitian harus mampu menjadi rujukan dalam perumusan kebijakan, perencanaan pembangunan, pengembangan usaha, serta pencarian solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat,” kata dia.
Di Bulukumba, gagasan mengenai 124 desa, sekitar 200 program studi, puluhan kelompok riset, serta kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan pemerintah daerah membuka kemungkinan besar untuk membangun sebuah model pembangunan berbasis pengetahuan.
Jika setiap desa dapat didampingi berdasarkan persoalan dan potensinya masing-masing, maka pengabdian masyarakat dapat berkembang jauh melampaui kegiatan jangka pendek.
Setiap desa tidak lagi hanya menjadi lokasi pelaksanaan program atau tempat mahasiswa dan akademisi menjalankan kewajiban pengabdian. Desa dapat berkembang menjadi laboratorium sosial, tempat pengetahuan diuji, inovasi dikembangkan, persoalan diidentifikasi, solusi diperbaiki, dan masyarakat ditempatkan bukan sekadar sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai mitra dalam proses perubahan.
Universitas Hasanuddin melalui pengabdian kepada masyarakat memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya bergerak dari kampus menuju daerah, tetapi kembali menemukan maknanya ketika berhadapan dengan kehidupan masyarakat.
Sementara bagi pemerintah daerah, kolaborasi tersebut menjadi peluang untuk membangun kebijakan dan pembangunan yang semakin berbasis pada pengetahuan.
Pesan Andi Utta memperoleh maknanya yang paling kuat. Riset harus memberi jawaban. Pemerintah membutuhkan referensi untuk menentukan apa yang harus dikerjakan. Masyarakat membutuhkan inovasi yang dapat digunakan. Dan pembangunan membutuhkan pengetahuan yang tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar bekerja dalam kehidupan.
Penulis K. Azis









