Dorong Upaya Penerapan Keselamatan di Pantai, Tim Unhas Edukasi K3 Pariwisata bagi Pengelola dan Wisatawan di Desa Bira, Bulukumba

  • Whatsapp
Dr. Rijal Idrus bersama Kadis Pariwisata Bulukumba dan tim pelaksana kegiatan di lokasi pameran 50 program PPMU di Bulukumba, 31 Agustus 2026

PELAKITA.ID — Keindahan sebuah kawasan wisata tidak hanya ditentukan oleh panorama alam, fasilitas, dan kemampuannya menarik wisatawan. Di balik pengalaman berwisata yang menyenangkan, terdapat aspek yang tidak kalah penting, yakni keselamatan.

Bagi kawasan wisata pantai seperti Bira di Kabupaten Bulukumba, keselamatan pengunjung dan kesiapsiagaan pengelola menjadi bagian penting dalam membangun pariwisata yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi perhatian Universitas Hasanuddin melalui kegiatan “Penerapan Keselamatan di Pantai: Edukasi K3 Pariwisata untuk Pengelola dan Wisatawan di Desa Bira, Bulukumba”.

Kegiatan ini mendorong penguatan pemahaman mengenai keselamatan dan kesehatan kerja di kawasan wisata, dengan menempatkan edukasi, pengenalan risiko, dan kesiapsiagaan sebagai bagian penting dalam pengelolaan destinasi wisata pantai.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim yang dipimpin Dr. Rijal Idrus, Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin. Pendekatan yang dikembangkan tidak berhenti pada penyampaian informasi mengenai keselamatan, tetapi diarahkan agar pengelola, masyarakat, dan wisatawan mampu mengenali potensi bahaya serta memahami tindakan yang perlu dilakukan untuk mencegah kecelakaan.

Rijal menyebut, kegiatan ini juga menjadi salah satu dari 50 kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin (PPMU) di Kabupaten Bulukumba yang ditampilkan dalam sebuah pameran.

Pada 31 Agustus 2026, Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Jamaluddin Jompa mengunjungi booth tim pelaksana kegiatan tersebut. Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian peninjauan terhadap berbagai inovasi dan hasil pengabdian masyarakat Unhas yang dipamerkan di Bulukumba.

Kehadiran Rektor di booth tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa isu keselamatan dalam pengelolaan destinasi wisata merupakan bagian dari perhatian perguruan tinggi dalam menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Bagi kawasan seperti Bira yang memiliki aktivitas wisata berbasis pantai dan laut, edukasi K3 memiliki relevansi langsung dengan upaya membangun destinasi yang semakin aman dan bertanggung jawab.

Mengenali Risiko di Wilayah Pariwisata

Dikatakan Rijal, kdukasi keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 di wilayah pariwisata menjadi penting karena kawasan wisata, terutama pantai dan perairan, memiliki berbagai potensi risiko.

“Ombak, arus laut, perubahan cuaca, aktivitas berenang, kondisi lingkungan, penggunaan fasilitas wisata, hingga kurangnya pengetahuan pengunjung dapat menjadi faktor yang memicu kecelakaan dan membahayakan keselamatan wisatawan,” ucapnya.

Karena itu, ujar Rijal, upaya mencegah kecelakaan tidak dapat hanya dilakukan setelah peristiwa terjadi.

“Pencegahan harus dimulai dengan membangun kesadaran, membekali pengelola dan masyarakat dengan pengetahuan, menyediakan informasi yang mudah dipahami, mengenali berbagai potensi bahaya, serta meningkatkan kemampuan untuk menghadapi situasi darurat di kawasan wisata,” katanya.

Salah satu pesan utama kegiatan tersebut adalah pentingnya mengenali risiko sebelum risiko berkembang menjadi kecelakaan. Pengelola, pekerja, masyarakat, dan wisatawan perlu memahami bahwa kawasan wisata pantai memiliki karakteristik bahaya yang berbeda dan membutuhkan perhatian terhadap kondisi lingkungan, perilaku pengunjung, serta kesiapan seluruh pihak dalam menghadapi keadaan darurat.

“Dalam materi edukasi yang diperkenalkan kepada pengelola wisata dan masyarakat, terdapat sejumlah risiko utama yang perlu dikenali di kawasan pariwisata. Risiko tersebut meliputi tenggelam, cuaca ekstrem, gelombang tinggi, batu karang yang licin dan tajam, aktivitas wisata air, sampah dan pencemaran, ketidakpatuhan terhadap rambu keselamatan, serta potensi pohon tumbang akibat angin kencang,” terang Rijal.

Risiko tenggelam dapat terjadi ketika seseorang berenang tanpa pengawasan atau mengabaikan kondisi perairan.

Karena itu, wisatawan perlu memperhatikan area yang aman untuk berenang, tidak memaksakan diri memasuki perairan berbahaya, serta mengikuti arahan pengelola dan petugas yang memahami kondisi pantai dan laut.

Cuaca ekstrem juga menjadi ancaman yang harus diantisipasi karena hujan lebat, angin kencang, dan perubahan cuaca secara mendadak dapat membahayakan wisatawan. Demikian pula gelombang tinggi yang dapat menghantam kawasan pantai dan menyeret orang ke laut, terutama bagi wisatawan yang berada terlalu dekat dengan area perairan saat kondisi laut tidak bersahabat.

Rijal juga menyebut, kondisi fisik lingkungan memiliki potensi bahaya tersendiri. Batu karang yang licin dan tajam dapat menyebabkan wisatawan terpeleset atau mengalami luka.

“Dalam kondisi seperti itu, wisatawan membutuhkan informasi yang jelas mengenai cara bergerak dengan aman, area yang perlu dihindari, serta perlengkapan yang sesuai ketika beraktivitas di sekitar perairan dan terumbu karang,” tambahnya.

Aktivitas wisata air seperti snorkeling, menyelam, dan kegiatan lainnya juga memiliki tingkat risiko yang perlu dipahami sejak awal. Risiko tersebut dapat dikurangi dengan mengikuti instruksi pemandu, menggunakan perlengkapan yang sesuai, memahami kondisi perairan, dan tidak melakukan aktivitas secara sembarangan tanpa memperhatikan standar keselamatan.

Selain keselamatan manusia, kondisi lingkungan juga perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan pariwisata. Sampah dan pencemaran dapat merusak lingkungan pantai dan mengganggu pengalaman wisata. Persoalan ini sekaligus menunjukkan bahwa keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan lingkungan merupakan tiga aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam pengelolaan sebuah destinasi.

Materi edukasi juga menekankan bahwa ketidakpatuhan terhadap rambu keselamatan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Rambu bukan sekadar pelengkap visual di kawasan wisata, tetapi merupakan bagian dari sistem komunikasi yang dirancang untuk memberikan peringatan, menjelaskan risiko, dan membantu pengunjung mengambil keputusan yang lebih aman.

Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan pohon tumbang akibat angin kencang.

Kondisi ini dapat mengancam wisatawan dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan, sehingga pengelola perlu melakukan pemeriksaan kondisi lingkungan secara berkala dan memberikan peringatan ketika terdapat situasi yang berpotensi membahayakan pengunjung.

Dari Edukasi Menuju Budaya Keselamatan

Rijal menilai, penerapan K3 di kawasan wisata tidak cukup dilakukan melalui pemasangan rambu atau pemberian informasi secara insidental. Keselamatan harus menjadi budaya yang diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari cara pengelola menata kawasan, memantau kondisi lingkungan, memberikan informasi, hingga bagaimana wisatawan bertindak dan mengambil keputusan selama berada di lokasi wisata.

Dalam konteks tersebut, pengelola kawasan wisata memiliki peran penting dalam memastikan tersedianya sistem keselamatan yang memadai.

“Langkah tersebut dapat dimulai melalui identifikasi risiko, pemetaan titik-titik berbahaya, pemasangan rambu keselamatan, penyediaan informasi yang mudah dipahami, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat,” kata dia.

Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui empat langkah sederhana, yakni identifikasi, pemetaan, pemasangan signage, dan edukasi. Identifikasi diperlukan untuk mengenali potensi bahaya yang ada, pemetaan dilakukan untuk mengetahui lokasi risiko, signage berfungsi memberikan informasi dan peringatan, sementara edukasi memastikan seluruh pihak memahami risiko dan mengetahui tindakan yang tepat.

Bagi kawasan wisata Bira, penguatan kapasitas pengelola dan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam pembangunan pariwisata yang bertanggung jawab. Pengetahuan keselamatan yang diperoleh melalui kegiatan edukasi diharapkan tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara konsisten dalam aktivitas pengelolaan dan kehidupan sehari-hari.

Keamanan yang baik dengan demikian bukan hanya bagian dari perlindungan terhadap wisatawan, tetapi juga bagian dari kualitas sebuah destinasi. Kawasan yang memiliki informasi jelas, rambu yang memadai, pengelola yang terlatih, serta sistem penanganan risiko yang baik akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang sebagai tujuan wisata yang profesional dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan “Penerapan Keselamatan di Pantai: Edukasi K3 Pariwisata untuk Pengelola dan Wisatawan di Desa Bira, Bulukumba”, tim yang dipimpin Dr. Rijal Idrus memperlihatkan pentingnya menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Edukasi tidak hanya berbicara mengenai teori keselamatan, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat dan pengelola dapat mengenali risiko yang benar-benar ada di lingkungan mereka.

Kehadiran Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa saat mengunjungi booth kegiatan tersebut dalam pameran 50 kegiatan PPMU Unhas di Bulukumba pada 31 Agustus 2026 memberikan konteks lebih luas terhadap upaya tersebut. Pengabdian masyarakat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan pengetahuan yang dapat digunakan secara langsung, sekaligus melihat kembali bagaimana gagasan akademik diterapkan di tengah kebutuhan masyarakat.

Bagi Bulukumba dan kawasan wisata Bira, penguatan edukasi K3 dapat menjadi bagian dari upaya membangun pariwisata yang lebih siap menghadapi tantangan.

“Keindahan alam harus berjalan bersama dengan kesiapsiagaan, pemahaman risiko, sistem peringatan, perlindungan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga keselamatan kawasan,” lanjut Rijal.

Keselamatan bukan hanya tugas petugas tertentu atau tanggung jawab pengelola wisata. Keselamatan adalah kerja bersama.

“Ketika pengelola memahami risiko, masyarakat memiliki pengetahuan, wisatawan mematuhi aturan, dan sistem keselamatan diterapkan secara konsisten, kawasan wisata dapat berkembang menjadi ruang yang tidak hanya indah, tetapi juga aman dan berkelanjutan bagi semua.” pungkasnya.

Penulis: K. Azis