PELAKITA.ID — Deru aktivitas para pengrajin kapal terdengar di Tanah Beru, Bulukumba. Di tempat inilah kayu, pengetahuan, keterampilan, dan tradisi maritim bertemu untuk melahirkan kapal Pinisi—warisan budaya yang telah melintasi generasi.
Bagi tim Destination Management Organization (DMO) Prabu Pinisi Indonesia, kunjungan ke Tanah Beru pada Minggu (30/8/2026) bukan sekadar perjalanan melihat destinasi.
Site visit ini menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk memahami secara langsung bagaimana kekuatan budaya dan maritim Bulukumba dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang bernilai.
Kegiatan tersebut dilakukan setelah selama dua hari tim DMO mengikuti pembelajaran di kelas mengenai tata kelola destinasi wisata. Bersama PUM Expert, Mrs. Conja Ter Bekke, tim kemudian turun ke lapangan untuk melihat sejumlah destinasi unggulan di Kabupaten Bulukumba.
Ketua Umum Prabu Pinisi Indonesia, Kolonel Czi (Purn) Darmaiinus Kongres, S.E., M.M., bersama tim DMO mendampingi Conja Ter Bekke mengamati langsung proses pembuatan kapal Pinisi oleh para pengrajin lokal.
Di Tanah Beru, wisatawan sesungguhnya tidak hanya menemukan kapal. Mereka menemukan pengetahuan tradisional, keterampilan tangan, hubungan manusia dengan laut, serta cerita panjang masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.
Bukan Sekadar Melihat Kapal
Dalam perspektif pengembangan destinasi, Tanah Beru memiliki modal yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi tempat produksi kapal. Ia dapat dikembangkan sebagai living cultural heritage—warisan budaya yang tetap hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat Pinisi yang telah jadi. Mereka dapat menyaksikan bagaimana kapal dibangun, mengenal jenis dan fungsi kayu, berbincang dengan pengrajin, memahami filosofi pembuatan kapal, mengikuti aktivitas budaya, membeli produk lokal, dan membawa pulang cerita tentang tradisi maritim Bulukumba.
Pengalaman semacam itu memiliki nilai yang berbeda dari wisata yang hanya mengandalkan pemandangan. Sebab, yang dijual bukan semata-mata objek, melainkan cerita, pengetahuan, interaksi, dan pengalaman. ‘
Pinisi sendiri merupakan kapal layar tradisional masyarakat Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Tradisi pembuatannya telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2017.
Pengakuan tersebut memberi posisi penting bagi Bulukumba, khususnya Tanah Beru, dalam peta destinasi wisata berbasis warisan budaya dan maritim. Namun, status sebagai warisan budaya tidak otomatis menjadikannya destinasi wisata berkualitas.
Warisan perlu dirawat. Cerita perlu dituturkan. Pengalaman perlu dirancang. Masyarakat perlu memperoleh manfaat. Infrastruktur dan pelayanan harus mendukung. Keselamatan wisatawan harus diperhatikan. Di sinilah tata kelola destinasi menjadi penting.
Dari 5A hingga Ekosistem Destinasi
Site visit DMO Prabu Pinisi Indonesia diarahkan untuk melihat destinasi melalui kerangka 5A, yakni Attraction, Accessibility, Amenities, Activities, dan Ancillary Services.
Lima komponen tersebut membantu melihat destinasi secara lebih utuh. Daya tarik saja tidak cukup. Sebuah destinasi membutuhkan akses yang baik, fasilitas yang memadai, aktivitas yang membuat wisatawan bertahan lebih lama, serta layanan pendukung yang menjamin kenyamanan dan keamanan.
Tim juga melihat aspek kebersihan, keselamatan, kualitas pelayanan, kesiapan sumber daya manusia, informasi wisata, serta peluang keterlibatan UMKM dan masyarakat lokal.
Pendekatan ini penting karena pengembangan destinasi tidak lagi cukup dilakukan dengan membangun satu objek wisata. Yang dibutuhkan adalah ekosistem destinasi. Wisatawan idealnya tidak datang, mengambil foto, lalu pulang.
Mereka tinggal lebih lama. Mengikuti aktivitas. Berinteraksi dengan masyarakat. Menggunakan jasa lokal. Membeli produk UMKM. Mengonsumsi kuliner setempat. Menggunakan pemandu lokal. Kemudian pulang membawa cerita yang membuat mereka ingin kembali atau merekomendasikannya kepada orang lain.
Dari perspektif ekonomi lokal, semakin panjang rantai pengalaman tersebut, semakin besar pula peluang manfaat ekonomi tersebar di masyarakat.
Kekuatan Identitas Bulukumba
Pinisi memiliki posisi yang sangat khas dalam identitas Bulukumba. Ia bukan sekadar produk budaya, tetapi juga pengetahuan yang diwariskan, keterampilan yang dipelajari dari generasi ke generasi, dan simbol hubungan masyarakat Sulawesi Selatan dengan laut.
Karena itu, tantangan terbesar bukan bagaimana membuat Pinisi menjadi atraksi wisata baru. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana menjadikan kehidupan Pinisi sebagai pengalaman wisata tanpa kehilangan keasliannya?
Pertanyaan tersebut penting karena pengembangan pariwisata berbasis budaya selalu berhadapan dengan dua kepentingan. Di satu sisi ada kebutuhan menghadirkan pengalaman bagi wisatawan. Di sisi lain ada kewajiban menjaga otentisitas dan keberlanjutan tradisi masyarakat.
Tanah Beru berada tepat di tengah persimpangan itu. Ia memiliki warisan yang nyata, komunitas pengrajin yang masih bekerja, lanskap budaya yang hidup, serta cerita maritim yang kuat. Modal tersebut jauh lebih berharga jika dikelola sebagai sebuah ekosistem daripada sekadar diposisikan sebagai objek kunjungan.
Mengubah Warisan Menjadi Nilai
Site visit bersama PUM Expert Conja Ter Bekke menjadi kesempatan bagi tim DMO untuk melihat langsung kekuatan sekaligus persoalan destinasi. Bagi Prabu Pinisi Indonesia, proses pembelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong tata kelola destinasi Bulukumba yang lebih terintegrasi, berbasis masyarakat, berkelanjutan, dan memiliki daya saing.
Tanah Beru memiliki sesuatu yang tidak mudah ditiru oleh destinasi lain. Di tempat lain, wisatawan mungkin dapat melihat kapal. Tetapi di Tanah Beru, wisatawan dapat melihat bagaimana sebuah kapal lahir dari pengetahuan manusia, kayu, tangan pengrajin, tradisi, dan hubungan panjang masyarakat dengan laut.
Itulah cerita yang sesungguhnya bisa menjadi kekuatan pariwisata Bulukumba.
Masa depan Pinisi bukan hanya tentang kapal yang berlayar ke laut. Ia juga tentang bagaimana kisah di balik kapal itu dapat membawa masyarakat Tanah Beru dan Bulukumba berlayar lebih jauh melalui pariwisata yang berkualitas dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Penulis Tahede









