“Emas Putih” Banyuwangi, Mengapa Sungai Kita Adalah Bom Waktu yang Berdetak?

  • Whatsapp
  • Banyuwangi memegang peranan vital sebagai salah satu sentra budidaya udang vaname terpenting di Jawa Timur. Pesatnya pertumbuhan industri pertambakan di kawasan ini harus berhadapan langsung dengan tantangan degradasi kualitas air.
  • Masalah ini dipicu oleh akumulasi beban limbah antropogenik dari aktivitas domestik, limpasan pupuk pertanian, hingga buangan pakan dan bahan kimia pertambakan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).
  • Penurunan mutu air pasokan tersebut membawa dampak serius bagi kelangsungan ekosistem budidaya. Kondisi ini tidak hanya memicu fluktuasi parameter fisik-kimia air secara drastis, tetapi juga mempercepat transmisi penyakit berbahaya yang berisiko menyebabkan kematian massal pada udang.

PELAKITA.ID – Banyuwangi telah lama berdiri tegak sebagai episentrum “emas putih” bagi Jawa Timur, sebuah gelar yang disandang berkat produktivitas udang vaname yang luar biasa. Di balik kemilau ekspor dan hamparan tambak yang tampak subur, terselip sebuah kontradiksi yang mengkhawatirkan: ekosistem kita sedang menjerit.

Pesatnya pertumbuhan industri ini kini berada di titik persimpangan, berhadapan langsung dengan degradasi lingkungan yang perlahan namun pasti mulai menggerogoti stabilitas budidaya kita sendiri.

Memahami kesehatan tambak di hilir tidak bisa dilepaskan dari apa yang terjadi di hulu. Berdasarkan konsep konektivitas ekosistem DAS (Daerah Aliran Sungai), sungai-sungai kita kini telah berubah fungsi menjadi “jalan tol” bagi akumulasi beban limbah antropogenik.

Data lapangan menunjukkan dominasi masukan nutrien terlarut yang signifikan di wilayah hulu, seperti TAN (Total Ammonia Nitrogen), Fosfat, dan Nitrit.

Yang menarik secara saintifik adalah nilai korelasi Nitrit yang mencapai R=0,60, membuktikan betapa kuatnya pengaruh buangan dari aktivitas domestik, limpasan pupuk pertanian, serta sisa pakan perikanan darat terhadap kualitas air yang mengalir ke pesisir. Penurunan mutu air pasokan ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan ancaman nyata bagi petambak:

“Penurunan mutu air pasokan ini tidak hanya memicu fluktuasi parameter fisik-kimia air yang drastis, tetapi juga mempercepat transmisi penyakit berbahaya yang berisiko menyebabkan kematian massal udang,” ujar peneliti perikanan budidaya, Arif Habib Fasya dari Unair Banyuwangi.

Arif hadir sebagai satu narasumber pada Lokakarya Nasional Strategi Pengelolaan Tambak Udang Secara Berkelanjutan yang digelar oleh Kemenko Pangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bappenas dan Konservasi Indonesia di Surabaya, Kamis, 27 Agustus 2026.

Status “Bahaya”: Ketika TOM dan TSS Melampaui Batas

Dikatakan Arif, dalam orkestrasi lingkungan tambak, parameter organik sering kali menjadi dirigen yang menentukan arah kesuksesan.

”Meskipun hasil pengukuran secara angka belum melampaui ambang batas maksimal baku mutu secara teknis, statusnya telah dilabeli “Bahaya”. Hal ini dikarenakan tren akumulasi yang terus meningkat, bukan sekadar potret sesaat,” ucapnya.

Parameter Hasil Pengukuran Baku Mutu (Maks) Status Mutu
TOM (Total Organic Matter) 15,80 – 89,11 mg/L 90,0 mg/L Bahaya
TSS (Total Suspended Solids) 2,98 – 75,5 mg/L 100,0 mg/L Bahaya

Mengapa angka-angka ini begitu mencemaskan? Akumulasi TOM adalah “panggung utama” bagi merebaknya vibriosis.

Menurut Arif, tingginya materi organik dan padatan tersuspensi (TSS) tidak hanya menjadi media pertumbuhan bakteri patogen, tetapi secara sistemik menurunkan efisiensi difusi oksigen dalam air.

Ini adalah sebuah keseimbangan yang sangat rapuh; sedikit saja lonjakan organik terjadi, sistem pertahanan biologis di tambak bisa runtuh seketika.

Dilema Salinitas dan Suhu: Zona “Waspada” yang Sering Terabaikan

Arif mengingatkan bahwa sering kali kita terlalu fokus pada kebersihan air namun abai pada ritme alam. Saat ini, suhu dan salinitas di kawasan pertambakan Banyuwangi sedang “menari di tepi jurang” kenyamanan udang.

Saat Suhu: 27,5 – 32,2°C, status waspada, lalu salinitas 21,5 hingga 38,5 ppt juga status waspada.

Ketidakstabilan ini, menurut Arif, diperburuk oleh fluktuasi musiman yang ekstrem, menciptakan beban fisiologis tambahan bagi udang.

Mengelola tambak di era perubahan iklim seperti sekarang bukan lagi sekadar menjaga kejernihan kolam, melainkan seni memitigasi anomali lingkungan yang sering kali datang tanpa peringatan.

Dalam dunia akuakultur berkelanjutan, kita mengenal konsep Tekanan – Kondisi – Respons. Lingkungan yang tidak stabil—mulai dari fluktuasi salinitas yang tajam hingga akumulasi Nitrit dan TOM—bertindak sebagai faktor tekanan (stressor) yang konstan.

Udang yang terpapar stres lingkungan akan mengalami gangguan kondisi fisiologis, yang secara drastis menurunkan kemampuan imunitasnya. Dalam kondisi pertahanan yang rapuh inilah, transmisi penyakit menjadi jauh lebih cepat. Penyakit bukan sekadar datang dari luar; ia adalah respons biologis atas kegagalan kita menjaga stabilitas rumah bagi udang-udang tersebut.

Solusi Masa Depan: Deteksi Molekuler dan Indeks Risiko (IRP)

Masa depan industri ini tidak lagi bisa bersandar pada intuisi semata, melainkan pada navigasi data yang presisi.

Dua solusi strategis yang ditawarkan Arif meliputi Deteksi Molekuler Patogen (PCR) atau mitigasi dini untuk mendeteksi kehadiran patogen pada level genetik sebelum kematian massal terjadi.

Kedua, Indeks Risiko Penyakit (IRP), sebuah “sistem navigasi” cerdas yang menggabungkan berbagai parameter tekanan mulai dari TOM, TSS, Nitrat, hingga aspek biologis seperti TVC (Total Vibrio Count) dan TBC (Total Bacterial Count), serta deviasi suhu dan salinitas.

Strategi jangka panjang ini tidak berhenti pada pengukuran harian. Rencana tindak lanjut yang komprehensif mencakup pemetaan sebaran penyakit selama satu tahun penuh.

”Pemetaan ini krusial untuk memahami pola risiko musiman di sepanjang pesisir Banyuwangi, memberikan manfaat praktis bagi petambak dalam merancang kalender budidaya yang lebih aman,” sebut Arif.

Memilih Antara Keuntungan Sesaat atau Keberlanjutan

Di ujung paparannya, Arif menyebut, keberhasilan Banyuwangi sebagai sentra udang vaname adalah sebuah kebanggaan, namun mempertahankannya adalah sebuah perjuangan intelektual dan moral.

Peran aktif institusi akademik seperti Universitas Airlangga—sebagai kampus peringkat #287 dunia (Top 300 World Rank)—menjadi sangat vital.

”Riset ini bukan sekadar deretan angka, melainkan bukti nyata dedikasi sains dalam mengawal ekonomi lokal dan menyelamatkan ekosistem yang menjadi urat nadi masyarakat,” kata dia.

Menurut Arif, demkian itu akan kembali kepada kita, apakah kita akan terus mengejar profit jangka pendek di atas degradasi lingkungan, atau mulai berinvestasi pada kesehatan DAS demi keberlanjutan masa depan?

Bagi dia, menyeimbangkan pertumbuhan industri dengan kesehatan sungai bukan lagi pilihan, melainkan keharusan jika kita ingin tetap melihat vaname menjadi “emas” bagi generasi mendatang.

___
Editor K. Azis