Selamat Jalan Saribbattang, Sudirman Haji Nasir

  • Whatsapp
Momen penulis bersama Sudirman Haji Nasir dan A.S Kambie - sesama anak pesantren.

Pertemuan terakhir dengannya saat kami sama-sama hadir di ruang pertemuan Australian-Indonesia Center di Kampus Unhas dalam bulan Maret, juga sempat ke Laikang Takalar, bersama Ilham Alimuddin, Rijal Idrus dan istrinya yang baik hari Nana Saleh. Sudi dan Nana aktid di AIC.

PELAKITA.ID – Tengah malam di Jawa Timur. View Kota Surabaya nampak indah dan syahdu sebelum kabar haru itu tiba. Kabar kiriman menyesakkan dari brother Ilham Alimuddin di WAG Climate Reporting. Saya menyingkap jendela di lantai 20 salah satu hotel di Kota Pahlawan, melepas pandangan lirih dari timur ke barat.

Titik-titik cahaya berpendar di dinihari. Gedung-gedung menjulang nampak seperti pasak persegi menyembul dari perut Tanah Jawa. Ada yang meriung dalam ingatan, ada yang luapan kesedihan dan air mata yang menggenang.

Saya menutup jendela, dan membaca respon kawan-kawan. Mulai dari grup FIK Ornop, WAG Alumni Unhas, WAG Alumni Smansa Makassar hingga Grup Kolaborasi Alumni Unhas beranggotakan 200-an orang itu.

Sahabat kami, orang dekat dan motivator kami di kanal Pelakita.ID, Sudirman Haji Nasir berpulang ke Sang Khalik, innalillahi wa innailahi rajiun.

“Motivasi-ki Ananda untuk perbanyak buku sastra, harus seimbang antara belajar kesehatan masyarakat dan kesusastraan,” itu pesan terakhir dari Sudi untuk anak bungsu saya, Sofia yang kini kuliah di FKM Unhas, tempat di mana Sudi sebagai dosen, sebagai peneliti.

Dia pula yang mengajak untuk saya jadi ‘dosen komunikasi’ penulisan kreatif di FKM Unhas dua tahun lalu saat sahabat NGO kami lainnya, Sukri Palutturi jadi Dekan di sana.

“Waah mantap, kalau beliau-beliau anggotana, menangis saya kalau ndak dikasi ikut.”

Itu arsip percakapan saya dengan Sudi di FB. Sudah lama. Dia jawab demikian saat saya undang dia sebagai anggota grup WAG yang beranggotakan Muhary Wahyu Nurba dan Abdul Rasyid Idris. Dua nama ini sastrawan, penulis puisi dan kawan dekatnya.

Dua nama itu yang hemat saya sebagai teman diskusi sastra, sekaligus tempatnya mengadu dan curhat.

Saya ingin bilang, Sudi bukanlah aktivis WAG, yang royal berbagi info dramatis, atau bakugea’ (debat), dia peneliti, penulis, dan senang traveling dan fokus pada perilaku kesehatan publik.

Pertemuan terakhir dengannya saat kami sama-sama hadir di ruang pertemuan Australian-Indonesia Center di Kampus Unhas dalam bulan Maret, juga sempat ke Laikang Takalar, bersama Ilham Alimuddin, Rijal Idrus dan istrinya yang baik hari Nana Saleh. Sudi dan Nana aktid di AIC.

”Hebat Denun, bisa- mi ke Melbourne, kota penuh kenangan,” terkenang ucapannya saat kami bersua kala itu.

Informasi sakit yang dialami Sudi, saya juga dengar dari Ilham ’Illy’ sahabatnya.

Saat itu, Illy bercerita kalau Sudi sedang dirawat di rumah sakit, dan mengajak kami untuk membesuk, Rijal Idrus sempat ke sana, sementara saya hanya bisa berbagi doa via WAG Climate Reporting itu.

Perkenalan dengan Sudi bermula saat saya bekerja di Aceh-Nias tahun 2007, saat mulai jadi blogger dan bertemu dia dengan Gerombolan Bugis Melbourne.

Saya ingat nama-nama seperti Nana – istrinya, Meutia Adnan, Dian Fatwa, hingga kawan dekatnya Farid. Sudi, seperti Nurhady Sirimorok, Anwar Jimpe Rahman dan Aan Mansyur, adalah guru menulis yang luar biasa saat saya mulai belajar menulis online dan berkelana di pesisir Sumatera tahun 2000-an akhir.

Kebaikannya persis kebaikan satu guru menulis lainnya yang sangat berpengaruh dalam karir kepenulisan saya, Lily Yulianti Farid, juga salah satu anggota Gerombolan Bugis Melbourne itu.

Banyak cerita dari perjumpaan saya dengan Sudi di sini. Kota Banda Aceh, tempat saya tinggal kala itu selalu diwarnai kisah-kisah mereka.

Sudi gandrung bercerita tentang Rhoma Irama dengan nada canda, senang bertanya pernak-pernik Galesong – kampung halaman saya, termasuk keluguan pengalamannya sebagai siswa di Smansa Makassar. Dia angkatan 91, saya 89.

Saya selalu memuji persahabatan Sudi dengan kawan seangkatannya yang hebat-hebat. Arianto Patunru yang kini dosen dan peneliti di Australia, ada Tomi Lebang, penulis dan kini bekerja unruk Kementerian Perhubungan.

Saya membayangkan air mata dari kawan-kawan Sudi di Smansa 91, dr Agi, Zuhair Kalla, hingga Sanrego Djafar saat tahu kabar duka ini.

Di website berita maritim Pelakita.ID, yang kami dirikan sejak 6 tahun lalu, Sudirman Nasir adalah salah satu penyemangat yang luar biasa.

Dia adalah salah satu kolumnis kami, ada beberapa tulisan yang dibagikannya, termasuk kami pun membuat profil tentang dirinya.

Banyak cerita tentangnya, tidak akan cukup dengan hanya seribuan kata di website, atau berlembar-lembar kertas ketikan.

Sudi adalah sahabat, saudara dan inspirasi yang sungguh luar biasa.

Kebaikannya, kesabarannya, selera humornya, dan cintanya pada istri Nana Saleh dan anandanya Rifqy tiada yang menyamai kadar dan kesungguhannya. Semoga Nana dan ananda Rifqy tetap tabah dan terus melanjutkan kebaikannya ’ettana’.

Pagi ini saya membuka tirai di kamar hotel, menyaksikan langit Surabaya yang berkabut, suasana seperti masih dirubung bulir-bulir embun, atau bisa jadi asap kiriman Sumatera dan Kalimantan yang menyaru di atas Jawa, seperti enggan memulai hari karena kabar duka dari Bukit Baruga, Makassar itu.

Selamat jalan saribbattangku, Sudirman Haji Nasir.

__
Denun di Surabaya, 27 Agustus 2026

_
Keterangan foto, Sudirman Nasir berfoto bersama A.S Kambie dan penulis di area Mari Mall beberapa tahun lalu.