Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar, Mampu Melintasi Waktu

  • Whatsapp
Bunda Pustaka, merupakan program inovasi SD Negeri Borong, yang tetap eksis berkat dukungan orangtua dan jejaring sekolah

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Penggiat Literasi, dan Penggiat Sekolah Ramah Anak)

PELAKITA.ID – Bunda Pustaka SD Negeri Borong, telah teruji tetap eksis, meski kepala sekolah berganti, begitupun dengan pengurusnya.

Komunitas yang terdiri dari ibu-ibu orangtua murid ini, dibentuk di masa Dra. Hj. Hendriati Sabir, M.Pd sebagai kepala sekolah.

Kepemimpinan kemudian berganti, dari Hendriati Sabir kepada Muhammad Agus, S.Pd, Gr, lalu berganti lagi ke M. Amin Syam, S.Pd, Gr, keduanya sebagai pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah. Tongkat estafet kepemimpinan di UPT SPF SD Negeri Borong, saat ini, dipegang oleh, Andi Etty Cahyani, S.Pd, M.Pd, yang menjabat sebagai kepala sekolah sejak tanggal 23 Juni 2026.

Ketika dibentuk pertama kali, pada tahun 2021, Bunda Pustaka, sudah mengalami empat kali perganti kepengurusan. Dian Friani (Bunda Huqa), merupakan Ketua Bunda Pustaka, periode pertama (2021-2022).

Selanjutnya, Bunda Pustaka dipimpin oleh Mulyati Husain (Bunda Eki), yang menjadi ketua selama dua periode, yakni 2022-2023 dan 2023-2025. Pada periode kedua, terjadi perubahan masa jabatan, dari yang semula satu tahun menjadi dua tahun.

Kini, Bunda Pustaka dipimpin oleh Annisyah Arsyad (Bunda Algazali), untuk masa bakti 2025 hingga 2027.

Terinspirasi Ibu Relawan Baca

Ide bisa datang dari mana saja. Ide tak harus melulu orisinal. Bisa saja hanya merupakan replikasi dari ide orang lain sebelumnya. Lalu dilakukan adaptasi sesuai kondisi dan kebutuhan. Sesuai target yang ingin dicapai. Biasanya, orang menyebutnya dengan singkatan “ATM”: amati, tiru, modifikasi. Itu pula yang kami lakukan ketika mengembangkan program Bunda Pustaka di SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Cerita ini bermula, ketika suatu hari saya mendapat undangan menghadiri pertemuan yang diadakan Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

Pertemuan dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar, saat itu dijabat oleh Drs. Andi Siswanta Attas, yang dihadiri oleh sejumlah penulis, penerbit, penggiat literasi, pustakawan, dan mitra Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

Dalam pertemuan yang diadakan di salah satu restoran di Jalan Arief Rate, Makassar, itu lamat-lamat saya mendengar seorang ibu berbicara tentang relawan membaca. Saya kurang jelas mendengar apa yang disampaikan, namun ada poin penting yang saya ingat: ibu-ibu relawan baca.

Usai pertemuan itu, saya coba searching di Google. Saya menemukan berita di media online bahwa Dinas Perpustakaan Kota Makassar menyelenggarakan Pelatihan Ibu Relawan Baca, pada bulan Juli 2019.

Pelatihan dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar, saat masih dijabat H. Muhyiddin, S.E., M.M., diikuti 100 kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelurahan dan Kecamatan se-Kota Makassar.

Keberadaan relawan baca ini diharapkan akan membentuk iklim budaya membaca di tengah keluarga dan masyarakat. Apalagi, ibu adalah figur bagi anak-anak untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Sehingga, peran ibu menjadi sangat strategis. Ibu adalah perpustakaan pertama bagi anak-anaknya.

Pengurus Bunda Pustaka periode 2025-2027, saat proses pemilihan baru saja dilakukan

Ibu Relawan Baca itu merupakan salah satu strategi Dinas Perpustakaan Kota Makassar untuk membudayakan kegemaran membaca masyarakat. Dinas Perpustakaan Kota Makassar memang berkomitmen membentuk satu lagi komunitas yang berasal dari ibu-ibu.

Ketua Ibu Relawan Baca Kota Makassar ini adalah Kartini Ismail, yang juga merupakan Ketua Forum Posyandu se-Kota Makassar. Kartini Ismail didampingi Cince Isuwati Iwan, sebagai Sekretaris Ibu Relawan Baca Kota Makassar. Rupanya, Ibu Kartini Ismail itulah yang saya dengar berbicara dalam pertemuan yang diadakan Dinas Perpustakaan Kota Makassar, tempo hari.

Begitu mengetahui soal Ibu Relawan Baca Kota Makassar, saya kemudian menghubungi Tulus Wulan Juni, Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan Kota Makassar. Saya meminta nomor kontak Bu Kartini Ismail, dan langsung berkomunikasi dengan beliau.

Saya perkenalkan diri sebagai penggiat literasi yang tengah mengembangkan program di SD Negeri Borong. Saya juga mengajak beliau untuk suatu hari bikin kegiatan di SD Negeri Borong seputar aktivitas Ibu Relawan Baca Kota Makassar.

Saya memang biasa mengajak stakeholder untuk datang ke sekolah-sekolah yang jadi mitra dan dampingan saya. Saya gunakan pendekatan jejaring sebagai medium menjembatani sekolah dengan pihak-pihak yang potensial diajak kerja sama atau melakukan program bersama. Bu Kartini Ismail sangat responsif terhadap tawaran saya. Beliau bersedia kapan-kapan diajak menjadi narasumber bila ada kegiatan di SD Negeri Borong.

Dalam suatu kesempatan ke sekolah untuk bertemu Kepala SD Negeri Borong, Dra. Hj. Hendriati Sabir, M.Pd., saya menyampaikan tentang keberadaan Ibu Relawan Baca Kota Makassar. Kami kemudian berdiskusi dan melihat peluang untuk mengadaptasi keberadaan Ibu Relawan Baca Kota Makassar.

Saya sendiri meyakini bahwa banyak ibu-ibu yang punya potensi. Ketika mereka masih muda, misalnya, banyak yang berkarier di luar rumah, aktif berorganisasi, dan punya seabrek bakat dan potensi.

Namun karena domestifikasi peran perempuan, begitu mereka menikah dan punya anak, mereka —atas pilihan sadar, misalnya alasan mengurus anak dan keluarga— memilih menjadi ibu rumah tangga (IRT). Meski begitu, banyak pula di antara ibu-ibu rumah tangga ini yang aktif di lingkungan tempat tinggalnya, bahkan sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) atau Ketua Rukun Warga (RW). Ini yang saya temui selama masih menjadi host acara bincang-bincang “Beranda Pak RT” di RRI Pro1 Makassar, 2016-2020.

Pemikiran itulah yang mendasari dibentuknya Bunda Pustaka. Potensi sumber daya Bunda Pustaka diidentifikasi pada keaktifan ibu-ibu paguyuban atau komite kelas, dan ibu-ibu yang biasa mengantar jemput anaknya ke sekolah, terutama ibu-ibu yang menemani anaknya mengikuti ekstrakurikuler minat bakat, yang rutin dilaksanakan setiap hari Kamis. Keberadaan Bunda Pustaka ini menjadi penting dan mendesak lantaran ada kebutuhan, yakni untuk mempercepat penguatan Perpustakaan Gerbang Ilmu yang akan mengikuti Akreditasi Perpustakaan Sekolah di tahun 2021.

Bunda Pustaka merupakan cara SDN Borong menghidupkan gerakan literasi sekolah

Untuk memperkuat argumentasi tentang keberadaan Bunda Pustaka, saya membuatkan konsepnya dalam bentuk Term of Reference (TOR), yang akan digunakan saat sosialisasi nantinya. Kerangka acuan yang saya buat di smartphone itu saya japrikan ke Kepala SD Negeri Borong, Bu Indri, begitu biasa beliau disapa, sebagaimana biasa saya lakukan jika mengusulkan ide, gagasan, atau suatu program.

Dalam TOR itu digambarkan bahwa secara konsepsional, Bunda Pustaka berbeda dengan Bunda Baca dan Bunda PAUD. Perbedaan paling jelas yang dapat dilihat, yaitu Bunda Pustaka ‘hanyalah ibu-ibu biasa’, sedangkan Bunda Baca dan Bunda PAUD lazimnya diemban oleh istri pejabat, dalam hal ini istri gubernur atau istri walikota/bupati.

Bunda Pustaka juga lebih mudah diasosiasikan ke perpustakaan, dan punya pengertian yang lekat pada buku. Bandingkan dengan Bunda Baca, yang jika kita gunakan kata dasar “baca”, menurut KBBI V, berarti eja (huruf, tulisan, dan sebagainya). Sekalipun, baca dalam frasa Bunda Baca dimaksudkan sebagai aktivitas membaca. Sehingga, seorang Bunda Baca dengan ketokohannya, mengajak kita dan menjadi teladan, terutama bagi anak-anak, agar gemar membaca.

Begitupun dengan sebutan Bunda PAUD, yang lebih spesifik lagi punya perhatian terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD), mereka yang berada pada usia emas (golden age).

Jadi, dapat disimpulkan, penyebutan Bunda Pustaka ini sangat relevan dengan perpustakaan dan terkoneksi langsung dengan aktivitas perpustakaan. Apalagi, pemahaman perpustakaan kini sudah berbasis inklusi sosial. Maksudnya, perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensi dirinya dengan melihat keberagaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, juga melindungi dan memperjuangkan budaya dan hak asasi manusia, sesuai dengan tujuan SDGs (Sustainable Development Goals).

Di antara tujuan Pembangunan Berkelanjutan itu, yang relevan dengan Bunda Pustaka, adalah pendidikan berkualitas (quality education) dan kesetaraan gender (gender equaty).

Sosialisasi Bunda Pustaka

Setelah konsep Bunda Pustaka diterima, disepakati untuk mengadakan Sosialisasi Bunda Pustaka secara daring, pada Selasa, 6 April 2021. Pilihan daring dilakukan dengan pertimbangan selain masih dalam suasana pandemi Covid-19, juga karena relatif mudah dan murah.

Kepala sekolah, narasumber, Ibu Kartini Ismail, dan saya mengikuti kegiatan di Ruang Guru SD Negeri Borong. Ibu Kartini Ismail diundang untuk berbagi pengalaman seputar keterlibatan dirinya sebagai seorang ibu dalam peningkatan minat baca. Hadir juga dalam kegiatan sosialisasi itu Ketua Komite Sekolah SD Negeri Borong, Drs H. Marzuki.

Kartini Ismail mengemukakan bahwa ibu-ibu itu bukan hanya dilibatkan dalam kegiatan tapi mesti melibatkan diri sebagai Bunda Pustaka. Katanya, ibu-ibu mesti lebih proaktif dan mengambil inisitiaf dalam meningkatkan minat baca anak dan pengembangan perpustakaan sekolah.

Menurutnya, ibu itu adalah pelita, yakni pekerja lillāhi ta’āla.

Menurut ibu yang berprofesi di bidang public speaking itu, ibulah yang mesti lebih dahulu gemar membaca supaya anaknya juga tertarik membaca. Diingatkan, jangan sampai ibu sibuk dengan medsos. Sebaiknya, ibulah yang mengalihkan perhatian anaknya dari gawai untuk lebih fokus membaca.

Kartini Ismail lalu menceritakan pengalamannya yang selalu ke toko buku atau ke lapak-lapak buku, sembari mengajak cucunya apabila sedang berulang tahun. Secara pribadi, dia mengakui betapa besar manfaat membaca yang dirasakan. Meski dia sendiri mengaku pendidikannya kurang, tapi karena dia gemar membaca, maka lewat bacaan-bacaannya itu membawa dia ke dunia yang lebih luas.

“Ibu itu merupakan perpustakaan dan madrasah pertama bagi seorang anak,” katanya memberi motivasi.

Sementara, Hj Hendriati Sabir berharap, kegiatan Bunda Pustaka ini akan memiliki ciri yang berbeda dengan Bunda Baca. Karena Bunda Baca biasa diemban oleh istri-istri pejabat, seperti istri bupati atau istri walikota, sedangkan Bunda Pustaka dari orang tua siswa. Bunda Pustaka akan jadi bagian dari pendidikan karakter, parenting, dan gerakan literasi sekolah.

Bunda Pustaka merupakan cara SDN Borong menghidupkan gerakan literasi sekolah

Diakui bahwa kegiatan ini bagian dari upaya sekolah mempersiapkan akreditasi perpustakaan. SD Negeri Borong berupaya untuk memenuhi kriteria administratif dan juga melakukan penataan secara fisik perpustakaan sekolahnya. Selama ini, kegiatan yang dilakukan sekolahnya menggunakan pendekatan multistakeholder.

Jadi ada sinergitas antara sekolah, pendidik, peserta didik, komite sekolah, orang tua murid, serta pemerhati dan motivator anak dan lain-lain.
“Kami mau ada tampilan dan suasana baru. Bila perlu, Bunda Pustaka membuat program yang nanti jadi amal jariah bagi mereka,” jelas Hj. Hendriati Sabir, kala itu.

Kepala Perpustakaan Gerbang Ilmu, SD Negeri Borong, Saparuddin Numa, S.I.P, dalam kegiatan itu menyampaikan, akan menjadikan Bunda Pustaka sebagai program terpadu dengan Duta Baca, yang lebih dahulu diadakan. Duta Baca ini dibentuk setelah diadakan lomba bercerita saat Bulan Bahasa, pada Oktober 2020.

Lahir di Masa Pandemi Covid-19

Bunda Pustaka itu lahir di saat dunia tengah dilanda Coronavirus Disease 2019 atau biasa disingkat Covid-19. Pada masa ini, terutama di awal pandemi, dilakukan berbagai kebijakan terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan berbagai kebijakan lain, yang intinya meminta masyarakat senantiasa mematuhi protokol kesehatan. Pesan yang selalu disampaikan adalah menjaga jarak (social distancing), memakai masker, dan mencuci tangan.

Dampaknya, aktivitas yang biasa dilakukan secara tatap muka (offline) berganti dengan kegiatan yang mengandalkan teknologi digital. Dampak ini juga dialami Bunda Pustaka.

Meski dalam suasana pandemi Covid-19, tidak menjadi kendala proses pembentukan Bunda Pustaka, dan tidak mengendorkan semangat mereka ketika hendak membentuk Bunda Pustaka hingga saat pengukuhannya. Percakapan dalam grup WhatsApp Perpustakaan Gerbang Ilmu, yang belakangan menjadi grup GerbangIlmu BundaPustaka, sebagai bukti jejak digitalnya.

Peluncuran sekaligus pengukuhan Bunda Pustaka dilakukan pada Sabtu, 24 April 2021, dalam rangka peringatan Hari Buku Sedunia. Komunitas internasional sepakat bahwa buku teramat penting bagi kemajuan peradaban manusia. Sehingga, UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai World Book Day.

Terkait tanggal itu pula yang jadi alasan saat pengukuhan Bunda Pustaka. Pertimbangannya, supaya lebih mudah mengingat momen penting ini serta relevan dengan semangat membudayakan kegemaran membaca. Selain me-launching Program Bunda Pustaka, SD Negeri Borong juga meluncurkan dua program lain, yakni i-BuDi (Ini Buku Digital) dan KruCil (Kru Cilik) website sekolah.

“Kami dari Dinas Perpustakaan bangga karena setiap kali diundang, selalu ada inovasi baru. Hal ini menunjukkan ada keseriusan dari sekolah,” kata H. Muhyiddin yang, kala itu, sebagai Sekretaris Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

Dalam sambutannya, Muhyiddin mengatakan bahwa meski mimpi Dinas Perpustakaan jauh, tapi jika tidak ada dukungan dari sekolah maka akan menjadi percuma. Menurutnya, inovasi yang dilakukan SD Negeri Borong ini sesuai harapan Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto, yang tercantum dalam 18 Revolusi Pendidikan.

Katanya, jika sekolah mampu memenuhi standar nasional pendidikan dan standar nasional perpustakaan maka sekolah tersebut sudah termasuk bintang lima. Karena itu, kita perlu ada inovator dari pustakawan dan guru. Namun, inovasi itu tidak jalan sendiri-sendiri melainkan harus ada kolaborasi dan sinergi antar-pemangku kepentingan.

Muhyiddin berharap, setelah launching program ini, ke depan bisa jadi top inovasi. Bahkan, bisa jadi, Bunda Pustaka ini akan menginspirasi lahirnya Bunda Pustaka Kota Makassar.

Bunda Pustaka yang dikukuhkan pada hari itu adalah Dian Friani (Ketua), Ramlah (Sekretaris), dan Nanik Widorini (Bendahara), serta koordinator bidang dan anggotanya. Ada tiga bidang, yakni: Bidang Pengembangan Layanan Perpustakaan, Bidang Peningkatan Kegemaran Membaca, dan Bidang Publikasi dan Jejaring.

Kepala Bidang Pengembangan Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kota Makassar, Ahmad Hidayat, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi hal baru yang dilakukan SD Negeri Borong. Katanya, selama ini hanya dikenal Bunda Baca dan Bunda PAUD. Kali ini ada Bunda Pustaka, dari kalangan orang tua murid.

Ahmad Hidayat memuji kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan untuk membawa sekolahnya sebagai sekolah penggerak. Indikator sekolah penggerak itu, lanjutnya, terletak pada kepala sekolahnya. Pria yang biasa disapa Pak Yayat itu, kemudian memberikan selamat kepada SD Negeri Borong yang telah menelorkan inovasi baru berkat sinergitas antara Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan, Komite Sekolah, guru-guru, orang tua dan unsur masyarakat lainnya.

Hj. Hendriati Sabir mengakui bahwa kegiatan pengukuhan Bunda Pustaka, serta launching Program i-BuDi (Ini Buku Digital) dan KruCil (Kru Cilik) website sekolah sebagai bagian dari ikhtiar sekolahnya menghadapi akreditasi perpustakaan. Disampaikan pula bahwa sekolah yang dipimpinnya tengah mengikuti seleksi Sekolah Penggerak.

Upaya Hj Hendriati Sabir itu berhasil. SD Negeri Borong menjadi Sekolah Penggerak, dan Perpustakaan Gerbang Ilmu meraih Akreditasi A. Sekolah yang berada di Jalan Borong Raya Nomor 8, Kecamatan Manggala itu, juga berhasil menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri.

Semua pencapaian itu ada kontribusi dan partisipasi Bunda Pustaka. Inilah bentuk kolaborasi riil antara orangtua dan sekolah, di mana orangtua menjadi salah satu pilar penting keberhasilan sekolah.