- Sosiologi sering kali dipandang sebagai ilmu yang terlalu teoretis. Dr. Busman memahami bahwa di pasar kerja global, pemahaman tentang struktur sosial tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemampuan navigasi praktis.
- Melalui program pemagangan, IKA Sosiologi memosisikan mahasiswa dan lulusan baru bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai praktisi yang siap pakai di sektor-sektor strategis seperti NGO internasional, perusahaan multinasional melalui program CSR, serta lembaga pemerintahan.
PELAKITA.ID – Bagi sebagian besar lulusan ilmu sosial, pertanyaan “Setelah lulus mau jadi apa?” sering kali terasa seperti beban yang menghantui.
Stereotip bahwa gelar sosiologi hanya berakhir di rak buku perpustakaan atau, lebih buruk lagi, organisasi alumninya hanya menjadi ajang reuni nostalgia dan “kumpul-kumpul” seremonial, telah lama mengakar.
Gambaran berbeda nampak pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Aula Prof. Syukur Abdullah, sebuah paradigma baru dideklarasikan.
Pelantikan Dr. Busman Dahlan Shirat, M.Hum. sebagai Ketua IKA Sosiologi FISIP Unhas periode 2026-2030 bukan sekadar pergantian estafet kepemimpinan, melainkan sebuah pernyataan sikap yang tegas: IKA Sosiologi kini bertransformasi menjadi mesin kompetensi.
Mengenakan jaket organisasi berwarna merah maroon-putih bertuliskan “IKA SOS”, kepengurusan baru ini tampil dengan identitas yang bukan sekadar simbol estetika, melainkan seragam profesionalisme.
Di bawah mandat Dr. H. Andi Fahsar M. Padjalangi, M.Si. selaku Ketua IKA FISIP Unhas, Dr. Busman membawa visi besar untuk merobohkan dinding isolasi antara dunia kampus dan realitas industri.

Internasionalisasi Kompetensi
Sosiologi sering kali dipandang sebagai ilmu yang terlalu teoretis. Dr. Busman memahami bahwa di pasar kerja global, pemahaman tentang struktur sosial tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemampuan navigasi praktis.
Melalui program pemagangan, IKA Sosiologi memosisikan mahasiswa dan lulusan baru bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai praktisi yang siap pakai di sektor-sektor strategis seperti NGO internasional, perusahaan multinasional melalui program CSR, serta lembaga pemerintahan.
Program ini adalah upaya sistematis untuk membangun portofolio sebelum ijazah digenggam. Sosiologi memiliki keunggulan unik dalam social mapping dan analisis dampak yang sangat dibutuhkan industri modern, dan kompetensi itu tidak bisa lahir hanya dari ruang kelas.
“Kompetensi itu didapatkan melalui pemagangan,” tegas Busman yang juga salah satu sosok kunci di area tambang PT Vale ini.
Dalam lanskap karier modern, terjebak dalam jejaring internal universitas adalah sebuah kerugian strategis.
Busman menekankan bahwa keberhasilan seorang lulusan sangat bergantung pada kemampuannya menembus “dinding” kampus. Di sinilah IKA Sosiologi berperan sebagai manajer modal sosial (social capital).
Strategi utamanya adalah mengaktivasi ribuan alumni yang telah tersebar di berbagai sektor profesional sebagai “pintu masuk” resmi.
“Alih-alih membiarkan koneksi terjadi secara kebetulan, IKA Sosiologi membangun ekosistem di mana alumni senior menjadi mentor dan pembuka jalan bagi adik-adik tingkat mereka untuk berjejaring dengan dunia luar yang lebih luas,” ujar Busman, nama yang sering diplesetkan sebagai Bugis-Mandar ini.
Menerjemahkan Teori ke Dalam Bahasa Industri
Salah satu hambatan terbesar lulusan sosiologi adalah kegagapan dalam menerjemahkan penguasaan teori ke dalam proposisi nilai profesional.
IKA Sosiologi, kata Busman, merespons tantangan ini dengan meluncurkan program prioritas jangka pendek berupa workshop teknis bagi para fresh graduate.
Program ini bukan sekadar pelatihan administrasi, melainkan bimbingan strategis yang meliputi penyusunan portofolio & CV dengan mengemas pengalaman riset dan analisis sosial menjadi keahlian yang relevan bagi kebutuhan pasar.
Lalu Teknik Wawancara Strategis, bagaimana melatih kemampuan artikulasi ide agar mampu meyakinkan pemangku kepentingan.
Kemudian, negosiasi dan deal. “Ini membekali lulusan dengan kemampuan teknis dalam mencapai kesepakatan kerja, baik di sektor usaha maupun pendidikan,” sebut Busman.
Ini adalah bentuk intervensi konkret untuk memastikan bahwa intelektualitas sosiologi tidak hanya berhenti pada abstraksi, tetapi mampu menghasilkan nilai ekonomi dan profesional.
Dr. Busman secara ambisius menggagas agar organisasi ini memiliki “substansi” yang melampaui silaturahmi tradisional.
Dengan mendorong alumni, khususnya mereka yang telah menyelesaikan jenjang S2 dan S3, untuk menerbitkan kajian ilmiah dan buku, IKA Sosiologi sedang bertransformasi menjadi sebuah think-tank yang relevan.
Intelektualitas ini tidak boleh menara gading. Isu-isu aktual seperti krisis pengelolaan sampah di Kota Makassar harus dipandang sebagai laboratorium sosiologis di mana alumni dapat memberikan solusi nyata bagi kebijakan publik. Dengan cara ini, IKA Sosiologi memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat luas.
“Jangan hanya sekadar silaturahmi, tetapi harus diisi dengan semacam kajian-kajian ilmiah.”
IKA Sosiologi FISIP Unhas periode 2026-2030 kini memikul tanggung jawab yang lebih dari sekadar menjaga hubungan baik.
“Organisasi ini adalah jembatan yang menghubungkan harapan orang tua dengan realitas dunia kerja yang keras. Keberhasilan seorang alumni barulah tuntas jika ia mampu membukakan jalan bagi mereka yang datang kemudian,” kata Busman.
Di bawah kepemimpinan Dr. Busman, jaket maroon “IKA SOS” kini menjadi simbol komitmen terhadap masa depan almamater.
Untuk para alumni Sosiologi Unhas, di jembatan yang tengah dibangun ini, apakah Anda akan menjadi pilar yang memperkuatnya, atau hanya penonton yang melintas tanpa meninggalkan jejak kontribusi?
___
Penulis Denun









