Phobe Milliken: Perdamaian Tidak Cukup Dipahami, Tetapi Harus Dipraktikkan

  • Whatsapp
Pandangan tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertajuk Global Perspective on Peacebuilding: Building Peace Across Differences through Interreligious Dialogue and Global Peacebuilding yang digelar Universitas Hasanuddin di Kampus Unhas Jakarta, Sabtu (22/08).

PELAKITA.ID – Perdamaian harus dibangun melalui kesepakatan, relasi dan pemahaman. Perbedaan pandangan, keyakinan, maupun identitas tidak selalu harus berakhir pada kesamaan, tetapi dapat membuka ruang dialog untuk saling mendengarkan dan memahami.

Hal ini dielaborasi oleh Phoebe Milliken, Director of Master of Peacebuilding, Hartford Inernational University for Religion and Peace dalam kuliah umum yang diselenggarakan bekerja sama dengan Center for Global Peace and Conflict Resolution (CGPCR) Universitas Hasanuddin.

Milliken menjelaskan bahwa peacebuilding atau pembangunan perdamaian tidak hanya berkaitan dengan upaya menghentikan konflik. Konsep tersebut merupakan proses membangun pemahaman, keterampilan, dan hubungan di tengah keberagaman.

Pendidikan berbasis pengalaman (experiential education) dalam pembelajaran perdamaian dapat menjadi langkah alternatif dalam memahami dan mencegah konflik. Teori, menurutnya, perlu didukung oleh pengalaman langsung, pengembangan kelompok (cohort development), serta keterlibatan dengan komunitas.

“Perdamaian tidak cukup hanya dipelajari di dalam kelas. Kita perlu mempraktikkannya, berinteraksi dengan orang lain, dan belajar dari pengalaman,” jelas Milliken.

Salah satu keterampilan yang dibahas Milliken adalah mendengar secara reflektif (reflective listening) dan melakukan parafrase (paraphrasing).

Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk memahami secara langsung dinamika komunikasi, perbedaan, dan konflik dalam kehidupan sosial.

Mendengarkan, kata Milliken, bukan sekadar menunggu kesempatan untuk memberikan jawaban, melainkan upaya untuk memahami apa yang disampaikan dan dialami oleh orang lain.

“Terkadang, seseorang hanya ingin merasa bahwa dirinya didengar dan dipahami,” katanya.

Dalam praktik resolusi konflik, kemampuan mendengarkan dan melakukan parafrase dapat membantu mengurangi kesalahpahaman serta membuka ruang komunikasi yang lebih konstruktif.

Melalui perspektif tersebut, peacebuilding tidak berhenti pada upaya penyelesaian konflik, tetapi juga mencakup praktik membangun kepercayaan dan hubungan antarmanusia dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan tersebut disampaikan dalam kuliah umum bertajuk Global Perspective on Peacebuilding: Building Peace Across Differences through Interreligious Dialogue and Global Peacebuilding yang digelar Universitas Hasanuddin di Kampus Unhas Jakarta, Sabtu (22/08).(*/aya)