PELAKITA.ID – PT. Vale Indonesia Tbk. (INCO) mengumumkan pengunduran diri salah satu jaharan Direksinya. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Budiawansyah dari jabatannya sebagai Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Perseroan.
Manajemen telah menerima surat pengunduran diri tersebut pada tanggal 20 Agustus 2026. Demikian informasi yang dibagikan media CNBC Indonesia.
“Pada tanggal 20 Agustus 2026, PT Vale Indonesia Tbk (Perseroan) menerima surat pengunduran diri dari Bapak Budiawansyah dari jabatannya sebagai Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Perseroan,” tulis manajemen, Jumat (21/8/2026).
Disebutkan bahwa pengunduran diri tersebut merupakan keputusan pribadi yang berkaitan dengan pertimbangan keluarga.
Masih dari CBNC, disebutkan bahwa perseroan akan mengajukan permohonan pengunduran diri tersebut untuk memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Perseroan yang akan datang, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, manajemen juga memastikan pengunduran diri Budiawansyah tidak berdampak merugikan terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, keuangan dan kelangsungan usaha Perseroan.
Sebelum pengunduran dirinya, Budiawansyah diketahui menjabat sebagai Direktur Perseroan untuk periode Juli 2025-2028. Pria berusia 47 tahun ini menempuh jenjang Sarjana (S1) Teknik Kimia di UPN “Veteran” Yogyakarta, kemudian melanjutkan studi Magister (S2) Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Universitas Indonesia.
Latar belakang akademis ini sejalan dengan perjalanan kariernya yang banyak bersinggungan dengan aspek keselamatan kerja dan lingkungan di industri pertambangan.
Tentang Budiawansyah
Karier Budiawansyah dimulai sebagai Process Quality Engineer di PT Digitone Indonesia pada 2002-2004, sebelum ia bergabung dengan PT Vale dan menghabiskan lebih dari dua dekade meniti karier di perusahaan tersebut. Ia mengawali perjalanannya di PT Vale sebagai Senior Process Engineer pada 2004-2010, lalu naik menjadi Manajer Umum Operation & Maintenance Improvement pada 2011-2013.
Selanjutnya, ia dipercaya sebagai Wakil Kepala Teknik Tambang merangkap Manajer Umum Health, Safety & Emergency Response pada 2013-2018, sebelum kembali naik jabatan menjadi Kepala Teknik Tambang – Kepala Health, Safety, Environment & Operational Risk pada 2018-2020.
Kariernya kemudian melebar ke tingkat regional saat ia menjabat Kepala Teknik Tambang – Health, Safety, Environment & Operational Risk untuk Vale Wilayah Asia Pasifik (APAC) pada 2020-2021.
Setelah itu, fokusnya bergeser ke ranah perizinan dan hubungan kelembagaan, ditandai dengan posisinya sebagai Kepala Strategic Permit and General Affairs pada 2021-2024, dan terakhir sebagai Kepala Institutional Relation & Permits pada 2024-2025.
Minerja perusahaan positif
Media ini pada akhir tahun lalu melaporkan bahwa kinerja PT Vale pada kuartal III 2025 menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mampu bertahan di tengah dinamika pasar nikel global, tetapi juga berhasil memperkuat fondasi operasionalnya.
Peningkatan produksi nikel matte, keberhasilan memulai operasi lebih cepat di Bahodopi, serta bertambahnya volume penjualan bijih saprolit mencerminkan kapasitas perusahaan dalam mengelola transisi dari satu basis operasi menuju portofolio bisnis yang lebih terdiversifikasi dan adaptif.
Dari sisi keuangan, kenaikan pendapatan, EBITDA, dan laba bersih menjadi indikator bahwa strategi efisiensi dan optimalisasi produksi mulai menghasilkan dampak nyata.
Tren ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak semata-mata didorong oleh faktor harga komoditas, tetapi juga oleh disiplin pengelolaan biaya, peningkatan produktivitas, dan kemampuan memanfaatkan peluang pasar secara lebih efektif.
Lebih jauh, percepatan investasi di Bahodopi dan Pomalaa memperlihatkan orientasi jangka panjang PT Vale dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat industri nikel dunia.
Investasi yang terus meningkat menunjukkan keyakinan perusahaan terhadap prospek industri hilirisasi mineral nasional sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan kawasan industri, dan penguatan rantai pasok domestik.
Yang tidak kalah penting, tren positif ini juga ditandai oleh pengakuan terhadap kinerja keberlanjutan perusahaan melalui berbagai penghargaan ESG, konservasi lingkungan, dan program pemberdayaan masyarakat.
Hal tersebut mengisyaratkan bahwa pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab sosial tidak harus berjalan berlawanan, melainkan dapat saling memperkuat. Dengan demikian, capaian PT Vale pada 2025 dapat dimaknai sebagai upaya membangun model pertambangan yang tidak hanya produktif dan menguntungkan, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
___
Sumber CNBC Indonesia dan Pelakita.ID









