Shafak pernah menggambarkan Istanbul seperti sebuah Russian nesting doll, boneka berlapis yang ketika dibuka selalu memperlihatkan lapisan lain di dalamnya. Metafora tersebut terasa sangat dekat dengan cara ia membangun cerita. Tidak ada karakter yang benar-benar sederhana, tidak ada sejarah yang hanya mempunyai satu suara, dan tidak ada identitas yang dapat dipahami hanya dari satu lapisan kehidupan.
PELAKITA.ID – Ada penulis yang sekadar menceritakan kisah, tetapi ada pula penulis yang membuat kita mempertanyakan kembali batas-batas yang selama ini memisahkan satu kisah dari kisah lainnya. Elif Shafak termasuk dalam kelompok kedua.
Novel-novelnya tidak hanya bertanya tentang apa yang terjadi kepada seseorang, sebuah keluarga, atau sebuah kota, tetapi juga mengajak pembaca bertanya lebih jauh: apa yang terjadi ketika identitas, sejarah, budaya, bahasa, dan ingatan manusia menolak untuk tinggal di dalam batas-batas yang telah kita ciptakan?
Lahir di Strasbourg pada 1971 dan tumbuh besar dalam lingkungan budaya Turki, Shafak kemudian berkembang menjadi penulis yang dunia sastranya melampaui batas satu negara, satu kebudayaan, bahkan satu bahasa.
Ia menulis dalam bahasa Turki dan Inggris, sementara karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa.
Novel seperti The Bastard of Istanbul, The Forty Rules of Love, Three Daughters of Eve, 10 Minutes 38 Seconds in This Strange World, dan The Island of Missing Trees memperlihatkan ketertarikannya pada Istanbul, migrasi, perempuan, ingatan, spiritualitas, identitas, dan hubungan rumit antara Timur dengan Barat.
Namun, mungkin cara terbaik untuk memahami Elif Shafak bukanlah dengan memulai dari daftar bukunya. Kita bisa memulainya dari sebuah kota: Istanbul. Kota yang berdiri di antara dua benua, dipisahkan sekaligus disatukan oleh air, dan membawa lapisan sejarah kekaisaran, agama, migrasi, keluarga, konflik politik, serta berbagai ingatan manusia yang tidak pernah benar-benar selesai.
Istanbul bukan sepenuhnya Timur, tetapi juga bukan sepenuhnya Barat. Ia adalah keduanya sekaligus, dan terkadang tidak sepenuhnya menjadi salah satunya.
Bagi Shafak, kontradiksi tersebut bukan persoalan yang harus diselesaikan. Ia justru merupakan bagian dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dirasakan, dan diceritakan melalui kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Shafak pernah menggambarkan Istanbul seperti sebuah Russian nesting doll, boneka berlapis yang ketika dibuka selalu memperlihatkan lapisan lain di dalamnya.
Metafora tersebut terasa sangat dekat dengan cara ia membangun cerita. Tidak ada karakter yang benar-benar sederhana, tidak ada sejarah yang hanya mempunyai satu suara, dan tidak ada identitas yang dapat dipahami hanya dari satu lapisan kehidupan.
Itulah sebabnya karakter-karakter Shafak hampir selalu memiliki banyak sisi. Seorang perempuan dapat sekaligus menjadi anak perempuan, ibu, kekasih, intelektual, penganut agama, migran, sekaligus orang asing di tempat yang seharusnya menjadi rumahnya. Sebuah kota dapat menjadi tempat pulang sekaligus sumber keterasingan. Sebuah bahasa dapat menjadi rumah yang nyaman, tetapi pada saat yang sama menjadi pengingat tentang jarak dan kehilangan.
Keluarga dalam dunia Shafak juga tidak pernah sekadar menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki hubungan darah. Keluarga adalah ruang tempat ingatan diwariskan, rahasia disimpan, trauma dipendam, nilai-nilai diteruskan, sekaligus tempat generasi baru mulai mempertanyakan apa yang diwariskan kepada mereka.
Di sinilah kekuatan cerita Shafak terasa. Ia tidak hanya menulis tentang identitas; ia memperlihatkan bagaimana identitas dibentuk oleh hubungan manusia dengan keluarga, kota, sejarah, agama, bahasa, dan pengalaman yang terus bergerak sepanjang hidup.
Fiksi Shafak berulang kali masuk ke ruang tempat berbagai identitas bertemu dan saling bertabrakan. Ia mengambil unsur dari tradisi penceritaan Timur dan Barat, memadukan tradisi lisan dengan bentuk-bentuk sastra modern. Pengaruh mistisisme, khususnya tradisi Sufisme, juga tampak penting dalam sejumlah karyanya, terutama The Forty Rules of Love, sementara persoalan perempuan, kesetaraan gender, keibuan, kekerasan, dan kebebasan menjadi bagian penting dalam sejumlah cerita lainnya.
Perpaduan tersebut membuat karya Shafak memiliki karakter yang khas. Ia tampaknya tidak terlalu tertarik untuk memilih satu sisi dari sebuah pertentangan budaya lalu menetap di sana. Sebaliknya, ia memilih tinggal di wilayah yang tidak nyaman, wilayah di antara dua atau lebih dunia, tempat seseorang dipaksa terus bertanya tentang siapa dirinya dan kepada siapa sebenarnya ia merasa menjadi bagian.
Dan mungkin, justru di wilayah seperti itulah semakin banyak manusia modern hidup hari ini. Kita berpindah dari satu kota ke kota lain, menggunakan lebih dari satu bahasa, membawa tradisi keluarga sambil mempertanyakannya, menerima nilai-nilai lama sekaligus membangun keyakinan baru, serta membawa ingatan orang tua sambil berusaha menciptakan identitas kita sendiri.
Shafak mengubah kontradiksi tersebut menjadi sastra.
Ia memahami bahwa manusia modern tidak selalu mempunyai satu rumah secara geografis, satu identitas secara budaya, atau satu suara secara batin. Kita sering kali hidup dalam beberapa dunia sekaligus. Kita dapat mencintai dua kebudayaan yang berbeda, merasa dekat dengan dua bahasa, dan memiliki ingatan yang berasal dari tempat yang bahkan belum pernah kita tinggali.
Dalam konteks tersebut, karya Shafak juga mengingatkan kita bahwa cerita dapat melakukan sesuatu yang sering kali tidak mampu dilakukan oleh argumentasi.
Perdebatan politik dapat menjelaskan apa yang terjadi. Statistik dapat memperlihatkan berapa banyak orang yang terdampak. Sejarah dapat menyusun kronologi peristiwa. Namun, sebuah novel dapat membawa pembaca lebih jauh: merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai manusia di dalam keadaan tersebut.
Itulah salah satu alasan mengapa fiksi tetap penting.
Fakta dapat memberikan informasi, tetapi cerita dapat menggerakkan perasaan. Ketika perasaan bergerak, cara kita memandang orang lain juga dapat berubah. Kita tidak lagi melihat seseorang hanya sebagai angka, kelompok, kategori sosial, atau bagian dari statistik, melainkan sebagai manusia yang mempunyai ketakutan, harapan, kehilangan, cinta, dan ingatan sendiri.
Dalam karya Shafak, kemampuan untuk menyeberangi batas tersebut sangat kuat. Ia mempertemukan manusia yang mungkin dalam kehidupan nyata tidak pernah memiliki kesempatan untuk duduk bersama. Pembaca diajak masuk ke kehidupan yang dibentuk oleh perbedaan agama, generasi, budaya, kelas sosial, sejarah politik, dan pengalaman keluarga.
Hasil akhirnya tidak selalu berupa kesepakatan.
Yang muncul justru sesuatu yang lebih mendasar: pengakuan bahwa manusia lain juga memiliki kehidupan batin yang rumit.
Kita mungkin tidak menyetujui pilihan mereka. Kita mungkin tidak menerima seluruh pandangan hidup mereka. Namun, setelah memasuki cerita mereka, kita mulai memahami bahwa setiap manusia mempunyai alasan, luka, sejarah, dan konteks yang membuat kehidupannya jauh lebih kompleks daripada label yang diberikan kepadanya.
Mungkin inilah salah satu bentuk perlawanan paling tenang yang dapat dilakukan sastra.
Di dunia yang semakin senang mengelompokkan manusia—Timur dan Barat, konservatif dan liberal, religius dan sekuler, penduduk asli dan migran, orang dalam dan orang luar—karya Shafak mengingatkan bahwa manusia hampir selalu lebih rumit daripada kategori yang ditempelkan kepada mereka.
Istanbul kemudian menjadi lebih dari sekadar latar cerita. Kota itu berubah menjadi metafora tentang identitas manusia sendiri: sebuah ruang tempat sejarah bertumpuk, suara bertemu, masa lalu menolak menghilang, dan berbagai dunia menemukan bahwa mereka sebenarnya telah hidup berdampingan sejak lama.
Ada dimensi lain dalam perjalanan Shafak yang membuatnya semakin relevan bagi pembaca masa kini, yaitu hubungan antara bahasa dan rasa memiliki. Menulis dalam lebih dari satu bahasa bukan sekadar memiliki lebih banyak alat untuk menyampaikan cerita. Bagi seorang penulis, bahasa dapat berarti memiliki lebih dari satu cara untuk mengingat, merasakan, melihat, dan memahami dunia.
Setiap bahasa membawa sejarahnya sendiri. Ada ritme, kebiasaan, metafora, humor, kesunyian, bahkan cara tertentu untuk mengungkapkan emosi yang mungkin tidak sepenuhnya dapat dipindahkan ke bahasa lain.
Karena itu, bagi Shafak, bahasa bukan hanya kendaraan untuk membawa cerita. Bahasa sendiri menjadi bagian dari cerita.
Identitas multibahasanya memungkinkan Shafak berdiri di antara berbagai dunia tanpa harus sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada salah satu dunia tersebut. Posisi seperti ini tentu tidak selalu nyaman. Namun, ketidaknyamanan tersebut justru dapat menjadi sumber kreativitas yang luar biasa.
Orang luar, bagaimanapun, terkadang mampu melihat sesuatu yang sudah tidak lagi diperhatikan oleh orang dalam.
Mungkin karena itulah persoalan perempuan dan kekuasaan menjadi salah satu perhatian penting dalam karya-karyanya. Shafak tidak hanya menempatkan perempuan sebagai korban keadaan, tetapi sebagai manusia yang harus bernegosiasi dengan keinginan, tradisi, keluarga, ambisi, ingatan, tubuh, cinta, dan kebebasan.
Karakter perempuan dalam dunia Shafak tidak sederhana. Mereka memiliki pilihan, tetapi pilihan tersebut selalu berhadapan dengan konsekuensi. Mereka memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu berhadapan dengan keluarga, masyarakat, agama, sejarah, dan ekspektasi sosial.
Kompleksitas semacam itu penting karena kehidupan nyata memang kompleks.
Kita sering menginginkan jawaban yang sederhana untuk masalah yang sesungguhnya tidak sederhana. Kita ingin menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa korban dan siapa pelaku, siapa orang baik dan siapa orang buruk. Namun, sastra yang baik sering kali mengganggu kenyamanan tersebut dengan menunjukkan bahwa manusia dapat menjadi banyak hal sekaligus.
Seseorang dapat mencintai dan melukai pada saat yang sama. Seseorang dapat menjadi korban dalam satu cerita dan menjadi penyebab penderitaan dalam cerita lain. Seseorang dapat mempertahankan tradisi karena cinta kepada keluarganya, tetapi pada saat yang sama merasa terpenjara oleh tradisi tersebut. Di situlah manusia menjadi menarik.
Mungkin pelajaran terdalam dari membaca Elif Shafak adalah bahwa sastra tidak harus menyederhanakan dunia agar dunia dapat dipahami. Terkadang, sastra justru membuat dunia lebih mudah dipahami dengan membiarkannya tetap rumit, penuh kontradiksi, dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan.
Cerita-cerita Shafak mengingatkan kita bahwa identitas bukanlah monumen yang selesai dibangun. Identitas lebih menyerupai sungai yang terus bergerak, membawa potongan-potongan tempat, pengalaman, orang, bahasa, cinta, kehilangan, dan ingatan yang kita temui sepanjang perjalanan hidup.
Karena itu, tidak mengherankan jika suara Shafak mampu bergerak jauh melampaui Turki. Ceritanya mungkin berangkat dari Istanbul, keluarga tertentu, pengalaman perempuan tertentu, atau sejarah tertentu, tetapi pertanyaan yang diajukannya mempunyai jangkauan universal.
Di mana sebenarnya kita merasa menjadi bagian?
Berapa banyak identitas kita yang sebenarnya diwariskan oleh orang tua, dan berapa banyak yang kita pilih sendiri setelah menjalani kehidupan? Apakah manusia dari dua dunia yang berbeda dapat benar-benar memahami satu sama lain tanpa terlebih dahulu melepaskan prasangka yang telah diwariskan kepada mereka?
Apa yang terjadi pada ingatan yang sengaja disembunyikan oleh keluarga? Apakah cinta mampu menyeberangi perbedaan agama, budaya, kelas sosial, dan sejarah? Seberapa jauh seseorang dapat memperjuangkan kebebasannya tanpa harus berhadapan dengan ekspektasi komunitas yang membesarkannya?
Pertanyaan paling penting adalah ini: bisakah kita tetap menjadi manusia tanpa terus-menerus mengubah manusia lain menjadi sekadar kategori? Shafak tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui slogan politik atau pernyataan moral yang sederhana. Ia memberikan pertanyaan itu kepada karakter, keluarga, jalan kota, rahasia, bahasa, kenangan, cinta, dan kehilangan.
Ia mengubah gagasan abstrak menjadi kehidupan manusia. Di situlah kekuatan fiksinya.
Sebuah novel yang baik tidak selalu memberi kita jawaban. Kadang-kadang ia memberi kita kemampuan baru untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik, melihat manusia lain dengan lebih dalam, dan menyadari bahwa dunia tidak pernah sesederhana yang tampak dari kejauhan.
Dunia mungkin akan terus membangun tembok—antara negara, kebudayaan, agama, gender, generasi, kelompok sosial, bahkan antara manusia dengan manusia lainnya. Namun, Elif Shafak melakukan sesuatu yang lebih sunyi dan dalam caranya sendiri sangat radikal: ia terus membuka pintu.
Satu cerita pada satu waktu. Satu karakter pada satu waktu. Satu ingatan pada satu waktu. Satu suara pada satu waktu. Dan melalui pintu-pintu itu, pembaca menemukan bahwa orang yang selama ini dianggap berbeda ternyata memiliki sesuatu yang sangat akrab: ketakutan untuk kehilangan, kebutuhan untuk dicintai, keinginan untuk dimengerti, dan kerinduan untuk merasa pulang.
Inilah makna terdalam dari menulis di antara dunia. Kita tidak selalu harus memilih satu sisi untuk menemukan tempat kita. Terkadang, keberanian terbesar justru terletak pada kemampuan untuk hidup di antara berbagai dunia, mendengarkan semuanya, lalu membangun jembatan dari sana.
Redaksi









