Steven Pinker: Menulis yang Baik Dimulai dari Kemampuan Melihat dari Mata Pembaca

  • Whatsapp
Steven Pinker (ilustrasi dari David Perrel)

Menurut Pinker, penulis seharusnya bertanya: Apa yang sudah diketahui pembaca? Apa yang belum mereka ketahui? Dari mana mereka datang? Informasi apa yang perlu diberikan sebelum gagasan utama disampaikan? Menurutnya, mengandalkan empati saja belum cukup.

PELAKITA.ID — Mengapa begitu banyak tulisan—terutama tulisan akademik, birokratis, dan korporat—terasa sulit dipahami, padahal ditulis oleh orang-orang yang sangat cerdas

Bagi psikolog kognitif dan linguis Steven Pinker, persoalannya tidak selalu karena penulis sengaja ingin terlihat rumit. Sering kali, masalahnya justru jauh lebih sederhana: penulis lupa bahwa pembacanya tidak mengetahui apa yang sudah lama diketahui oleh penulis.

Pinker menyebut fenomena itu sebagai “curse of knowledge”, atau kutukan pengetahuan.

Dalam sebuah wawancara mengenai bahasa, menulis, dan masa depan komunikasi di era kecerdasan buatan, Pinker menjelaskan bahwa salah satu sumber terbesar buruknya tulisan adalah ketidakmampuan penulis membayangkan dari mana pembacanya memulai. Seorang ahli bisa begitu tenggelam dalam bidangnya sehingga istilah, singkatan, konsep, dan jargon yang sebenarnya sangat khusus terasa seperti pengetahuan umum.

Akibatnya, pembaca yang berada di luar lingkaran tersebut kehilangan arah bahkan sebelum memahami gagasan utama.

Pinker memberikan contoh seorang ahli biologi molekuler yang tampil di konferensi TED. Alih-alih terlebih dahulu menjelaskan persoalan yang sedang dipecahkan dan mengapa persoalan itu penting, sang ilmuwan langsung masuk ke bahasa teknis dan eksperimen yang biasa ia gunakan ketika berbicara dengan sesama ahli.

Hanya dalam hitungan detik, sebagian besar audiens kehilangan pemahaman.

Bukan karena sang ilmuwan tidak cerdas. Justru sebaliknya. Ia terlalu dekat dengan pengetahuannya sendiri.

“Curse of knowledge” terjadi ketika seseorang kesulitan membayangkan bagaimana rasanya tidak mengetahui sesuatu yang sudah ia ketahui. Dalam menulis maupun berbicara, solusinya adalah keluar sejenak dari kepala sendiri dan mencoba melihat persoalan dari sudut pandang pembaca.

Pembaca Bukan Penulis

Menurut Pinker, penulis seharusnya bertanya: Apa yang sudah diketahui pembaca? Apa yang belum mereka ketahui? Dari mana mereka datang? Informasi apa yang perlu diberikan sebelum gagasan utama disampaikan? Menurutnya, mengandalkan empati saja belum cukup.

Naskah perlu diberikan kepada orang lain untuk dibaca.

Pinker bahkan memiliki kebiasaan menunjukkan draf bukunya kepada ibunya ketika sang ibu masih hidup. Bukan karena ibunya dianggap kurang cerdas atau kurang berpendidikan, melainkan justru karena ia bukan seorang psikolog kognitif atau psikolinguis. Ibunya dapat menjadi semacam penguji apakah gagasan yang ditulisnya dapat dipahami oleh orang cerdas yang tidak memiliki pengetahuan khusus di bidangnya.

Prinsip yang sama berlaku bagi editor penerbit, akademisi dari disiplin berbeda, atau siapa pun yang berada di luar lingkaran kecil penulis.

Menariknya, Pinker mengingatkan bahwa bahkan sesama akademisi bisa mengalami masalah yang sama. Seorang peneliti dapat begitu lama berada dalam kelompok laboratorium, bersama pembimbing, mahasiswa, dan rekan-rekan yang menggunakan jargon yang sama, hingga tulisannya menjadi tidak terbaca ketika keluar dari lingkaran tersebut.

Karena itu, pembaca pertama yang baik tidak selalu harus seorang ahli.

Kadang-kadang justru orang yang tidak berada dalam bidang kita yang paling berguna untuk menguji apakah tulisan benar-benar jelas.

Jangan Hanya Menulis Kata, Buat Pembaca Melihat

Nasihat kedua Pinker berkaitan dengan cara manusia memahami sesuatu.

Bahasa, menurutnya, hanyalah sarana untuk menyampaikan gagasan. Pemahaman bukan sekadar kumpulan kata. Gagasan yang disampaikan melalui bahasa dapat berupa sesuatu yang visual, emosional, motorik, auditori, atau konseptual.

Karena itu, tulisan yang baik harus memungkinkan pembaca membentuk gambaran mental.

Alih-alih mengatakan “stimulus”, misalnya, ketika yang dimaksud sebenarnya adalah seekor kelinci, penulis sebaiknya menggunakan kata yang memungkinkan pembaca membayangkan benda atau kejadian yang dimaksud.

Hal serupa berlaku pada kata-kata abstrak seperti framework, paradigm, perspective, atau concept. Istilah-istilah tersebut sangat berguna dalam dunia akademik karena mampu merangkum pengetahuan yang luas. Tetapi bagi pembaca umum, istilah itu tidak otomatis menghasilkan gambar di kepala.

Di sinilah pentingnya contoh, metafora, dan bahasa konkret.

Tulisan yang hidup membuat pembaca melihat sesuatu, bukan sekadar membaca istilah tentang sesuatu.

Abstraksi Penting, Tetapi Contoh Membuatnya Dipahami

Pinker tidak menolak abstraksi. Sebaliknya, abstraksi sangat penting dalam ilmu pengetahuan karena memungkinkan para ahli berkomunikasi secara efisien.

Seorang biolog tidak mungkin setiap kali berbicara harus menjelaskan kembali seluruh konsep di balik “ekosistem”, “spesies”, atau istilah teknis lainnya. Dalam komunitas ilmiah, istilah tersebut merupakan bentuk kompresi pengetahuan.

Masalah muncul ketika bahasa yang efisien bagi para ahli dibawa begitu saja kepada pembaca umum.

Karena itu, Pinker menawarkan keseimbangan antara generalisasi dan contoh.

Generalisasi memberikan kompresi. Contoh memberikan konteks.

Tanpa contoh, generalisasi sering terlalu kabur. Sebaliknya, contoh tanpa generalisasi dapat membuat pembaca mengetahui sebuah kasus tetapi gagal memahami pelajaran yang lebih luas.

Dengan kata lain, tulisan yang baik bergerak bolak-balik antara keduanya: contoh membuat gagasan dapat dilihat, sementara generalisasi membantu pembaca memahami maknanya.

Mengapa Menulis Lebih Sulit daripada Berbicara?

Berbicara terasa alami bagi manusia. Menulis tidak.

Pinker menjelaskan salah satu alasannya: percakapan berlangsung dengan common ground atau pengetahuan bersama. Dua orang yang berbicara biasanya mengetahui mengapa mereka sedang berbicara, memiliki konteks yang sama, dan dapat menggunakan kata-kata seperti “ini”, “itu”, atau “yang tadi saya maksud” tanpa harus menjelaskan semuanya.

Tulisan berbeda.

Pembaca bisa berada di negara lain, hidup dalam konteks berbeda, bahkan mungkin membaca buku bertahun-tahun setelah penulis meninggal. Mereka tidak memiliki konteks percakapan yang sama.

Dalam percakapan, penulis juga mendapatkan umpan balik secara langsung. Wajah bingung, dahi berkerut, pertanyaan, atau permintaan penjelasan menunjukkan bahwa lawan bicara tidak memahami sesuatu.

Tulisan tidak memberikan kemewahan itu. Karena itu, penulis harus melakukan pekerjaan yang dalam percakapan dilakukan secara otomatis: membangun konteks bagi pembaca.

Menulis Juga Harus Enak Dibaca

Kejelasan bukan satu-satunya ukuran tulisan yang baik. Pinker juga berbicara mengenai aspek estetika bahasa: ritme, bunyi, pilihan kata, bahkan aliterasi. Ia memiliki kebiasaan membaca keras-keras atau setidaknya menggumamkan tulisannya sendiri. Jika sebuah kalimat sulit diucapkan dengan lancar, ada kemungkinan kalimat tersebut juga sulit diproses oleh pembaca.

Bahasa memiliki irama.

Terlalu banyak bunyi tertentu dapat membuat prosa terasa tidak nyaman. Sebaliknya, pilihan kata yang tepat, ritme yang baik, dan sedikit permainan bunyi dapat membuat kalimat terasa mengalir, namun, semuanya harus digunakan secara alami.

Gaya tidak boleh sampai terlihat seperti usaha mempertontonkan gaya.

“Omit Needless Words”

Salah satu prinsip klasik yang kembali ditekankan Pinker adalah gagasan “omit needless words”—hilangkan kata-kata yang tidak diperlukan.

Ia mengaitkannya dengan prinsip terkenal bahwa “brevity is the soul of wit”.

Keringkasan bukan sekadar membuat tulisan lebih pendek. Setiap kata menambah beban pemrosesan bagi pembaca. Jika pesan yang sama dapat disampaikan dengan lebih sedikit kata, pembaca membutuhkan lebih sedikit energi untuk memahaminya.

Menariknya, Pinker mengatakan bahwa keterbatasan jumlah kata justru sering membuat tulisan menjadi lebih baik.

Ketika seorang penulis dipaksa menyampaikan gagasan dalam 800 kata, misalnya, ia harus memilih. Kalimat yang berlebihan dipangkas. Ide yang berulang dihilangkan. Bahasa yang terlalu abstrak diganti dengan ungkapan yang lebih konkret.

Keterbatasan akhirnya menjadi alat penyuntingan.

Mengapa Tulisan Masa Lalu Terasa Lebih Puitis?

Pinker juga menyoroti paradoks menarik: tulisan masa lalu sering terasa lebih indah dan penuh metafora, meskipun bahasa tersebut kadang lebih sulit dipahami.

Menurutnya, salah satu alasannya adalah para penulis masa lalu belum memiliki gudang abstraksi akademik sebesar yang kita miliki sekarang. Mereka tidak selalu dapat mengambil sebuah istilah teknis yang sudah mapan. Untuk menjelaskan gagasan baru, mereka harus mencari gambaran yang dapat dipahami bersama.

Itulah sebabnya tulisan lama sering terasa lebih visual dan metaforis. Seiring perkembangan masyarakat modern, bahasa juga mengalami proses yang disebut Pinker sebagai informalization. Hierarki sosial melemah, komunikasi menjadi lebih egaliter, dan spontanitas serta keaslian semakin dihargai.

Bahasa yang terlalu formal dapat dianggap kaku atau berjarak. Namun, ada konsekuensinya: ketika bahasa menjadi semakin percakapan, sebagian keindahan dan keterampilan retoris yang dulu sangat dihargai dapat ikut menghilang.

Anak-Anak dan Kemampuan “Melihat”

Ada satu sumber inspirasi lain bagi Pinker: cara anak-anak menjelaskan dunia.

Anak-anak belum dibebani oleh jargon, abstraksi, dan klise. Karena itu, mereka sering menghasilkan penjelasan yang sederhana sekaligus puitis.

Mereka melihat dunia secara langsung.

Pinker menyukai contoh seperti gagasan anak bahwa awan adalah “uap air” atau asap adalah “uap api”. Penjelasan semacam itu mungkin tidak selalu tepat secara ilmiah, tetapi memperlihatkan cara anak menghubungkan sesuatu yang belum mereka pahami dengan sesuatu yang dapat mereka lihat.

Bagi penulis, ada pelajaran penting di sana: jangan sampai pengetahuan membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat.

Bagaimana AI Mengubah Cara Kita Menulis?

Pertanyaan besar kemudian muncul: bagaimana semua ini berubah ketika kecerdasan buatan dan large language models (LLM) semakin banyak digunakan untuk menulis? Pinker melihat karakter yang menarik pada keluaran LLM.

Di satu sisi, tulisannya cenderung lebih rapi. Struktur kalimat relatif sederhana, alur gagasan teratur, dan jargon akademik yang berlebihan tidak selalu muncul. Di sisi lain, tulisan LLM dapat terasa terlalu generik, datar, dan dapat ditebak.

Menurut Pinker, salah satu persoalan utamanya adalah bahwa LLM dirancang sebagai semacam gabungan atau pastiche dari miliaran contoh bahasa. Karena itu, ia dapat menghasilkan tulisan yang secara gramatikal baik dan mudah dibaca, tetapi belum tentu memiliki kesegaran atau keunikan gaya.

Pinker membuka kemungkinan bahwa pelatihan dan pemberian instruksi tertentu dapat menghasilkan gaya yang lebih segar. Namun, sifat generik itu tetap menjadi persoalan menarik dalam hubungan antara AI dan kreativitas manusia.

AI dan Pelajaran Baru bagi Manusia

Menariknya, Pinker tidak melihat kemunculan LLM semata-mata sebagai ancaman. Ia justru mengakui bahwa kemajuan AI membuatnya harus memikirkan kembali pandangannya mengenai kecerdasan.

Selama bertahun-tahun, tradisi pemikiran yang membentuk dirinya banyak menekankan aturan, algoritma, logika, dan struktur. LLM menunjukkan kekuatan luar biasa dari kemampuan mengekstraksi pola dari jumlah data yang sangat besar.

Pinker juga menegaskan bahwa manusia bukan sekadar LLM biologis. Anak-anak tidak hanya menerima tumpukan teks. Mereka hidup dalam dunia, berinteraksi dengan manusia lain, memahami maksud, melihat benda, merasakan lingkungan, dan belajar dalam konteks nyata.

Di situlah perbedaan pentingnya.

Menulis di Era AI: Jangan Menjadi Lebih Generik

Pada akhirnya, gagasan Pinker memberikan pelajaran yang relevan bukan hanya bagi akademisi, tetapi juga bagi jurnalis, penulis kebijakan, komunikator publik, mahasiswa, dan siapa pun yang menggunakan AI untuk menulis.

AI dapat membantu merapikan kalimat. AI dapat membantu menyusun struktur. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan.

Tetapi kejernihan komunikasi tetap membutuhkan manusia yang memahami siapa pembacanya, apa yang mereka ketahui, apa yang belum mereka ketahui, dan gambaran apa yang perlu muncul di kepala mereka.

Di tengah banjir teks yang semakin mudah diproduksi mesin, tantangan penulis justru semakin besar: bagaimana membuat tulisan yang tidak terdengar seperti semua tulisan lainnya.

Maka, nasihat Pinker terasa semakin relevan.

Jangan bersembunyi di balik jargon. Jangan mengira pembaca mengetahui apa yang kita ketahui. Berikan contoh. Gunakan bahasa konkret. Baca kembali tulisan dengan suara keras. Pangkas kata-kata yang tidak perlu. Dan yang paling penting: menulislah dengan kemampuan melihat dunia dari mata pembaca.

Tulisan yang baik bukanlah tulisan yang membuat penulis terlihat pintar. Tulisan yang baik adalah tulisan yang membuat pembaca memahami sesuatu dengan lebih jelas daripada sebelumnya.