- AI dapat membantu kita menyusun kata tetapi kita tetap harus tahu apa yang layak dikatakan.
- Shakespeare pernah mengatakan: “Brevity is the soul of wit.” Keringkasan adalah jiwa kecerdasan. Semakin sedikit kata yang dibutuhkan untuk menyampaikan gagasan yang sama, biasanya semakin baik tulisan itu.
- Bukan karena tulisan pendek selalu lebih unggul daripada tulisan panjang tetapi karena setiap kata memberikan beban tambahan kepada pembaca untuk diproses.
PELAKITA.ID – Ada satu pelajaran penting dari percakapan tentang menulis yang terus terngiang di benak penulis yaitu, pengetahuan bisa menjadi musuh bagi kejernihan.
Maksudnya, semakin lama kita mendalami sebuah bidang, semakin mudah kita lupa bagaimana rasanya menjadi orang yang belum mengetahui apa yang kita ketahui. Kita mulai menganggap istilah yang rumit sebagai sesuatu yang biasa. Kita menggunakan singkatan tanpa menjelaskannya. Kita menulis dengan bahasa yang hanya dipahami oleh orang-orang dalam lingkaran kita sendiri.
Padahal, pembaca tidak hidup di dalam kepala kita. Di situlah apa yang disebut sebagai “kutukan pengetahuan” menjadi salah satu ancaman terbesar bagi tulisan yang jelas.
1. Jangan membuat pembaca masuk ke kepala kita
Menulis tentang sesuatu yang kita kuasai ternyata bisa lebih sulit daripada menulis tentang sesuatu yang baru kita pelajari. Mengapa? Karena seorang ahli sering lupa bagaimana rasanya tidak tahu.
Ia terlalu akrab dengan konsep, istilah, teori, dan jargon sehingga semuanya terasa sederhana. Akibatnya, ia memperkirakan pembaca mengetahui jauh lebih banyak daripada yang sebenarnya mereka ketahui.
Maka, semakin ahli seseorang, semakin penting baginya untuk belajar melihat dari posisi pembaca. Tanyakan: Apa yang sudah mereka tahu? Apa yang belum mereka tahu? Bagian mana yang perlu saya jelaskan?
Salah satu cara paling sederhana untuk melawan kutukan pengetahuan adalah menunjukkan tulisan kita kepada orang yang berada di luar bidang kita. Jika mereka bertanya, “Maksudnya apa?” Jangan buru-buru menyalahkan mereka.
Mungkin justru tulisan kita yang belum cukup jelas.
2. Tulisan yang baik tidak membutuhkan kata-kata sebanyak mungkin
Shakespeare pernah mengatakan: “Brevity is the soul of wit.” Keringkasan adalah jiwa kecerdasan. Semakin sedikit kata yang dibutuhkan untuk menyampaikan gagasan yang sama, biasanya semakin baik tulisan itu. Bukan karena tulisan pendek selalu lebih unggul daripada tulisan panjang. Tetapi karena setiap kata memberikan beban tambahan kepada pembaca untuk diproses.
Jika sebuah gagasan bisa disampaikan dengan sepuluh kata, mengapa harus menggunakan tiga puluh? Cobalah lagi.
Sampaikan dengan lebih sedikit kata. Masih bisa dipangkas? Hapus kata-kata yang tidak perlu. Kadang-kadang, kualitas tulisan tidak meningkat karena kita menambahkan sesuatu. Ia justru meningkat karena kita berani menghilangkan sesuatu.
3. Berbicara dan menulis adalah dua hal berbeda
Ketika berbicara, kita mendapatkan respons secara langsung. Wajah yang kebingungan. Dahi yang berkerut. Pertanyaan. Senyum. Atau tatapan kosong. Semua itu adalah informasi bagi pembicara. Tulisan tidak memiliki kemewahan tersebut.
Ketika sebuah artikel diterbitkan, kita tidak berada di samping setiap pembaca untuk mengetahui apakah mereka memahami kalimat pertama, kehilangan arah pada paragraf ketiga, atau berhenti membaca pada halaman berikutnya.
Karena itu, penulis harus belajar membayangkan reaksi pembaca. Menulis berarti berbicara kepada seseorang yang tidak berada di depan kita. Karena itu, kita harus lebih sadar terhadap konteks.
4. Jangan hanya membuat pembaca membaca. Buat mereka melihat.
Tulisan yang kuat adalah tulisan yang memungkinkan pembaca membentuk gambaran di dalam kepala. Hindari abstraksi ketika sebuah pengalaman konkret bisa menjelaskannya dengan lebih baik. Jangan hanya mengatakan:
“Dia menunjukkan perilaku yang sangat agresif.”
Jika memang itulah yang terjadi, mungkin lebih kuat mengatakan: “Dia meraih leher saya.” Kalimat kedua membuat kita melihat sesuatu. Kita dapat membayangkan tangan, leher, gerakan, bahkan ketegangan situasinya. Itulah kekuatan bahasa konkret. Daripada mengatakan framework, paradigm, concept, atau istilah abstrak lainnya, tanyakan:
Apa sebenarnya yang sedang saya bicarakan? Bisakah pembaca melihatnya? Tulisan yang hidup bukan sekadar menyampaikan informasi. Ia menghadirkan pengalaman.
5. Contoh tanpa gagasan juga tidak cukup
Ada prinsip menarik: Generalisasi tanpa contoh tidak berguna. Contoh tanpa generalisasi juga kehilangan arah. Keduanya harus dipertemukan. Generalisasi menunjukkan gambaran besarnya. Contoh membuat gambaran itu menjadi nyata.
Jika kita hanya mengatakan bahwa “kemiskinan memengaruhi kualitas pendidikan”, pembaca mungkin mengangguk. Tetapi ketika kita menunjukkan seorang anak yang harus membantu orang tuanya bekerja sebelum berangkat sekolah, pembaca mulai melihat apa yang dimaksud.
Kemudian kita kembali kepada generalisasi. Dari satu anak, kita melihat persoalan yang lebih besar. Dari satu pengalaman, kita memahami sebuah pola. Contoh membuat gagasan memiliki wajah. Generalisasi membuat pengalaman memiliki makna. Tulisan yang baik membutuhkan keduanya.
6. Belajarlah dari cara anak-anak melihat dunia
Ada sesuatu yang sering hilang ketika kita menjadi dewasa: kemampuan melihat sesuatu tanpa dibebani terlalu banyak abstraksi. Anak-anak belum memiliki terlalu banyak jargon. Mereka belum terlalu mengenal “kotak” berpikir. Karena itu, mereka sering menggambarkan dunia dengan cara yang segar.
Mereka melihat awan sebagai sesuatu yang dekat dengan pengalaman mereka. Mereka menghubungkan sesuatu yang belum dipahami dengan sesuatu yang dapat mereka lihat.
Bagi seorang penulis, ada pelajaran sederhana: Jangan sampai pengetahuan membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat. Pengetahuan seharusnya memperluas pandangan, bukan membuat kita berbicara dengan bahasa yang semakin jauh dari kehidupan nyata.
7. Mengapa tulisan lama sering terasa lebih hidup?
Tulisan dari abad ke-18 dan ke-19 sering terasa lebih vivid—lebih hidup, lebih berwarna, lebih mudah membentuk gambaran mental. Salah satu alasannya, menurut gagasan yang dibahas dalam wawancara tersebut, adalah karena banyak abstraksi yang kita gunakan sekarang belum berkembang seperti sekarang.
Ketika tidak memiliki istilah yang siap pakai, penulis harus mencari cara lain untuk menjelaskan sesuatu. Mereka menggunakan gambaran.
Mereka menggunakan metafora. Mereka menggunakan pengalaman sehari-hari. Hasilnya sering terasa lebih kuat. Bandingkan bahasa abstrak dengan bahasa konkret. “Agresi patologis.” Dengan: “Dia meraih leher saya.” Yang kedua tidak membutuhkan teori untuk membuat kita memahami apa yang terjadi. Kita bisa melihatnya.
8. Lalu datanglah AI
Di sinilah persoalannya menjadi semakin menarik. Kecerdasan buatan dan large language models (LLM) dapat menulis dengan struktur kalimat yang baik. Tulisannya biasanya rapi, tertata, dan secara gramatikal masuk akal.
Tetapi ada persoalan lain: Terlalu generik. Terlalu biasa. Terlalu mudah ditebak. AI dapat menghasilkan tulisan yang tampak benar tetapi tidak selalu terasa hidup. Kalimatnya masuk akal. Strukturnya rapi. Paragrafnya tertata. Setelah selesai membaca, kita kadang bertanya:
“Lalu, apa yang sebenarnya saya rasakan atau lihat dari tulisan ini?” Ini menjadi tantangan baru bagi manusia. Jika AI semakin mudah menghasilkan tulisan yang rapi, maka nilai manusia mungkin justru semakin besar pada kemampuan menghasilkan sesuatu yang spesifik, konkret, segar, dan memiliki sudut pandang.
AI dapat membantu kita menyusun kata. Tetapi kita tetap harus tahu apa yang layak dikatakan.
9. Akademisi seharusnya menulis untuk masyarakat
Mungkin inilah bagian yang paling relevan bagi dunia akademik. Tulisan ilmiah memang membutuhkan ketelitian. Ia membutuhkan istilah. Ia membutuhkan metode. Ia membutuhkan konsep dan kerangka teori tetapi apakah semua itu harus membuat tulisan menjadi sulit dipahami?
Tidak.
Jika penelitian dibiayai oleh uang publik, bukankah publik berhak mengetahui apa yang telah ditemukan? Jika sebuah universitas menghasilkan pengetahuan, bukankah pengetahuan itu seharusnya dapat keluar dari ruang seminar, jurnal, dan konferensi menuju masyarakat?
Ilmu pengetahuan tidak seharusnya menjadi menara yang semakin tinggi sehingga semakin sedikit orang dapat masuk. Pengetahuan yang baik bukan hanya pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang baik juga harus dapat dikomunikasikan. Karena itu, seorang akademisi tidak kehilangan wibawa ketika menulis dengan bahasa yang sederhana.
Justru sebaliknya. Kemampuan menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa yang sederhana adalah salah satu tanda bahwa seseorang benar-benar memahami apa yang sedang ia bicarakan.
10. Menulis adalah bentuk empati
Seluruh pelajaran di atas dapat diringkas menjadi satu kalimat menulis adalah tindakan menempatkan diri di tempat pembaca.
Kita tidak menulis untuk menunjukkan berapa banyak buku yang telah kita baca, bukan untuk memamerkan berapa banyak istilah yang kita kuasai. Bukan untuk membuat pembaca merasa bodoh karena tidak memahami bahasa kita.
Kita menulis agar sebuah gagasan berpindah dari kepala kita ke kepala orang lain—dengan sesedikit mungkin kehilangan di sepanjang perjalanan. Karena itu, sebelum menerbitkan sebuah tulisan, mungkin kita perlu bertanya:
Apakah saya sudah menjelaskan, atau hanya terdengar pintar? Pembaca bisa melihat apa yang saya maksud? Ada kata yang sebenarnya tidak perlu? Apakah saya memberikan contoh? Apakah orang di luar bidang saya akan memahami tulisan ini?
Yang paling penting, setelah membaca tulisan ini, apakah pembaca menjadi lebih mengerti daripada sebelumnya? Jika jawabannya ya, kita mungkin telah melakukan hal yang paling penting dalam menulis. Bukan membuat diri kita terlihat pintar tetapi membuat orang lain memahami sesuatu.
Tulisan di atas adalah inspirasi setelah menonton Steven Pinker di video ini:
___
Penulis Denun









