Replikasi Program KOMPAK di SMKN 6 Sidrap, Mahasiswa KKN-PK Unhas Dorong Siswa Jadi Agen Perubahan Pengelolaan Sampah

  • Whatsapp
Replikasi Program KOMPAK merupakan bentuk pengembangan dan keberlanjutan program yang sebelumnya telah diterapkan kepada masyarakat di Desa Bulucenrana. Kali ini, mahasiswa KKN-PK memperluas sasaran edukasi kepada kalangan pelajar dengan harapan mereka dapat menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

PELAKITA.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PK) Universitas Hasanuddin Angkatan 69 mereplikasi Program KOMPAK (Kelola Organik Menjadi Pupuk Kompos) melalui edukasi pengelolaan sampah bagi siswa kelas X dan XI SMKN 6 Sidrap, Jumat (7/8).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA tersebut diikuti 32 siswa. Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus membangun kepedulian generasi muda terhadap pengelolaan sampah yang tepat, sehat, dan berkelanjutan.

Replikasi Program KOMPAK merupakan bentuk pengembangan dan keberlanjutan program yang sebelumnya telah diterapkan kepada masyarakat di Desa Bulucenrana. Kali ini, mahasiswa KKN-PK memperluas sasaran edukasi kepada kalangan pelajar dengan harapan mereka dapat menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, siswa didorong untuk menerapkan kebiasaan sederhana yang berdampak terhadap lingkungan. Salah satunya dengan menggunakan tumbler untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.

Selain itu, siswa diperkenalkan pada pemanfaatan sampah organik, seperti sisa makanan dan daun kering, untuk diolah menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan bagi tanaman di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Materi edukasi mencakup pengertian dan jenis-jenis sampah, dampak pengelolaan sampah yang tidak tepat, serta cara penanganan sampah berdasarkan karakteristiknya. Mahasiswa juga memberikan perhatian khusus pada dampak kebiasaan membakar sampah terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Sesi diskusi kemudian membawa materi tersebut lebih dekat dengan realitas yang dihadapi siswa. Mereka diajak menceritakan kebiasaan pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Dalam diskusi, sebagian besar siswa mengungkapkan bahwa sampah di lingkungan mereka masih banyak dikelola dengan cara dibakar. Beberapa siswa juga mengaku masih sering menjumpai praktik pembuangan sampah ke sungai.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga dengan pengetahuan dan kebiasaan masyarakat. Karena itu, edukasi sejak usia sekolah dinilai penting untuk membangun perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, mahasiswa KKN-PK juga menayangkan video edukasi mengenai proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos di lingkungan sekolah.

Melalui tayangan tersebut, siswa diperlihatkan bahwa sampah organik yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat. Dengan cara yang relatif sederhana, sisa makanan dan daun kering dapat dikembalikan ke lingkungan dalam bentuk kompos.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test menggunakan aplikasi Quizizz untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal peserta. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi, pemutaran video edukasi, diskusi dan tanya jawab, sebelum ditutup dengan post-test sebagai evaluasi.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan. Rata-rata nilai peserta meningkat dari 54 persen pada pre-test menjadi 89 persen pada post-test.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan mampu memperkuat pemahaman siswa mengenai pengelolaan sampah sekaligus memperkenalkan berbagai praktik sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, Program KOMPAK tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan siswa yang memahami persoalan sampah, tetapi juga siswa yang mampu mengajak orang lain untuk berubah.

Melalui replikasi program di SMKN 6 Sidrap, mahasiswa KKN-PK Unhas berharap siswa dapat mulai memilah sampah berdasarkan jenisnya, mengurangi praktik pembakaran sampah, memanfaatkan sampah organik menjadi kompos, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Para siswa juga diharapkan mampu membawa pengetahuan tersebut ke rumah dan lingkungan sosial mereka. Dengan demikian, perubahan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan kecil yang melibatkan keluarga, teman sebaya, dan masyarakat sekitar.

Pengelolaan sampah bukan hanya persoalan membuang atau mengangkut sampah. Ia merupakan bagian dari upaya membangun perilaku hidup sehat, menjaga lingkungan, sekaligus menyiapkan generasi muda yang memiliki kesadaran terhadap keberlanjutan.

Melalui KOMPAK, sampah organik tidak lagi dilihat semata sebagai masalah, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dikembalikan kepada tanah. Dan melalui para siswa, pengetahuan itu diharapkan bergerak lebih jauh—dari sekolah menuju rumah, dari rumah menuju masyarakat, dan dari kebiasaan kecil menuju perubahan yang lebih besar.