Mengapa tujuan yang lebih tinggi membutuhkan cara berbeda dalam menggunakan waktu, perhatian, dan energi
PELAKITA.ID – Ada saatnya kita perlu mengajukan pertanyaan yang cukup sulit kepada diri sendiri: Apakah selama ini kita benar-benar menggunakan waktu untuk membangun kehidupan yang kita inginkan, atau justru terlalu sibuk mengonsumsi kehidupan, pendapat, dan percakapan orang lain?
Belakangan saya menyadari betapa banyak waktu yang bisa hilang begitu saja di media sosial, grup WhatsApp, percakapan berulang, perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa, dan berbagai informasi yang hanya memberikan hiburan sesaat.
Aktivitas tersebut tentu tidak selalu buruk, karena bersosialisasi, tertawa, mengikuti perkembangan informasi, dan beristirahat juga merupakan bagian penting dari kehidupan.
Persoalannya muncul ketika semua itu perlahan menjadi tujuan utama perhatian kita, sementara pekerjaan penting, gagasan besar, pembelajaran, dan petualangan baru justru mendapatkan sisa waktu.
Kalau tujuan kita biasa-biasa saja, mungkin kebiasaan biasa juga sudah cukup untuk mencapainya.
Jika kita ingin menuju tempat yang lebih tinggi—meraih pencapaian akademik, menghasilkan karya yang bermakna, membangun karier baru, melakukan perjalanan intelektual, mengembangkan organisasi, menulis buku, membangun jaringan internasional, atau memulai petualangan yang sama sekali berbeda—maka ada sesuatu yang harus berubah.
Kita harus menaikkan standar visi kita. Tujuan yang lebih tinggi menuntut cara berpikir yang lebih luas, lingkungan yang lebih mendukung, disiplin yang lebih kuat, serta keberanian untuk meninggalkan sebagian kebiasaan lama yang selama ini terasa nyaman tetapi tidak lagi membawa kita ke arah yang kita inginkan.
Salah satu gagasan penting dalam goal-setting theory yang dikembangkan Edwin Locke dan Gary Latham adalah bahwa tujuan yang jelas, spesifik, dan menantang dapat mendorong seseorang menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tujuan yang terlalu umum.
Gagasan ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika kita mengatakan, “Saya ingin menjalani kehidupan yang lebih baik,” hampir semua aktivitas dapat dianggap sebagai bagian dari kehidupan tersebut.
Kita bisa menonton video selama satu jam, mengikuti percakapan panjang di grup WhatsApp, membaca komentar orang lain, atau sekadar berpindah dari satu platform ke platform lain tanpa tujuan yang jelas.
Namun, situasinya menjadi berbeda ketika kita memiliki tujuan yang lebih spesifik. Misalnya, kita mengatakan, “Saya ingin menghasilkan karya yang memberikan kontribusi bagi pembangunan masyarakat,” atau “Saya ingin membangun jaringan profesional internasional,” atau bahkan “Saya ingin menulis buku yang tetap berguna bagi pembaca sepuluh tahun mendatang.”
Ketika tujuan menjadi lebih jelas, kita mulai menghitung kembali nilai waktu. Satu jam yang sebelumnya terasa biasa saja tiba-tiba memiliki harga yang berbeda. Satu jam untuk scrolling berarti satu jam yang tidak digunakan untuk membaca.
Satu jam mengikuti perdebatan yang tidak produktif berarti satu jam yang tidak digunakan untuk menulis. Dengan demikian, pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Apakah media sosial berguna?”, melainkan “Apakah ini penggunaan terbaik dari perhatian saya jika saya tahu ke mana saya ingin pergi?”
Perhatian Adalah Modal yang Sangat Berharga
Kita sering membicarakan modal finansial, modal manusia, modal sosial, bahkan modal budaya. Namun, di era digital, ada satu bentuk modal lain yang semakin penting: modal perhatian atau attention capital. Apa yang secara terus-menerus mendapatkan perhatian kita pada akhirnya akan membentuk lingkungan mental kita.
Jika setiap hari kita mengonsumsi kemarahan, konflik, gosip, dan kontroversi, maka semua itu perlahan menjadi bagian dari lanskap mental kita.
Sebaliknya, jika kita membiasakan diri membaca buku, mengikuti penelitian, mendengarkan percakapan yang berkualitas, bertemu orang-orang yang memiliki visi besar, mempelajari persoalan baru, dan menjelajahi tempat yang belum pernah kita kunjungi, maka cakrawala berpikir kita juga akan berkembang.
Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak waktu yang kita habiskan di internet. Persoalan yang lebih mendasar adalah kualitas perhatian yang tersisa ketika kita kembali kepada pekerjaan yang benar-benar penting.
Penelitian mengenai attention residue, antara lain dikembangkan dalam karya Sophie Leroy, menunjukkan bahwa ketika seseorang berpindah cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lain, sebagian perhatian dapat tertinggal pada pekerjaan sebelumnya.
Bayangkan seseorang sedang menulis, kemudian membuka WhatsApp, memeriksa Instagram, membaca berita, membalas pesan, kembali ke tulisan, lalu membuka YouTube.
Tubuh mungkin kembali ke meja kerja, tetapi pikirannya belum tentu kembali sepenuhnya. Akibatnya, konsentrasi menjadi terfragmentasi.
Naikkan Standar, Maka Lingkungan Juga Harus Berubah
Albert Bandura melalui konsep self-efficacy menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri memengaruhi cara ia menghadapi tantangan. Namun, keyakinan tidak tumbuh hanya melalui afirmasi positif atau mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita mampu.
Keyakinan tumbuh melalui pengalaman nyata: kita membaca sesuatu yang sulit, mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan, mengalami kegagalan, belajar dari kesalahan, mencoba kembali, lalu perlahan menyadari bahwa sesuatu yang dahulu terasa mustahil ternyata dapat dilakukan.
Karena itu, tujuan baru membutuhkan lingkungan baru. Jika kita ingin menjadi penulis yang lebih baik, kita perlu lebih banyak membaca dan berdiskusi dengan penulis atau pembaca serius.
Jika ingin menjadi peneliti yang lebih baik, kita perlu lebih banyak menghabiskan waktu bersama pertanyaan penelitian daripada perdebatan media sosial.
Jika ingin mendapatkan pengalaman internasional, kita perlu membaca literatur internasional, mengikuti forum, membangun relasi dengan peneliti dan institusi dari berbagai negara. Jika ingin membangun sesuatu yang berarti, kita harus lebih sering berada di sekitar orang-orang yang juga sedang membangun sesuatu.
Dalam konteks social capital, hal ini menjadi sangat menarik. Relasi sosial dapat menyediakan informasi, peluang, kepercayaan, pengetahuan, sumber daya, bahkan akses terhadap institusi. Tetapi tidak semua jaringan menghasilkan jenis modal sosial yang sama.
Ada jaringan yang memberikan kenyamanan, sementara jaringan lain memberikan kemungkinan baru.
Ada lingkungan yang membuat kita merasa aman, tetapi ada pula lingkungan yang membuat kita berkembang. Perbedaan tersebut perlu disadari ketika kita ingin menaikkan standar kehidupan.
Bergerak dari Konsumsi Menuju Kreasi
Perubahan penting lainnya adalah berpindah dari mode konsumen menuju mode pencipta. Internet membuat konsumsi menjadi sangat mudah.
Satu klik menghasilkan video baru, satu geseran layar menghasilkan informasi baru, satu notifikasi membuka percakapan baru, dan satu komentar dapat membawa kita ke perdebatan baru. Semuanya tersedia tanpa banyak usaha. Sebaliknya, menciptakan sesuatu membutuhkan energi, kesabaran, konsentrasi, dan keberanian.
Menulis artikel membutuhkan pemikiran. Melakukan penelitian membutuhkan ketekunan. Membangun organisasi membutuhkan konsistensi.
Mempelajari bidang baru membutuhkan kerendahan hati untuk menjadi pemula. Mengunjungi tempat yang belum pernah kita datangi membutuhkan keberanian menghadapi ketidakpastian. Memulai proyek baru membutuhkan kesiapan menghadapi kemungkinan gagal. Namun, hampir semua kemajuan manusia lahir dari kemampuan menciptakan sesuatu, bukan hanya mengonsumsi sesuatu.
Karena itu, mungkin kita perlu mengajukan pertanyaan sederhana setiap pagi: “Apa yang akan saya ciptakan hari ini yang sebelumnya belum ada?” Jawabannya tidak harus selalu besar. Mungkin sebuah artikel, catatan penelitian, proposal, ide bisnis, rancangan program, percakapan bermakna, jaringan baru, atau bahkan satu halaman buku. Yang penting adalah adanya sesuatu yang bergerak dari pikiran menuju kenyataan.
Dalam teori organisasi terdapat konsep exploration versus exploitation. Exploitation berarti mengoptimalkan apa yang sudah kita ketahui, sedangkan exploration berarti mencari sesuatu yang baru.
Keduanya dibutuhkan, tetapi kehidupan yang terlalu lama berada dalam zona exploitation dapat membuat kita berputar pada pola yang sama: orang yang sama, percakapan yang sama, platform yang sama, opini yang sama, tempat yang sama, dan bahkan masalah yang sama.
Eksplorasi menghadirkan ketidakpastian, tetapi sekaligus membuka kemungkinan. Membaca buku di luar bidang keahlian kita merupakan eksplorasi. Berbicara dengan seseorang dari generasi atau latar belakang berbeda merupakan eksplorasi. Belajar bahasa baru, menghadiri konferensi di tempat yang belum pernah kita datangi, mengajukan proposal yang terasa sedikit di luar kemampuan, atau memulai proyek baru juga merupakan bentuk eksplorasi.
Petualangan tidak selalu berarti bepergian ke tempat yang jauh. Kadang-kadang petualangan terbesar adalah memasuki wilayah intelektual yang belum pernah kita kenal.
Visi yang Lebih Besar Melahirkan Ketidaknyamanan yang Produktif
Konsep kaizen mengajarkan pentingnya perbaikan secara terus-menerus, sementara gagasan growth mindset dari Carol Dweck menekankan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui proses belajar, usaha, dan pengalaman. Keduanya membawa pesan penting: pertumbuhan hampir selalu membutuhkan tingkat ketidaknyamanan tertentu.
Jika semuanya terasa terlalu nyaman, mungkin kita tidak sedang berkembang cukup jauh. Karena itu, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan: “Apa yang akan saya coba jika saya tidak takut menjadi pemula lagi?” Pertanyaan tersebut dapat membuka pintu menuju banyak kemungkinan baru. Sering kali masalah terbesar bukanlah tidak adanya peluang, melainkan keengganan untuk kembali menjadi orang yang belum ahli.
Memulai sesuatu yang baru berarti menerima bahwa kita mungkin akan terlihat tidak kompeten untuk sementara. Kita mungkin tidak tahu jawabannya.
Kita mungkin melakukan kesalahan. Kita mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Tetapi menjadi pemula bukanlah kegagalan. Menjadi pemula adalah harga yang harus dibayar untuk memasuki wilayah baru.
Jangan Biarkan Hidup Menurunkan Standar Kita
Tidak ada yang salah dengan bersantai, bercanda, berbincang dengan teman, menikmati media sosial, membaca hal ringan, atau sekadar tidak melakukan apa-apa sesekali. Hidup bukan proyek produktivitas tanpa akhir. Kita membutuhkan istirahat, hiburan, relasi sosial, dan ruang untuk bernapas. Yang perlu diperhatikan adalah proporsinya.
Jika hiburan mengambil ruang yang seharusnya digunakan untuk membangun masa depan, kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi diri.
Jika kebisingan mengambil tempat yang seharusnya digunakan untuk berpikir, kita perlu menciptakan ruang baru. Jika pendapat orang lain menjadi jauh lebih keras daripada suara aspirasi kita sendiri, mungkin sudah saatnya kita mengambil kembali kendali atas perhatian kita.
Mungkin babak kehidupan berikutnya membutuhkan lebih sedikit percakapan yang tidak perlu dan lebih banyak percakapan yang memperluas pikiran. Lebih sedikit scrolling dan lebih banyak membaca. Lebih sedikit bereaksi dan lebih banyak menciptakan. Lebih sedikit membandingkan diri dan lebih banyak mengeksplorasi. Lebih sedikit kebisingan dan lebih banyak kedalaman.
Pada akhirnya, kita tidak selalu membutuhkan kehidupan yang benar-benar baru. Kadang-kadang kita hanya membutuhkan tujuan yang lebih tinggi dan keberanian untuk berhenti menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat-tempat yang tidak mungkin membawa kita ke sana.
Sebab, tujuan menentukan arah, arah menentukan prioritas, prioritas menentukan bagaimana kita menggunakan perhatian, dan perhatian yang kita investasikan setiap hari pada akhirnya membentuk kehidupan kita.
Maka, naikkan standar visi Anda. Naikkan kualitas pertanyaan yang Anda ajukan. Naikkan kualitas orang yang Anda jadikan tempat belajar. Naikkan kualitas karya yang Anda hasilkan. Naikkan keberanian untuk memasuki petualangan yang belum pernah Anda jalani.
Jadi sosodara, jangan hanya bertanya, “Ke mana saya nyaman pergi?” Tanyakan pula, “Sejauh mana sebenarnya saya mampu pergi?” Karena mungkin kita tidak membutuhkan kehidupan yang berbeda. Kita hanya membutuhkan tujuan yang lebih tinggi.
___
Tamarunang, 9 Agustus 2026









