Michael Watts Membaca Lingkungan sebagai Arena Kekuasaan

  • Whatsapp
Michael Watts | Source: American Academy

Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak pernah hanya menghasilkan angka investasi dan pertumbuhan. Pembangunan juga menghasilkan distribusi manfaat, risiko, kerentanan dan kekuasaan.

PELAKITA.ID – Ketika membicarakan political ecology atau ekologi politik, nama Michael Watts hampir selalu muncul dalam percakapan akademik tentang hubungan antara lingkungan, ekonomi, kekuasaan, kemiskinan, dan konflik. Watts bukan sekadar geografer yang menaruh perhatian pada persoalan lingkungan.

Ia adalah salah satu pemikir yang membantu menggeser cara kita memahami krisis ekologis: dari persoalan teknis mengenai alam dan sumber daya menjadi persoalan sosial-politik tentang siapa yang menguasai sumber daya, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung kerugian, dan bagaimana ketimpangan itu diproduksi.

Watts merupakan Professor Emeritus bidang Geografi di University of California, Berkeley. Penelitiannya berkembang dari persoalan pangan, kelaparan, pembangunan pedesaan dan reforma agraria di Afrika, Asia Selatan, hingga persoalan minyak, energi, kekerasan, dan perampasan sumber daya di Delta Niger, Nigeria.

Berkeley mencatat bahwa minat akademiknya berada pada persimpangan political economy, transformasi agraria, political ecology, energi, lingkungan, pembangunan, serta kekerasan dan dispossession.

Yang menarik, perjalanan intelektual Watts tidak bermula dari minyak. Salah satu karya terpentingnya adalah Silent Violence: Food, Famine, and Peasantry in Northern Nigeria, yang pertama kali diterbitkan pada 1983. Buku ini kemudian menjadi salah satu karya penting dalam perkembangan ekologi politik kontemporer.

Di dalamnya, Watts mempertanyakan cara sederhana melihat kelaparan sebagai akibat kekeringan, kekurangan pangan atau kondisi alam semata.

Ia mengajak pembaca melihat bahwa kerentanan terhadap kelaparan terbentuk melalui sejarah ekonomi-politik, hubungan agraria, struktur negara, kolonialisme, pasar dan kemampuan rumah tangga dalam menghadapi risiko.

Di sinilah salah satu sumbangan penting Watts terhadap political ecology dapat ditemukan. Alam tidak pernah benar-benar berdiri di luar masyarakat. Kekeringan memang merupakan fenomena ekologis, tetapi siapa yang paling menderita akibat kekeringan merupakan persoalan sosial.

Banjir adalah fenomena alam, tetapi siapa yang tinggal di wilayah rawan banjir, siapa yang memiliki akses terhadap perlindungan, siapa yang memiliki kemampuan berpindah, dan siapa yang kehilangan tanah akibat bencana merupakan pertanyaan mengenai distribusi kekuasaan dan sumber daya.

Dengan demikian, political ecology tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang terjadi pada lingkungan?” Pertanyaannya diperluas menjadi: “Mengapa kerusakan itu terjadi, siapa yang menyebabkan atau memperoleh manfaat darinya, siapa yang dirugikan, dan melalui struktur kekuasaan apa semua itu berlangsung?”

Cara berpikir semacam ini kemudian berkembang menjadi pendekatan yang sangat berpengaruh dalam kajian lingkungan. Watts bersama Richard Peet, misalnya, menjadi editor Liberation Ecologies, sebuah karya yang berupaya mempertemukan ekologi dengan kritik politik-ekonomi. Dalam tulisan “Liberating Political Ecology”, Peet dan Watts secara eksplisit mengembangkan ekologi politik sebagai upaya memahami persoalan lingkungan melalui struktur sosial, ekonomi dan politik, sekaligus membuka ruang bagi perubahan sosial dan pembebasan.

Watts kemudian memperluas perhatian tersebut dari persoalan pertanian dan pangan menuju sumber daya ekstraktif, terutama minyak. Pengalaman panjangnya di Nigeria memperlihatkan betapa rumitnya hubungan antara kekayaan alam, negara, perusahaan, masyarakat lokal dan kekerasan.

Delta Niger menjadi laboratorium penting bagi pemikirannya. Kawasan tersebut kaya minyak, tetapi kekayaan minyak tidak secara otomatis menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Sebaliknya, ekstraksi minyak berkelindan dengan pencemaran, kerusakan lingkungan, konflik, ketimpangan distribusi manfaat dan apa yang disebut sebagai petro-violence. Berkeley mencatat bahwa selama lebih dari satu dekade Watts mencurahkan perhatian besar pada industri minyak dan gas serta dampaknya di kawasan Teluk Guinea, khususnya Delta Niger.

Pemikiran Watts menjadi sangat relevan untuk membaca berbagai persoalan pembangunan di Indonesia. Bayangkan sebuah daerah yang memiliki nikel, batu bara, minyak, gas, emas atau sumber daya pesisir yang melimpah.

Secara statistik, daerah tersebut mungkin terlihat sebagai wilayah kaya sumber daya. Tetapi masyarakat di sekitar tambang atau wilayah ekstraksi belum tentu menjadi kelompok yang paling menikmati kekayaan tersebut. Bahkan, mereka dapat menghadapi perubahan bentang alam, pencemaran, kehilangan akses terhadap tanah, perubahan mata pencaharian atau konflik sosial.

Pertanyaan political ecology kemudian menjadi lebih tajam: kekayaan untuk siapa dan biaya ekologis ditanggung oleh siapa?

Perspektif Watts juga membantu kita memahami mengapa istilah resource curse atau kutukan sumber daya tidak cukup apabila digunakan secara sederhana. Masalahnya bukan semata-mata karena suatu wilayah memiliki sumber daya alam melimpah.

Persoalannya adalah bagaimana sumber daya tersebut dikontrol, siapa yang memiliki akses terhadap keputusan, bagaimana keuntungan didistribusikan, bagaimana negara bekerja, serta bagaimana masyarakat lokal memiliki atau kehilangan posisi tawar.

Karena itu, Watts tidak melihat lingkungan sebagai latar belakang pasif bagi aktivitas ekonomi. Lingkungan merupakan bagian dari proses politik itu sendiri. Tanah, air, hutan, minyak, pangan dan energi selalu memiliki nilai ekonomi, tetapi sekaligus merupakan objek perebutan kekuasaan.

Dalam konteks ini, political ecology bertemu dengan political economy: pertanyaan ekologis tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai modal, negara, kelas, pasar dan distribusi kekayaan.

Pemikiran Watts juga penting karena ia tidak menganggap masyarakat lokal sebagai kelompok yang selalu pasif. Dalam berbagai kajiannya, perhatian terhadap kerentanan, risiko, rumah tangga, komunitas, gerakan sosial dan bentuk-bentuk resistensi menjadi bagian penting dari analisis. Masyarakat bukan sekadar korban perubahan lingkungan.

Mereka dapat bernegosiasi, beradaptasi, melakukan perlawanan, membangun jaringan dan menciptakan strategi untuk mempertahankan ruang hidupnya.

Dalam karya-karya berikutnya, perhatian Watts semakin kuat pada hubungan antara minyak, pembangunan, kekerasan dan dispossession.

Ia menulis tentang resource curse, violent environments, petro-violence, oil frontiers, hingga political ecology of oil and gas.

Salah satu artikelnya yang penting adalah “Resource Curse?: Oil, Violence and Governmentality in the Niger Delta”, yang membahas hubungan minyak, kekerasan dan cara pemerintahan bekerja di Delta Niger.

Menariknya, Watts juga tidak berhenti pada skala lokal. Salah satu karakter penting political ecology adalah kemampuannya menghubungkan berbagai skala.

Konflik yang terlihat terjadi di sebuah desa dapat berkaitan dengan keputusan pemerintah nasional, kebijakan perusahaan multinasional, harga komoditas global, sistem keuangan, bahkan perubahan geopolitik internasional.

Dengan demikian, ketika sebuah masyarakat kehilangan akses terhadap tanah karena ekspansi industri, kita tidak cukup hanya mewawancarai masyarakat dan mencatat keluhan mereka.

Kita juga perlu mengikuti rantai kekuasaan yang berada di balik perubahan tersebut: siapa pemilik konsesi, bagaimana izin diterbitkan, bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana investasi masuk, bagaimana keuntungan mengalir, dan bagaimana risiko ekologis didistribusikan.

Inilah mengapa Michael Watts tetap penting dalam studi political ecology. Ia mengajarkan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tentang hubungan manusia dengan alam, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan manusia melalui alam.

Di situlah kekuatan terbesar pendekatan ini. Ketika kita melihat hutan yang hilang, sungai yang tercemar, pesisir yang berubah, lahan pertanian yang menyusut atau masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan, kita tidak buru-buru menyebutnya sebagai “masalah lingkungan”.

Kita bertanya lebih jauh: proses sosial dan politik apa yang membuat perubahan itu terjadi? Siapa yang mempunyai kuasa untuk menentukan penggunaan sumber daya? Siapa yang mendapatkan keuntungan? Siapa yang membayar ongkos ekologisnya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat political ecology bukan sekadar teori tentang lingkungan. Ia adalah cara untuk membaca politik kehidupan sehari-hari melalui tanah, air, pangan, energi dan sumber daya alam.

Dalam konteks Indonesia yang sedang menghadapi ekspansi pertambangan, industrialisasi, proyek energi, perubahan tata ruang, krisis pesisir dan transformasi ekonomi desa, warisan intelektual Michael Watts menjadi semakin relevan.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak pernah hanya menghasilkan angka investasi dan pertumbuhan. Pembangunan juga menghasilkan distribusi manfaat, risiko, kerentanan dan kekuasaan.

Maka, memahami Watts berarti belajar melihat lingkungan dengan pertanyaan yang lebih dalam: ketika alam berubah, siapa yang sebenarnya sedang memperoleh kekuasaan—dan siapa yang sedang kehilangan ruang hidup?

Referensi utama

  • Watts, Michael J. (1983). Silent Violence: Food, Famine, and Peasantry in Northern Nigeria. University of California Press; edisi kedua 2013. (Google Books)
  • Peet, Richard & Michael Watts (eds.). (1996/2004). Liberation Ecologies: Environment, Development, Social Movements. Routledge. Watts dan Peet mengembangkan pendekatan liberation ecology yang menghubungkan persoalan ekologis dengan ekonomi-politik dan perubahan sosial. (Berkeley Geography)
  • Peet, Richard, Paul Robbins & Michael Watts (eds.). (2011). Global Political Ecology. Routledge. (Berkeley Geography)
  • Watts, Michael J. (2000). “Political Ecology.” Dalam A Companion to Economic Geography. Blackwell. (Berkeley Geography)
  • Watts, Michael J. (2004). “Resource Curse?: Oil, Violence and Governmentality in the Niger Delta.” Geopolitics, 9(1), 50–80. (Berkeley Geography)
  • Watts, Michael J. (2015). “Now and Then: The Origins of Political Ecology and the Rebirth of Adaptation as a Form of Thought.” Dalam Handbook of Political Ecology. Routledge. (Berkeley Geography)
  • University of California, Berkeley, Department of Geography. Michael Watts – Professor Emeritus. Profil dan daftar karya Michael Watts di Berkeley Geography