PELAKITA.ID – RASANYA kalah cepat kemajuan dalam dua dekade terakhir di bidang kedokteran gigi dibanding kemajuan teknologi digital.
Di tengah derasnya kecerdasaran artifisial dan pusaran algoritma, kedokteran gigi Indonesia masih berkutat dan belum beranjak dari persoalan klasik: ketimpangan akses layanan kesehatan gigi, distribusi tenaga medis yang belum merata, hingga pemanfaatan hasil riset yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat.
Itu bukan kata saya. Tapi topik yang mengemuka dan menjadi fokus pembahasan dalam sesi panel ilmiah pada Kongres Nasional Perdana Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia (MGBKGI) yang berlangsung di Universitas Hasanuddin Makassar sebagai tuan rumah, Jumat 7 Mei 2026.

Kongres ini menghimpun 60 guru besar dari 18 institusi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia.
Diskusi panelnya menghadirkan narasumber Prof. Tri Hanggono Achmad (Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), Prof. drg. Suryono (Ketua AFDOKGI dari UGM), dan Prof.drg.Muhammad Ruslin (Ketua MGBKGI dari Unhas),
Ketua Majelis Guru Besar Kedokteran Gigi Indonesia (MGBKGI) Prof Ruslin yang saya hubungi mengakui kecepatan teknologi digital telah mengubah lanskap kedokteran gigi di tanah air.
Pendidikan dan profesi kedokteran gigi kita saat ini, lanjutnya, dituntut harus cepat melakukan transformasi yang strategis mulai dari hulu sampai hilir agar kedepannya semakin kompeten dan kompetitif.
“Sebab bila ekosistem selama ini terus berlangsung, jangan heran bila kita makin sering menjadi pengguna hasil riset negara lain daripada penciptanya. Universitas memang tetap ramai. Wisuda tetap meriah. Tetapi laboratorium bisa semakin sepi dan sulit lahir lompatan besar bagi kemajuan bangsa,” kata guru besar yang juga Wakil Rektor 1 Unhas bidang akademik dan kemahasiswaan.
Ia sudah dua periode dipercaya pada jabatan yang menjadi roh dari Universitas tersebut.
Pandangan senada juga disampaikan Prof. Suryono dari UGM.
Ia mengingatkan sejumlah persoalan yang masih dihadapi sektor kesehatan gigi.
Seperti distribusi dokter gigi dan dokter gigi spesialis belum merata, akses pelayanan terbatas akibat faktor pembiayaan dan kondisi geografis, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Selain itu, standar sarana dan prasarana fasilitas pelayanan kesehatan belum sepenuhnya merata, sementara sebagian besar material dan peralatan kedokteran gigi masih bergantung pada produk impor.
Sebagai Ketuanya para guru besar kedokteran gigi Indonesia, Ruslin memikul amanah dan tantangan tidak ringan.
Ia memandang guru besar memiliki tanggung jawab strategis dalam meningkatkan nilai sivitas akademika.
Peran tersebut dapat dijalankan melalui pembinaan dosen muda menuju publikasi ilmiah dan paten, pembukaan jejaring riset internasional bagi mahasiswa, serta penguatan budaya research to impact di lingkungan departemen.
Guru besar juga berperan memperluas internasionalisasi perguruan tinggi melalui peningkatan visibilitas publikasi ilmiah, program visiting professorship dan kolaborasi riset lintas negara.
“Guru besar adalah pemimpin di era digital. Di tengah disrupsi teknologi, perguruan tinggi harus mampu menghadirkan ruang yang mendorong sivitas akademika terus berinovasi. Forum MGBKGI membuka peluang memperluas kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan berbagai mitra strategis,” kata Ruslin dalam diskusi panel yang dipandu Prof. Yulita Hendrartini dari UGM.
Guru besar, lanjutnya, tidak hanya merepresentasikan capaian akademik tertinggi.
Di balik gelar tersebut melekat tanggung jawab mengarahkan hilirisasi riset, memperkuat internasionalisasi, serta menjaga profesionalisme dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Selain itu ketua MGBKGI-lah yang tidak sekedar menguatkan kepemimpinan akademik, tapi juga secara kolektif merumuskan target dari program yang harus dicapai beberapa tahun ke depan.
Termasuk merumuskan ”kurikulum” pendidikan kesehatan gigi yang adaptif untuk mencapai target itu.
Apalagi, menurut Ruslin, sesungguhnya perkembangan teknologi juga membuka peluang baru di bidang kedokteran gigi. Dimana adaptasi terhadap kecerdasan artifisial, teknologi 3D printing, dan teledentistry perlu penguatan dalam pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran gigi agar lulusan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan layanan kesehatan modern.
Dalam jangka pendek, tentukan riset apa saja dibidang kesehatan gigi yang dianggap prioritas untuk kemajuan bangsa ke depan. Targetnya seperti apa. Biaya dari mana.Yang dicover APBN berapa.
Dari pihak ketiga atau mitra berapa. Dengan begitu, maka akan terealisasi cepat keinginan memiliki FKG-FKG yang menopang terwujudnya universitas riset.
_____
Penulis: Rusman Madjulekka
Pemeeiksa aksara: Aisya Sofianita









