PELAKITA.ID – SIDENRENG RAPPANG – Berawal dari keluhan para petani yang kerap mengalami pusing dan gangguan kesehatan setelah bekerja di sawah, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin menggagas Gerakan SIPATOKKONG sebagai upaya meningkatkan kesadaran petani terhadap bahaya paparan bahan kimia pertanian.
Program yang mengusung slogan “Bertani Aman, Petani Sehat, Keluarga Selamat” ini dilaksanakan pada Kamis, 30 Juli 2026, di Kantor Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa dalam mendukung kesehatan dan keselamatan kerja masyarakat di sektor pertanian.
Lahirnya Gerakan SIPATOKKONG tidak terlepas dari aspirasi yang disampaikan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Takkalasi, Mahmudin, yang mengungkapkan bahwa sejumlah petani sering mengeluhkan sakit kepala, pusing, bahkan badan lemas setelah melakukan penyemprotan pestisida maupun aktivitas pertanian lainnya.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-PK Unhas berinisiatif menghadirkan edukasi mengenai penggunaan bahan kimia pertanian yang aman sekaligus memperkenalkan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) dalam aktivitas bertani.
Kegiatan dihadiri oleh Kepala Desa Takkalasi Sudarmin, perangkat desa, Ketua Gapoktan, kelompok tani, tokoh masyarakat, pemuda, serta warga Desa Takkalasi. Rangkaian acara diawali dengan sambutan Kepala Desa, dilanjutkan pre-test untuk mengukur pengetahuan peserta, penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, pembagian paket APD dan leaflet edukatif, kemudian diakhiri dengan post-test sebagai evaluasi hasil penyuluhan.
Dalam sesi edukasi, mahasiswa menjelaskan berbagai jenis bahan kimia pertanian yang umum digunakan petani, seperti insektisida, herbisida, fungisida, dan pupuk kimia. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai jalur masuk bahan kimia ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan, kulit, mulut, maupun mata.
Paparan bahan kimia tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari pusing, mual, mata perih, sesak napas, badan lemas, hingga iritasi kulit. Jika terjadi secara berulang dalam jangka panjang, paparan bahan kimia berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan kronis sekaligus mencemari lingkungan.
Mahasiswa juga menekankan pentingnya penggunaan APD saat bekerja di lahan pertanian, meliputi masker, pakaian berlengan panjang, sarung tangan, kacamata pelindung, celana panjang, dan sepatu tertutup. Selain itu, petani diimbau membaca petunjuk penggunaan pada label, memeriksa kondisi kemasan, memperhatikan arah angin saat penyemprotan, serta menghindari makan, minum, atau merokok ketika menggunakan bahan kimia.
Selama diskusi berlangsung, sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi petani turut mengemuka.
“Banyak dari petani yang tidak mengganti bajunya setelah bertani dan langsung beraktivitas di rumahnya,” ungkap salah seorang aparat Desa Takkalasi.
Sementara itu, seorang petani mengakui bahwa penggunaan APD masih dianggap mengurangi kenyamanan saat bekerja di sawah.
“Petani-petani melakukan aktivitas bertani tanpa memakai peralatan pelindung karena dirasa tidak nyaman,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, mahasiswa KKN-PK mengingatkan pentingnya segera mandi dan mengganti pakaian setelah selesai bekerja di lahan, mencuci pakaian kerja secara terpisah, membersihkan alat semprot di tempat yang aman, serta menyimpan pestisida jauh dari makanan dan jangkauan anak-anak.
Peserta juga diingatkan agar tidak menggunakan kembali kemasan bekas bahan kimia, tidak membakarnya, maupun membuangnya ke sungai karena dapat mencemari lingkungan.
Selain langkah pencegahan, peserta memperoleh edukasi mengenai pertolongan pertama apabila terjadi keracunan bahan kimia pertanian. Langkah yang dianjurkan meliputi menghentikan aktivitas penyemprotan, menjauhkan korban dari sumber paparan, membawa korban ke tempat yang memiliki sirkulasi udara baik, membilas bagian tubuh yang terpapar, dan segera menuju fasilitas kesehatan apabila muncul gejala berat.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Petani aktif berbagi pengalaman sekaligus menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai penggunaan pestisida yang aman dalam praktik sehari-hari. Tingginya partisipasi masyarakat juga didukung oleh peran aktif Gapoktan dan pemerintah desa yang mengajak warga untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Melalui Gerakan SIPATOKKONG, Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69 Universitas Hasanuddin berharap edukasi ini dapat membangun budaya keselamatan kerja di kalangan petani, meningkatkan kesadaran terhadap bahaya paparan bahan kimia pertanian, serta mendorong penerapan praktik pertanian yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan demi melindungi petani, keluarga, dan lingkungan.









