PELAKITA.ID – Di tengah tantangan ketahanan pangan global, perubahan iklim, hingga tekanan terhadap sumber daya laut, Sulawesi Selatan justru memperlihatkan optimisme.
Dengan garis pantai hampir 2.000 kilometer, wilayah perairan lebih dari 54 ribu kilometer persegi, serta jaringan pelabuhan perikanan yang terus berkembang, provinsi ini kian menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat produksi pangan akuatik terbesar di Indonesia.
Bagi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan, Muhammad Ilyas, kekuatan tersebut bukan sekadar soal melimpahnya sumber daya alam, melainkan bagaimana potensi itu dikelola secara produktif, berkelanjutan, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.
“Perikanan Sulawesi Selatan harus terus tumbuh dengan tetap menjaga keberlanjutan sumber daya dan meningkatkan daya saing melalui hilirisasi,” demikian visi yang terus didorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sebagaimana disampaikan pada Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan Akuatik Sulawesi Selatan yang digelar oleh Kementerian Koordinator Pangan (Kemenko Pangan) di Makassar, Kamis, 6 Agustus 2026.
Gerbang Pangan Indonesia Timur
Secara geografis, Sulawesi Selatan memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Posisinya berada di simpul jalur pelayaran nasional sekaligus menjadi pintu gerbang logistik Indonesia Timur.
Provinsi ini memiliki garis pantai sepanjang 1.937 kilometer dan luas perairan sekitar 54.854,8 kilometer persegi, yang menjadi ruang produksi berbagai komoditas kelautan dan perikanan.
Keunggulan geografis tersebut diperkuat oleh keberadaan 17 pelabuhan perikanan yang mendukung aktivitas penangkapan, distribusi, hingga ekspor hasil perikanan.
Dalam sistem logistik nasional, Sulawesi Selatan juga menjadi bagian penting Koridor Logistik Perikanan Makassar–Jawa, yang memasok berbagai komoditas unggulan seperti bandeng dan udang menuju pasar-pasar besar di Jakarta maupun Surabaya.
Posisi strategis inilah yang menjadikan Sulawesi Selatan sebagai simpul distribusi pangan laut Indonesia Timur.
Target Produksi Lebih dari Lima Juta Ton
Kinerja sektor kelautan dan perikanan Sulawesi Selatan menunjukkan tren yang terus meningkat.
Pada 2025, total produksi perikanan diproyeksikan mencapai 5,23 juta ton, menjadikan Sulawesi Selatan sebagai salah satu kontributor terbesar produksi perikanan nasional.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh dua sektor utama:
- Perikanan budidaya tumbuh rata-rata 4,9 persen per tahun.
- Perikanan tangkap meningkat sekitar 6,2 persen.
Di sektor budidaya, beberapa komoditas mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Produksi ikan nila, misalnya, melonjak hingga 50,6 persen, menunjukkan besarnya peluang pengembangan budidaya air tawar di berbagai daerah.
Namun demikian, Muhammad Ilyas mengakui tantangan masih cukup besar. Beberapa komoditas strategis justru mengalami penurunan produksi.
Produksi ikan mas tercatat turun sekitar 26,4 persen, sedangkan tongkol mengalami penurunan sekitar 18,3 persen.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa peningkatan produksi tidak dapat hanya mengejar kuantitas semata, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan stok sumber daya ikan dan keseimbangan ekosistem laut.
Rumput Laut Masih Menjadi Primadona
Salah satu kekuatan terbesar Sulawesi Selatan tetap berada pada sektor budidaya rumput laut.
Komoditas ini diproyeksikan mencapai 4,39 juta ton pada 2025 dan tetap menjadi penyumbang produksi terbesar sektor kelautan Sulawesi Selatan.
Sementara itu, sektor perikanan tangkap masih mengandalkan kelompok Tuna, Tongkol, dan Cakalang (TTC) sebagai komoditas unggulan.
Pada 2023, nilai produksi kelompok TTC mencapai sekitar Rp2,46 triliun.
Meski diproyeksikan sedikit menurun menjadi sekitar Rp2,39 triliun pada 2025, sektor ini tetap menjadi tulang punggung ekonomi perikanan Sulawesi Selatan.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong penguatan hilirisasi agar nilai tambah tidak hanya dinikmati pasar ekspor, tetapi juga mampu menciptakan industri pengolahan, lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat di daerah.
Kontributor Penting Ekspor Nasional
Tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, Sulawesi Selatan juga memainkan peran penting dalam perdagangan internasional.
Kontribusi ekspor perikanan Sulawesi Selatan diperkirakan mencapai 16,5 persen dari total ekspor perikanan Indonesia.
Nilai ekspor tersebut meningkat dari sekitar USD158,4 juta pada 2020 menjadi sekitar USD202,7 juta pada 2025.
Produk-produk perikanan Sulawesi Selatan kini telah memasuki berbagai pasar internasional seperti:
- Amerika Serikat
- Jepang
- China
Salah satu faktor yang memperkuat daya saing ekspor adalah keberadaan layanan Direct Call dari Pelabuhan Makassar.
Sistem ini memungkinkan produk perikanan dikirim langsung ke negara tujuan tanpa harus melalui pelabuhan transit, sehingga biaya logistik lebih efisien sekaligus menjaga mutu dan kesegaran produk.
Menjaga Laut dengan Kearifan Lokal
Bagi Muhammad Ilyas, pembangunan sektor kelautan tidak hanya bertumpu pada teknologi maupun investasi.
Fondasi terpenting justru berasal dari nilai-nilai budaya masyarakat Bugis-Makassar yang sejak lama hidup berdampingan dengan laut.
Nilai Lempu (jujur) menjadi dasar tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Mappasitteppo mengajarkan pentingnya berpikir jauh ke depan dalam menjaga sumber daya agar tetap tersedia bagi generasi berikutnya.
Sementara Resopa Temmangingngi menjadi semangat kerja keras yang mendorong inovasi di sektor budidaya dan pengolahan hasil perikanan.
Di sisi lain, budaya Sipakainge dan Assitaju memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat pesisir.
Menurutnya, penerapan prinsip Blue Economy tidak cukup hanya berbicara mengenai efisiensi ekonomi, tetapi juga harus memastikan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan sumber daya laut.
Menjawab Tantangan Masa Depan
Di balik capaian tersebut, sektor kelautan Sulawesi Selatan masih menghadapi berbagai tantangan.
Mulai dari perubahan iklim, tekanan terhadap stok ikan, kerusakan habitat pesisir, fluktuasi harga komoditas global, hingga perlunya peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri.
Karena itu, pembangunan kelautan ke depan harus diarahkan pada penguatan produktivitas yang tetap menjaga keseimbangan ekologi.
Investasi pada teknologi budidaya, penguatan rantai dingin (cold chain), peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan akses pasar menjadi agenda penting agar Sulawesi Selatan mampu mempertahankan posisinya sebagai pusat pangan akuatik Indonesia.
Dengan kekayaan sumber daya, dukungan infrastruktur, jaringan logistik yang semakin kuat, serta komitmen terhadap ekonomi biru, Sulawesi Selatan memiliki modal besar untuk menjadi lumbung pangan akuatik nasional.
Sebagaimana menjadi komitmen Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan, pembangunan sektor ini diarahkan bukan semata mengejar peningkatan produksi, melainkan mewujudkan perikanan dan kelautan yang produktif, berkelanjutan, berdaya saing, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan daerah secara berkeadilan.
____
Penulis Aisya Sofia









