A.M Jufri | Jangan Gusur Harapan dari Marunda

  • Whatsapp
Andi Muhammad Jufri (Ilustrasi Pelakita.ID)

Yang dibutuhkan bukan sekadar tambahan tower, melainkan keberanian menghadirkan kebijakan yang melihat masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan hanya objek relokasi.

Oleh: Andi Muhammad Jufri

PELAKITA.ID – Pembangunan rumah susun merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar di kota-kota besar. Di tengah keterbatasan lahan dan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, hunian vertikal menjadi solusi strategis untuk memenuhi hak masyarakat atas tempat tinggal yang layak.

Karena itu, pembangunan tower baru di Rusun Marunda patut diapresiasi sebagai bagian dari komitmen negara menghadirkan perumahan yang lebih baik.

Pembangunan yang berhasil tidak cukup diukur dari jumlah tower yang berdiri. Ia juga harus dinilai dari kemampuannya menjaga kehidupan sosial yang telah tumbuh di sekitarnya.

Kota tidak dibangun hanya dengan beton dan baja, melainkan juga oleh kepercayaan, gotong royong, dan ruang-ruang yang mempertemukan warganya.

Di sinilah kekhawatiran mengenai keberadaan Rumah Mangrove Marunda menjadi penting. Jika benar ruang komunitas tersebut terdampak oleh pembangunan, maka persoalannya bukan sekadar hilangnya sebuah bangunan sederhana. Yang dipertaruhkan adalah hilangnya pusat pembelajaran, pemberdayaan, dan modal sosial yang telah dibangun masyarakat selama bertahun-tahun.

Rumah Mangrove mungkin tidak semegah tower baru. Tetapi justru dari ruang yang sederhana itulah lahir berbagai aktivitas yang memberi makna bagi kehidupan warga. Anak-anak belajar mencintai lingkungan. Kelompok perempuan memperoleh ruang untuk berkegiatan dan mengembangkan ekonomi keluarga. Warga belajar membibitkan mangrove, menjaga pesisir, dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.

Dalam tulisan saya sebelumnya, Small is Beautiful: Dari Sebuah Ruang Menjadi Sebuah Bangsa, saya mengingatkan bahwa bangsa yang kuat selalu bertumpu pada ruang-ruang kecil yang hidup.

Ketika ruang itu hilang, yang ikut memudar bukan hanya aktivitasnya, tetapi juga jejaring sosial, rasa saling percaya, dan semangat kolektif yang menjadi fondasi pembangunan.

Di kawasan pesisir seperti Marunda, fungsi Rumah Mangrove bahkan jauh melampaui konservasi lingkungan. Ia berada di titik temu berbagai agenda pembangunan: adaptasi perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, ketahanan pangan keluarga, pemberdayaan perempuan, pendidikan lingkungan, hingga penguatan ekonomi lokal.

Mangrove bukan sekadar vegetasi pesisir. Ia melindungi pantai dari abrasi dan banjir rob, menyerap karbon, menjaga habitat biota pesisir, sekaligus menjadi laboratorium hidup bagi masyarakat untuk belajar tentang hubungan manusia dengan alam.

Yang sering luput dari perhatian adalah peran perempuan dalam ruang-ruang komunitas semacam ini. Di banyak wilayah pesisir Indonesia, perempuan menjadi motor penggerak pembibitan mangrove, pengolahan hasil pesisir, pengembangan usaha mikro, pendidikan anak, hingga penguatan ketahanan pangan keluarga.

Ketika ruang komunitas hilang, perempuan sering menjadi kelompok pertama yang kehilangan tempat belajar, berjejaring, dan mengembangkan kapasitas.

Karena itu, pembangunan tower baru dan pelestarian Rumah Mangrove tidak seharusnya diposisikan sebagai dua kepentingan yang saling meniadakan. Kota modern justru dituntut mampu menghadirkan keduanya secara bersamaan. Hunian layak dan ruang komunitas bukan pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan dua komponen yang saling melengkapi.

Di sinilah pemerintah memiliki kesempatan menunjukkan wajah pembangunan yang lebih berkeadilan. Bila relokasi memang tidak dapat dihindari, maka yang dipindahkan seharusnya hanya bangunannya, bukan fungsi sosialnya.

Rumah Mangrove harus direlokasi ke tempat yang lebih representatif, tetap mudah diakses warga, bahkan diperkuat kapasitasnya agar memberi manfaat yang lebih besar daripada sebelumnya.

Marunda sesungguhnya dapat dijadikan model pembangunan pesisir yang terintegrasi. Kawasan ini berpeluang menghadirkan Pusat Resiliensi Pesisir Marunda, sebuah ruang publik yang menggabungkan konservasi mangrove, sekolah lingkungan, pusat edukasi perubahan iklim, kebun pangan keluarga, pelatihan ekonomi hijau, inkubasi UMKM perempuan, serta laboratorium sosial bagi generasi muda.

Konsep seperti ini bukan gagasan utopis. Berbagai kota di dunia telah membuktikan bahwa pembangunan perumahan rakyat dapat berjalan berdampingan dengan ruang hijau, pusat komunitas, dan fasilitas edukasi.

Bahkan, keberadaan ruang sosial semacam itu terbukti meningkatkan kualitas hidup penghuni, memperkuat kohesi sosial, sekaligus mengurangi berbagai persoalan perkotaan.

Marunda memiliki kesempatan untuk menjadi contoh bagaimana pembangunan fisik dapat tumbuh berdampingan dengan pembangunan manusia.

Yang dibutuhkan bukan sekadar tambahan tower, melainkan keberanian menghadirkan kebijakan yang melihat masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan hanya objek relokasi.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa banyak bangunan yang selesai dibangun, melainkan berapa banyak kehidupan yang berhasil dipertahankan dan diperkuat.

Gedung dapat diselesaikan dalam hitungan bulan, tetapi membangun kepercayaan, gotong royong, dan modal sosial memerlukan waktu bertahun-tahun.

Karena itu, ketika kita membangun Marunda, jangan sampai yang hilang bukan hanya sebuah Rumah Mangrove. Jangan sampai yang ikut tergusur adalah ruang belajar masyarakat, semangat gotong royong, dan harapan yang selama ini tumbuh di dalamnya. Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah menggusur yang lemah demi yang megah, melainkan memastikan setiap kemajuan menghadirkan manfaat yang adil bagi semua.

Kota yang baik bukan hanya memberi warga tempat tinggal, tetapi juga memberi mereka alasan untuk tetap merasa memiliki rumah.

___
Editor Denun