Meningkatkan Pengetahuan tentang Etika Batuk dan Ventilasi Kelas Sehat sebagai Upaya Pencegahan ISPA di SDN 2 Rijang Panua

  • Whatsapp
Meningkatkan Pengetahuan tentang Etika Batuk dan Ventilasi Kelas Sehat sebagai Upaya Pencegahan ISPA di SDN 2 Rijang Panua

PELAKITA.ID – Desa Mario, 18 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan Angkatan 69 Universitas Hasanuddin Posko Desa Mario melaksanakan program kerja individu bertajuk SEHATI (Sehat Tanpa ISPA): Edukasi Etika Batuk dan Ventilasi Kelas Sehat sebagai Upaya Pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Siswa SDN 2 Rijang Panua.

Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 18 Juli 2026, di SDN 2 Rijang Panua, Desa Mario, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidenreng Rappang, mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai.

Program ini merupakan upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesadaran siswa sekolah dasar mengenai pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melalui penerapan etika batuk yang benar dan pentingnya menjaga ventilasi kelas yang sehat.

Kegiatan diikuti oleh 18 siswa kelas V SDN 2 Rijang Panua dengan dukungan penuh dari kepala sekolah, para guru, dan mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Universitas Hasanuddin. Kehadiran pihak sekolah mencerminkan komitmen bersama dalam membangun perilaku hidup bersih dan sehat melalui pendidikan kesehatan yang berkelanjutan.

Program SEHATI (Sehat Tanpa ISPA) merupakan inisiatif Alya Syahruni, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin angkatan 2023, sebagai bagian dari rangkaian program KKN Profesi Kesehatan Angkatan 69 di Desa Mario.

Melalui program ini, mahasiswa mengimplementasikan pendekatan promotif dan preventif dalam bidang kesehatan masyarakat dengan memberikan edukasi mengenai pencegahan ISPA kepada siswa sekolah dasar sebagai upaya membentuk perilaku hidup sehat sejak usia dini.

ISPA merupakan salah satu penyakit yang paling sering menyerang anak usia sekolah. Penyakit ini dapat menular melalui percikan droplet saat seseorang batuk atau bersin, serta dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ventilasi ruangan yang kurang memadai.

Dampak ISPA tidak hanya berupa gangguan kesehatan, seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas, tetapi juga dapat menurunkan konsentrasi belajar dan tingkat kehadiran siswa di sekolah. Oleh karena itu, edukasi mengenai etika batuk yang benar dan pentingnya ventilasi kelas menjadi langkah sederhana namun efektif dalam mencegah penyebaran penyakit.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama pihak sekolah, penyusunan materi edukasi, serta persiapan media pembelajaran berupa slide presentasi, poster edukatif, leaflet, alat peraga, dan instrumen evaluasi berupa pre-test dan post-test. Sebelum materi disampaikan, seluruh peserta mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai ISPA dan upaya pencegahannya.

Materi yang diberikan meliputi pengertian ISPA, penyebab dan cara penularan, tanda dan gejala penyakit, pentingnya mencuci tangan, etika batuk dan bersin yang benar, penggunaan tisu atau siku bagian dalam saat batuk dan bersin, pentingnya menjaga ventilasi kelas agar sirkulasi udara tetap baik, serta langkah-langkah pencegahan ISPA dalam kehidupan sehari-hari.

Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui presentasi, poster edukasi, demonstrasi etika batuk dan bersin, serta diskusi bersama siswa. Setelah sesi materi, peserta diajak mempraktikkan secara langsung etika batuk dan bersin yang benar sekaligus mengidentifikasi kebiasaan yang dapat mendukung terciptanya ventilasi kelas yang sehat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, pelaksanaan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan siswa, pemberian apresiasi kepada peserta yang aktif, pembagian leaflet edukasi sebagai media pengingat, dokumentasi kegiatan, penyampaian kesimpulan, dan penutupan.

Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti diskusi, serta mempraktikkan etika batuk dan bersin sesuai arahan pemateri. Demonstrasi yang dilakukan secara langsung membantu siswa memahami cara mencegah penyebaran ISPA baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Hasil evaluasi melalui post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan saluran pernapasan, menerapkan etika batuk yang benar, serta menjaga ventilasi kelas agar tetap sehat.

Program SEHATI (Sehat Tanpa ISPA) turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya promotif dan preventif dalam mencegah penyakit menular pada anak usia sekolah. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap Tujuan 4 (Quality Education) melalui penyelenggaraan edukasi kesehatan yang membentuk pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup bersih dan sehat pada peserta didik.

Melalui kegiatan ini diharapkan siswa mampu menerapkan perilaku pencegahan ISPA secara mandiri dan berkelanjutan, baik di sekolah maupun di rumah. Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan peran guru dan orang tua dalam membimbing anak untuk membiasakan etika batuk yang benar, menjaga kebersihan diri, serta memperhatikan kualitas ventilasi ruangan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan selama kegiatan berlangsung, tetapi juga memberikan dampak positif yang berkelanjutan terhadap peningkatan derajat kesehatan anak di Desa Mario.

Penulis Alya Syahruni