PAIR Annual Meeting 2026 Ditutup di Unhas, Kolaborasi Riset Berdampak Menuju Persahabatan Indonesia–Australia yang Berkelanjutan

  • Whatsapp
Kiri-kanan, Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa, Dubes Australia untuk Indonesia, H.E Roderick Brazier, WR3 Unhas, Prof Farida Patittingi, dan WR1 Unhas, Prof Muhammad Ruslin (image by Pelakita.ID)
  • Sebanyak 19 universitas dari Indonesia dan Australia terlibat dalam Batch 1 riset PAIR, 14 proyek penelitian.
  • “Yang paling penting bukan hanya kerja samanya, tetapi persahabatannya. Saya akan berupaya meyakinkan pemerintah Indonesia agar program seperti ini dapat terus dilanjutkan demi hubungan kedua negara,” Prof Jamaluddin Jompa

PELAKITA.ID — Penutupan Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Annual Meeting 2026 di Universitas Hasanuddin (Unhas), Kamis (23/7/2026), menjadi lebih dari sekadar akhir rangkaian pertemuan tahunan para peneliti Indonesia dan Australia.

Momen tersebut berubah menjadi refleksi bersama tentang bagaimana ilmu pengetahuan, kolaborasi lintas negara, dan hubungan antarmanusia dapat menjadi fondasi menghadapi tantangan perubahan iklim, kesehatan, hingga pembangunan berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.

Acara penutupan dihadiri Duta Besar Australia untuk Indonesia Roderick Brazier, Konsul Jenderal Australia di Makassar Todd Diaz, pimpinan Universitas Hasanuddin Prof Jamaluddin Jompa dan tim, Kadis Kelautan dan Perikanan Muhammad Ilyas sebagai perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Boyd Whalan dari Australia-Indonesia Centre (AIC), tim Monash University dan sejumlah perguruan tinggi asal Australia dan Indonesia, serta ratusan peneliti dari 19 proyek riset PAIR yang telah memasuki tahun pertama pelaksanaannya.

Suasana penutupan PAIR Annual Meeting 2026 (image by Pelakita.ID)

Suasana yang semula formal perlahan berubah hangat, bahkan emosional, ketika para pembicara tidak hanya membahas capaian penelitian, tetapi juga mengenang perjalanan kolaborasi yang telah melahirkan persahabatan lintas negara.

Acara dimulai dengan penampilan paduan suara PSM Unhas yang memukau. Tiga lagu jadi penghangat suasana farewell.

…I’ll be waiting for you. Here inside my heart.  I’m the one who wants to love you more

You will see.  I can give you everything you need

Let me be the one to love you more

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa (JJ), membuka sesi penutupan dengan nuansa santai yang khas.

Ia memperkenalkan para pimpinan universitas sekaligus menjelaskan bahwa kekuatan Unhas tidak hanya bertumpu pada rektorat, tetapi juga pada sinergi Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, dan Dewan Profesor yang bekerja bersama membangun tata kelola perguruan tinggi.

Di hadapan Duta Besar Australia, Prof. JJ mengaku bangga karena Unhas dipercaya menjadi tuan rumah sekaligus pengelola PAIR, sebuah program yang menurutnya tidak mudah dijalankan.

Ia mengenang bagaimana pada awal proyek dirinya sempat khawatir menyatukan mekanisme kerja dua negara dengan sistem pendanaan yang berbeda, termasuk koordinasi antara pemerintah Australia dan Indonesia serta LPDP.

Menurutnya, perjalanan PAIR juga diwarnai berbagai dinamika nasional, mulai dari pergantian presiden, beberapa kali pergantian menteri, hingga perubahan struktur kelembagaan pemerintahan yang berdampak pada proses administrasi penelitian.

“Namun semua tantangan itu berhasil dilalui. Hari ini kita bisa melihat bahwa kerja sama ini tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.

Prof. JJ juga menyampaikan harapan agar PAIR tidak berhenti sebagai proyek penelitian semata. Baginya, nilai terbesar program ini justru terletak pada lahirnya hubungan jangka panjang antara para peneliti Indonesia dan Australia.

 

Ia bahkan secara terbuka meminta dukungan Duta Besar Australia agar kerja sama serupa dapat terus berlanjut setelah masa PAIR berakhir pada tahun mendatang.

Boyd Whalan (AI), Todd Diaz (Konjen Australia), Prof JJ (Unhas), H.E Roderick Braizer (Dubes Australia) dan Kadis KP Sulsel, Muhammad Ilyas (image by Pelakita.ID)

“Yang paling penting bukan hanya kerja samanya, tetapi persahabatannya. Saya akan berupaya meyakinkan pemerintah Indonesia agar program seperti ini dapat terus dilanjutkan demi hubungan kedua negara,” katanya.

Dukungan terhadap kolaborasi riset tersebut juga disampaikan melalui sambutan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang mewakili Gubernur Andi Sudirman Sulaiman.

Dalam pidatonya disebutkan bahwa Sulawesi Selatan memiliki garis pantai hampir 2.000 kilometer, sekitar 320 pulau, dan hampir setengah juta penduduk yang kehidupannya bergantung pada sumber daya pesisir dan laut.

Karena itu, penguatan ketahanan masyarakat pesisir tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga menyangkut ekonomi dan kesejahteraan sosial.

Perubahan iklim, menurut pemerintah provinsi, kini bukan lagi ancaman masa depan. Kenaikan muka air laut, abrasi pantai, degradasi ekosistem, hingga cuaca ekstrem sudah dirasakan masyarakat saat ini sehingga memerlukan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Dalam konteks itulah PAIR dinilai memiliki arti strategis.

Sebanyak 19 proyek penelitian yang melibatkan sekitar 180 peneliti dari Indonesia dan Australia mengembangkan berbagai inovasi pada tema ekonomi sirkular, transisi menuju net-zero emission, perubahan iklim, dan kesehatan masyarakat.

Hasil penelitian tersebut diharapkan mampu menjadi dasar penyusunan kebijakan publik yang lebih efektif sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dukungan Pemprov Sulsel

Pemerintah Sulawesi Selatan melalui sambutan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman yang diwakilkan ke Kadis Kelautan dan Perikanan juga menegaskan komitmennya memperkuat ekonomi biru melalui pengembangan kawasan konservasi laut, rehabilitasi ekosistem pesisir, budidaya perikanan berkelanjutan, peningkatan tata kelola ruang laut, serta penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

Muhammad Ilyas (Kadis KP Sulsel)

Dalam sesi diskusi penutup, sejumlah peneliti dari Indonesia maupun Australia berbagi pengalaman selama satu tahun bekerja bersama. Salah satu pesan yang paling mengemuka adalah bahwa perubahan iklim tidak dapat diselesaikan hanya melalui teknologi.

Seorang peneliti Australia – pada sesi sharing kesan-pesan yang dimoderatori Helen Brown dari AIC, mengungkapkan bahwa selama mengikuti PAIR ia justru menemukan bahwa banyak persoalan iklim bersifat sosial dan relasional.

“Permasalahan perubahan iklim hanya sebagian kecil merupakan persoalan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun hubungan antarmanusia,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan akademisi Indonesia asal Universitas Hasanuddin, Dr Rijal Idrus yang menekankan bahwa adaptasi perubahan iklim harus dilihat secara menyeluruh.

Isu tersebut berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, pengurangan risiko bencana, pembangunan infrastruktur, hingga keadilan sosial. Karena itu, riset harus dibangun bersama masyarakat.

“Kolaborasi adalah kata kuncinya. Tugas akademisi bukan hanya menghasilkan ilmu, tetapi membawa ilmu pengetahuan kepada masyarakat,” katanya.

Menariknya, para peneliti juga mengakui bahwa tantangan terbesar bukan lagi menemukan teknologi baru, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar dapat diterapkan di lapangan.

Bahkan salah seorang profesor energi dari Australia bernama Prof Lu mengatakan bahwa semakin besar persoalan yang dihadapi masyarakat, justru semakin besar peluang penelitian untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat.

Pengalaman lapangan juga memperkuat pentingnya hubungan personal dalam kerja sama internasional.

Seorang peneliti bidang kebijakan kesehatan dari Australia mengaku awalnya tidak terkejut melihat berbagai tantangan yang ditemukan selama penelitian, seperti keterbatasan sumber daya manusia, minimnya literasi, keterbatasan pendanaan, hingga lemahnya koordinasi lintas sektor. Namun, hal yang paling berkesan baginya justru adalah berkembangnya hubungan antartim peneliti.

“Hubungan kami tidak lagi sekadar kemitraan penelitian, tetapi telah berkembang menjadi persahabatan yang dibangun di atas rasa saling percaya dan saling menghormati. Dalam penelitian kualitatif, kepercayaan adalah fondasi utama,” ujarnya.

Perspektif berbeda datang dari kalangan media.

Suriani Mappong, jurnalis dari Kantor Berita ANTARA yang terlibat dalam kegiatan PAIR menilai bahwa kolaborasi antara peneliti dan media menjadi semakin penting di tengah derasnya arus disinformasi di media sosial. Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi yang berbasis data dan bukti ilmiah.

Karena itu, media harus bekerja sama dengan peneliti agar hasil-hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi informasi publik yang mudah dipahami sekaligus menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan.

Pujian dari Dubes Brazier

Puncak acara penutupan berlangsung ketika Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menyampaikan pidato penutupnya. Sebagai alumnus Universitas Hasanuddin yang pernah belajar di kampus tersebut pada 1990, ia mengaku selalu memiliki ikatan emosional dengan Makassar.

Ia bahkan mengenang saat mendampingi Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada 2022.

Ketika diminta menentukan kota yang layak dikunjungi selain Jakarta, Rod Brazier mengaku tanpa ragu langsung menyebut Makassar.

Menurutnya, kota ini memiliki hubungan sejarah yang sangat kuat dengan Australia Utara sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia jauh lebih luas daripada Jakarta dan Pulau Jawa.

Dubes Rod Brazier mengapresiasi keberhasilan PAIR yang telah menghasilkan berbagai inovasi praktis.

Ia mencontohkan pengembangan sistem pengelolaan sampah dan pemanfaatan energi surya untuk puskesmas di Sulawesi Utara dan Gorontalo, pengurangan sampah plastik, hingga berbagai solusi nyata yang telah mulai dimanfaatkan pemerintah daerah dan masyarakat.

Baginya, kekuatan utama PAIR terletak pada kemampuan menggabungkan kapasitas riset kelas dunia dari Australia dengan jejaring peneliti Indonesia yang memahami kondisi lokal secara mendalam.

Sinergi tersebut menghasilkan solusi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Saya berharap penelitian-penelitian ini terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Sulawesi dan Indonesia Timur,” katanya.

Farewell Si Baik Hati, Todd Diaz

Bagian yang paling mengharukan pada penutupan PAIR Annual Meeting 2026 justru terjadi ketika seluruh peserta memberikan penghormatan kepada Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Diaz, yang akan mengakhiri masa tugasnya.

Prof. Jamaluddin Jompa menyebut Todd Diaz bukan sekadar diplomat, melainkan sahabat Universitas Hasanuddin.

Ia mengenang bagaimana Todd hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan akademik, mempertemukan universitas-universitas di Sulawesi dengan berbagai mitra Australia, serta menjadi penghubung penting dalam banyak kolaborasi pendidikan dan penelitian.

“Saya tidak tahu apakah nanti kita akan mendapatkan Konsul Jenderal yang sebaik Todd. Dia sangat profesional, tetapi juga begitu bersahabat hingga kadang kami lupa bahwa beliau seorang diplomat,” ujar Prof. JJ yang disambut tepuk tangan panjang peserta.

Ia berharap Todd suatu hari nanti kembali ke Makassar, bahkan sambil berseloroh mengatakan bahwa pintu rumah Todd di Australia kelak boleh menjadi tempat menginap jika mereka berkunjung.

Todd Diaz yang baik hati (image by Pelakita.ID)

Dalam sambutan balasannya, Todd mengaku tidak pernah menyukai acara perpisahan. Menurutnya, dirinya bahkan belum merasa siap meninggalkan Makassar.

Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh sivitas akademika Unhas, mitra-mitra PAIR, dan masyarakat Sulawesi yang selama tiga tahun terakhir menjadi bagian penting dalam perjalanan diplomatiknya.

Todd yang memang layak disebut Si Baik Hati ini menegaskan bahwa PAIR merupakan salah satu program paling istimewa Australia di Indonesia karena berfokus sepenuhnya di Pulau Sulawesi.

Penulis bersama Direktur Australia-Indonesia Center, Boyd Whalan (image by Pelakita.ID)

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan besarnya perhatian Australia terhadap kawasan timur Indonesia. Ia percaya warisan terbesar PAIR bukan hanya hasil riset, melainkan jaringan persahabatan yang terbentuk di antara para peneliti, pemerintah, universitas, dan masyarakat.

Menutup sambutannya, Todd memilih tidak menggunakan ungkapan bahasa Inggris “goodbye”. Sebagai gantinya, ia memakai ungkapan dalam Bahasa Indonesia.

“Bukan selamat tinggal,” katanya sambil tersenyum.

“Sampai jumpa.”

Ungkapan sederhana itu pun disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin, menandai berakhirnya PAIR Annual Meeting 2026 dengan pesan yang paling kuat: ilmu pengetahuan mungkin menjadi titik awal, tetapi persahabatan adalah fondasi yang membuat kolaborasi Indonesia dan Australia mampu bertahan jauh melampaui masa sebuah proyek penelitian.

___
Penulis Kamaruddin Azis