Ulama “Pelipat Bumi” dari Wajo

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Narasi Ano

Karena dakwah paling kuat bukan yang berteriak, tapi yang menanam.

By : Narasi Ano

Read More

PELAKITA.ID – Andaikanlah kampung Tosora bisa bicara, maka dia akan bilang begini “Saya pernah dididatangi oleh cucu Nabi Muhammad SAW”

Ahaaiii pembaca #NarasiAno, mengapa saya begitu merindik menulis narasi ini?

Apakah ini karena berkisah tentang kampung saya di Wajo?

Seteguk Ice Americano, tepat 1 Muharram 1448 H.

Bahwasanya abad ke-14, waktu itu Wajo masih hutan dan balai-balai, seorang Sayyid bernama Jamaluddin al-Husain al-Akbar datang, menginjakkan kakinya di bumi Tosora. Dia membawa adab, ketenangan, suara lembut, tak ada kata kasar dari bibirnya. Tapi yang lebih penting: Tak ada paksaan bahwa wahai warga Tosora “Ganti Tuhanmu”. Bukan begitu!

Sayyid Jamaluddin memberitahu bahwa Tuhan yang kalian sembah diam-diam itu, namanya Allah SWT. Maka sejak hari itu, Tosora tidak cuma jadi pusat kerajaan, tapi jadi pusat hidayah,

Karena dakwah paling kuat bukan yang berteriak, tapi yang menanam.

Tak begitu sulit bagi Sayyid menyebarkan Islam di Tosora Wajo, maklum nenek moyang kami di Wajo, masyarakat Tosora sudah memiliki kepercayaan dinamai “Dewata SeuwaE” atau Tuhan Yang Maha Esa.

Pengayaan inilah menjadikan Tosora lebih mudah dan terbuka menerima ajaran Islam. Selain itu kehidupan kala itu di mana tatanan masyarakat agraris terikat kuat dengan sistem “Pangngaderreng”, hukum adat dan norma merupakan nafasnya.

Suasana warga diatur ketat oleh aturan adat. Terdapat pembagian peran yang sakral antara pemimpin ritual keagamaan dan pemimpin yang mengurus pertanian serta kehidupan rakyat. Sehingga ketika tauhid diajarkan, hati mereka tak menolak.

Sayyid Jamaluddin lahir pada tahun 1310 di Malabar, sebuah wilayah yang kala itu berada di bawah naungan Kesultanan Delhi di India. Ayahnya bernama Ahmad Syah Jalaluddin, seorang gubernur di wilayah tersebut.

Sayyid Jamaluddin memiliki silsilah yang sangat agung, merupakan keturunan langsung generasi keenam dari ulama besar Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan keturunan ke-20 dari Nabi Muhammad SAW melalui garis Sayyidina Husain.

Sebagai bangsawan, Sayyid Jamaluddin bahkan sempat menjabat sebagai sultan keempat di Nasarabad, India, sebelum akhirnya memutuskan meninggalkan takhta demi memenuhi panggilan dakwah.

Sebelum menjejakkan kakinya di Tosora Wajo, Sayyid Jamaluddin melintasi Asia Tenggara. Dari India, dia dan rombongan kafilah keluarganya berlayar melewati Kamboja lalu merapat di pelabuhan Aceh.

Titik Tosora di Pulau Sulawesi

Saat singgah di Aceh, Sayyid meninggalkan salah satu putranya yang terkenal, yaitu Sayyid Ibrahim yang lebih dikenal Maulana Malik Ibrahim, untuk mendidik masyarakat setempat. Sang putra kelak kita kenal sebagai salah satu tokoh utama Wali Songo tertua di Jawa.

Lalu Singgah bertahun tahun di Jawa. Pelabuhan terakhir Sayyid di Tosora, Tanah Wajo sekitar pertengahan abad ke-15, kala itu Kerajaan Wajo belum resmi terbentuk secara utuh seperti abad belakangan.

Di Tosoralah, Sayyid Jamaluddin al-Husain al-Akbar menetap hingga akhir hayatnya. Orang Wajo kemudian menggelari Syekhta Tosora atau Imam To Wajo

Perjalanan Imam To Wajo merupakan salah satu babak sejarah paling memukau dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Sayyid Jamaluddin adalah tokoh kunci yang menghubungkan sejarah Islam di Sulawesi Selatan langsung dengan jaringan ulama dunia dan para Wali Songo di tanah Jawa

Tegukan Americano sekali lagi!

Sayyid Jamaluddin Husein al-Kubra alias Imam To Wajo disebut memiliki ilmu “melipat bumi” di mana dalam istilah tasawuf disebut Tayy al-Ard.

Salah satu ulama pilihan Allah SWT karena kemampuan luar biasa untuk berpindah tempat yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat.

Masih ingin menulis, tapi harus kuakhiri.

Kala Sayyid Jamaluddin membangun peradaban di Sulsel dengan adab, kini tugas kita bukan menambah. Tetapi menjaga agar adab dan nasab itu tidak hilang

Maka kuakhiri #NarasiAno edisi 1 Muharram 1448 H dengan mengirimkan pantun Bugis.
Eppa-e batu ri TosoraE, Sassina akkeda-keda to riolo.

Sayyid Jamaluddin manguru-nguru,

Nasab NabiE nappakenai to Wajo.

Arti bebasnya begini :
Empat batu di Tosora,
Saksi bisu cerita orang tua.
Sayyid Jamaluddin mengajar pelan-pelan,
Nasab Nabi dikenalkan ke orang Wajo.

#NarasiAno
Pipo, Selasa 16 Juni 2026

Related posts