Catatan tentang Idealisme, Pragmatisme, dan Godaan Menjadi Bagian dari Kekuasaan
Oleh: Mustamin Raga
PELAKITA.ID – Ada masa ketika nama Budiman Sudjatmiko disebut dengan nada hormat oleh banyak aktivis muda. Namanya tumbuh dari jalan-jalan demonstrasi, dari ruang-ruang diskusi yang sempit, dari mimpi tentang Indonesia yang lebih demokratis.
Ia bukan sekadar seorang aktivis. Ia adalah simbol keberanian sebuah generasi yang berani menantang kekuasaan ketika ketakutan menjadi bahasa resmi negara.
Pada masa Orde Baru, ketika kritik dapat berujung penjara dan perlawanan dianggap ancaman bagi negara, Budiman memilih jalan yang tidak mudah.
Sebagai aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), ia mengalami penangkapan, kriminalisasi politik, dan pemenjaraan. Banyak orang seusianya memilih diam demi keamanan hidup, tetapi ia memilih bersuara.
Karena itulah, bagi sebagian masyarakat, terutama mereka yang hidup dan menyaksikan pergolakan Reformasi 1998, Budiman bukan sekadar manusia biasa. Ia pernah menjadi simbol.
Ia pernah menjadi representasi keberanian kaum muda yang mempertaruhkan kebebasan, karier, bahkan masa depan demi demokrasi dan keadilan sosial.
Namun sejarah sering kali melahirkan ironi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Orang yang dahulu berdiri di garis depan perlawanan, suatu hari bisa saja berdiri di dalam lingkar kekuasaan.
Orang yang dahulu mengkritik penguasa, suatu hari bisa saja menjadi pembela penguasa.
Orang yang dahulu berbicara atas nama rakyat, suatu hari bisa saja lebih sering berbicara atas nama negara. Dan di situlah banyak kisah politik berubah menjadi tragedi.
Hari ini Budiman Sudjatmiko berada di dalam lingkar kekuasaan Presiden Prabowo Subianto. Tidak ada yang salah dengan seseorang memilih masuk ke dalam pemerintahan.
Dalam sistem demokrasi, hal itu adalah sesuatu yang sah dan bahkan sering diperlukan. Banyak perubahan justru lahir dari orang-orang yang memilih bekerja dari dalam sistem. Namun yang menjadi persoalan bukanlah keberadaannya di dalam kekuasaan.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kekuasaan itu mengubah cara seseorang memandang kritik, perbedaan pendapat, dan suara-suara yang dahulu pernah ia perjuangkan.
Beberapa hari lalu publik dikejutkan oleh beredarnya sebuah video yang memperlihatkan perdebatan panas antara Budiman dan seorang mahasiswa dalam sebuah forum diskusi di Semarang. Video itu segera menyebar luas.
Sebagian membela Budiman. Sebagian mengkritiknya. Sebagian lagi melihatnya sebagai simbol perubahan besar yang sedang terjadi dalam diri seorang mantan aktivis.
Budiman menjelaskan bahwa dirinya tidak mengusir mahasiswa tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya meminta tata tertib forum dihormati.
Penjelasan itu tentu menjadi haknya. Namun publik juga memiliki hak untuk menilai apa yang mereka lihat. Dan yang tertangkap oleh banyak orang bukan sekadar isi perdebatan itu, melainkan nada kemarahan, ledakan emosi, dan cara merespons kritik yang muncul dalam forum tersebut.
Bagi banyak aktivis muda, pemandangan itu terasa janggal. Ada sesuatu yang terasa terbalik.
Seolah-olah sejarah sedang bercermin pada dirinya sendiri. Dahulu Budiman berdiri di hadapan kekuasaan sebagai pengkritik.
Kini ia terlihat berhadapan dengan generasi muda yang sedang menjalankan fungsi yang dahulu juga pernah ia lakukan. Di situlah ironi itu menemukan bentuknya.
Tulisan ini bukan dumaksudkan untuk membahas tentang Budiman semata. Itu hanya sebuah pintu masuk untuk membahas sesuatu yang lebih besar. Yakni tentang bagaimana kekuasaan sering kali mengubah manusia.
Psikologi politik mengenal sebuah fenomena yang disebut institusionalisasi aktivisme. Ketika seorang aktivis masuk ke dalam struktur kekuasaan, ia mulai menghadapi dunia yang berbeda dengan dunia yang dahulu ia lawan.
Ia memperoleh akses.
Ia memperoleh pengaruh.
Ia memperoleh fasilitas.
Ia memperoleh kedudukan sosial. Dan perlahan-lahan cara pandangnya terhadap realitas mulai berubah. Tidak semua perubahan itu buruk. Sebagian bahkan diperlukan.
Seseorang yang dahulu berpikir hitam-putih mungkin mulai memahami kompleksitas persoalan negara. Seseorang yang dahulu hanya melihat kesalahan pemerintah mungkin mulai memahami bahwa mengelola negara tidak sesederhana membuat slogan demonstrasi.
Tetapi ada garis tipis yang sering kali tidak disadari.
Garis yang memisahkan kedewasaan politik dari pragmatisme. Garis yang memisahkan pragmatisme dari oportunisme. Ketika prinsip mulai dinegosiasikan demi posisi, ketika kritik mulai dianggap ancaman, ketika kedekatan dengan kekuasaan menjadi lebih penting daripada kedekatan dengan rakyat, di situlah bahaya mulai mengintai.
Bahaya terbesar bukan ketika seorang aktivis mengubah pandangannya. Bahaya terbesar adalah ketika ia kehilangan kemampuan mendengar suara yang dahulu ia wakili.
Sejarah di berbagai negara menunjukkan bahwa banyak gerakan rakyat tidak runtuh karena kekuatan musuh.
Mereka runtuh karena para pemimpinnya beradaptasi terlalu jauh dengan kekuasaan yang dahulu mereka kritik. Mereka tidak lagi menjadi jembatan antara rakyat dan negara.
Mereka berubah menjadi pagar yang memisahkan keduanya. Mereka tidak lagi membawa suara rakyat ke ruang kekuasaan. Mereka justru membawa suara kekuasaan kepada rakyat.
Dalam keadaan seperti itu, idealisme tidak mati sekaligus. Ia mati perlahan. Sedikit demi sedikit. Hampir tanpa suara. Seperti besi yang berkarat dari dalam. Dari luar masih tampak kokoh. Tetapi bagian terdalamnya telah rapuh.
Karena itu, etika politik menjadi sangat penting.
Etika politik bukan sekadar soal mematuhi hukum. Ia adalah soal kesetiaan terhadap nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan. Kekuasaan seharusnya menjadi alat. Bukan tujuan. Jabatan seharusnya menjadi sarana.
Bukan tempat perhentian terakhir sebuah perjuangan. Ketika seseorang memasuki pemerintahan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat, hal itu dapat dipahami. Tetapi ketika kenyamanan kekuasaan mulai mengalahkan keberanian moral, ketika kedudukan lebih berharga daripada prinsip, dan ketika kritik dianggap gangguan yang harus dibungkam, maka sesuatu yang sangat penting telah hilang.
Yang hilang bukan jabatan. Yang hilang bukan kekuasaan. Yang hilang adalah roh perjuangan itu sendiri.
Mungkin karena itulah masyarakat sering merasa kecewa ketika melihat tokoh-tokoh yang dahulu mereka kagumi berubah setelah berada di dekat pusat kekuasaan. Kekecewaan itu bukan semata-mata persoalan politik.Ia adalah persoalan moral. Karena rakyat sesungguhnya tidak hanya memilih seseorang berdasarkan kemampuan. Rakyat juga menitipkan harapan. Dan harapan selalu lahir dari kepercayaan.
Ketika kepercayaan itu retak, yang patah bukan hanya hubungan antara seorang tokoh dan para pendukungnya. Yang patah adalah keyakinan bahwa idealisme masih memiliki tempat dalam politik.
Pada akhirnya, perdebatan tentang Budiman Sudjatmiko sesungguhnya bukanlah perdebatan tentang satu orang. Ia adalah cermin bagi semua orang yang pernah memasuki ruang kekuasaan.
Ia adalah pengingat bahwa musuh terbesar seorang aktivis sering kali bukan rezim yang ia lawan.
Musuh terbesar itu justru muncul ketika ia berhasil memasuki istana. Karena melawan penguasa membutuhkan keberanian. Tetapi mempertahankan idealisme setelah menjadi bagian dari penguasa membutuhkan integritas yang jauh lebih besar.
Kekuasaan memang tidak selalu mengubah manusia. Namun kekuasaan hampir selalu memperlihatkan siapa manusia sebenarnya.
Karena itu sejarah tidak hanya mencatat bagaimana seseorang melawan kekuasaan.
Sejarah juga mencatat bagaimana ia bersikap ketika kekuasaan akhirnya berada di tangannya.
Sering kali, ujian yang paling berat bukan ketika seseorang berdiri di luar pagar istana sambil meneriakkan perlawanan. Ujian yang paling berat justru datang ketika pintu istana terbuka, karpet merah digelar, kursi empuk disediakan, lalu suara hati mulai bernegosiasi dengan kenyamanan.
Di situlah kita akan mengetahui apakah seseorang tetap menjadi penjaga api perjuangan, atau hanya menjadi penghuni baru di serambi kekuasaan.
Sungguminsa, Hari Kesadaran Nasional, Juni 2026









