Suyuti Marzuki yang saya kenal bukanlah sosok yang membangun kapasitas kepemimpinannya dalam waktu singkat. Perjalanannya dibentuk melalui proses panjang, mulai dari pendidikan, pengalaman profesional, hingga berbagai tanggung jawab di lingkungan pemerintahan.
PELAKITA.ID – Pertemuan terakhir saya dengan Kanda Suyuti Marzuki terjadi akhir tahun 2025 lalu, pada sebuah seminar hasil konservasi pesisir dan laut di Sulawesi Barat yang digelar di Kampus Universitas Hasanuddin. Seperti biasa, perjumpaan itu tidak hanya diisi dengan cerita tentang kegiatan, pekerjaan, atau kesibukan masing-masing.
Ada pertukaran gagasan, pengalaman, dan inspirasi. Kami juga beberapa kali bertemu di Jakarta dalam berbagai kesempatan.
Dari sejumlah perjumpaan dan percakapan itulah, saya mengenal Kanda Suyuti – saya sebut kanda, karen beliau dua tahun di atas angkatan saya di 89 – bukan hanya sebagai seorang birokrat yang telah menjalani perjalanan panjang, tetapi sebagai sosok yang memiliki cara pandang kuat tentang bagaimana pemerintahan seharusnya bekerja.
Dalam banyak perbincangan, saya selalu melihat satu benang merah dalam cara berpikirnya: pemerintahan tidak cukup hanya sibuk bekerja, tetapi harus mengetahui apa yang dikerjakan, mengapa pekerjaan itu dilakukan, dan hasil apa yang benar-benar ingin dicapai.
Bagi sebagian orang, data mungkin hanya kumpulan angka, tabel, indikator, dan laporan. Tetapi bagi Kanda Suyuti, saya melihat data sebagai bagian penting dari cara membaca persoalan dan mengambil keputusan.
Suyuti Marzuki yang saya kenal bukanlah sosok yang membangun kapasitas kepemimpinannya dalam waktu singkat. Perjalanannya dibentuk melalui proses panjang, mulai dari pendidikan, pengalaman profesional, hingga berbagai tanggung jawab di lingkungan pemerintahan.
Latar belakangnya sebagai sarjana perikanan dari Universitas Hasanuddin, kemudian pengembangan keilmuan dalam Tropical Coastal Management dan teknik kelautan melalui program kolaborasi ITS dan Newcastle University di Inggris, hingga pendidikan doktoral bidang kesejahteraan sosial di Universitas Indonesia, membentuk sebuah perspektif yang lintas disiplin.
Bagi saya, kombinasi tersebut menarik. Ia memahami sumber daya alam dan wilayah pesisir, tetapi juga memahami bahwa pembangunan pada akhirnya harus kembali kepada manusia.
Sumber daya yang besar tidak akan berarti banyak apabila tidak menghasilkan kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi harus memiliki dampak sosial. Pengelolaan lingkungan harus berkelanjutan. Dan pembangunan tidak cukup dinilai dari besarnya anggaran atau banyaknya proyek, tetapi dari perubahan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Cara pandang semacam itu kemudian bertemu dengan pengalaman panjangnya di pemerintahan. Perjalanan Kanda Suyuti berlangsung dari lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan hingga Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.
Ia pernah bekerja di ruang yang berhubungan dengan kebijakan dan kinerja, kemudian memperluas pengalamannya dalam bidang perencanaan pembangunan, organisasi dan tata laksana, hingga hukum.
Dari perjalanan itulah, menurut saya, terbentuk pemahaman yang relatif lengkap tentang birokrasi. Ia mengetahui bagaimana sebuah kebijakan dirancang.
Ia memahami bagaimana pembangunan direncanakan. Ia mengerti bahwa organisasi pemerintahan harus didesain agar bekerja efektif. Ia juga memahami pentingnya kepastian hukum serta bagaimana seluruh proses tersebut harus berujung pada kinerja yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melihat pemerintahan dari berbagai sisi seperti itu. Banyak orang hanya memahami satu ruang kerja. Ada yang kuat di perencanaan, tetapi kurang memahami organisasi.
Ada yang menguasai regulasi, tetapi tidak terlalu dekat dengan pengukuran kinerja. Ada pula yang memiliki pengalaman kepemimpinan, tetapi tidak cukup memahami bagaimana sistem birokrasi harus dibangun.
Kanda Suyuti memiliki perjalanan yang mempertemukan berbagai ruang tersebut. Ia memahami perencanaan, organisasi, hukum, kebijakan, dan kinerja. Karena itu, ketika berbicara mengenai birokrasi, saya melihat ia tidak hanya berbicara tentang jabatan atau struktur, tetapi tentang bagaimana sebuah sistem dapat bekerja.
Bagi saya, salah satu kekuatan paling menonjol dari Kanda Suyuti adalah kemampuannya melihat hubungan antara visi, strategi, program, dan ukuran keberhasilan.
Sebuah gagasan besar tidak boleh berhenti sebagai slogan. Visi harus diterjemahkan menjadi tujuan yang jelas. Tujuan harus diturunkan menjadi strategi. Strategi harus diwujudkan melalui program. Program harus memiliki indikator. Dan indikator pada akhirnya harus dapat menjawab pertanyaan paling mendasar: apakah kebijakan tersebut menghasilkan perubahan?
Inilah yang saya pahami sebagai kepemimpinan berbasis data. Data bukan sekadar angka untuk mempercantik laporan. Data harus membantu pemimpin memahami persoalan, menentukan prioritas, mengukur perkembangan, dan melakukan koreksi. Tanpa itu, sebuah organisasi berisiko menjadi sangat sibuk, tetapi tidak selalu produktif.
Saya kira pengalaman Kanda Suyuti dalam pengelolaan kinerja dan Balanced Scorecard turut membentuk cara berpikir tersebut.
Kepemimpinan modern membutuhkan kemampuan untuk menghubungkan antara sumber daya yang digunakan dengan hasil yang dicapai.
Tidak cukup mengatakan sebuah program telah dilaksanakan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa hasilnya? Apa yang berubah? Apakah pelayanan publik membaik? Apakah persoalan masyarakat berkurang? Apakah anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan dampak?
Cara berpikir seperti inilah yang menurut saya semakin penting bagi birokrasi hari ini. Dunia berubah sangat cepat. Masyarakat semakin kritis.
Informasi bergerak dalam hitungan detik. Sementara persoalan pembangunan semakin kompleks dan saling berhubungan. Pemerintah tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama yang hanya menilai keberhasilan dari jumlah kegiatan atau serapan anggaran.
Birokrasi membutuhkan kemampuan membaca perubahan dan menyesuaikan diri. Tetapi kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi. Inovasi tidak boleh melepaskan tanggung jawab.
Keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada intuisi atau kepentingan sesaat. Di sinilah data menjadi penting, bukan untuk menggantikan kepemimpinan manusia, melainkan untuk membuat kepemimpinan lebih objektif dan lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Data dan kemampuan teknokratis saja tidak cukup. Seorang pemimpin juga harus memiliki integritas. Dan bagi saya, integritas adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari cara membaca perjalanan Kanda Suyuti.
Integritas tidak selalu ditunjukkan melalui pernyataan besar. Ia terlihat dalam cara seseorang bekerja, menjaga prinsip, menggunakan kewenangan, dan mengambil keputusan.
Dalam birokrasi, godaan untuk menggunakan kekuasaan secara keliru selalu ada. Karena itu, kapasitas tanpa integritas dapat berubah menjadi persoalan. Sebaliknya, integritas tanpa kapasitas juga dapat membuat sebuah organisasi berjalan tanpa arah.
Kepemimpinan membutuhkan keduanya.
Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk membaca persoalan, tetapi juga memiliki keberanian menjaga prinsip. Ia harus mampu mengambil keputusan, tetapi memahami batas kewenangannya. Ia harus berani melakukan percepatan, tetapi tidak mengabaikan aturan. Ia harus mampu membangun hubungan, tetapi tidak mengorbankan kepentingan institusi.
Saya melihat perjalanan panjang Kanda Suyuti telah membawanya berhadapan dengan berbagai kompleksitas tersebut. Dari pusat hingga daerah, dari perencanaan hingga organisasi, dari kebijakan hingga hukum. Setiap ruang tentu memiliki tantangannya sendiri. Dan dari situlah pengalaman dibentuk.
Pertemuan terakhir kami di Kampus Unhas pada seminar hasil konservasi pesisir dan laut Sulawesi Barat sebenarnya kembali mengingatkan saya pada satu hal.
Dunia pembangunan, pemerintahan, lingkungan, dan masyarakat pada dasarnya tidak bisa lagi dipisahkan dalam kotak-kotak yang berdiri sendiri. Pengelolaan pesisir, misalnya, bukan hanya urusan lingkungan. Ia berkaitan dengan ekonomi masyarakat, perikanan, tata ruang, investasi, perubahan iklim, kebijakan, dan kelembagaan.
Demikian pula dengan pemerintahan. Persoalan tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi saja. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan untuk menghubungkan berbagai sektor, mempertemukan kepentingan, dan membangun koordinasi. Dalam konteks inilah pengalaman Kanda Suyuti dalam berbagai bidang menjadi modal yang sangat berharga.
Saya kira, perjumpaan kami beberapa kali di Jakarta dan berbagai ruang diskusi juga menunjukkan hal lain yang saya hargai darinya: kesediaan untuk terus bertukar pikiran. Ada banyak orang yang setelah mencapai pengalaman dan posisi tertentu mulai merasa cukup dengan pengetahuannya sendiri. Tetapi kepemimpinan yang baik selalu membutuhkan ruang untuk mendengar, berdialog, dan belajar.
Dari sejumlah percakapan, saya melihat Kanda Suyuti sebagai pribadi yang memiliki perhatian terhadap pengalaman orang lain.
Perbincangan bisa berangkat dari persoalan pemerintahan, tetapi kemudian berkembang ke pengalaman lapangan, pendidikan, masyarakat pesisir, kebijakan pembangunan, hingga berbagai inspirasi yang lahir dari perjalanan hidup.
Bagi saya, proses bertukar cerita seperti ini juga merupakan bagian penting dari perjalanan kepemimpinan.
Sebab, seorang pemimpin tidak hanya dibentuk oleh pendidikan formal dan jabatan yang pernah diemban. Ia juga dibentuk oleh perjumpaan. Oleh pengalaman melihat persoalan dari berbagai sudut. Oleh kesediaan untuk mendengar cerita orang lain. Oleh kemampuan menghubungkan teori dengan kenyataan.
Suyuti Marzuki yang saya kenal adalah sosok yang dibentuk oleh perjalanan panjang semacam itu.
Jika harus memilih satu kata untuk menggambarkan karakter kepemimpinannya, mungkin saya akan memilih kata terukur. Terukur dalam membaca persoalan. Terukur dalam menetapkan target. Terukur dalam mengelola organisasi. Terukur dalam mengevaluasi kebijakan. Dan terukur dalam mempertanggungjawabkan hasil.
Tetapi ukuran tidak akan pernah cukup tanpa nilai. Karena itu, kata berikutnya yang menurut saya penting adalah integritas. Data dapat menunjukkan angka, tetapi integritas menentukan bagaimana seseorang menggunakan angka tersebut.
Kekuasaan dapat memberikan kewenangan, tetapi integritas menentukan bagaimana kewenangan digunakan. Jabatan dapat memberikan posisi, tetapi integritas menentukan apakah posisi itu digunakan untuk memperkuat kepentingan publik.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa seorang pemimpin tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah didudukinya. Ia dikenang karena cara berpikirnya, cara bekerja, dan cara memperlakukan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kanda Suyuti Marzuki memiliki perjalanan panjang yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, kemampuan teknokratis, dan kematangan birokrasi.
Ia memahami bahwa pemerintahan harus bergerak, tetapi juga harus memiliki arah. Ia memahami bahwa kebijakan harus menghasilkan dampak. Ia percaya bahwa data harus menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Dan ia memahami bahwa seluruh kapasitas tersebut harus berjalan dalam koridor integritas.
Kapasitasnya dalam kepemimpinan berbasis data juga dibentuk melalui pengalamannya mendampingi dan membina berbagai kementerian dan lembaga dalam memetakan arah strategis organisasi.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa penguasaan terhadap strategi bukan hanya lahir dari pemahaman teoretis, tetapi juga dari keterlibatan langsung dalam proses menerjemahkan visi besar ke dalam tujuan, sasaran, indikator, dan langkah kerja yang terukur.
Salah satu pengalaman pentingnya adalah keterlibatan dalam perancangan arah strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui skema pembiayaan World Bank. Rekam pengalaman tersebut memperlihatkan kapasitas Kanda Suyuti dalam bekerja pada berbagai skala, mulai dari organisasi pemerintah, kementerian dan lembaga, hingga pemerintahan daerah dengan kompleksitas pembangunan yang tinggi.
Hingga saat ini, kiprah intelektual dan profesional Kanda Suyuti juga terus berkembang. Ia masih terlibat dalam Papua Center di Universitas Indonesia melalui kerja sama dengan Bappenas, sekaligus aktif sebagai Dewan Pakar IKA Perikanan Universitas Hasanuddin dan Ketua DPD Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani) Sulawesi Barat.
Keterlibatan dalam berbagai ruang akademik, profesi, dan kebijakan ini memperlihatkan bahwa perjalanan kepemimpinannya tidak berhenti pada jabatan birokrasi yang pernah diemban.
Ia tetap menjaga keterhubungan dengan dunia gagasan, pengembangan strategi, jejaring profesional, dan isu-isu pembangunan yang terus berkembang. Bagi saya, di situlah salah satu kekuatan Kanda Suyuti: kemampuannya untuk tetap belajar, membangun jejaring, dan menjadikan pengalaman panjangnya sebagai sumber inspirasi bagi banyak orang.
Kualitas kepemimpinan Dr. Suyuti didukung oleh bukti empiris yang diakui secara nasional, yang menjadi “smoking gun” atas kelayakannya memimpin birokrasi.
Di antaranya, peringkat 1 Nasional Penanganan Inflasi (Regional Sulawesi) Tahun 2026: Pengendalian inflasi adalah KPI utama bagi Sekda di era pemerintahan saat ini. Keberhasilan ini membuktikan kemampuan eksekusinya dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah melalui koordinasi lintas sektor yang efektif.
Satyalencana Karya Satya XX Tahun dari Presiden RI (2020): Sebuah pengakuan atas integritas, dedikasi, dan loyalitas tanpa cela selama dua dekade pengabdian. Prestasi Gerakan Budidaya Ikan Massal & Restocking (2024): Inovasi dalam ketahanan pangan yang menyentuh langsung ekonomi akar rumput.
Pengakuan Internasional World Bank – KKP (2006): Menunjukkan kapasitas profesional yang diakui oleh lembaga donor internasional dalam manajemen wilayah pesisir.
Sebagai kesimpulan, Suyuti Marzuki merepresentasikan tiga pilar kekuatan utama yang sangat dibutuhkan oleh pemerintah daerah.
Kematangan birokrasi total, Ia memahami dialektika kebijakan dari level staf perencanaan di pusat (KKP) hingga pucuk pimpinan administrasi daerah (Pj. Sekda). Ia adalah sosok yang siap pakai (ready-to-use).
Visi maritim global, latar belakang pendidikan dari Newcastle University memberikan keunggulan kompetitif dalam mengelola potensi kelautan Sultra dengan standar manajemen internasional.
Kepemimpinan berbasis data. Keahliannya dalam BSC dan SAKIP, ditambah prestasi nyata sebagai peringkat 1 nasional dalam penanganan inflasi, menjamin bahwa di bawah kepemimpinannya, birokrasi Sultra akan bergerak lebih modern, transparan, dan berdampak.
Itulah Suyuti Marzuki yang saya kenal.
Bukan semata-mata seorang yang pernah menempati berbagai posisi dan ruang tanggung jawab. Tetapi seorang yang terus membangun cara berpikir bahwa kepemimpinan harus menghasilkan perubahan, keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, dan pekerjaan harus memiliki ukuran keberhasilan.
Di tengah dunia pemerintahan yang semakin kompleks, kepemimpinan berbasis data dan integritas bukan sekadar keunggulan tambahan. Keduanya adalah kebutuhan.
Dalam perjalanan, perjumpaan, serta percakapan yang pernah kami jalani, dua hal itulah yang paling kuat saya kenali dari sosok Kanda Suyuti Marzuki.
___
Penulis Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID, alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas
Makassar, 3 Maret 2026









