Para Sosiolog Besar Abad ke-21: Membaca Dunia yang Cair, Terhubung, dan Penuh Risiko

  • Whatsapp
Ilustrasi

Jika Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber banyak berhadapan dengan masyarakat industri dan modernisasi awal, sosiolog kontemporer menghadapi dunia yang semakin digital, global, terhubung melalui jaringan, sekaligus ditandai ketidakpastian, perubahan iklim, pandemi, migrasi, ketimpangan, serta transformasi identitas manusia.

PELAKITA.ID – Sosiologi memasuki abad ke-21 dengan medan persoalan yang jauh berbeda dari ketika para pendiri disiplin ini mengamati revolusi industri, pertumbuhan kota, perubahan struktur kelas, dan melemahnya institusi tradisional.

Jika Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber banyak berhadapan dengan masyarakat industri dan modernisasi awal, sosiolog kontemporer menghadapi dunia yang semakin digital, global, terhubung melalui jaringan, sekaligus ditandai ketidakpastian, perubahan iklim, pandemi, migrasi, ketimpangan, serta transformasi identitas manusia.

Perubahan tersebut tidak berarti pertanyaan klasik sosiologi kehilangan relevansinya. Sebaliknya, pertanyaan mengenai bagaimana manusia hidup bersama, bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana ketimpangan diproduksi, serta bagaimana perubahan sosial berlangsung justru menjadi semakin kompleks.

Bedanya, struktur sosial yang harus dibaca kini tidak hanya berada di pabrik, kantor, negara, atau komunitas lokal, tetapi juga dalam algoritma, platform digital, jaringan finansial global, media sosial, dan sistem teknologi yang menghubungkan manusia melampaui batas geografis.

Salah satu pemikir yang sangat penting untuk memahami kondisi tersebut adalah Zygmunt Bauman. Melalui konsep liquid modernity atau modernitas cair, Bauman menggambarkan perubahan masyarakat dari struktur sosial yang relatif stabil menuju kehidupan yang ditandai fleksibilitas, ketidakpastian, dan perubahan terus-menerus.

Jika masyarakat modern sebelumnya dapat dibayangkan sebagai sesuatu yang “padat”, dengan institusi, pekerjaan, identitas, dan hubungan sosial yang relatif bertahan lama, modernitas cair membuat hampir semuanya menjadi lebih mudah berubah.

Dalam masyarakat cair, individu dituntut terus beradaptasi. Pekerjaan dapat berubah, keterampilan cepat menjadi usang, hubungan personal semakin fleksibel, dan identitas dapat dibentuk serta ditampilkan kembali melalui berbagai ruang sosial.

Kebebasan memang semakin luas karena manusia memiliki lebih banyak pilihan, tetapi kebebasan tersebut datang bersama beban tanggung jawab individual yang semakin besar.

Ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan, individu sering kali dituntut menyalahkan atau memperbaiki dirinya sendiri, meskipun banyak persoalan sebenarnya bersumber dari struktur sosial yang lebih luas.

Jika Bauman membantu menjelaskan kehidupan yang semakin cair, Manuel Castells memberikan perangkat penting untuk memahami masyarakat yang semakin terhubung melalui jaringan. Dalam karyanya mengenai network society, Castells menunjukkan bahwa revolusi teknologi informasi telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, membangun ekonomi, mengorganisasi gerakan sosial, dan menjalankan kekuasaan.

Kekuasaan dalam masyarakat jaringan tidak lagi hanya berada dalam institusi yang memiliki pusat geografis tertentu. Ia juga bergerak melalui jaringan informasi, komunikasi, teknologi, keuangan, dan pengetahuan yang melampaui batas negara.

Mereka yang memiliki kemampuan mengakses, mengendalikan, memproduksi, dan mendistribusikan informasi memperoleh posisi strategis dalam masyarakat baru tersebut.

Namun, masyarakat jaringan juga menghasilkan bentuk eksklusi baru. Mereka yang tidak memiliki akses terhadap teknologi, informasi, pendidikan digital, atau jaringan sosial tertentu dapat semakin tertinggal. Karena itu, kesenjangan digital bukan sekadar persoalan siapa yang memiliki telepon pintar atau koneksi internet, tetapi juga menyangkut siapa yang mampu menggunakan jaringan tersebut untuk memperoleh pengetahuan, pekerjaan, kekuasaan, dan kesempatan ekonomi.

Castells juga membantu menjelaskan bagaimana teknologi digital dapat menjadi instrumen mobilisasi sosial. Berbagai gerakan sosial kontemporer memperlihatkan bagaimana internet dapat digunakan untuk menyebarkan informasi, membangun solidaritas, mengorganisasi aksi, dan menantang kekuasaan.

Ruang digital dengan demikian bukan sekadar ruang komunikasi, tetapi telah menjadi bagian dari arena politik dan perjuangan sosial.

Dalam kajian ketimpangan dan kelas sosial, warisan Pierre Bourdieu tetap sangat kuat pada abad ke-21, terutama karena ketimpangan tidak pernah hanya dapat dijelaskan melalui kepemilikan uang. Gagasan mengenai modal ekonomi, modal sosial, dan modal budaya membantu menjelaskan mengapa individu dan kelompok tertentu mampu mempertahankan posisi sosial mereka bahkan ketika bentuk-bentuk kekuasaan mengalami perubahan.

Pemikiran tersebut kemudian dikembangkan melalui penelitian Mike Savage dan koleganya dalam Great British Class Survey. Penelitian tersebut menawarkan pendekatan yang lebih kompleks terhadap struktur kelas dengan melihat kombinasi berbagai jenis modal.

Status sosial seseorang tidak hanya ditentukan oleh pendapatan dan aset, tetapi juga oleh jaringan sosial yang dimiliki serta selera, pengetahuan, pendidikan, dan praktik budaya yang melekat dalam kehidupannya.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa ketimpangan dapat bekerja secara halus. Cara berbicara, tempat seseorang bergaul, jenis pendidikan yang ditempuh, kegiatan yang disukai, hingga siapa yang dikenal dapat menjadi sumber keuntungan sosial. Karena itu, kelas elite bukan hanya kelompok yang memiliki kekayaan besar, melainkan juga kelompok yang memiliki akses terhadap jaringan sosial dan budaya eksklusif yang sulit dimasuki kelompok lain.

Sementara itu, Sherry Turkle membawa perhatian sosiologi ke dalam hubungan manusia dengan teknologi digital.

Melalui gagasan alone together, Turkle menunjukkan paradoks kehidupan digital: manusia semakin terhubung melalui perangkat teknologi, tetapi pada saat yang sama dapat mengalami keterasingan sosial dan emosional yang semakin dalam.

Fenomena tersebut terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat berkomunikasi dengan ratusan atau bahkan ribuan orang melalui media sosial, tetapi mengalami kesulitan berbicara secara mendalam dengan orang yang duduk di sebelahnya.

Teknologi memungkinkan manusia mengedit citra dirinya, memilih bagaimana ingin dilihat, dan mengendalikan sebagian besar interaksi sosialnya. Namun, kedekatan manusiawi membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit, yakni kerentanan, empati, perhatian, dan kemampuan mendengarkan.

Turkle karena itu mengingatkan bahwa teknologi tidak selalu identik dengan kemajuan sosial. Pertanyaannya bukan hanya apakah teknologi membuat manusia lebih terkoneksi, tetapi juga apakah koneksi tersebut membuat manusia lebih mampu memahami dan merasakan kehidupan orang lain.

Dimensi lain dari kehidupan modern dibaca oleh Arlie Russell Hochschild, terutama melalui konsep emotional labor.

Ia menunjukkan bahwa dalam banyak pekerjaan, khususnya sektor pelayanan, pekerja tidak hanya menjual tenaga atau keterampilan, tetapi juga harus mengelola emosi mereka agar sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

Senyum seorang pekerja layanan, keramahan seorang pramugari, kesabaran petugas layanan pelanggan, atau kemampuan seorang pekerja untuk tetap terlihat tenang ketika menghadapi pelanggan yang marah merupakan bagian dari kerja emosional. Dengan demikian, emosi manusia juga dapat menjadi bagian dari proses produksi ekonomi.

Hochschild kemudian memperluas perhatiannya pada polarisasi sosial dan politik di Amerika Serikat.

Melalui penelitian etnografis, ia berusaha memahami pengalaman kelompok masyarakat yang merasa tertinggal akibat perubahan ekonomi dan budaya. Pendekatan tersebut penting karena konflik politik tidak selalu dapat dijelaskan melalui statistik ekonomi atau pilihan rasional. Di balik preferensi politik terdapat perasaan kehilangan, keterasingan, kemarahan, harapan, dan persepsi mengenai keadilan.

Untuk memahami dunia secara lebih luas, sosiologi abad ke-21 juga perlu keluar dari dominasi perspektif Eropa dan Amerika Utara. Di sinilah pemikiran Raewyn Connell menjadi sangat penting melalui gagasannya mengenai Southern Theory. Connell mengkritik dominasi produksi pengetahuan dari Global North dan mendorong sosiologi untuk memberi ruang lebih besar kepada pengalaman intelektual serta sejarah masyarakat Afrika, Asia, Amerika Latin, dan kawasan Global South.

Perspektif ini memiliki konsekuensi epistemologis yang besar. Dunia tidak dapat dipahami hanya dari pengalaman negara-negara industri Barat. Pengalaman kolonialisme, ketimpangan global, eksploitasi sumber daya, kemiskinan, perubahan iklim, migrasi, dan pembangunan di negara-negara Selatan Global menghasilkan pengetahuan sosial yang sama pentingnya untuk memahami modernitas.

Connell juga dikenal melalui kontribusinya terhadap studi gender, khususnya konsep hegemonic masculinity. Ia menunjukkan bahwa tidak terdapat satu bentuk tunggal maskulinitas.

Berbagai bentuk maskulinitas memiliki posisi berbeda dalam hierarki sosial dan berinteraksi dengan kelas, ras, budaya, serta kekuasaan. Dengan demikian, menjadi laki-laki bukan sekadar persoalan biologis, tetapi juga pengalaman sosial yang dibentuk oleh struktur kekuasaan.

Sementara itu, Saskia Sassen mengarahkan perhatian pada transformasi kota melalui konsep global city. Globalisasi tidak membuat semua kota memiliki posisi yang sama. Sebaliknya, beberapa kota seperti New York, London, dan Tokyo berkembang menjadi pusat strategis bagi keuangan, jasa profesional, teknologi, informasi, dan pengambilan keputusan ekonomi global.

Menariknya, kota global dapat menjadi ruang dengan ketimpangan ekstrem. Gedung-gedung pencakar langit, pusat finansial, hotel mewah, dan kawasan bisnis bergantung pada tenaga kerja yang sering kali tidak terlihat, mulai dari pekerja kebersihan, petugas keamanan, pekerja restoran, pengemudi, hingga pekerja perawatan. Di balik kemilau ekonomi global terdapat tenaga kerja berupah rendah yang membuat sistem tersebut dapat berfungsi.

Karena itu, kota global bukan hanya simbol keberhasilan globalisasi, tetapi juga ruang tempat kekayaan dan kemiskinan hidup berdampingan. Globalisasi menciptakan konektivitas ekonomi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama dapat menghasilkan displacement, gentrifikasi, ketimpangan ruang, dan marginalisasi kelompok masyarakat tertentu.

Pemikir lain yang sangat penting untuk membaca dunia kontemporer adalah Ulrich Beck, terutama melalui konsep risk society. Beck berargumen bahwa masyarakat modern menghasilkan jenis risiko baru yang berbeda dari risiko masyarakat sebelumnya. Risiko kontemporer sering kali bersifat global, tidak terlihat secara langsung, sulit diprediksi, dan justru lahir dari sistem teknologi serta institusi yang diciptakan manusia sendiri.

Perubahan iklim, kecelakaan nuklir, krisis finansial, pencemaran lingkungan, pandemi, serta berbagai konsekuensi teknologi modern menunjukkan bagaimana risiko dapat bergerak melampaui batas negara. Tidak ada satu negara yang sepenuhnya mampu mengendalikan perubahan iklim, sebagaimana tidak ada satu pemerintahan yang dapat menghentikan seluruh konsekuensi krisis finansial global.

Gagasan Beck menjadi semakin relevan karena masyarakat modern menghadapi paradoks mendasar: teknologi diciptakan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, produktivitas, dan kesejahteraan manusia, tetapi teknologi yang sama dapat menciptakan risiko baru dalam skala yang jauh lebih besar.

Jika seluruh pemikiran tersebut dibaca secara bersamaan, tampak bahwa para sosiolog kontemporer sebenarnya sedang menggambarkan satu perubahan besar: masyarakat manusia bergerak menuju kondisi yang semakin cair, terhubung, terfragmentasi, global, digital, dan penuh risiko.

Bauman membantu kita memahami ketidakpastian kehidupan modern. Castells menjelaskan masyarakat jaringan dan perubahan struktur kekuasaan melalui teknologi informasi. Savage menunjukkan bahwa kelas sosial bekerja melalui kombinasi modal ekonomi, sosial, dan budaya.

Turkle mengingatkan tentang paradoks konektivitas digital. Hochschild membantu membaca dimensi emosional dalam pekerjaan dan politik. Connell memperluas perspektif sosiologi melalui pengalaman Global South. Sassen menjelaskan bagaimana kota menjadi simpul utama ekonomi global, sementara Beck memperlihatkan bagaimana modernitas menghasilkan risiko yang semakin sulit dikendalikan.

Keseluruhan pemikiran tersebut memperlihatkan bahwa meskipun dunia berubah dari mesin uap menuju kecerdasan digital, pertanyaan dasar sosiologi tetap bertahan. Bagaimana manusia hidup bersama? Siapa yang memiliki kekuasaan? Mengapa ketimpangan terus berlangsung? Bagaimana identitas dibentuk? Mengapa sebagian kelompok memperoleh kesempatan lebih besar dibandingkan kelompok lainnya? Dan yang paling penting, bagaimana manusia dapat membangun masyarakat yang lebih adil?

Sosiologi abad ke-21 karena itu bukan sekadar disiplin akademik yang mempelajari masyarakat. Ia merupakan cara untuk membaca kekuatan-kekuatan yang sering kali tidak terlihat tetapi menentukan kehidupan sehari-hari manusia. Algoritma, jaringan sosial, kelas, budaya, kota, teknologi, emosi, gender, dan risiko semuanya menjadi bagian dari struktur sosial yang membentuk pilihan manusia.

Di tengah dunia yang semakin kompleks, memahami sosiologi menjadi semakin penting. Kita hidup dalam masyarakat yang menawarkan pilihan lebih banyak daripada generasi sebelumnya, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian yang lebih besar.

Kita terhubung dengan lebih banyak manusia, tetapi belum tentu lebih dekat secara emosional. Kita memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi menghadapi risiko global yang semakin sulit dikendalikan.

Mempelajari para pemikir tersebut pada akhirnya bukan hanya perjalanan akademik. Ia merupakan upaya memahami dunia tempat kita hidup, termasuk kekuatan-kekuatan sosial yang membentuk identitas, pilihan, peluang, ketakutan, dan masa depan bersama. Dalam dunia yang cair, berjaringan, dan penuh risiko, sosiologi membantu manusia berhenti sejenak, melihat struktur di balik peristiwa, dan memahami bahwa kehidupan personal hampir selalu memiliki dimensi sosial.

Source: Sociologylearners

Editor: Denun