PELAKITA.ID – BARRU — Upaya pengentasan kemiskinan membutuhkan lebih dari sekadar pemberian bantuan. Penguatan ekonomi keluarga perlu diarahkan pada penciptaan sumber penghidupan yang produktif, mampu dikembangkan secara mandiri, serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi rumah tangga penerima.
Pendekatan tersebut dikembangkan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Fapet Unhas) bersama Pemerintah Kabupaten Barru melalui pemanfaatan Ayam Alope Unhas-1 sebagai bagian dari Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Ekonomi Berkecukupan dan Berkelanjutan.
Kolaborasi Fapet Unhas dan Pemerintah Kabupaten Barru ini diawali melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada Januari 2026.
Melalui skema tersebut, Fapet Unhas menyediakan bibit ayam atau Day Old Chick (DOC) Ayam Alope Unhas-1 untuk dikembangkan bersama keluarga penerima manfaat di sejumlah desa, kelurahan, dan kecamatan di Kabupaten Barru.
Program kemudian memasuki fase implementasi bersama masyarakat melalui penandatanganan perjanjian antara Pemerintah Kabupaten Barru dan keluarga penerima manfaat yang berlangsung di ruang pertemuan Bappeda Kabupaten Barru, Jumat (11/09).
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., Wakil Bupati Barru Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si., Sekretaris Daerah Kabupaten Barru A. Syarifuddin, S.IP., M.Si., jajaran kepala perangkat daerah, camat, lurah, serta kepala desa se-Kabupaten Barru.
Dari Fapet Unhas, hadir tim peneliti Ayam Alope, Muh. Rachman Hakim, S.Pt., M.P., dan Muh. Misbah A. Ruhani, S.Pt., M.Si. Pada tahap awal, sebanyak 31 kepala keluarga dari sembilan desa dan kelurahan menerima paket bantuan yang mencakup bibit Ayam Alope, itik dara siap bertelur, serta bibit tanaman produktif.
Skema tersebut dirancang dengan pendekatan diversifikasi sumber produksi dalam satu unit ekonomi rumah tangga. Ayam Alope diarahkan tidak hanya sebagai sumber protein hewani, tetapi juga sebagai peluang pendapatan keluarga. Sementara itu, itik mendukung produksi telur dan tanaman produktif dapat memperkuat ketersediaan pangan sekaligus memberikan tambahan nilai ekonomi.
Diversifikasi ini menjadi penting karena ketahanan ekonomi rumah tangga tidak seharusnya bergantung pada satu komoditas. Dengan mengembangkan beberapa sumber produksi secara bersamaan, keluarga penerima manfaat memiliki peluang membangun sistem usaha yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan produksi.
Muh. Rachman Hakim menjelaskan bahwa Ayam Alope Unhas-1 dipilih karena dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat terhadap unggas lokal yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan pedesaan.
“Ayam Alope Unhas-1 dikembangkan agar mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan memiliki daya tahan yang baik. Karakter tersebut kami dorong agar dapat mendukung usaha peternakan keluarga secara lebih produktif,” kata Hakim.
Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bibit. Pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pemeliharaan, penyediaan pakan, kesehatan ternak, reproduksi, hingga pengelolaan usaha menjadi bagian penting dari keseluruhan model pemberdayaan.
Karena itu, Fapet Unhas tidak berhenti pada distribusi DOC. Perguruan tinggi tersebut juga mendorong peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu memelihara, mengembangkan, dan pada tahap selanjutnya menghasilkan bibit secara mandiri. Dengan pendekatan ini, rantai produksi diharapkan dapat tumbuh dan berkembang di tingkat lokal.
Salah satu agenda strategis yang mulai diarahkan adalah pengembangan unit pembibitan atau breeding Ayam Alope Unhas-1 di Kabupaten Barru. Kehadiran unit pembibitan di daerah diharapkan dapat memperkuat ketersediaan bibit sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah.
“Kalau Barru mampu membangun unit breeding sendiri, kebutuhan bibit tidak harus selalu didatangkan dari luar. Dalam jangka panjang, ini dapat menciptakan ekosistem peternakan yang lebih mandiri dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” jelas Hakim.
Lebih jauh, pendekatan berbasis produksi ini membuka ruang bagi pemerintah daerah dan perguruan tinggi untuk mengembangkan program berbasis data. Perkembangan produktivitas ternak maupun perubahan kondisi ekonomi penerima manfaat dapat menjadi dasar untuk menentukan pola pendampingan, kebutuhan input produksi, serta kemungkinan memperluas program kepada keluarga lainnya.
Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari menyampaikan apresiasi atas dukungan Fapet Unhas dalam memperkuat agenda pemerintah daerah, khususnya dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
“Kami menyampaikan apresiasi kepada Rektor dan Dekan Fakultas Peternakan atas komitmennya mendukung Pemerintah Kabupaten Barru. Program ini kami harapkan dapat memberikan penguatan ekonomi bagi keluarga penerima manfaat sekaligus mendukung pencapaian SDGs, khususnya tujuan Tanpa Kemiskinan,” ujar Andi Ina.
Usai penandatanganan perjanjian, Bupati Barru bersama jajaran pemerintah daerah dan tim Unhas turut mengunjungi rumah penerima manfaat. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kesiapan warga dalam mengelola bantuan ternak dan tanaman produktif yang telah diberikan.
Selain menjadi bagian dari proses pemantauan awal, kunjungan lapangan juga memberikan gambaran mengenai kondisi lingkungan serta kapasitas masing-masing rumah tangga dalam mengembangkan sistem produksi yang telah dirancang.
Tahap selanjutnya akan diperkuat melalui bimbingan teknis pemeliharaan ayam dan itik. Pendampingan ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan penerima manfaat dalam mengelola pakan, menjaga kesehatan ternak, melakukan pemeliharaan, serta mengembangkan aspek usaha dari kegiatan peternakan rumah tangga.
Dengan demikian, program Ayam Alope Unhas-1 di Barru tidak ditempatkan semata sebagai program bantuan ternak, melainkan sebagai bagian dari upaya membangun model intervensi ekonomi keluarga yang produktif dan dapat diukur perkembangannya.
Model tersebut sekaligus membuka peluang untuk melihat sejauh mana pengembangan peternakan skala rumah tangga dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui penciptaan sumber penghidupan produktif, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan produksi pangan, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat.
Keberhasilan program bukan hanya diukur dari berapa banyak bibit yang disalurkan, tetapi dari sejauh mana bantuan tersebut tumbuh menjadi kapasitas produksi, pengetahuan, pendapatan, dan kemandirian baru bagi keluarga penerima manfaat.
Dari kandang-kandang rumah tangga di Barru, Ayam Alope Unhas-1 diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas peternakan, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang memperkuat ketahanan keluarga dan membuka jalan menuju pengentasan kemiskinan yang lebih berkelanjutan.









