Buku Baru NEPOTISME, Ketika Kursi Kekuasaan Dikelilingi Orang-orang Dekat

  • Whatsapp
Ilustrasi buku

Meritokrasi memang tidak menjamin semua orang akan menang, tetapi setidaknya menjanjikan bahwa kompetisi dilakukan dengan aturan yang relatif adil. Nepotisme mengganggu janji tersebut ketika hubungan darah, kedekatan atau loyalitas menjadi modal yang lebih menentukan daripada kemampuan.

Resensi buku Nepotisme: Jalan Pintas Menuju Kekuasaan karya Mustamin Raga

PELAKIA.ID – Ada sebuah kursi di tengah sampul buku Nepotisme: Jalan Pintas Menuju Kekuasaan karya Mustamin Raga. Kursi itu tampak mewah, diletakkan di ujung tangga berlapis karpet merah, sementara di belakangnya berdiri sejumlah siluet manusia yang saling terhubung oleh garis-garis seperti jaringan.

Sampul tersebut seolah ingin mengatakan sejak awal: kekuasaan tidak pernah benar-benar berdiri sendirian. Di sekelilingnya selalu ada relasi, keluarga, sahabat, loyalis, dan orang-orang yang menunggu giliran mendekat.

Buku yang mencantumkan Dr. Dahlan Abubakar, M.Hum. sebagai editor ini membawa pembaca memasuki wilayah kekuasaan yang sering dibicarakan, tetapi tidak selalu dibongkar secara terbuka: nepotisme.

Mustamin, atau biasa penulis sapa Tettta Raga adalah alumni Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Dia baru saja pensiun tetapi keuletan, kerajinannya menulis, adalah hal yang takkan pernah padam.

Okay, mari kembali ke ‘nepotisme’ itu. Istilah ini terdengar akrab, bahkan terlalu akrab, karena masyarakat kerap menemukannya dalam politik, pemerintahan, birokrasi, organisasi, hingga berbagai ruang pengambilan keputusan.

Namun, Mustamin Raga tidak berhenti pada pengertian sederhana bahwa nepotisme adalah praktik mengutamakan keluarga atau orang dekat.

Nepotisme dalam buku ini lebih menarik jika dibaca sebagai sebuah jaringan. Ia bukan hanya tentang satu orang yang memperoleh jabatan karena hubungan darah, tetapi tentang sistem relasi yang membuat seseorang memiliki akses lebih besar dibandingkan orang lain.

Ada hubungan keluarga, kedekatan personal, loyalitas politik, jasa masa lalu, kepentingan kelompok, dan berbagai bentuk pertukaran yang dapat mengubah cara kekuasaan bekerja.

Di sinilah judul Jalan Pintas Menuju Kekuasaan menemukan maknanya. Jalan pintas selalu menarik karena ia menawarkan sesuatu yang tidak diberikan oleh jalan biasa: waktu yang lebih singkat, hambatan yang lebih sedikit, dan kemungkinan tiba lebih cepat di tujuan.

Dalam konteks kekuasaan, jalan pintas itu dapat berupa kedekatan.

Ketika orang lain harus menempuh kompetisi panjang, membangun rekam jejak, menunjukkan kompetensi, dan melewati proses seleksi, mereka yang berada dalam lingkaran tertentu mungkin memiliki pintu masuk yang jauh lebih mudah.

Persoalannya kemudian bukan sekadar siapa yang sampai lebih dahulu, tetapi bagaimana perjalanan menuju kursi kekuasaan itu berlangsung. Apakah kursi tersebut diperoleh karena kapasitas, pengalaman dan integritas, atau karena seseorang memiliki hubungan yang tepat dengan orang yang tepat?

Pertanyaan semacam itu penting karena jabatan publik bukan kursi pribadi. Ia melekat pada kewenangan, anggaran, kebijakan, pelayanan, sumber daya, bahkan masa depan banyak orang. Ketika proses pengisian jabatan mulai dipengaruhi oleh hubungan personal, maka yang dipertaruhkan bukan hanya rasa keadilan dalam sebuah kompetisi, melainkan kualitas institusi yang nantinya dipimpin.

Korban nepotisme pun sering kali tidak terlihat. Mereka bukan hanya orang yang kalah dalam perebutan jabatan. Di sini, Tetta Raga bisa meliha, meraba, membaca dan memaknai realitas itu. Dia adalah pamong, dia adalah warga, dia adalah voter.

Bagi Tetta Raga, orang-orang yang ‘tak terakomodasi di temali nepotisme’ adalah orang-orang yang sebenarnya memiliki kompetensi, pengalaman dan integritas, tetapi tidak memiliki akses kepada pusat kekuasaan. Mereka berdiri di luar pagar, sementara pintu masuk perlahan menjadi semakin sempit.

Pada titik inilah buku Mustamin Raga bersentuhan dengan gagasan meritokrasi. Dalam sistem yang sehat, seseorang semestinya mendapatkan kesempatan berdasarkan kemampuan dan kelayakannya.

Meritokrasi memang tidak menjamin semua orang akan menang, tetapi setidaknya menjanjikan bahwa kompetisi dilakukan dengan aturan yang relatif adil. Nepotisme mengganggu janji tersebut ketika hubungan darah, kedekatan atau loyalitas menjadi modal yang lebih menentukan daripada kemampuan.

Yang menarik, nepotisme tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar dan mudah dikenali.

Ia bisa tampil dengan pakaian yang rapi: menggunakan bahasa profesionalisme, kaderisasi, kepercayaan, loyalitas, regenerasi, bahkan representasi.

Seseorang bisa saja memiliki kompetensi. Tetapi tetap ada pertanyaan yang harus diajukan: apakah ia dipilih karena paling layak, atau karena paling dekat?

Pertanyaan itu membuat buku ini relevan dibaca dalam konteks demokrasi. Sebab demokrasi tidak semata-mata tentang pemilu, suara terbanyak, atau pergantian pemimpin. Demokrasi juga berbicara mengenai kesempatan, keterbukaan, kesetaraan akses, dan bagaimana kekuasaan digunakan setelah seseorang berhasil mendapatkannya.

Ada ironi yang menarik di sini. Sebuah negara dapat memiliki pemilu yang berlangsung secara demokratis, tetapi setelah pemilu selesai, kekuasaan dapat kembali terkonsentrasi pada kelompok, keluarga, atau jaringan tertentu.

Prosedurnya demokratis, tetapi distribusi kesempatan belum tentu demokratis. Maka, persoalan nepotisme sesungguhnya bukan hanya tentang keluarga. Ia adalah persoalan tentang siapa yang memiliki akses terhadap kekuasaan.

Dari perspektif itu, siluet-siluet manusia pada sampul buku menjadi simbol yang menarik. Mereka tidak memiliki wajah. Kita tidak tahu siapa mereka. Tetapi justru ketidakjelasan itu membuatnya kuat sebagai metafora. Mereka bisa menjadi keluarga, kolega, tim sukses, kroni, sahabat, kader, atau siapa pun yang berada di sekitar pusat kekuasaan.

Sementara itu, kursi di tengah menjadi pusat perhatian. Semua jalan seperti mengarah ke sana. Karpet merah membentang menuju kursi tersebut, seolah kekuasaan memiliki jalur khusus yang dapat ditempuh oleh mereka yang mengetahui pintunya.

Pertanyaan paling penting dari buku ini berada: siapa sebenarnya yang memiliki kunci pintu itu?

Mustamin Raga mengajak pembaca melihat nepotisme bukan hanya sebagai persoalan moral seseorang, melainkan sebagai problem tata kelola kekuasaan.

Ketika hubungan personal mulai menentukan distribusi jabatan dan sumber daya publik, institusi dapat kehilangan jarak kritis terhadap penguasa. Birokrasi berisiko menjadi terlalu loyal kepada individu atau kelompok, bukan kepada kepentingan publik.

Pembaca sekalian, Nepotisme: Jalan Pintas Menuju Kekuasaan tidak hanya mengajak pembaca bertanya “siapa yang berkuasa?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: untuk siapa kekuasaan itu digunakan?

Kekuasaan publik bukan warisan keluarga. Jabatan publik bukan hadiah bagi orang yang paling dekat. Dan negara bukan ruang privat tempat seorang penguasa membagi-bagikan privilese kepada lingkarannya.

Ketika kursi kekuasaan mulai dikelilingi oleh orang-orang terdekat, kita patut berhenti sejenak dan melihat tangga di bawahnya. Berapa banyak orang yang sebenarnya lebih layak, tetapi tidak pernah diberi kesempatan untuk naik?

Iulah inti kegelisahan yang hendak dibawa buku Mustamin Raga: nepotisme bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan kursi, tetapi tentang siapa yang kehilangan kesempatan untuk mendudukinya.

Penulis
Kamaruddin Azis