Kilas Balik, Awal Mula ‘Balla Barakka ri Galesong’ dan Kondisinya Saat Ini

  • Whatsapp
Penulis bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Politeknik Pariwisata Negeri Makassar

Kondisi Balla Barakka ri Galesong (BBrG) secara fisik saat ini yang ada di Desa Galesong Kota, Kecamatan Galesong tidak bisa dipisahkan dari asal mula arkeologi kejadiannya sejak tahun 30-an. Ada fisik rumah yang ruh dan semangatnya terus menjadi basis gerakan kebudayaan di kondisi kekinian dan nanti.

PELAKITA.ID – Situasi BBrG hari ini sudah sangat berbeda jika dibandingkan dengan keadaan pada awal berdirinya pada tahun 1936. Perubahan itu terasa semakin kuat ketika saya kembali mengunjungi tanah di Kato’nokang, tempat saya dan saudara-saudara dilahirkan dan yang menjadi bagian penting dari sejarah awal berdirinya BBrG.

Kato’nokang berjarak sekitar 8 kilometer ke selamat Galesong Kota – tempat di mana BBrG saat ini menjulang dengan spirit yang dikandungnya.

Dokumentasi perjalanan itu dibuat oleh putra saya, Doktor Buyung Romadhoni.

Kali ini, kami sengaja mengajak putra dan dua orang cucu untuk menyaksikan secara langsung tempat yang menyimpan bagian penting dari sejarah keluarga kami sekaligus sejarah awal BBrG.

Tanah tersebut kini telah mengalami banyak perubahan.

Di atasnya telah berdiri sebuah rumah batu yang sekarang ditempati oleh keponakan saya.

Di tempat yang sama juga masih berdiri masjid peninggalan orang tua kami yang hingga kini terpelihara dengan baik oleh keluarga dan masyarakat sekitar.

Kato’nokang berjarak sekitar 8 kilometer ke selamat Galesong Kota – tempat di mana BBrG saat ini menjulang dengan spirit yang dikandungnya.  

Melihat keadaan itu, saya seperti diajak kembali menengok masa lalu, membandingkan bagaimana keadaan tempat tersebut ketika BBrG baru mulai dirintis dengan kondisinya sekarang.

Kunjungan itu berlangsung singkat. Setelahnya, kami segera bergegas kembali ke BBrG di Galesong untuk menemui mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Politeknik Pariwisata Negeri Makassar yang sudah menunggu.

Kedatangan mereka merupakan kunjungan awal dalam rangka penelitian yang sedang mereka lakukan.

Rupanya, BBrG termasuk salah satu dari tiga desa yang menjadi objek penelitian mereka berdasarkan rekomendasi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Takalar.

Setelah menyampaikan maksud kedatangan dan rencana penelitian mereka, kami bertiga bersama Doktor Buyung Romadhoni dan Ibu Suryana memberikan penjelasan singkat mengenai ide awal kegiatan yang berkembang di BBrG, sejarah perjalanan pembentukannya, hingga kondisi BBrG seperti yang dapat dilihat sekarang.

Penjelasan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk membuka kembali cerita tentang gagasan, nilai, dan potensi yang sesungguhnya terkandung di dalam BBrG.

Ada satu pernyataan para mahasiswa yang sedikit mengejutkan sekaligus membuat saya berpikir. Berdasarkan pengamatan mereka, cukup banyak pengunjung yang datang ke BBrG untuk melakukan berbagai aktivitas, termasuk berfoto.

Bangunan-bangunan yang unik serta suasana yang ada memang menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, menurut mereka, tidak banyak pengunjung yang kemudian tertarik untuk mengenal lebih jauh apa yang ada di dalam BBrG, terutama makna, sejarah, dan nilai-nilai yang melatarbelakangi keberadaannya.

Hal itu menjadi semakin menarik setelah kami memberikan penjelasan mengenai sejarah dan gagasan awal BBrG. Para mahasiswa tersebut justru semakin heran.

Mereka mempertanyakan mengapa sebuah tempat dengan potensi yang begitu besar belum berkembang sebagaimana yang diharapkan.

Bagi mereka, persoalannya bukan semata-mata pada daya tarik fisik, karena BBrG sudah memiliki bangunan, suasana, sejarah, dan cerita yang dapat menjadi modal penting bagi pengembangan destinasi.

Saya kemudian memahami bahwa latar belakang itulah yang mendorong mereka datang dan melakukan penelitian.

Mereka tidak sekadar ingin melihat apa yang tampak dari luar, tetapi berusaha “menguliti” BBrG untuk menemukan isi di dalamnya.

Mereka ingin melihat lebih jauh apa yang sebenarnya menjadi kekuatan BBrG, bagaimana sejarahnya dapat diceritakan, bagaimana potensinya dapat dikembangkan, serta mengapa potensi tersebut belum sepenuhnya hadir sebagai daya tarik yang kuat bagi pengunjung.

Bagi saya, pendekatan seperti ini penting. Sebuah tempat tidak selalu menjadi menarik hanya karena memiliki bangunan yang unik atau suasana yang berbeda.

Di balik sebuah tempat biasanya terdapat cerita, manusia, sejarah, gagasan, nilai, bahkan pengalaman lintas generasi yang dapat memberikan makna jauh lebih dalam daripada sekadar apa yang terlihat oleh mata.

Insya Allah, hasil penelitian para mahasiswa Politeknik Pariwisata Negeri Makassar ini nantinya akan mereka ekspos melalui seminar nasional yang direncanakan berlangsung pada akhir tahun ini.

Mudah-mudahan penelitian tersebut dapat membantu membuka kembali ruang untuk melihat BBrG secara lebih utuh: bukan hanya sebagai tempat yang dikunjungi dan dijadikan latar untuk berfoto, tetapi sebagai ruang yang memiliki sejarah, identitas, cerita, dan potensi besar untuk dikembangkan.

Semoga.

___
Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, S.H, M.H
Founder Balla Barakka ri Galesong