PELAKITA.ID – Desa Lermatang merupakan salah satu desa di Kecamatan Tanimbar Selatan yang terus mengembangkan pembangunan berbasis potensi desa
Desa ini memiliki 1.632 jiwa yang tersebar di delapan RT, terdiri atas 693 laki-laki dan 939 perempuan, dengan jumlah 460 kepala keluarga. Secara administratif, Desa Lermatang memiliki luas wilayah sekitar 80 km².
Desa ini berbatasan dengan Desa Bomaki di sebelah utara, laut di sebelah timur dan selatan, serta Desa Latdalam di sebelah barat.
Desa Lermatang memiliki dua musim, yaitu musim hujan yang berlangsung dari Desember hingga Mei dan musim kemarau dari Juni hingga November. Suhu udara berkisar antara 23–33°C dengan kelembaban relatif 75–88%. Curah hujan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar berkisar antara 1.500–2.000 milimeter per tahun.
Bagi masyarakat Desa Lermatang, air bersih merupakan kebutuhan dasar sehar-hari. Sebelum adanya sarana sumur bor, sebagian warga masih mengambil air dari Wetutune atau sumber air lainnya yang berada cukup jauh dari permukiman.
Warga harus berjalan dan meluangkan waktu untuk mendapatkan air, terutama keluarga yang tinggal jauh dari sumber tersebut. Kegiatan mengambil air telah menjadi bagian dari keseharian warga.
Air dari Wetutune digunakan untuk mandi, mencuci, membersihkan rumah, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya, termasuk untuk kebutuhan minum setelah terlebih dahulu dimasak.
Setiap kali membutuhkan air, warga harus kembali menuju sumber tersebut. Kondisi ini membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.
Bagi masyarakat Desa Lermatang, air bersih merupakan kebutuhan dasar sehar-hari. Sebelum adanya sarana sumur bor, sebagian warga masih mengambil air dari Wetutune atau sumber air lainnya yang berada cukup jauh dari permukiman.Melihat kondisi tersebut, Program Investasi Sosial INPEX Masela, Ltd. bersama DFW Indonesia sebagai mitra pelaksana program memfasilitasi penyediaan sarana air bersih bagi masyarakat Desa Lermatang.
Pembangunan sumur bor dilakukan untuk menyediakan akses air bersih kepada warga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber air yang jauh dari permukiman.
Salah satu sarana air bersih yang telah terbangun terletak di RT 007/RW 004 dan RT 008/RW 004.
Fasilitas tersebut terdiri atas sumur bor dengan kedalaman 20 meter, mesin pompa, meteran listrik, dudukan tangki, tangki penampung berkapasitas 2.300 liter, serta jaringan selang sepanjang 200 meter untuk masing-masing RT.
Saat ini sebanyak 51 kepala keluarga telah merasakan dan menjadi penerima manfaat sarana air bersih tersebut. Kehidupan mereka teah berubah,
Perubahan yang paling dirasakan warga adalah akses air yang menjadi lebih dekat.
Jika sebelumnya warga harus menuju Wetutune atau sumber air lainnya, kini mereka dapat memperoleh air dari fasilitas yang lebih dekat dengan rumah.
Perubahan ini membantu warga menghemat waktu dan tenaga.
Waktu yang sebelumnya digunakan untuk mengambil air dapat dialihkan untuk kegiatan rumah tangga dan aktivitas sehari-hari lainnya.
Warga juga tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh setiap kali membutuhkan air.
Seorang warga RT 008, Lusia Kerbulan mengatakan sebelum adanya sarana air bersih, dia dan warga lainnya masih mengandalkan sumur tua atau Sumur Wetutune.
Jarak menuju sumber air tersebut dapat mencapai sekitar 30 menit. “Kini air tersedia lebih dekat dengan rumah sehingga kebutuhan sehari-hari lebih mudah dipenuhi” kata Lusia.
Bagi warga lainnya, perubahan jarak tersebut memberikan manfaat yang nyata.
Mereka dapat air dari sarana sumur bor dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, MCK, dan aktivitas sehari-hari.
Ketersediaan air yang lebih dekat membantu warga memenuhi kebutuhan mandi, mencuci, membersihkan rumah, dan menjaga kebersihan lingkungan.
Ketersediaan air juga membantu keluarga memenuhi kebutuhan kebersihan anak-anak seperti mandi dan menjaga kebersihan diri menjadi lebih mudah karena air tersedia di sekitar permukiman.
Dengan demikian, manfaat sumur bor bukan hanya terletak pada tersedianya air. Akses yang lebih dekat membantu aktivitas keluarga berjalan lebih mudah.
Warga dapat memenuhi kebutuhan dasar tanpa harus selalu bergantung pada sumber air yang jauh.
Koordinator Program DFW Indonesia, Waode Husmayani mengatakan bahwa selain penyediaan air bersih program ini juga mendorong keterlibatan warga dalam menjaga dan mengelola fasilitas.
“Masyarakat dilibatkan dalam pembentukan kelompok pengelola air bersih yang membantu memastikan sarana dapat digunakan dan dirawat dengan baik,” kata Waode.
Kelompok pengelola memiliki peran dalam memantau kondisi fasilitas dan menyampaikan apabila terdapat kerusakan atau kendala.
Dengan adanya kelompok tersebut, masyarakat memiliki wadah untuk menyampaikan kebutuhan dan persoalan yang berkaitan dengan sarana air bersih.
Keterlibatan masyarakat juga dimaksudakn guna membangun rasa memiliki.
“Kami ingin merubah cara pandang warga terhadap bantuan sumur bor, pompa, tangki, dan jaringan air tidak hanya sebagai bantuan, tetapi sebagai fasilitas bersama yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelas Waode.
Warga kemudian didorong untuk menggunakan air secara bijak dan menjaga kebersihan di sekitar fasilitas.
Kebiasaan tersebut penting agar sarana yang telah dibangun dapat terus digunakan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Pengelolaan dilakukan melalui kerja sama antara masyarakat, kelompok pengelola, dan pemerintah desa.
Kelompok pengelola menjadi penghubung ketika terdapat kebutuhan atau kendala di lapangan, sementara masyarakat ikut menjaga dan menggunakan fasilitas secara bertanggung jawab.
Pembangunan sumur bor merupakan bagian penting dari kegiatan, tetapi manfaat program tidak berhenti setelah pembangunan selesai.
Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tetap digunakan, dirawat, dan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Karena itu, masyarakat tidak hanya menerima manfaat dari fasilitas yang dibangun.
Warga juga mulai mengambil bagian dalam menjaga keberadaannya. Jika terjadi masalah pada sarana, warga dapat menyampaikannya kepada kelompok pengelola untuk ditindaklanjuti dan dikoordinasikan dengan pihak terkait.
Cara pengelolaan tersebut membantu membangun rasa tanggung jawab bersama.
Masyarakat memahami bahwa fasilitas tersebut digunakan untuk kepentingan bersama sehingga perlu dijaga bersama.
Perubahan ini menjadi bagian penting dari keberlanjutan program. Fasilitas yang tersedia akan memberikan manfaat lebih lama apabila masyarakat memiliki kepedulian untuk menjaga, menggunakan, dan mengelolanya dengan baik.
Air bersih akan terus dibutuhkan masyarakat setiap hari.
Karena itu, keberadaan sarana air bersih perlu dijaga agar tetap dapat digunakan. Warga perlu menggunakan air secara bijak, menjaga kebersihan fasilitas, dan segera menyampaikan apabila terjadi kerusakan.
Kelompok pengelola memiliki peran untuk memantau kondisi sarana dan melakukan koordinasi jika terdapat kendala.
Pemerintah desa dan pihak terkait juga diharapkan terus mendukung pengelolaan agar fasilitas dapat bertahan dalam jangka panjang.









