Mengenang Sudirman Nasir, Aktivis yang Tak Pernah Jauh dari Buku dan Organisasi

  • Whatsapp
Sudirman Haji Nasir

Oleh: Rustan Rewa
Alumni Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin

PELAKITA.ID – Saya mengenal Sudirman Haji Nasir sejak masa mahasiswa di Universitas Hasanuddin pada dekade 1990-an. Kami memang berasal dari latar fakultas yang berbeda.

Saya mahasiswa Pertanian dan aktif di Senat Mahasiswa Pertanian Unhas, sementara Sudirman menempuh pendidikan Kedokteran. Namun, perbedaan fakultas itu tidak pernah menjadi jarak bagi kami untuk bertemu, berbincang, dan bertukar gagasan.

Yang paling saya ingat dari Sudirman adalah cara berpikirnya. Ia cerdas, rajin mengikuti perkuliahan, tetapi tidak menjadikan aktivitas akademik sebagai satu-satunya ruang untuk bertumbuh. Ia tetap memberi perhatian besar pada organisasi mahasiswa, dunia seni, sastra, dan berbagai aktivitas sosial di luar kampus.

Pada masa itu, kehidupan mahasiswa Unhas sangat dinamis. Organisasi mahasiswa menjadi ruang belajar yang penting. Kami tidak hanya berbicara tentang persoalan kampus, tetapi juga tentang masyarakat, bangsa, demokrasi, kebudayaan, dan masa depan Indonesia.

Dalam suasana seperti itu, saya beberapa kali berdiskusi dengan Sudirman tentang aktivisme mahasiswa dan pentingnya membaca.

Sudirman aktif dalam Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST). Bagi saya, keterlibatannya di dunia sastra menjadi sesuatu yang menarik.

Ia menunjukkan bahwa seorang aktivis mahasiswa tidak cukup hanya memiliki keberanian bersuara. Aktivis juga membutuhkan kemampuan membaca realitas, mengolah pikiran, dan menyampaikan gagasan dengan bahasa yang kuat.

Kami pernah berbicara tentang pentingnya sastra bagi gerakan mahasiswa. Puisi, tulisan, dan karya sastra menurut saya bukan sekadar ekspresi artistik.

Di tangan mahasiswa yang kritis, sastra dapat menjadi cara untuk membaca kehidupan dan menyuarakan kegelisahan zaman. Sudirman memahami ruang itu dengan baik.

Saya melihat Sudirman sebagai sosok yang mampu menjaga keseimbangan antara kuliah, organisasi dan seni. Ia serius sebagai mahasiswa Kedokteran, tetapi tidak kehilangan kepekaan sosial dan kebudayaannya.

Ia tetap menyediakan ruang bagi puisi, tulisan, komunitas, dan aktivitas NGO yang mempertemukannya dengan berbagai persoalan masyarakat.

Itulah salah satu kesan yang paling melekat dalam ingatan saya tentang Sudirman. Ia bukan tipe mahasiswa yang hanya mengejar prestasi akademik untuk dirinya sendiri. Ia memiliki rasa ingin tahu yang luas dan kemauan untuk berinteraksi dengan banyak kelompok.

Kampus baginya bukan sekadar tempat mendapatkan gelar, tetapi ruang untuk belajar tentang manusia dan kehidupan.

Kini, ketika saya mengenang masa-masa itu dari perjalanan saya sendiri setelah menjadi alumni Pertanian Unhas dan bekerja di Pemerintah Daerah Tolitoli, kenangan tentang Sudirman terasa sebagai bagian dari perjalanan intelektual generasi kami.

Kami mungkin datang dari fakultas yang berbeda, menempuh jalan profesi yang berbeda, dan kemudian menjalani kehidupan masing-masing. Namun, ada satu hal yang mempertemukan kami: keyakinan bahwa mahasiswa harus belajar melampaui ruang kuliah.

Sudirman Nasir bagi saya adalah gambaran seorang aktivis kampus yang tidak meninggalkan buku ketika memasuki organisasi, tidak meninggalkan seni ketika berbicara tentang gerakan, dan tidak meninggalkan kepedulian sosial ketika menjalani kehidupan profesional.

Itulah Sudirman yang saya kenal dan saya ingat: seorang mahasiswa yang rajin kuliah, aktif berorganisasi, dekat dengan sastra, menulis puisi, terlibat dalam NGO, dan selalu membawa semangat belajar dalam setiap percakapan.

Kenangan tentangnya bukan sekadar nostalgia masa mahasiswa, tetapi juga pengingat bahwa ilmu, organisasi, seni, dan kepedulian sosial seharusnya dapat berjalan bersama.

___
Tolitoli, 27 Agustus 2026