Wawancara RRI 2 – YKAN | Laut Kalimantan Keren, Terancam, dan Harus Diselamatkan.

  • Whatsapp
Ilustrasi program RRI 2 Samarinda Kaltim - YKAN

Wawancara RRI 2 Samarinda Kaltim dengan Basir, Manajer Program Kelautan Kalimantan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)

PElAKITA.ID – Laut Indonesia masih menyimpan keindahan yang luar biasa, tetapi ekosistemnya menghadapi tekanan yang semakin besar.

Perubahan iklim, pencemaran, sampah plastik, aktivitas pariwisata yang tidak bertanggung jawab hingga pembangunan di wilayah pesisir menjadi sejumlah ancaman yang perlu mendapat perhatian bersama.

Hal itu disampaikan Basir, Manajer Program Kelautan Kalimantan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dalam sebuah perbincangan di Pro 2 FM.

Menurutnya, kondisi laut Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, dapat digambarkan dalam tiga kata: keren, terancam, dan harus diselamatkan.

Ilustrasi kegiaan (dok: Istimewa)

Basir menjelaskan, perubahan iklim menjadi salah satu tekanan besar terhadap ekosistem laut. Kenaikan suhu laut membuat ekosistem seperti terumbu karang semakin rentan mengalami pemutihan atau coral bleaching.

Kondisi tersebut bukan sekadar perubahan warna, tetapi dapat menjadi tanda bahwa karang mengalami tekanan serius dan berpotensi mengalami kematian.

Selain perubahan iklim, pencemaran juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Basir menyebut sebagian besar pencemaran laut berasal dari daratan, kemudian terbawa melalui sistem sungai dan aliran air menuju wilayah pesisir dan laut.

“Sebagian besar pencemaran laut sebenarnya dari darat,” ujar Basir dalam wawancara tersebut.

Di Kalimantan Timur, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena kawasan ini juga berkembang sebagai wilayah industri.

Aktivitas ekstraktif, transportasi sungai menuju laut, pelayaran dan kegiatan bongkar muat berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap lingkungan pesisir.

Sementara itu, kawasan wisata seperti Berau dan Maratua menghadapi persoalan lain, terutama sampah plastik yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata. Basir mengibaratkan pergerakan sampah plastik di kawasan tersebut seperti aktivitas “ekspor-impor” karena sampah dapat terbawa arus dari wilayah Filipina menuju Maratua dan sebaliknya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan sampah laut tidak mengenal batas wilayah administratif. Sampah yang dibuang di satu tempat dapat berpindah mengikuti aliran sungai dan arus laut, kemudian mencapai wilayah pesisir yang jauh dari sumber awalnya.

Karena itu, persoalan sampah laut sebenarnya tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir. Sampah yang dibuang sembarangan di kawasan perkotaan pun dapat berakhir di laut ketika masuk ke drainase, sungai kecil dan sungai besar sebelum akhirnya terbawa menuju muara.

Di kawasan perkotaan, misalnya, aliran sungai memiliki hubungan langsung dengan wilayah pesisir. Ketika air bergerak menuju muara, sampah yang tidak dikelola dengan baik ikut terbawa.

Sebagian kemudian tertahan di kawasan muara, sementara sebagian lainnya mengikuti arus laut dan dapat menyebar ke berbagai wilayah.

Basir mengatakan plastik masih menjadi jenis sampah yang paling mudah ditemukan dan dikenali di laut karena sifatnya yang dapat mengapung. Namun, persoalan pencemaran laut tidak hanya berupa sampah padat. Limbah cair juga menjadi ancaman, meskipun keberadaannya tidak selalu terlihat secara kasatmata dan membutuhkan pengukuran untuk mengetahui dampaknya.

Ia menyebut hasil penelitian pemerintah pada 2024 menunjukkan kualitas air laut masih relatif berada dalam kategori baik. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah karena tekanan terhadap ekosistem laut terus berlangsung.

“Boleh di siaga satu,” kata Basir, menggambarkan kondisi laut yang masih relatif baik tetapi membutuhkan kewaspadaan.

Menurutnya, kerusakan laut pada akhirnya akan kembali berdampak kepada manusia. Ketika laut tercemar, masyarakat kehilangan ruang untuk menikmati alam dan melakukan aktivitas rekreasi.

Pariwisata dapat mengalami penurunan karena wisatawan enggan datang ke kawasan yang kotor, sementara nelayan juga dapat mengalami penurunan hasil akibat terganggunya ekosistem perairan.

Dampak pencemaran pertama-tama dirasakan organisme yang hidup di dalam laut, seperti ikan, terumbu karang, mangrove dan padang lamun. Namun, ekosistem tersebut pada saat yang sama merupakan aset masyarakat dan sumber kehidupan manusia.

Karena itu, menjaga laut bukan hanya persoalan mempertahankan keindahan alam. Upaya tersebut juga berkaitan dengan ekonomi, penghidupan masyarakat, pariwisata dan keberlanjutan sumber daya pesisir.

YKAN Dorong Pengelolaan Kawasan Konservasi

Sebagai organisasi konservasi, YKAN berperan sebagai mitra pemerintah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan kawasan pesisir dan laut.

Di Kalimantan Timur, salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil Kepulauan Derawan dan perairan sekitarnya.

Kawasan tersebut kini menjadi salah satu magnet wisata bahari di Kalimantan Timur. Pengelolaannya dilakukan oleh unit pelaksana teknis daerah pada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur.

Menurut Basir, sejumlah organisasi konservasi, termasuk YKAN, mendukung upaya pemerintah daerah agar kawasan konservasi tersebut dapat dikelola secara efektif. Dukungan dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari pengawasan, pemantauan dan penyadartahuan masyarakat hingga pemantauan ekosistem.

Kegiatan lainnya mencakup monitoring terumbu karang, lamun dan mangrove, pembentukan kelompok perempuan pesisir untuk mendukung peningkatan ekonomi, serta restorasi ekosistem terumbu karang.

Pendekatan tersebut menempatkan konservasi bukan hanya sebagai urusan perlindungan ekosistem, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan pesisir.

Menjaga Laut Dimulai dari Diri Sendiri

Ketika ditanya mengenai pihak yang paling bertanggung jawab menjaga laut, Basir tidak menunjuk satu kelompok tertentu.

Menurutnya, pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, organisasi konservasi dan generasi muda memiliki peran masing-masing. Namun, langkah pertama dapat dimulai dari setiap individu.

Masyarakat perlu menyadari bahwa tindakan sehari-hari, termasuk penggunaan dan pembuangan sampah plastik, memiliki konsekuensi terhadap lingkungan laut. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membawa wadah minum sendiri merupakan contoh sederhana yang dapat dilakukan.

Menurut Basir, kebiasaan membawa tumbler yang kini semakin populer di kalangan anak muda merupakan salah satu bentuk perubahan perilaku yang positif.

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab melalui kebijakan dan pengelolaan lingkungan. Pelaku usaha perlu menjalankan kegiatan sesuai aturan lingkungan, sementara organisasi konservasi dapat mendukung pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

Dengan demikian, tidak ada satu pihak yang dapat disebut sebagai satu-satunya penanggung jawab. Keberlanjutan laut merupakan tanggung jawab bersama.

Masa Depan Laut Ada di Tangan Generasi Muda

Bagi Basir, pengalaman berada di laut menjadi salah satu alasan kuat untuk terus menjaga ekosistem pesisir. Aktivitas snorkeling, misalnya, memperlihatkan langsung keindahan kehidupan bawah laut, mulai dari ikan-ikan kecil seperti Nemo hingga gerombolan ikan yang bergerak bersama.

Pengalaman lain yang membekas adalah ketika ia melihat fenomena bioluminesensi pada malam hari. Permukaan laut tampak memancarkan cahaya hijau ketika air bergerak, menciptakan pengalaman yang menurutnya sulit dilupakan.

Pengalaman-pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa laut bukan sekadar ruang geografis. Laut dapat menghadirkan ketenangan, keindahan dan pengalaman yang membuat manusia kembali menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari alam.

Keindahan tersebut tidak boleh dianggap akan bertahan selamanya tanpa upaya perlindungan.

Basir mengingatkan bahwa laut Indonesia masih luar biasa dan masih keren, tetapi kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Meski demikian, masa depannya belum ditentukan.

Karena itu, generasi muda memiliki posisi penting untuk menentukan apakah Indonesia akan tetap dikenal sebagai negara maritim dengan laut yang besar dan lestari, atau hanya menjadi negara yang pernah memiliki laut yang hebat.

Pesannya sederhana: laut Indonesia harus tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar kenangan.

___
Editor K. Azis