DW Dokumenter | Nelayan Purunga dan Tebing yang Menjadi Rumah Kedua

  • Whatsapp
Ilustrasi

Ketika mencari ikan bersama Diego di Tebing Palo Cruzado, ia harus memanjat melalui celah tebing dengan posisi tubuh yang tidak biasa. Saat terus berusaha naik, salah satu paku besi tercabut dan patah. Ia hanya bisa mengandalkan tali untuk mempertahankan tubuhnya agar tidak jatuh ke bebatuan.

Sumber: Kisah nelayan penantang maut di Peru, antara padang pasir dan Samudra Pasifik | DW Dokumenter

PELAKITA.ID – HUARMEY, PERU — Di antara hamparan gurun dan Samudra Pasifik, tebing-tebing terjal Huarmey menyimpan kehidupan yang bagi sebagian orang mungkin tampak mustahil dijalani. Namun bagi Juan Loo Guimet, 33 tahun, tempat itu adalah ruang hidup, tempat bekerja, sekaligus rumah kedua.

Kawan-kawannya memanggilnya Purunga. Ia adalah pengumpul kerang dan hasil laut yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup pada tebing-tebing pantai Huarmey. Setiap hari, ia menuruni tebing dengan tali, paku besi, tongkat, pisau, dan perlengkapan sederhana lainnya untuk mencari hasil laut yang kemudian dibawa ke pasar.

“Saya suka padang pasir ini. Suasananya sangat tenang. Di sini saya bisa memulai hari dengan baik. Jiwa pun selalu damai,” katanya.

Namun ketenangan itu segera berubah menjadi adrenalin ketika Purunga mulai menuruni tebing. Di beberapa lokasi, jurang di bawahnya mencapai sekitar 100 meter. Kesalahan kecil dapat berakibat fatal.

Sebelum turun, ia harus memastikan pikirannya benar-benar tenang. Semua persoalan kehidupan, katanya, harus ditinggalkan di atas tebing bersama sepeda motor dan sepatu mereka.

“Kalau kita turun membawa segala ketegangan dan permasalahan kehidupan, susah rasanya bisa berkonsentrasi dengan layak. Berisiko jika kita banyak pikiran,” ujarnya.

Bagi Purunga, keselamatan bergantung pada disiplin. Tali harus diikat dengan benar, paku besi harus tertancap kuat, dan setiap titik pijakan harus diperiksa. Semua itu telah menjadi kebiasaan setelah bertahun-tahun bekerja di tebing.

Tetapi kebiasaan tidak berarti menghilangkan risiko.

Paku-paku besi yang dipasang permanen di beberapa titik dapat terlihat kokoh dari luar, tetapi garam dan percikan air laut perlahan menggerogoti logam. Kadang yang tampak sebagai paku kuat sebenarnya hanya menyisakan cangkang besi yang rapuh.

Purunga pernah mengalami sendiri bagaimana bahaya bisa datang tanpa peringatan.

Ketika mencari ikan bersama Diego di Tebing Palo Cruzado, ia harus memanjat melalui celah tebing dengan posisi tubuh yang tidak biasa. Saat terus berusaha naik, salah satu paku besi tercabut dan patah. Ia hanya bisa mengandalkan tali untuk mempertahankan tubuhnya agar tidak jatuh ke bebatuan.

“Saya nyaris jatuh,” kenangnya.

Tebing memang tidak memberi ruang bagi kesalahan. Namun bagi para pekerja seperti Purunga, tebing sekaligus merupakan pintu menuju dunia yang berlimpah.

Di bawah sana terdapat kerang, chiton, limpet, siput laut, kepiting, dan berbagai jenis ikan. Hasil laut itulah yang disebut Purunga sebagai “harta karun”.

Orang yang melihat mereka turun dari tebing sering mengira mereka sedang mencari sesuatu yang berharga. Padahal, harta yang mereka cari adalah hasil laut yang menjadi makanan dan sumber penghidupan.

“Orang-orang mengira kami mencari harta karun. Padahal, yang berharga adalah hasil laut tangkapan kami. Itu bagaikan emas bagi kami,” katanya.

Tongkat sebagai Perpanjangan Tangan

Dalam pekerjaannya, setiap orang memiliki keahlian masing-masing. Purunga dikenal terampil menggunakan pisau, sementara rekannya mengandalkan tongkat.

Bagi Purunga, tongkat bukan sekadar alat. Benda itu telah menjadi bagian dari tubuhnya.

“Saya tidak bisa bekerja tanpa benda ini,” katanya.

Dengan tongkat, ia dapat berpindah di antara bebatuan dan menjangkau kerang-kerangan tanpa harus terlalu dekat dengan titik berbahaya. Ketika jaring dan mata pancing dipasang di ujungnya, tongkat itu berubah menjadi alat untuk menangkap ikan.

Menangkap hasil laut dengan tongkat membutuhkan ketangkasan, kekuatan lengan, kesabaran, dan akurasi. Ia harus tahu kapan harus menusuk, kapan menarik, dan kapan membiarkan buruannya tetap berada di batu.

Kerang yang sudah disentuh tetapi tidak berhasil dilepaskan, misalnya, sebaiknya dibiarkan. Ketika merasa terancam, moluska akan menegang dan menempel semakin kuat pada batu. Jika dipaksa, cangkangnya bisa terlepas sementara dagingnya tetap tertinggal.

Karena itu, pekerjaan ini bukan sekadar soal kekuatan. Ada pengetahuan ekologis yang diperoleh dari pengalaman panjang.

Untuk chiton dan limpet, tekniknya berbeda. Siput laut pun membutuhkan kecepatan. Mereka biasanya berkumpul seperti buah anggur dan dapat segera melompat kembali ke air ketika merasakan kehadiran manusia.

“Menangkap hasil laut dengan tongkat itu seperti seni. Rasanya seperti mengerjakan hobi,” kata Purunga.

Ia bekerja dalam berbagai kondisi, ketika air surut maupun pasang, ketika cuaca cerah maupun buruk. Tetapi laut selalu menentukan batas.

Laut Harus Dihormati

Bagi Purunga, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Laut adalah kekuatan yang harus dihormati.

Ia mengingat pesan para pelaut berpengalaman: laut bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihormati.

Prinsip itu menjadi pegangan dalam setiap perjalanan.

“Kita tidak bisa hanya fokus mencari kerang. Kita juga harus memperhatikan laut. Itu sebabnya kita punya dua mata. Satu untuk laut dan satu lagi untuk moluska,” ujarnya.

Ombak besar dapat datang tiba-tiba. Salah melangkah atau salah mengatur posisi tubuh dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan. Karena itu, setiap gerakan harus diperhitungkan.

Di sekitar tebing, kehidupan laut juga hadir dalam bentuk lain. Singa laut sering terlihat di dasar tebing. Burung laut bersarang di tepian batu, sementara berbagai organisme hidup di antara celah dan permukaan bebatuan.

Singa laut bahkan menjadi salah satu risiko yang harus diwaspadai. Seorang rekannya pernah digigit di bagian paha ketika melompat ke laut. Rahang hewan tersebut sangat kuat hingga korban harus dibawa ke rumah sakit dan menjalani operasi.

Karena itu, perjalanan ke tebing tidak pernah sepenuhnya bebas dari ancaman.

Pulang dari laut

Teman, Perahu, dan Jalan Pulang

Purunga telah lama bekerja bersama Grandaso. Rekan itu menjadi teman baiknya selama bertahun-tahun. Setelah beberapa kali mengalami kecelakaan, Purunga kini lebih memilih tidak sendirian ketika menuruni tebing yang lebih sulit.

Ada pula Cenizo, pengemudi perahu yang ia percaya untuk membawanya menuju lokasi-lokasi yang sulit dijangkau dari daratan.

Perahu menjadi jalan lain ketika tebing terlalu berbahaya untuk dipanjat. Ban dalam digunakan sebagai pelampung untuk membawa perlengkapan kerja, sehingga mereka tidak perlu berulang kali berenang membawa beban.

Perjalanan menuju tebing juga merupakan bagian dari kehidupan mereka. Di tengah suara mesin dan angin, percakapan kadang hanya menjadi potongan kata yang tidak selalu terdengar jelas.

Namun ketika akhirnya tiba, pekerjaan kembali mengambil alih perhatian.

Mereka harus membaca arah ombak, mencari celah untuk mendekati bebatuan, kemudian memilih titik yang aman untuk mulai bekerja.

Harta Karun dari Tebing

Hasil tangkapan dari Huarmey memiliki pasar tersendiri. Kerang dan ikan dari kawasan itu dikirim ke berbagai daerah dan disajikan di restoran maupun pasar lokal.

Bagi masyarakat yang mengenal rasanya, hasil laut Huarmey memiliki karakter tersendiri.

Di bawah tebing, Purunga sering berpindah dari satu teluk ke teluk lainnya. Ia membawa umpan berupa kepiting kecil untuk memancing ikan. Hasilnya tidak selalu dapat diprediksi.

Kadang tangkapan melimpah. Pada hari lain, tidak ada apa-apa.

Kesabaran menjadi modal utama.

Seperti halnya kerang, ikan juga memiliki musim dan periode larangan penangkapan. Pemerintah memberlakukan pembatasan tertentu agar populasi ikan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang biak.

Bagi pengumpul kerang seperti Purunga, tidak ada periode larangan yang sama secara khusus. Namun ia memahami bahwa laut juga membutuhkan waktu untuk pulih.

Jika laut selalu tenang dan manusia terus mengambil hasilnya, suatu hari kerang dapat habis.

Karena itu, ketika laut menjadi terlalu ganas, Purunga melihatnya sebagai pesan alam: sudah cukup, bersabarlah.

Warisan Sang “Rubah”

Teknik bekerja di tebing bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Di balik keterampilan para pekerja saat ini terdapat pengetahuan yang diwariskan dari orang-orang terdahulu.

Salah satu tokoh yang disebut Purunga adalah José Mallqui, yang dikenal dengan julukan El Zorro, atau “Si Rubah”.

Mallqui merupakan salah satu pelopor teknik menggunakan tongkat dan dikenal sebagai “bapak tebing”. Ia mengajarkan dasar-dasar pekerjaan tersebut kepada para pengumpul hasil laut, termasuk Purunga.

Bagi Purunga, keterampilan itu bukan sekadar teknik bekerja. Ia merupakan pengetahuan yang terbentuk dari hubungan panjang antara manusia, tebing, alat, dan laut.

Ketika Tebing Merenggut Nyawa

Namun rumah kedua itu juga telah mengambil orang-orang yang dekat dengannya.

Diego adalah salah satunya.

Suatu hari, Purunga menerima telepon bahwa Diego telah tiada. Laut mengambilnya dan jasadnya tidak pernah ditemukan.

Kabar itu meninggalkan luka mendalam.

Purunga sendiri pernah mengalami kecelakaan serius. Ia terjatuh sekitar pukul 10 pagi dan lengannya membentur tepi tebing. Tulangnya patah terbuka. Pakaian dan wetsuit yang dikenakannya ikut robek.

Dalam kecelakaan lain, ia pernah mengalami kelelahan saat memanjat. Tangannya mulai kehilangan kekuatan. Pada satu titik, ia tidak lagi mampu menggenggam tali dengan baik.

Ia merasa mungkin akan mati.

“Seluruh hidup saya berkelebat di mata saya,” kenangnya.

Setelah kecelakaan tersebut, ia menjalani rehabilitasi selama enam bulan di Lima, Peru. Setiap hari diisi terapi fisik dan pengobatan untuk memulihkan tubuhnya.

Kemampuan fisiknya belum sepenuhnya kembali. Dulu ia gemar berolahraga, tetapi kini hanya mampu berlari pendek. Ia berharap suatu hari dapat kembali berlari seperti sebelumnya.

Kabar tentang kecelakaannya bahkan sempat menyebar dengan cara yang mengerikan.

“Purunga sudah mati. Dia jatuh dari tebing,” kata orang-orang.

Padahal ia masih hidup dan kembali menjalani kehidupannya.

Setiap Hari Mengulang dari Awal

Pengalaman kehilangan membuatnya kini lebih memilih turun bersama orang lain. Ia menyadari bahwa keberanian tidak berarti mengabaikan risiko.

Alam memiliki kekuatan sendiri dan manusia tidak bisa melawannya.

“Teman-teman kami ada yang sudah meninggal, tetapi kami kembali bersama mereka setiap hari. Mereka bersama kami di tebing, dan setiap hari mereka berbisik agar kami berhati-hati,” ujarnya.

Ketika pekerjaan selesai, Purunga dan rekan-rekannya kembali menaiki sepeda motor menuju kota. Mereka meninggalkan tebing dengan rasa syukur karena masih dapat pulang dengan selamat.

Hasil laut yang mereka kumpulkan kemudian dibawa ke pasar. Kerang ditata dan dijual per lusin. Sebagian hasil laut, seperti chiton dan siput laut, diolah oleh perempuan di pasar agar dapat langsung dinikmati pembeli.

Bagi Purunga, perjalanan itu bukan sekadar rutinitas ekonomi. Ia adalah siklus kehidupan yang terus berulang.

Turun ke tebing. Menghadapi ombak. Membaca batu. Mengambil hasil laut. Pulang dengan selamat. Bertemu keluarga.

Lalu, keesokan paginya, semuanya dimulai lagi.

Di antara gurun dan Samudra Pasifik, Purunga menemukan kehidupan yang ia cintai—sebuah kehidupan yang keras, berbahaya, tetapi sekaligus penuh kedamaian.

Tebing telah menjadi tempat kerja, sekolah, sumber penghidupan, sekaligus rumah keduanya.

Setiap kali ia turun, ia membawa satu keyakinan sederhana: laut bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihormati.

____
Terima kasih DW!