PELAKITA.ID – BULUKUMBA — Pusat Studi Perubahan Iklim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin (PSPI LPPM-Unhas) bekerja sama dengan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pemerintah Kabupaten Bulukumba menggelar pelatihan prosedur keselamatan kerja bagi operator dan pengelola kawasan wisata bahari, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin melalui Program Kemitraan-Masyarakat (PPMU-PK-M) Tahun 2026 tersebut berlangsung di Ruang Rapat Bira, Lantai 4 Gedung Phinisi, Mall Pelayanan Publik Pemerintah Kabupaten Bulukumba.
Pelatihan ini diikuti perwakilan operator dan pengelola sejumlah destinasi wisata bahari di Kabupaten Bulukumba.
Kepala Pusat Perubahan Iklim Unhas, Dr. Rijal Idrus M.Sc, yang merupakan penanggung jawab kegiatan ini menyatakan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada Kelompok Operator Wisata Pantai di Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba.
Mitra merupakan kelompok masyarakat yang berperan langsung dalam pengelolaan wisata bahari, namun masih menghadapi permasalahan terkait rendahnya kesadaran dan kapasitas dalam menerapkan standar keselamatan, keamanan, serta etika lingkungan dalam aktivitas wisata.

“Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas layanan wisata, meningkatkan risiko kecelakaan, serta berdampak pada degradasi lingkungan pesisir. Permasalahan utama yang dihadapi mitra seperti belum optimalnya pemahaman mengenai standar keselamatan dan keamanan wisata bahari, rendahnya kesadaran terhadap praktik wisata ramah lingkungan, dan belum adanya panduan atau sistem sederhana yang dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan wisata yang aman dan berkelanjutan,” terangnya.
Permasalahan ini, ujar Rijal, sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pengelolaan wisata bahari di kawasan pesisir masih belum terintegrasi dengan aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.
Sebagai solusi, kegiatan ini menawarkan pendekatan edukasi partisipatif yang dikombinasikan dengan aksi berbasis komunitas.
Program akan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi lanjutan permasalahan dan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mitra.
“Kedua, pelaksanaan edukasi dan pelatihan terkait standar keselamatan, keamanan, dan etika lingkungan dalam pengelolaan wisata pantai, penyusunan bersama panduan sederhana (community-based guideline) sebagai acuan operasional mitra, serta evaluasi melalui posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku mitra,” tambahnya.
Target luaran dari kegiatan ini meliputi luaran wajib berupa publikasi ilmiah, publikasi media massa, video kegiatan, dan poster, serta luaran tambahan berupa panduan pengelolaan wisata pantai yang aman dan ramah lingkungan berbasis komunitas.
Selain itu, indikator keberhasilan yang diharapkan adalah peningkatan kapasitas mitra dalam menerapkan standar keselamatan dan praktik wisata berkelanjutan, serta perbaikan tata nilai masyarakat dalam pengelolaan wisata.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terwujud pengelolaan wisata pantai di Desa Bira yang lebih aman, nyaman, dan ramah lingkungan, sehingga dapat meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Menurut Rijal, awalnya memang rencana peserta dari Bira saja karena adanya kasus anak SMA yang tenggelam di Apparalang dan kebakaran Hotel Padduppa yg mnjadi perhatian tentang bahaya dalam Wisata Bahari (WB) sehingga perlu peningkatan kesadaran Operator Wisata sebagai langkah awal penerapan standar keselamatan dan kualitas layanan.
Meski demikian, kata Rijal, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Bulukumba melalui Kadis Hj Hamrina Andi Muri, S.Pd, M.Si, melihat bahwa kegiatan ini sangat penting bagi seluruh Operator Wisata, maka Ibu Kadis berinisiatif mengundang 20 peserta yang berasal dari berbagai destinasi dan aktivitas wisata.
“Sehingga tadi hadir 20 wakil Operator Wisata dari berbagai wilayah Blkmba termasuk permandian di pegunungan dan aktivitas lain yang bukan hanya wisata bahari,” jelasnya.

Proses kegiatan
Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai prosedur keselamatan kerja dalam pengelolaan kawasan wisata, khususnya destinasi yang memiliki aktivitas dan risiko terkait lingkungan pesisir dan laut.
Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Abd. Rasyid Jalil, M.Si., dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin yang menjelaskan makna Navigasi Keselamatan Wisata Bahari.
Prof Rasyid Jalil atau biasa Prof Cido memiliki bidang keahlian yang berkaitan dengan ekologi, oseanografi, dan perikanan.
Dalam pemaparannya, Rasyid Jalil menekankan bahwa keselamatan harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan destinasi wisata bahari, bukan sekadar pelengkap operasional.
“Keselamatan di kawasan wisata bahari harus menjadi bagian dari tata kelola destinasi. Pengelola perlu memahami karakteristik lingkungan laut, mengenali potensi risiko, serta memastikan setiap aktivitas wisata dilakukan dengan prosedur yang aman.”
Menurutnya, pemahaman terhadap kondisi lingkungan pesisir dan laut menjadi penting karena aktivitas wisata bahari berhadapan langsung dengan faktor alam yang dinamis.
Karena itu, pengelola perlu memiliki kesiapan dalam mengantisipasi perubahan kondisi perairan dan berbagai potensi risiko yang dapat membahayakan wisatawan maupun pekerja.
Prof Cido memiliki rekam jejak penelitian di bidang kelautan. Data SINTA mencatat sejumlah aktivitas penelitiannya, termasuk kajian kondisi fisika-kimia perairan dan penelitian mengenai karbon biru serta ekosistem pesisir.
Pelatihan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga mendorong para pengelola untuk menerapkan prosedur keselamatan dalam aktivitas sehari-hari.
Hal itu mencakup kesiapan menghadapi kondisi darurat, pengawasan aktivitas wisatawan, serta pengenalan terhadap potensi bahaya di kawasan wisata bahari.
Narasumber kedua adalah Rahmah Dini Irhamna Paradita, S.K.M yang memaparkan Pertolongan Pertama dan Tanggap Darurat di Destinasi Wisata. Lalu dilanjutkan dengan tanya jawab kemudian post test.


Kegiatan ini diikuti perwakilan pengelola berbagai destinasi wisata di Bulukumba, antara lain Tebing Mattoanging, Dego Degona Bira, Pantai Bira, Pantai Bara, Titik Nol, Pantai Merpati, Pantai Pussahelu, Pantai Panrang Luhu, Pantai Kapu
Lalu hadir pengelola Pantai Balabalayya, Pantai Lembang, Pantai Babana, Pantai Paranyalling, Pantai Batu Batang, Pantai Marumasa, Pantai Panaikang Birayya, Pantai Kasuso, Pantai Solleng, dan Pantai Apparalang.
Penulis K. Azis









