PELAKITA.ID – Berbicara di depan kelas masih menjadi tantangan bagi banyak pelajar. Tangan gemetar, jantung berdebar, hingga tiba-tiba lupa dengan materi yang telah dipersiapkan merupakan pengalaman yang sering dirasakan siswa ketika diminta tampil di depan umum.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (UNHAS), Ainun Syahwa Qur’ani, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), menghadirkan program edukasi bertajuk “Find Your Voice: Membangun Kepercayaan Diri melalui Public Speaking” di SMPN 1 Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Kegiatan ini merupakan program kerja individu yang dilaksanakan sebagai bentuk penerapan ilmu komunikasi di lingkungan pendidikan. Pelaksanaan kegiatan turut mendapat arahan dan pendampingan dari dosen pengampu kegiatan, Dr. Andi Agus Mumang, S.K.M.
Program “Find Your Voice” dirancang untuk membangun keberanian siswa dalam menyampaikan ide, pendapat, dan gagasan di depan umum. Di lingkungan sekolah, kemampuan tersebut menjadi penting karena siswa tidak hanya dituntut memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu mengomunikasikan pemikiran mereka dengan baik.
Dalam sesi pembelajaran, siswa SMPN 1 Watang Pulu diajak memahami bahwa public speaking bukan sekadar berbicara di depan banyak orang.
Public speaking merupakan kemampuan menyampaikan informasi, gagasan, maupun pendapat secara jelas, terstruktur, dan percaya diri.
Pembelajaran dikemas secara komunikatif dan interaktif agar siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat secara langsung.
Peserta diajak mengidentifikasi pengalaman yang sering muncul ketika harus berbicara di depan kelas, seperti takut salah, tiba-tiba lupa materi, merasa gugup, hingga khawatir mendapatkan penilaian dari orang lain.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah konsep “Gunung Es Rasa Gugup”. Melalui konsep tersebut, siswa diajak melihat bahwa rasa gugup yang tampak seperti gemetar, blank, atau tidak percaya diri sebenarnya memiliki penyebab yang lebih dalam. Di baliknya dapat terdapat rasa takut salah, takut dinilai, takut ditertawakan, hingga kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.
Pemahaman tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena siswa diarahkan untuk menyadari bahwa gugup merupakan hal yang wajar ketika berbicara di depan umum. Rasa gugup bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi dapat dikelola melalui persiapan dan latihan yang konsisten.
Selain pemahaman mengenai rasa gugup, peserta juga memperoleh sejumlah tips praktis untuk meningkatkan kemampuan public speaking.
Materi mencakup persiapan dan latihan, teknik mengatur pernapasan, menjaga kontak mata dengan audiens, menggunakan suara yang jelas, menampilkan gestur tubuh yang natural, serta memberikan senyum sebagai bentuk komunikasi nonverbal.
Empat unsur utama, yaitu voice, eye contact, gesture, dan smile, diperkenalkan sebagai formula sederhana yang dapat membantu siswa menyampaikan pesan dengan lebih menarik dan meyakinkan.
Agar pembelajaran tidak berhenti pada teori, kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik melalui permainan “Challenge Time”. Dalam permainan tersebut, siswa mengambil satu kertas lipat berisi topik secara acak tanpa mengetahui isinya terlebih dahulu.
Setelah memperoleh waktu selama 30 detik untuk berpikir, peserta diberikan kesempatan berbicara mengenai topik yang diperoleh selama kurang lebih tiga menit.
Permainan ini mendorong siswa untuk keluar dari zona nyaman. Mereka dilatih untuk berpikir secara spontan, menyusun gagasan, mengatur cara penyampaian, sekaligus berani tampil di hadapan teman-temannya.
Suasana kegiatan di SMPN 1 Watang Pulu berlangsung aktif dan penuh antusias.
Siswa yang pada awalnya terlihat malu dan ragu secara perlahan mulai berani mencoba berbicara. Interaksi selama kegiatan juga membuat proses belajar menjadi lebih santai sehingga siswa dapat berlatih tanpa merasa takut melakukan kesalahan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UNHAS berupaya menunjukkan bahwa membangun kemampuan public speaking tidak harus dimulai dari hal yang sulit. Keberanian dapat tumbuh dari langkah sederhana, seperti berani mengangkat tangan, menyampaikan pendapat, melakukan kontak mata, hingga mencoba berbicara di depan teman-teman.
Bagi siswa SMPN 1 Watang Pulu, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi pengalaman berbicara di depan kelas, tetapi juga menjadi awal untuk membangun kepercayaan diri dalam berbagai situasi. Kemampuan menyampaikan ide dan pendapat dengan baik dapat menjadi bekal dalam kegiatan akademik, organisasi sekolah, maupun kehidupan bermasyarakat.
Program “Find Your Voice: Membangun Kepercayaan Diri melalui Public Speaking” menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin dalam mendukung pengembangan keterampilan siswa melalui pendidikan yang interaktif.
Jadi, berbicara bukan tentang menjadi sempurna. Berbicara adalah tentang keberanian untuk menyampaikan pesan, menyuarakan gagasan, dan menjadi diri sendiri.
Dari SMPN 1 Watang Pulu, sebuah suara kecil dapat menjadi awal dari keberanian yang lebih besar. Find Your Voice, and let your voice be heard.
___
Penulis: Ainun Syahwa Qur’ani
Editor: Aisya Sofianita Kamaruddin









