PELAKITA.ID — Diskusi tentang pajak hijau dan anggaran daerah yang digelar CIDES ICMI Orwil Sulawesi Selatan menjadi ruang menarik untuk mempertemukan gagasan, riset, dan kegelisahan publik tentang arah kebijakan ekonomi Indonesia.
Di tengah pembahasan itu, sosok Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom sekaligus pendiri dan Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menjadi salah satu figur yang menarik perhatian.
Bhima dikenal sebagai ekonom yang cukup aktif menyuarakan pandangan kritis terhadap berbagai kebijakan ekonomi nasional. Namanya kerap muncul ketika publik memperbincangkan isu fiskal, pembangunan, transisi energi, ekonomi digital, hingga tata kelola sumber daya alam.
Pertemuannya dengan forum CIDES ICMI Orwil Sulsel menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat sosok di balik berbagai analisis ekonomi yang selama ini hadir dalam ruang publik.
Bukan hanya sebagai ekonom dan peneliti, Bhima merepresentasikan generasi baru pemikir kebijakan yang mencoba mempertemukan riset dengan perdebatan publik.
Siapa Bhima?
Bhima lahir di Pamekasan, 3 November 1989. Ketertarikannya terhadap dunia literasi tumbuh sejak usia muda. Kebiasaan membaca jurnal penelitian dan tulisan ilmiah sejak masa sekolah menjadi salah satu fondasi yang kemudian membentuk perjalanan intelektualnya.
Ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada melalui International Undergraduate Program (IUP). Semasa kuliah, minatnya terhadap penelitian semakin berkembang melalui keterlibatan dalam berbagai proyek riset bersama dosen.
Dari lingkungan akademik tersebut, Bhima kemudian mulai masuk lebih jauh ke dunia kajian kebijakan. Ia bergabung sebagai peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), pengalaman yang mempertemukannya dengan berbagai persoalan ekonomi pembangunan dan kebijakan publik.
Perjalanan akademiknya berlanjut ke Inggris. Pada 2014, melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), ia melanjutkan studi magister di University of Bradford dan mengambil program Master in Finance. Pendidikan tersebut memperdalam pemahamannya mengenai keuangan, ekonomi makro, dan dinamika ekonomi global.
Pengalaman risetnya kemudian berkembang melalui keterlibatan dengan berbagai lembaga nasional dan internasional. Ia antara lain pernah bekerja sama dengan International Finance Corporation, bagian dari World Bank Group, serta terlibat dalam sejumlah organisasi dan lembaga yang berkaitan dengan ekonomi, ketenagakerjaan, dan pembangunan.
Di Indonesia, Bhima juga pernah berkiprah di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sebagai staf asisten ketua umum pada periode 2015–2020. Pengalamannya bersama Fair Labor Association dan Friedrich Ebert Stiftung turut memperluas perspektifnya terhadap persoalan ketenagakerjaan, pembangunan ekonomi, dan kebijakan publik.
Namun, salah satu titik penting perjalanan profesionalnya terjadi ketika ia mendirikan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) pada 2017.
Dari lembaga tersebut, Bhima bersama jejaring peneliti dan analis mengembangkan berbagai kajian mengenai persoalan strategis Indonesia. Isunya meliputi ekonomi makro, kebijakan fiskal, ekonomi digital, transisi energi, hingga tata kelola mineral kritis.
CELIOS kemudian menjadi salah satu lembaga kajian yang aktif menghadirkan perspektif alternatif dalam perdebatan kebijakan ekonomi. Bagi Bhima, riset bukan sekadar produksi dokumen akademik, tetapi juga instrumen untuk membaca arah kebijakan dan memberikan masukan terhadap keputusan publik.
Karena itu, pertemuan di Red Corner dalam diskusi pajak hijau dan anggaran daerah menjadi lebih dari sekadar forum bertukar pandangan. Ia mempertemukan pengalaman seorang peneliti nasional dengan dinamika daerah yang menghadapi persoalan fiskal, pembangunan, lingkungan, dan kebutuhan pelayanan publik secara bersamaan.
Pajak hijau, misalnya, tidak hanya berbicara tentang penerimaan negara atau daerah.
Di dalamnya terdapat pertanyaan yang lebih besar: bagaimana kebijakan fiskal dapat digunakan untuk mendorong perilaku ekonomi yang lebih ramah lingkungan sekaligus memastikan pembangunan tetap memberi manfaat bagi masyarakat.
Begitu pula dengan anggaran daerah. Anggaran bukan semata angka dalam dokumen APBD, melainkan cermin dari pilihan pembangunan: sektor mana yang diprioritaskan, siapa yang memperoleh manfaat, dan seberapa jauh belanja publik mampu menjawab persoalan nyata masyarakat.
Jadi hemat penulis, diskusi bersama Bhima menjadi relevan.
Menariknya, di balik sosok yang sehari-hari bergelut dengan angka, data, riset, dan kebijakan, dikutip dari sejumlah rilis, Bhima juga disebut memiliki sisi personal yang cukup sederhana. Salah satu hobinya sejak sekolah dasar adalah bermain mobil mini 4WD atau Tamiya.
Ketertarikan itu bahkan masih bertahan hingga kini dan sesekali menjadi cara untuk beristirahat dari rutinitas penelitian.
Kisah tersebut memberi warna lain pada perjalanan seorang ekonom muda yang kehidupannya banyak dihabiskan untuk membaca persoalan ekonomi Indonesia.
Dari ruang akademik UGM, pengalaman riset di INDEF, pendidikan di University of Bradford, keterlibatan dalam berbagai lembaga nasional dan internasional, hingga mendirikan CELIOS, perjalanan Bhima menunjukkan bagaimana gagasan dapat tumbuh menjadi kerja-kerja pengetahuan yang kemudian masuk ke ruang publik.
Di Sudut Merah atau Cafe Red Corner yang aduhai itu, gagasan itu kembali dipertemukan dengan pertanyaan-pertanyaan daerah: bagaimana pajak dapat menjadi instrumen perubahan, bagaimana anggaran daerah bekerja lebih efektif, dan bagaimana pembangunan dapat berjalan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Pembaca sekalian, bersua Bhima bukan hanya bertemu seorang ekonom. Ia adalah perjumpaan dengan gagasan tentang bagaimana ekonomi seharusnya dibaca: melalui data, dikritisi melalui riset, lalu dibawa kembali ke ruang publik untuk diperdebatkan bersama.
____
Penulis, Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID









