Michael Pollan: Menulis Bukan Sekadar Merangkai Kata, Cara Menemukan Apa yang Kita Pikirkan (Bagian 2)

  • Whatsapp
Ilustrasi Michael Pollan

PELAKITA.ID — Bagi Michael Pollan, menulis bukan sekadar pekerjaan untuk memindahkan gagasan yang sudah selesai dari kepala ke halaman. Menulis justru merupakan proses berpikir, menemukan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui, menguji rasa ingin tahu, dan perlahan memberi bentuk pada pengalaman yang semula sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Pollan dikenal sebagai salah satu penulis nonfiksi terkemuka yang selama puluhan tahun menulis tentang makanan, alam, pertanian, kesadaran, serta hubungan manusia dengan dunia alam.

Kekuatan tulisannya tidak hanya terletak pada kedalaman riset, tetapi juga pada kemampuannya mengubah pertanyaan ilmiah dan pengalaman pribadi menjadi cerita yang terasa dekat, hidup, dan mudah diikuti pembaca.

Dalam percakapan tentang menulis, kreativitas, riset, dan kesadaran, Pollan memperlihatkan bahwa seorang penulis tidak cukup hanya memiliki banyak informasi.

Penulis juga harus tahu bagaimana mengolah informasi, menemukan konflik, memilih karakter, membangun ketegangan, serta memberi ruang bagi pikirannya sendiri untuk menemukan sesuatu selama proses penulisan berlangsung.

Setelah riset selesai, berhentilah mencari informasi

Salah satu kebiasaan Pollan yang menarik muncul ketika ia menjelaskan apa yang dilakukan setelah seluruh riset untuk sebuah tulisan selesai.

Ketika memasuki tahap drafting, ia justru cenderung menjauh sementara dari informasi baru mengenai topik yang sedang ditulisnya karena tambahan informasi dapat mengganggu proses berpikir yang sedang dibangun.

“Saya ingin bekerja dengan apa yang sudah saya miliki, dengan apa yang saya ingat dari semua yang saya miliki,” demikian inti pendekatannya terhadap tahap penulisan.

Bagi Pollan, seorang penulis perlu memberi kesempatan kepada informasi yang telah dikumpulkannya untuk diproses secara lebih personal, bukan terus-menerus menambahkan fakta baru.

Karena itulah, ketika mulai menulis, Pollan memilih membaca novel. Ia percaya apa yang dibaca seseorang sebelum tidur dapat memengaruhi apa yang keluar dari pikirannya keesokan hari, terutama dalam hal irama kalimat, metafora, suasana, dan cara menyampaikan pengalaman.

Menurutnya, fiksi secara umum memang sering ditulis dengan lebih baik daripada nonfiksi, meskipun tentu saja terdapat fiksi yang buruk dan nonfiksi yang sangat indah.

Yang ia cari dari fiksi bukan informasi tambahan mengenai topik yang sedang ditulis, melainkan cadence, ritme, metafora, dan energi bahasa yang dapat memperkaya suara tulisannya.

Menemukan suara yang tepat

Pollan juga memiliki pandangan khas mengenai voice atau suara dalam tulisan. Ia cenderung memilih suara yang ramah, bersahabat, dan tidak terlalu formal, dengan humor yang sesekali muncul untuk membuat hubungan antara penulis dan pembaca terasa lebih manusiawi.

Ia tidak ingin menulis dari posisi seolah-olah dirinya berdiri di atas mimbar, kemudian mengatakan kepada pembaca apa yang harus mereka pikirkan.

Menurutnya, pembaca tidak menyukai tulisan yang terasa seperti ceramah, terutama ketika penulis berbicara dari posisi seolah-olah sudah memiliki seluruh jawaban.

Karena itu, Pollan sering memulai tulisannya dengan posisi yang lebih polos, penuh pertanyaan, bahkan terkadang menampilkan dirinya sebagai orang yang belum mengetahui jawabannya.

Suara tersebut kemudian berkembang menjadi lebih matang seiring perjalanan cerita, karena pembaca dan penulis sama-sama bergerak menuju pemahaman yang lebih dalam.

Bagi Pollan, pendekatan tersebut bukan bentuk ketidakjujuran. Seorang penulis memang mengetahui akhir cerita ketika ia sudah menyelesaikan riset, tetapi pengetahuan tentang akhir tersebut tidak harus diumumkan kepada pembaca sejak halaman pertama.

Ia menggunakan analogi sederhana tentang lelucon. Ketika seseorang menceritakan lelucon, ia sudah mengetahui punchline-nya, tetapi tidak akan mengungkapkan bagian tersebut sebelum waktunya karena seluruh kesenangan justru terletak pada perjalanan menuju kejutan terakhir.

Begitu pula dengan tulisan nonfiksi. Penulis perlu menciptakan kembali kondisi ketika ia sendiri masih berada dalam ketidaktahuan, rasa penasaran, dan kebingungan yang dahulu mendorongnya melakukan riset, meskipun pada saat menulis ia sebenarnya sudah mengetahui bagaimana cerita tersebut berakhir.

Informasi melimpah, pekerjaan penulis semakin berat

Perubahan teknologi juga mengubah cara Pollan melakukan penelitian. Jika dahulu seorang penulis harus menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk menemukan buku, jurnal, atau sumber akademik, kini hampir semua informasi dapat ditemukan dengan beberapa ketukan pada papan ketik.

Kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan persoalan baru yang jauh lebih kompleks.

Masalah penulis modern bukan lagi sekadar bagaimana menemukan informasi, melainkan bagaimana memilah informasi yang terlalu banyak, menentukan mana yang relevan, serta membedakan sumber yang dapat dipercaya dari informasi yang menyesatkan.

Pollan menggambarkan keadaan tersebut sebagai semacam badai informasi.

Setiap hari terdapat begitu banyak penelitian, artikel, jurnal, berita, dan publikasi baru yang muncul, sehingga seorang penulis dapat dengan mudah kehilangan fokus jika tidak memiliki disiplin dalam memilih apa yang benar-benar diperlukan.

Dalam konteks tersebut, ia sesekali menggunakan Gemini atau ChatGPT untuk membantu riset. Namun, Pollan menekankan bahwa hasil AI harus diperlakukan dengan sikap skeptis karena ia pernah menemukan kesalahan besar dalam jawaban yang diberikan sistem kecerdasan buatan.

Menurutnya, AI memang berguna untuk mendefinisikan istilah, menemukan asal-usul sebuah gagasan, menelusuri etimologi, atau mencari petunjuk awal mengenai siapa yang pertama kali memperkenalkan sebuah konsep. Namun, kegunaan tersebut tidak menghapus kewajiban penulis untuk memeriksa kembali informasi dan memastikan kebenarannya.

Dengan demikian, teknologi membuat informasi semakin mudah diperoleh, tetapi tidak otomatis membuat pekerjaan penulis menjadi lebih mudah.

Justru ketika informasi semakin melimpah, kemampuan memilah, mempertanyakan, memverifikasi, dan memahami konteks menjadi semakin penting.

Cari “perang saudara” di dalam sebuah bidang

Salah satu strategi menarik yang muncul dalam percakapan tersebut adalah cara Pollan menemukan cerita ketika memasuki sebuah bidang baru. Menurutnya, salah satu pertanyaan paling berguna adalah mencari perbedaan pendapat utama di antara para ahli.

Dalam hampir setiap bidang pengetahuan, terdapat perdebatan yang mungkin tidak selalu terlihat dari luar.

Para ilmuwan biasanya menyampaikan perbedaan tersebut secara lebih sopan dan akademis, tetapi di balik bahasa yang hati-hati tetap terdapat konflik mengenai teori, metode, pendekatan, atau kesimpulan.

Konflik semacam itu dapat menjadi pintu masuk yang sangat kuat bagi sebuah tulisan karena pembaca secara alami ingin mengetahui siapa yang benar. Ketika terdapat dua pandangan yang bertentangan, muncul pertanyaan, ketegangan, dan rasa penasaran yang dapat mendorong cerita bergerak maju.

Pollan mengingat contoh perdebatan dalam ilmu kesadaran antara Christof Koch dan David Chalmers. Keduanya pernah berbeda pandangan mengenai kemungkinan ditemukannya korelasi saraf kesadaran dalam jangka waktu tertentu, bahkan perbedaan tersebut berkembang menjadi taruhan satu kotak anggur.

Bagi seorang penulis, struktur seperti itu sangat menarik karena pertanyaan akademis yang rumit tiba-tiba berubah menjadi cerita sederhana: siapa yang benar dan siapa yang kalah taruhan?

Ketegangan tersebut membuat pembaca memiliki alasan emosional untuk terus mengikuti pembahasan ilmiah yang sebenarnya sangat kompleks.

“Narasi bergantung pada konflik,” demikian prinsip yang dapat ditarik dari pandangan Pollan. Tanpa konflik, tidak ada ketegangan; dan tanpa ketegangan, sebuah tulisan berisiko berubah menjadi sekadar kumpulan informasi yang benar tetapi tidak cukup kuat untuk membuat pembaca bertahan.

Temukan orang yang bisa menghidupkan cerita

Dalam penulisan naratif, konflik saja belum cukup. Pollan juga menekankan pentingnya menemukan orang yang dapat menjadi karakter kuat dalam cerita, terutama seseorang yang memiliki pengalaman, otoritas, pandangan yang jelas, dan kemampuan menyampaikannya dengan bahasa yang hidup.

Ia menyukai orang yang “bernyanyi” ketika berbicara—orang yang kutipannya terasa hidup ketika dituliskan kembali.

Sebaliknya, seseorang mungkin memiliki jabatan dan keahlian yang sangat tinggi, tetapi jika cara berbicaranya datar dan tidak memberikan gambaran yang kuat, ia belum tentu menjadi karakter yang menarik bagi sebuah tulisan.

Pollan juga tertarik pada karakter yang playing against type, yakni orang yang tidak sesuai dengan stereotip yang melekat pada profesi atau kelompoknya.

Seorang peternak, misalnya, tidak selalu harus tampil seperti koboi; bisa saja ia justru seorang teknokrat dengan penampilan seperti akuntan dan cara berpikir yang sangat sistematis.

Karakter semacam itu menarik karena menghadirkan kejutan. Pembaca menemukan bahwa realitas manusia jauh lebih kompleks dibandingkan stereotip yang selama ini mereka miliki, dan kejutan semacam itu membuat tulisan menjadi lebih berwarna sekaligus lebih manusiawi.

Ia melihat pola tersebut dalam karya Michael Lewis, yang kerap menemukan karakter nonkonformis yang berhadapan dengan sistem besar.

Individu seperti itu menarik karena menghadirkan konflik klasik antara manusia dan institusi, antara orang kecil dan sistem, atau antara cara berpikir konvensional dan mereka yang memilih jalan berbeda.

Taman dan cara manusia memperlakukan alam

Pembicaraan Pollan kemudian bergerak ke taman, sebuah ruang yang tampaknya sederhana tetapi ternyata menyimpan banyak makna tentang hubungan manusia dengan alam.

Baginya, taman merupakan bentuk idealisasi alam—alam yang telah diatur agar sesuai dengan keinginan dan selera manusia.

Taman formal Prancis, misalnya, memperlihatkan hasrat manusia terhadap keteraturan, simetri, struktur, dan kontrol. Sebaliknya, taman lanskap Inggris tampak lebih liar dan alami, meskipun sebenarnya tetap dirancang dan dirawat secara sangat hati-hati.

Karena itu, taman bukan sekadar tempat menanam tanaman atau memperindah rumah. Taman merupakan semacam bahasa visual yang memungkinkan manusia mengungkapkan bagaimana mereka ingin alam terlihat dan bagaimana mereka ingin hubungan antara manusia dengan alam berlangsung.

Dalam taman, manusia juga memperlihatkan kekuasaannya terhadap alam. Alam dipelihara, dipangkas, diarahkan, dibentuk, dan kadang-kadang dipaksa mengikuti kehendak manusia, terutama dalam tradisi taman formal yang berkembang di lingkungan kerajaan.

Pollan juga melihat pentingnya gesekan langsung dengan dunia alam. Berhadapan dengan alam yang nyata berbeda dengan melihat representasi alam, karena alam memiliki ketidakpastian, ketidakteraturan, dan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.

Menulis adalah bentuk berpikir

Salah satu gagasan paling kuat dalam percakapan tersebut muncul ketika pembahasan beralih kepada pengalaman yang belum memiliki kata-kata. Bagi Pollan, manusia sering kali mengalami sesuatu yang penting tetapi tidak segera mampu menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Menulis memberikan jalan keluar dari kebuntuan tersebut. Menulis bukan hanya bentuk ekspresi, melainkan bentuk berpikir. Ketika seseorang mulai menulis, ia tidak sekadar mengeluarkan gagasan yang sudah selesai, tetapi juga menemukan hubungan baru yang sebelumnya belum terlihat.

Pollan mengakui bahwa ia sering hanya memiliki gambaran umum tentang ke mana sebuah tulisan akan diarahkan. Namun, selama proses menulis, metafora dapat muncul secara spontan, hubungan antara dua gagasan menjadi jelas, dan sebuah pengalaman yang sebelumnya kabur mulai menemukan bentuk.

Jika seseorang membandingkan apa yang ia kira akan ditulis dengan apa yang akhirnya benar-benar tertulis, menurut Pollan, hasilnya sering kali sangat berbeda.

Perbedaan tersebut bukan kegagalan dalam perencanaan, melainkan justru bukti bahwa proses menulis sedang bekerja sebagai proses berpikir.

Di situlah, menurut Pollan, salah satu kegembiraan terbesar menulis. Kita menemukan sesuatu ketika sedang menulis sesuatu. Kita mulai dengan pertanyaan, tetapi proses penulisan memungkinkan kita menemukan pertanyaan baru, jawaban baru, bahkan cara baru dalam melihat masalah.

Apa yang hilang jika menulis diserahkan kepada AI?

Pandangan tersebut membawa Pollan pada kekhawatiran terhadap kecenderungan menyerahkan proses menulis sepenuhnya kepada AI.

Jika sebuah mesin dapat menghasilkan makalah, artikel, atau tulisan dalam hitungan detik, memang pekerjaan menghasilkan teks menjadi jauh lebih mudah.

Pertanyaannya bukan hanya apakah AI mampu menghasilkan tulisan yang baik. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apa yang hilang ketika manusia tidak lagi menjalani proses menulis itu sendiri?

Menurut Pollan, yang mungkin hilang adalah proses berpikir. Ketika seseorang menulis, ia menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui, menguji gagasan, menemukan metafora, menyusun hubungan antargagasan, dan mengalami proses kreatif yang tidak sepenuhnya dapat direncanakan.

Jika seluruh proses tersebut digantikan mesin, manusia mungkin memperoleh teks yang lebih cepat, tetapi sekaligus kehilangan pengalaman menemukan sesuatu melalui proses menulis. Dalam pandangan Pollan, itu merupakan sesuatu yang terlalu berharga untuk begitu saja diserahkan kepada mesin.

Ia menghubungkan proses tersebut dengan seni lukis yang dilakukan istrinya. Sang pelukis, menurut Pollan, tidak selalu merencanakan seluruh karya sejak awal. Satu goresan melahirkan goresan berikutnya, sementara satu warna memunculkan kebutuhan terhadap warna lain.

Dengan demikian, kreativitas bukan hanya tentang mengeksekusi visi yang sudah sempurna di dalam kepala. Kreativitas juga merupakan proses penemuan, ketika tindakan kreatif itu sendiri menghasilkan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui oleh penciptanya.

Hal yang sama, menurut Pollan, kemungkinan berlaku bagi penulis, arsitek, komponis, pelukis, dan berbagai pekerja kreatif lainnya. Proses kreatif bersifat generatif karena tindakan mencipta menghasilkan gagasan baru yang tidak selalu tersedia sebelum proses tersebut dimulai.

Seni memperluas kesadaran

Gagasan tentang kreativitas kemudian berhubungan dengan pandangan Pollan mengenai seni dan kesadaran. Menurutnya, salah satu fungsi terpenting seni adalah memberikan manusia akses terhadap kesadaran orang lain, sesuatu yang pada dasarnya sangat sulit dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap manusia hidup dalam semacam pulau kesadaran masing-masing. Kita mengetahui bahwa orang lain memiliki pikiran, perasaan, ingatan, ketakutan, dan harapan, tetapi kita tidak pernah benar-benar dapat masuk ke dalam kesadaran mereka secara langsung.

Seni memberikan semacam jembatan. Melalui novel, misalnya, kita dapat mengetahui isi pikiran tokoh fiksi dengan kedalaman yang terkadang bahkan tidak kita miliki terhadap orang-orang yang sangat dekat dengan kita.

Bagi Pollan, karya sastra, lukisan, puisi, dan bentuk seni lainnya memungkinkan kita melihat dunia melalui perspektif kesadaran yang berbeda. Dengan demikian, seni bukan sekadar hiburan atau keindahan, tetapi juga cara memperluas kapasitas manusia untuk memahami pengalaman yang berbeda dari dirinya sendiri.

Semakin banyak kesadaran yang dapat kita akses melalui seni, semakin luas pula kesadaran kita sendiri. Karena itulah Pollan melihat hubungan yang penting antara ilmu pengetahuan dan humaniora ketika membicarakan kesadaran manusia.

Para novelis dan penyair, menurutnya, juga dapat dipandang sebagai “ahli kesadaran” karena mereka terus-menerus memperlihatkan kepada kita pengalaman batin manusia yang sulit dijelaskan hanya melalui data ilmiah.

Menulis tidak selalu harus mudah

Pada akhirnya, Pollan menyampaikan pesan yang sangat sederhana kepada penulis pemula: menulis memang sulit. Bahkan setelah puluhan tahun menjadi penulis profesional, ia masih merasakan kesulitan setiap kali duduk di depan layar kosong dan harus memulai kembali.

Ia membandingkan pengalaman tersebut dengan orang yang mengerjakan kayu atau memainkan alat musik.

Pada bidang tertentu, seseorang mungkin mencapai tahap ketika keterampilannya terasa hampir otomatis, sedangkan menulis tetap dapat terasa berat bahkan setelah dilakukan selama puluhan tahun.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya menganggap kesulitan sebagai bukti bahwa dirinya tidak berbakat. Kesulitan bukan berarti seseorang tidak cocok menjadi penulis, bukan pula tanda bahwa ia memilih bidang yang salah.

Pollan sendiri masih menggunakan berbagai cara kecil untuk memotivasi dirinya agar terus menghasilkan tulisan. Bahkan ia bercanda bahwa dirinya terkadang membuat permainan pribadi, seperti menentukan berapa banyak tulisan yang harus dihasilkan sebelum ia mengizinkan dirinya berhenti sejenak untuk mengambil camilan.

Sumber:

Pesannya sederhana, tetapi sangat relevan bagi siapa pun yang sedang belajar menulis: jangan mengira bahwa karena menulis terasa sulit, berarti Anda tidak ditakdirkan untuk menjadi penulis.

Kesulitan merupakan bagian dari proses. Bahkan mungkin, justru karena prosesnya sulit, seseorang dipaksa untuk berpikir lebih dalam, memperhatikan lebih tajam, mempertanyakan asumsi, dan menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui.

Bagi Michael Pollan, menulis bukan sekadar menghasilkan artikel, buku, atau kumpulan kalimat yang enak dibaca.

Menulis adalah cara manusia berpikir dengan lebih serius, mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, mengubah pertanyaan menjadi perjalanan, dan menemukan apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya sendiri.

Itulah alasan mengapa menulis tetap memiliki nilai yang tidak mudah digantikan mesin: ketika kita menulis, kita tidak hanya membuat sebuah teks—kita sedang menemukan diri kita sendiri di sepanjang prosesnya.