PELAKITA.ID – Bulan Juli menghadirkan dua momentum penting yang sesungguhnya saling bertaut. Hari Keluarga Nasional mengingatkan bahwa keluarga merupakan fondasi pembangunan bangsa, sementara Hari Mangrove Sedunia yang diperingati setiap 26 Juli mengajak kita menjaga benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dan kehidupan yang bergantung padanya.
Kedua peringatan tersebut tidak hanya berbicara tentang keluarga dan lingkungan secara terpisah. Di wilayah pesisir, keduanya justru bertemu dalam satu sosok yang sering kali luput dari perhatian: perempuan.
Pertanyaan yang kerap muncul adalah, mengapa perempuan selalu menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai perubahan iklim, pelestarian mangrove, ekonomi pesisir, hingga ketahanan keluarga?
Jawabannya sederhana. Karena perempuan berada di titik temu antara keluarga, ekonomi, dan lingkungan.
Di kawasan pesisir, perubahan iklim bukan lagi isu global yang hanya dibahas di ruang-ruang konferensi.
Dampaknya dirasakan setiap hari. Musim yang semakin sulit diprediksi membuat nelayan harus melaut lebih jauh dengan hasil yang belum tentu lebih baik. Abrasi perlahan menggerus garis pantai. Kualitas lingkungan yang menurun turut memengaruhi hasil tangkapan, budidaya, hingga ketersediaan pangan bagi keluarga.
Dalam situasi seperti itu, perempuan sering menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya sekaligus mencari jalan keluarnya.
Ketika hasil tangkapan menurun, seorang ibu berpikir bagaimana uang belanja tetap cukup hingga akhir bulan.
Ketika penghasilan keluarga berkurang, perempuan mencari cara agar ikan, udang, atau kepiting dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Ketika anak-anak tumbuh, perempuan pula yang pertama mengajarkan pentingnya menjaga laut, tidak membuang sampah sembarangan, dan menghargai alam sebagai sumber kehidupan.
Perempuan, dengan demikian, bukan hanya kelompok yang terdampak perubahan lingkungan, melainkan juga aktor utama yang membangun ketahanan keluarga dari tingkat paling dasar.
Di sisi lain, mangrove bekerja dengan cara yang hampir serupa. Keberadaannya sering kali tidak disadari, tetapi manfaatnya dirasakan setiap hari. Hutan mangrove melindungi pantai dari abrasi, menjadi tempat berkembang biak berbagai biota laut, menyimpan karbon dalam jumlah besar, sekaligus menopang mata pencaharian masyarakat pesisir.
Menjaga mangrove berarti menjaga sumber pangan, menjaga pendapatan masyarakat, sekaligus menjaga masa depan generasi berikutnya. Tema Hari Mangrove Sedunia 2026, “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang,” mengingatkan bahwa pelestarian mangrove bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan pesisir dan keluarga.
Karena itu, memperkuat perempuan dan menjaga mangrove sesungguhnya bukan dua agenda yang berbeda. Keduanya saling menguatkan.
Perempuan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan akses terhadap peluang ekonomi akan lebih mampu mengembangkan usaha berbasis sumber daya lokal secara berkelanjutan. Sebaliknya, ekosistem pesisir yang sehat memberi ruang bagi perempuan untuk terus berkarya, meningkatkan pendapatan keluarga, dan membangun kehidupan yang lebih sejahtera.
Pengalaman di pesisir Kalimantan Timur menunjukkan hubungan tersebut secara nyata.
Di Kampung Pegat Batumbuk, kelompok perempuan Poklahsar Kerja Sama Jaya yang dipimpin Ibu Riska Febriani memperoleh pelatihan pemanfaatan mangrove secara lestari, pengembangan usaha, hingga pengelolaan administrasi dan keuangan.
Kelompok ini juga berhasil mengolah limbah kepala udang menjadi camilan bernilai ekonomi, Uludang Crispy, yang kini menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Sementara itu, di Teluk Semanting, Kelompok Tenggiri yang diketuai Ibu Zuhainah mengolah lebih dari satu ton ikan setiap bulan menjadi amplang dan kerupuk dengan omzet mencapai lebih dari Rp45 juta per bulan. Capaian tersebut membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan mampu memperkuat ekonomi keluarga sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pesisir tidak cukup hanya diukur dari banyaknya infrastruktur yang dibangun atau meningkatnya produksi perikanan. Pembangunan yang sesungguhnya adalah pembangunan manusia.
Ketika berbicara tentang pembangunan manusia, perempuan tidak boleh lagi ditempatkan hanya sebagai pelengkap. Mereka perlu memperoleh ruang untuk belajar, mengembangkan keterampilan, memperluas jejaring, serta membangun kepercayaan diri sebagai penggerak perubahan di tengah tantangan perubahan iklim.
Perempuan yang berdaya akan melahirkan keluarga yang tangguh. Mangrove yang terjaga akan melahirkan pesisir yang tangguh. Ketika keduanya berjalan beriringan, kita bukan hanya menjaga alam, tetapi juga memastikan anak cucu kita tetap memiliki rumah, sumber penghidupan, dan harapan di masa depan.
Ada ungkapan yang selalu relevan untuk mengingatkan kita akan tanggung jawab tersebut: alam bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan anak cucu.
Karena itu, menjaga mangrove sejatinya adalah menjaga keluarga. Dan memberdayakan perempuan merupakan salah satu cara paling efektif untuk memastikan keduanya tetap lestari.
Momentum Hari Keluarga Nasional dan Hari Mangrove Sedunia hendaknya menjadi pengingat bahwa ketahanan pesisir dibangun melalui kolaborasi. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan warga memiliki peran yang sama pentingnya.
Kita dapat memulainya dari langkah sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, ikut menanam mangrove, serta membeli dan mempromosikan produk-produk hasil kelompok perempuan pesisir.
Langkah kecil hari ini akan menjadi investasi besar bagi masa depan pesisir Kalimantan Timur dan generasi yang akan datang.
Penulis: Andi Trisnawati, Eastkal Oceans Sustainable Practices Associate YKAN









