PELAKITA.ID – SIDENRENG RAPPANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin Kelurahan Majelling Wattang melaksanakan program edukasi kesehatan bertajuk GERCEP PHBS (Gerakan Ceria Cegah Diare dengan PHBS) di SDN 20 Pangkajene, Kelurahan Majjelling Wattang, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang, pada Kamis (23/7/2026) pukul 09.00 WITA.
Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi kelas IV sebagai upaya meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna mencegah diare.
Program GERCEP PHBS dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa KKN PK Universitas Hasanuddin dalam menjawab permasalahan kesehatan yang masih sering dijumpai pada anak usia sekolah.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan sebelum pelaksanaan program, masih ditemukan siswa yang belum menerapkan PHBS secara optimal, seperti belum terbiasa mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, membuang sampah tidak pada tempatnya, serta kurang memahami pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya diare, sehingga diperlukan upaya promotif yang mampu membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak dini.
Berbeda dengan penyuluhan konvensional, kegiatan ini mengusung konsep belajar sambil bermain (edutainment) dengan memanfaatkan media game edukasi sebagai strategi promosi kesehatan.

Pendekatan ini dipilih karena lebih sesuai dengan karakteristik anak sekolah dasar yang cenderung lebih mudah memahami materi melalui aktivitas yang interaktif, menyenangkan, dan melibatkan pengalaman secara langsung.
Melalui media permainan, pesan-pesan kesehatan tidak hanya disampaikan dalam bentuk ceramah, tetapi juga dikemas menjadi pengalaman belajar yang mampu meningkatkan partisipasi serta antusiasme siswa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal siswa mengenai PHBS dan diare.
Selanjutnya, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pengertian PHBS, penyebab diare, hubungan PHBS dengan pencegahan diare, pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta praktik enam langkah Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).
Materi kemudian diperkuat melalui berbagai permainan edukatif, seperti Tebak Gambar PHBS, Estafet Pilih Perilaku Sehat, dan Praktik CTPS. Setelah seluruh rangkaian selesai, siswa mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan setelah menerima edukasi.
Penanggung jawab kegiatan, Nur Hikmah, menyampaikan bahwa penggunaan media game merupakan salah satu inovasi promosi kesehatan agar pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh anak-anak.
“Anak-anak belajar lebih efektif ketika mereka merasa senang. Karena itu, kami mengemas materi PHBS melalui permainan edukatif sehingga mereka tidak hanya mendengar materi, tetapi juga aktif berpikir, berdiskusi, dan mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat. Harapannya, kebiasaan baik tersebut dapat diterapkan di sekolah maupun di rumah sebagai langkah sederhana untuk mencegah diare,” ujar Nur Hikmah.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti permainan, mempraktikkan enam langkah CTPS, serta berpartisipasi dalam diskusi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.
Suasana belajar yang menyenangkan membuat siswa lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat sekaligus memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak usia dini.
Program GERCEP PHBS merupakan wujud kontribusi mahasiswa KKN PK Universitas Hasanuddin dalam mendukung upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 3, yaitu Good Health and Well-being, melalui peningkatan literasi kesehatan dan pembentukan perilaku hidup bersih dan sehat pada anak usia sekolah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa SDN 20 Pangkajene mampu menerapkan PHBS secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, menjadi contoh bagi teman dan keluarga, serta berkontribusi dalam menurunkan risiko diare dan penyakit menular lainnya.
Dengan demikian, sekolah dapat menjadi lingkungan yang lebih sehat, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.









