Oleh: Muhd Nur Sangadji, Guru Besar Pertanian Universitas Tadulako Palu
PELAKITA.ID – Bagi saya, Piala Dunia 1978 di Argentina adalah lembaran nostalgia yang takkan pernah terlupakan (unforgettable). Saat itu, layar televisi di rumah paman tempat kami menumpang nonton bersama Bapak masih berwarna hitam putih.
Empat tahun berselang, pada Piala Dunia 1982 di Spanyol—tepat ketika saya baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di Universitas Tadulako—layar kaca sudah mulai berwarna-warni. Di edisi itu, Italia keluar sebagai juara setelah menumbangkan Jerman Barat dengan skor 3-1.
Piala Dunia di Spanyol tersebut seolah menjadi pembuka jalan takdir. Pada tahun 1996, saya berkesempatan menginjakkan kaki langsung di kemegahan Stadion Barcelona.
Dari sana, saya berjalan menuju Pantai Catalunya, tempat berdiri tegaknya patung Christopher Columbus setinggi 50-an meter.
Jari telunjuk patung Columbus itu menunjuk ke sebuah arah yang sangat akrab di telinga kita: Indonesia. Lebih spesifik lagi, ia menunjuk ke arah Maluku Utara, negeri asal rempah cengkih dan pala yang menjadi impian penjelajahan dunia masa lalu.
Ikatan Emosional dan Identitas Oranye
Ada hal yang unik jika mengingat Piala Dunia 1978. Kala itu, saya menjatuhkan pilihan untuk mendukung Belanda. Mengapa? Alasannya sederhana dan mungkin sedikit kekanakan: saya menyukai seragam oranye mereka.
Bisa jadi, itu karena masa kecil saya dihabiskan di sebuah benteng peninggalan kolonial bernama “Benteng Orange”. Namun secara rasional, saya memang kepincut dengan gaya permainan Total Football tim Negeri Kincir Angin tersebut.
Kecintaan pada warna oranye ini terbawa hingga dekade 1990-an ketika saya aktif membentuk dua tim sepak bola. Pertama, tim Perkebunan Sawit Tamaco Graha Krida, dan kedua, tim Faperta Universitas Tadulako yang kami namakan Persidokar (Dosen dan Karyawan).
Di kedua tim ini, saya selalu memakai jersi nomor punggung 10. Rekan-rekan kemudian menggelari saya “Van Basten”—sang penyerang top Belanda kala itu. Tentu saja, sebuah pujian yang tidak mungkin saya tolak sambil tersenyum.
Peta dukungan saya terus bergeser seiring perjalanan hidup. Setelah berkesempatan sekolah ke Prancis pada tahun 1994, hati saya bertaut pada tim Les Bleus.
Ketika Prancis mengangkat trofi juara pada 1998, ada rasa bangga yang sangat emosional membuncah di dada. Ikatan emosional ini sama halnya dengan dukungan mutlak saya untuk Indonesia.
Sebagai putra yang lahir di Mareku, Tidore, nasionalisme saya adalah harga mati. Tidore adalah Indonesia, berdiri tegak setelah Sultannya memilih bergabung dengan Republik ketimbang opsi menjadi negara bagian Belanda (l’outre-mer).
Romantisme Sejarah dan Misteri Dukungan
Kini, setelah Prancis sempat terjungkal, hati saya berpaling ke Spanyol. Mengapa Spanyol? Kembali lagi, tanah kelahiran saya di Mareku, Tidore, memiliki talian sejarah yang kuat dengan negara matador tersebut sejak 500 tahun silam.
Tidore adalah destinasi impian yang gagal dicapai oleh Columbus, namun berhasil diinjak oleh penerusnya. Jadi, dukungan saya kepada Spanyol hari ini melampaui urusan kualitas tim di lapangan; ini adalah urusan sejarah dan emosi yang mendalam.
Dari perjalanan ini, saya menyadari bahwa latar belakang dukungan setiap individu dalam sepak bola sangatlah variatif. Namun, ada satu teka-teki yang hingga kini belum terjawab di benak saya: mengapa pada tahun 1978 saya tidak pernah tergerak untuk mendukung Argentina? Bahkan hingga detik ini, hati saya bergeming untuk tim Tango.
Banyak orang mencibir pilihan saya memilih Belanda yang notabene adalah bekas penjajah negara kita. Namun, provokasi masa lalu itu entah mengapa tidak mempan bagi saya.
Padahal, jika bicara kekaguman, saya adalah pemuja bakat sang maestro Diego Armando Maradona.
Sejak ia memimpin tim junior Argentina bertanding melawan PSSI di Jepang—di mana Indonesia dicukur 5-0—saya sudah angkat topi pada kejeniusannya. Tapi kekaguman pada persona, rupanya belum tentu menjelma menjadi dukungan pada tim nasionalnya.
Refleksi: Dari Lapangan Hijau ke Kotak Suara
Pada akhirnya, di dalam hati setiap manusia, akan selalu ada pertarungan antara dukungan yang rasional dan emosional. Sepanjang kompetisi sepak bola berlangsung secara jujur (fair), maka kualitas-lah yang akan keluar sebagai pemenang, selebihnya adalah faktor keberuntungan (lucky).
Di panggung Piala Dunia, mustahil terjadi transaksi instan seperti yang kerap kita saksikan dalam pemilu di tanah air. Tidak mungkin ada satu negara petarung yang mampu menyogok seluruh penduduk bumi untuk berpihak pada mereka.
Kalaupun ada celah rekayasa, hal itu biasanya hanya mungkin terjadi lewat bias organisasi penyelenggara atau human error dari sang pengadil lapangan (wasit).
Hal ini memicu imajinasi saya. Jika suatu saat nanti posisi wasit sepak bola digantikan oleh robot otomatis yang bebas dari kesalahan manusia, maka dunia akan melahirkan juara Piala Dunia yang diakui seantero bumi tanpa menyisakan kecurigaan.
Jika analogi itu ditarik ke dalam ranah bernegara, alangkah indahnya jika sistem yang adil dan transparan tersebut mampu melahirkan pemimpin hebat bagi bangsa kita.
Pemimpin unggul dambaan rakyat; bukan pemimpin yang gemar menimbun kekayaan hingga triliunan rupiah atau puluhan kilogram emas batangan.
Bukan pula pemimpin yang memanipulasi anggaran hingga membeli kipas angin seharga 11 juta rupiah per buah—yang seharusnya bisa dibeli dengan harga 200 ribu saja. Singkatnya, pemimpin yang perilakunya tidak memalukan dan menjijikkan di mata publik.
Pemimpin ideal itu hanya bisa lahir dari proses pemilu yang memiliki kredibilitas tinggi. Barangkali, sudah saatnya kita bersandar penuh pada bantuan teknologi elektronik atau komputer (electronic election / e-voting).
Biarlah teknologi bertindak sebagai “wasit robot” yang netral, presisi, dan keputusannya mampu memberikan kepuasan serta rasa keadilan bagi semua orang.
Wallahu a’lam bi syawab.









