Menemukan “Senjata” Tersembunyi di Indonesia Timur
PELAKITA.ID – Ada sebuah anomali yang mengusik nurani akademik kita. Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa (Prof JJ), baru-baru ini menyajikan data yang cukup menyesakkan: jumlah penduduk Indonesia yang menempuh pendidikan pascasarjana belum menyentuh angka 1 persen—tepatnya hanya sekitar 0,5 persen.
Sebagai perbandingan, tetangga terdekat kita, Thailand dan Malaysia, sudah berada di angka 2,5 persen dan 2,43 persen. Namun, bagi seorang analis, angka yang lebih mengkhawatirkan adalah “kepadatan peneliti.”
Standar UNESCO menunjukkan Amerika Serikat memiliki 485 peneliti per satu juta penduduk, dan Korea Selatan melesat dengan 9.000 peneliti. Indonesia? Kita masih tertatih di angka 110–120 peneliti per satu juta penduduk. Ketimpangan ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi kedaulatan inovasi kita.
Mengutip adagium Nelson Mandela, pendidikan adalah “senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Di tengah urgensi untuk berhenti menjadi sekadar konsumen teknologi dan beralih menjadi kreator solusi, Program Doktor Studi Pembangunan (PDSP) Universitas Hasanuddin hadir bukan sekadar sebagai pelengkap prestise, melainkan jawaban strategis dari beranda timur Indonesia.
Mengambil Ceruk “Local Development”: Sebuah Diferensiasi Intelektual
Di peta pendidikan tinggi kita, PDSP Unhas telah mengukir teritori intelektual yang distingtif. Jika Universitas Gadjah Mada (UGM) menitikberatkan pada pembangunan ekonomi, Universitas Sumatera Utara (USU) pada dimensi sosial, dan Universitas Andalas (Unand) pada aspek keberlanjutan, Unhas secara berani mengambil spesialisasi pada Local Development (Pembangunan Daerah).
Pilihan ini bukan tanpa alasan. Program ini didirikan oleh para pemikir kaliber seperti Prof. Ir. M. Saleh S. Ali, M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Imam Mujahidin Fahmid, dan Prof. Dr. Ir. Darmawan Salman, yang menyadari bahwa perencanaan nasional sering kali kehilangan relevansinya saat bersentuhan dengan realitas akar rumput di daerah.
“Inilah yang menjadi ciri khas kita dibandingkan dengan kampus lainnya,” tegas Prof. Saleh S. Ali. Orientasi pada pembangunan lokal ini memastikan bahwa teori-teori yang lahir tidak hanya berhenti di awang-awang, tetapi membumi pada kebutuhan spesifik wilayah.
Laboratorium BMI: Membedah Pembangunan di Ekosistem Maritim
Salah satu daya tarik utama PDSP Unhas adalah visi “Benua Maritim Indonesia” (BMI). Bagi peneliti di sini, BMI bukan sekadar istilah geografis, melainkan sebuah laboratorium riset yang kompleks. BMI dipandang sebagai kesatuan utuh antara darat, laut, dan udara yang membentuk karakter geo-klimatologis, infrastruktur, hingga sosial-kultural yang unik.
Analisis pembangunan di sini menuntut pendekatan inter-, multi-, dan transdisiplin. Mahasiswa diajak untuk mengevaluasi narasi pembangunan global dan mensintesisnya agar sesuai dengan dimensi kemajemukan budaya serta karakteristik lingkungan strategis BMI.
Di sinilah letak tantangannya: melahirkan paradigma pembangunan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan megatren global, namun tetap berakar pada kearifan lokal maritim.
Fleksibilitas “Jalur Riset” dan Modernitas Pedagogi
Memahami profil kandidat doktor yang sering kali merupakan praktisi senior atau peneliti berpengalaman, PDSP Unhas mengadopsi struktur kurikulum yang fleksibel namun tetap rigor. Terdapat dua jalur utama yang ditawarkan:
Jalur Kuliah: Menitikberatkan pada penguatan fondasi teori dan metodologi sebelum melangkah ke disertasi (total 62 SKS).
Jalur Riset: Opsi prestisius bagi mereka dengan rekam jejak riset yang solid. Sejak awal, fokus langsung diarahkan pada seminar, publikasi jurnal internasional bereputasi, dan pengerjaan disertasi.
Penerapan metode Student-Centered Learning (SCL) dan Project-Based Assessment memastikan bahwa proses belajar bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah, melainkan kolaborasi intelektual untuk memecahkan studi kasus nyata. Dengan masa studi minimal 5 semester, program ini menawarkan efisiensi tanpa mengorbankan kedalaman akademik.
Kualitas Global: 22 Profesor di Balik Capaian Top 1000 Dunia
Prestasi Unhas yang berhasil menembus daftar 1000 universitas terbaik dunia dalam Global Ranking Index (WUR) lebih cepat dari target nasional tahun 2030 adalah bukti nyata sebuah akselerasi kualitas. PDSP sendiri telah mengantongi akreditasi “Baik Sekali”, didukung oleh 27 dosen tetap yang merupakan peneliti aktif di kancah internasional.
Fenomena menariknya adalah dominasi kepakaran: 22 dari 27 dosen tersebut adalah Guru Besar (Profesor). Kedalaman spektrum keilmuan yang mereka bawa meliputi:
- Sosiologi Pembangunan dan Ekonomi Pertanian.
- Ilmu Maritim seperti Ilmu Kelautan dan Perikanan, Pariwisata, ESDM, Ilmu Transportasi hingga Perencanaan Wilayah.
- Arsitektur, Tata Ruang, dan Ekologi Tanaman.
- Kesehatan Lingkungan dan Analisis Kebijakan.
Riset Sebagai Solusi: Dari Eselon Singapura hingga Tragedi Masker
Prof JJ sering mengingatkan sebuah fakta pahit: saat pandemi COVID-19 menyerang, Indonesia yang berpenduduk lebih dari 270 juta jiwa harus mengimpor masker dari China. Ini adalah “tamparan” bagi dunia riset kita.
Oleh karena itu, riset di PDSP Unhas ditekankan untuk melahirkan science and evidence-based policy—kebijakan yang berbasis data, bukan sekadar intuisi birokrasi.
Pelajaran berharga bisa kita ambil dari Singapura, di mana hampir 100 persen birokrat eselon 2 mereka memegang gelar doktor. Mengapa? Karena kemampuan analisis tingkat tinggi diperlukan untuk menjalankan pemerintahan yang efisien dan inovatif.
Hakikat Philosophy of Doctorate (PhD) di Unhas bukan sekadar label, melainkan ukuran kemandirian kerja (independent work) untuk menghasilkan inovasi yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Menjadi Arsitek Perubahan dari Beranda Timur
Transformasi nyata dari program ini telah terlihat pada lulusan pertamanya, Dr. Wahyudi, yang lulus dengan predikat cum laude.
Disertasinya mengenai relasi aktor dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah pada sektor pertanian membuktikan bahwa studi ini mampu menjembatani celah antara kebijakan pusat dan implementasi lokal.

Indonesia membutuhkan lebih banyak pemikir yang tidak hanya jago berteori di jurnal, tetapi mampu mengonstruksi solusi bagi masyarakat dan industri. Pertanyaan bagi kita sekarang adalah: Apakah Anda akan tetap menjadi penonton dalam narasi besar transformasi bangsa ini, atau bersiap mengambil “senjata” ilmu pengetahuan untuk memimpin perubahan dari daerah?
Bagi para pemikir yang siap menginvestasikan pengetahuan bagi masa depan, pintu menuju keunggulan akademik ini terbuka melalui situs resmi Sekolah Pascasarjana Unhas di http://pasca.unhas.ac.id. Saatnya berkontribusi nyata bagi kemandirian teknologi dan pembangunan Benua Maritim Indonesia.
Redaksi









