Maka kita menyadari bahwa segala yang pagi dan siang, akan kembali ke malam. Meski begitu, jangan berkecil hati sebab di hari-hari ke depan, kita coba menolak bersangkar malang, tersungkur dan tersingkir.
PELAKITA.ID – Memulai malam hari ini, sahabat saya, Ilham Anwar, mengirimkan sebuah puisi karya Ana Mustamin. Temanya tentang laut. Saya akan bagikan di bagian akhir tulisan ini.
Sapaan Ilo – begitu saya memanggil pria yang juga doyan teater itu malam ini. Puisi yang dikirim itu tidak panjang. Tidak berusaha tampil rumit, tidak pula dibuat agar viral atau terlihat cerdas.
Ada sesuatu yang jujur di dalamnya yang membuat saya berhenti sejenak. Terkenang berlarik-larik puisi yang lahir dari dermaga, teluk dan perjalanan di sejumlah titik Nusantara. Tahun 2000-an awal saya menulis puisi di Meualaboh, di Nias, di Simeulue hingga Pulo Aceh.
Di tahun 2010-an saat aktif-aktifnya berjalan ke ceruk Sulawesi hingga Papua, sejumlah puisi bunting dari perjumpaan dengan orang-orang, pejalan dan petualang.
Ini salah satu contoh sajak yang kutulis di Ba’a Rote, Nusa Tenggara Timur
Jelang Malam di Rote
Senja di Ba’a, Rote
Maka kita menyadari bahwa segala yang pagi dan siang, akan kembali ke malam.
Meski begitu, jangan berkecil hati sebab di hari-hari ke depan,
kita coba menolak bersangkar malang, tersungkur dan tersingkir.
Hei Pelaut! Berikhtiarlah dalam derap semangat tak padam,
sebab benam dalam pusaran kekisah lampau hanya menyita bahagiamu di tepian waktu.
Begitulah. Ada yang memang tak lagi kulakukan sejak dua hingga lima tahun terakhir.
Karena pesan Ilo itu, untuk beberapa saat, saya berhenti menggulir layar. Saya berhenti melompat dari satu notifikasi ke notifikasi lain. Saya berhenti menjadi konsumen informasi dan mulai benar-benar membaca.
Lalu sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya: mengapa kita tidak lagi menulis puisi?
Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: kapan kita berhenti merasa perlu menulis puisi?
Saya menyadari, ada sesuatu yang sedang berubah.
Ada masa ketika menulis puisi merupakan respons yang alami terhadap kehidupan.
Orang menulis puisi ketika jatuh cinta, ketika patah hati, ketika merasa kesepian, ketika menyaksikan ketidakadilan, atau ketika sekadar ingin memahami dunia yang sedang mereka jalani. Puisi bukan sekadar karya sastra. Ia adalah cara untuk memberi perhatian pada kehidupan.
Hari ini, perhatian kita telah terpecah ke mana-mana.
Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena kita semakin jarang membaca buku.
Puisi jarang tumbuh di tanah yang tandus secara intelektual. Ia tumbuh dari percakapan dengan gagasan-gagasan lain, dengan para penulis lain, dengan imajinasi yang lebih luas.
Membaca novel, esai, sejarah, filsafat, maupun puisi itu sendiri memperkaya kosakata emosional kita. Tanpa kebiasaan membaca, dunia batin kita perlahan menyempit. Kita masih memiliki perasaan, tetapi kehilangan bahasa untuk menerjemahkan perasaan itu menjadi ungkapan yang bermakna.
Bagi saya, puisi mestinya bisa lahir dari membaca buku, jika tak bisa, menulislah setelah membaca realitas.
Kemungkinan lain, kita terjebak dalam jenis percakapan yang salah.
Coba hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan di grup WhatsApp setiap hari.
Ratusan pesan masuk silih berganti. Sebagian besar bersifat fungsional, berulang, dan mudah dilupakan. Percakapan sering kali berkisar pada urusan rutin, perdebatan politik yang tak berujung, pesan berantai, atau komentar-komentar singkat yang tidak meninggalkan bekas.
Apa yang kita dapat dari situ? Kepala yang semakin ditumbuhi belukar masalah atau mata yang melihat masa depan terang benderang?
Kita berkomunikasi lebih banyak daripada generasi sebelumnya, tetapi mungkin kita semakin jarang benar-benar bercakap-cakap.
Puisi membutuhkan kedalaman, sementara sebagian besar komunikasi digital hari ini justru menghargai kecepatan.
Media sosial juga tampaknya memiliki peran besar.
Platform-platform digital dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna, bukan untuk mendorong perenungan. Ia mendorong reaksi cepat, bukan refleksi yang mendalam.
Puisi mengajak kita melambat. Media sosial justru meminta kita terus bergerak. Puisi menghargai jeda di antara kata-kata, sedangkan media sosial seolah takut pada keheningan dan selalu mengisinya dengan konten baru.
Akibatnya, pikiran kita terbiasa dengan rangsangan yang terus-menerus, bukan dengan perenungan.
Ada alasan lain yang mungkin tidak terlalu tampak.
Kehidupan modern semakin transaksional. Kita terbiasa menilai hampir segala sesuatu berdasarkan hasil yang bisa diukur. Berapa jumlah suka? Berapa banyak tayangan? Berapa banyak pengikut? Berapa besar keuntungan?
Dalam logika seperti itu, puisi terlihat tidak produktif. Sebuah puisi bisa mengubah hidup seseorang tanpa pernah menjadi viral.
Sebuah puisi bisa menemani seseorang melewati masa-masa sulit tanpa menghasilkan satu rupiah pun. Di tengah budaya yang terobsesi pada angka, puisi sering dianggap tidak memiliki nilai praktis.
Padahal, sebagian pengalaman manusia yang paling bermakna justru tidak dapat diukur.
Mungkin kita juga kehilangan kemampuan untuk merasa bosan.
Generasi sebelumnya memiliki banyak waktu untuk berjalan kaki, duduk diam, menunggu, mengamati, atau sekadar melamun.
Ruang-ruang kosong seperti itulah yang sering menjadi lahan subur bagi kreativitas. Hari ini, setiap waktu menunggu langsung diisi oleh layar ponsel. Setiap jeda segera dipenuhi konten. Kita tidak lagi memberi kesempatan kepada pikiran untuk mengembara.
Padahal, puisi sering lahir dari pikiran yang mengembara, dari hubungan-hubungan tak terduga yang muncul ketika pikiran diberi ruang untuk bernapas.
Ada pula persoalan kebisingan dan huru-hara angan dan ingin.
Kita hidup di tengah banjir opini. Semua orang berbicara. Semua orang berkomentar.
Semua orang ingin didengar. Dunia digital membuat ekspresi menjadi lebih mudah daripada sebelumnya, tetapi pada saat yang sama membuat kemampuan mendengar menjadi semakin langka.
Padahal dengan puisi, selalu berawal dari kemampuan mendengar—mendengar diri sendiri, mendengar orang lain, mendengar alam, mendengar kenangan, dan mendengar emosi-emosi halus yang sering gagal ditangkap oleh bahasa sehari-hari.
Mungkin kehilangan terbesar bukanlah karena kita semakin jarang menulis puisi atau curahan hati nan jujur. Kehilangan yang lebih besar adalah karena kita perlahan menjadi kurang puitis dalam menjalani kehidupan dan semua tentang ambisi.
Orang yang puitis adalah orang yang memperhatikan. Ia melihat perubahan warna langit sebelum hujan turun. Ia menangkap kesepian seorang lelaki tua yang duduk sendiri di warung kopi. Ia mendengar suara anak-anak bermain di lorong sempit.
Ia mengagumi keteguhan pohon yang tumbuh di sela-sela beton. Puisi bukan hanya bentuk tulisan. Puisi adalah cara memandang dunia.
Saya kira, itulah yang diingatkan Ilham melalui puisinya sore ini.
Bukan bahwa puisi telah hilang sepenuhnya. Puisi masih ada. Orang masih menulisnya. Sebagian masih membacanya. Namun keberadaannya terasa semakin langka di tengah dunia yang dirancang untuk menghargai kecepatan, gangguan, dan perhatian yang terus berpindah-pindah.
Saya menyadari, ada sesuatu yang sedang berubah. Di suasana kekinian kita hari ini, perhatian mungkin telah menjadi salah satu hal yang paling langka.
___
Ini pesan dan kutipan kiriman Ilham Anwar itu. Sepertinya yang menulis saya kenal, Ana Mustamin.
Mengawinkan 2 Dunia
postingan ini terpicu oleh percakapan saya di WA dengan pak Achmad Fachrodji, kepala Balai Pustaka – seorang dengan latar belakang akademik sebagai rimbawan yang juga menyukai dunia sastra.
dulu, ketika saya masih di industri keuangan, saya suka sekali menulis puisi dengan subjek keuangan, mulai dari perbankan, asuransi, hingga pasar modal. sampai suatu ketika seorang sahabat penyair menyarankan agar saya me-launch buku antologi puisi di bursa efek. saran yang unik, tapi belum kesampaian. 😀
sekarang, ketika saya bekerja di laut – di atas laut atau di bawah laut, tergoda lagi menulis puisi dari dunia yang tampaknya tidak bersenyawa dengan sastra.
puisi berikut terinspirasi dari pekerjaan salvage – mengangkat bangkai kapal dari dasar samudra. akhir tahun lalu, perusahaan salvage saya beroperasi di bengkulu, dan berhasil mengangkat kapal tenggelam.
ini puisinya 👇, semoga bisa dinikmati.
—-
MENGANGKAT KAPAL YANG TENGGELAM
mereka bilang ini salvage
aku bilang ini mencuri dari kuburan airkami turunkan kait bukan ke lambung kapal
tapi ke almanak. mencari hari selasa
yang ia tenggelamkan membawa seluruh daftar namadi dasar, waktu jadi rumput laut
lampu kapal masih menyala
menyinari ikan-ikan yang sedang membaca surat
yang tak pernah sampai ke darattali baja kami tarik
yang naik bukan besi karatan
tapi kamar nomor 7, utuh
dengan koper yang isinya masih kalender juni
dan dua cangkir kopi yang belum dingindi geladak, awak kapal tidak bersorak
karena dari lambung yang retak itu
keluar suara: kaset rekaman terakhir,
seorang nahkoda bilang, “maafkan aku”
berulang-ulang, sampai jadi ombakkami tidak dapat besi tua
kami dapat satu ton penyesalan basah
dan jangkar yang ternyata adalah
jari-jari yang saling menggenggamkantor puas, “tonase sesuai kontrak.”
aku pulang membawa helm selam
yang di dalamnya masih ada
gema detak jantung orang asing
dan selembar tiket kapal
dengan namaku sendiri2026









