Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Prof. Dr. Baru Sadarun, S.Pi., M.Si. Akademisi bidang perikanan dan kelautan ini tercatat sebagai kandidat dengan nilai kekayaan tertinggi berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN).
PELAKITA.ID – Pemilihan Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan kampus.
Di balik proses tersebut, tersimpan pertarungan gagasan tentang masa depan perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tenggara yang selama lebih dari empat dekade menjadi pusat pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat di kawasan timur Indonesia.
Dari sebelas akademisi yang mendaftar, Senat UHO menetapkan sepuluh nama yang lolos verifikasi dan berhak melanjutkan ke tahapan berikutnya.
Mereka datang dari latar belakang yang beragam: perikanan, farmasi, pendidikan, pertanian, kedokteran, kesehatan masyarakat, hukum, hingga sains murni.
Keragaman ini mencerminkan wajah UHO sebagai universitas multidisiplin yang tengah mencari arah baru di tengah tantangan globalisasi pendidikan tinggi.
Di antara para kandidat, terdapat figur-figur yang telah lama mengisi posisi strategis dalam birokrasi kampus, namun ada pula wajah-wajah baru yang mencoba menawarkan perspektif berbeda untuk membawa UHO melangkah lebih jauh.
Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Prof. Dr. Baru Sadarun, S.Pi., M.Si. Akademisi bidang perikanan dan kelautan ini tercatat sebagai kandidat dengan nilai kekayaan tertinggi berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN).

Lebih dari sekadar angka, Prof Baru dikenal sebagai akademisi yang lama bergelut dalam pengembangan sumber daya kelautan dan perikanan, sektor yang sangat relevan dengan karakter Sulawesi Tenggara sebagai provinsi kepulauan. Kehadirannya dalam kontestasi ini membawa harapan akan penguatan orientasi maritim dalam pembangunan kampus.
Nama lain yang banyak diperbincangkan adalah Prof. Dr. Ruslin, M.Si., Dekan Fakultas Farmasi UHO yang dikenal memiliki rekam jejak akademik dan manajerial yang kuat. Lahir dan tumbuh dalam lingkungan akademik UHO, Ruslin meniti karier dari mahasiswa hingga menjadi salah satu pimpinan fakultas.
Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya hilirisasi riset, internasionalisasi kampus, serta pengembangan sumber-sumber pendanaan di luar uang kuliah tunggal (UKT).
Gagasan tersebut dianggap relevan dengan tantangan perguruan tinggi modern yang dituntut semakin mandiri secara finansial tanpa mengurangi kualitas layanan pendidikan.
Dari rumpun ilmu pendidikan, muncul Prof. Dr. Edy Karno, M.Pd. yang dikenal sebagai salah satu figur senior dalam dinamika internal kampus.
Pengalamannya yang panjang dalam dunia pendidikan memberikan modal penting dalam memahami persoalan pembelajaran, pengembangan kurikulum, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam kontestasi seperti Pilrek, pengalaman panjang sering kali menjadi nilai tambah tersendiri, terutama ketika kampus membutuhkan stabilitas sekaligus transformasi.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. H. Takdir Saili, M.Si. hadir mewakili kelompok akademisi bidang pertanian. Namanya bukan sosok baru dalam percaturan kepemimpinan UHO.
Dengan pengalaman panjang dalam berbagai posisi akademik dan kelembagaan, Takdir Saili membawa perspektif yang dekat dengan isu ketahanan pangan, pembangunan daerah, dan penguatan riset terapan.
Dalam konteks Sulawesi Tenggara yang masih bertumpu pada sektor agraria dan sumber daya alam, pendekatan semacam ini memiliki relevansi yang kuat.

Dari Fakultas Kedokteran, terdapat Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande, M.Si. yang menjadi salah satu wajah baru dalam kontestasi kali ini. Kehadirannya menunjukkan semakin besarnya peran akademisi bidang kesehatan dalam percaturan kepemimpinan perguruan tinggi.
Pengalaman di bidang pendidikan kedokteran dan kesehatan menjadi modal yang dapat mendorong penguatan kualitas akademik sekaligus peningkatan layanan profesional kampus.
Di sisi lain, Prof. Dr. Yusuf Sabilu, M.Si. membawa warna dari disiplin kesehatan masyarakat.
Sebagai guru besar yang telah lama berkiprah di lingkungan UHO, ia dikenal memiliki pengalaman dalam pengembangan kebijakan berbasis bukti serta isu-isu pembangunan sumber daya manusia.
Perspektif kesehatan masyarakat sering kali melampaui urusan medis semata, tetapi juga menyentuh tata kelola, kualitas hidup, dan pembangunan sosial yang berkelanjutan.
Jika ada satu nama yang dianggap memiliki posisi strategis dalam kontestasi ini, maka sosok tersebut adalah Dr. Herman, S.H., LL.M. Akademisi hukum ini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni sekaligus pernah mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UHO.
Pengalamannya dalam birokrasi kampus menjadikannya salah satu kandidat yang diperhitungkan. Latar belakang hukum yang dimilikinya juga memberi keunggulan dalam memahami aspek tata kelola, regulasi, serta hubungan kelembagaan yang menjadi bagian penting dalam pengelolaan universitas modern.
Dari rumpun ilmu dasar, hadir Prof. Dr. Ida Usman, S.Si., M.Si. yang mewakili kalangan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).
Kehadirannya memperlihatkan semakin besarnya peran ilmuwan sains dalam percaturan kepemimpinan perguruan tinggi. Dengan latar belakang penelitian dan pengembangan ilmu dasar, Ida Usman membawa perspektif yang dekat dengan penguatan publikasi ilmiah, riset fundamental, dan peningkatan reputasi akademik universitas.
Nama berikutnya adalah Dr. Muliddin, S.Si., M.Si., salah satu kandidat yang menarik perhatian karena berasal dari kalangan non-guru besar.
Di tengah dominasi profesor dalam bursa Pilrek, kehadiran Muliddin menunjukkan bahwa ruang kompetisi masih terbuka bagi akademisi yang menawarkan energi baru dan perspektif berbeda. Berasal dari rumpun sains, ia mewakili generasi akademisi yang relatif lebih muda dibanding sebagian kandidat lainnya.
Sementara itu, Prof. Ma’ruf Kasim, S.Pi., M.Si., Ph.D. melengkapi daftar kandidat dari bidang perikanan dan kelautan. Gelar doktor yang diperolehnya dari luar negeri menjadi salah satu modal penting dalam memperluas jejaring internasional kampus.
Di era ketika perguruan tinggi dituntut memperkuat kolaborasi global, pengalaman akademik internasional menjadi nilai strategis yang tidak bisa diabaikan.
Pilrek UHO 2026 pada akhirnya bukan sekadar kompetisi antarindividu. Di balik nama-nama yang tampil, tersimpan pertarungan berbagai paradigma tentang masa depan universitas.
Ada yang menawarkan penguatan riset dan inovasi, ada yang menekankan tata kelola dan birokrasi, ada yang berbicara tentang internasionalisasi, dan ada pula yang menyoroti pentingnya kontribusi kampus terhadap pembangunan daerah.
Tantangan yang menunggu rektor terpilih tidaklah ringan. Perguruan tinggi saat ini menghadapi tuntutan peningkatan kualitas akademik, publikasi internasional, akreditasi, transformasi digital, hingga pencarian sumber pendanaan baru di luar UKT. Di saat yang sama, kampus juga dituntut tetap relevan bagi masyarakat dan mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah.
Pemilihan rektor bukan hanya soal siapa yang akan memimpin UHO selama lima tahun ke depan.
Lebih dari itu, ia adalah momentum untuk menentukan arah perjalanan universitas: apakah akan menjadi kampus yang lebih kompetitif secara nasional, lebih berpengaruh di kawasan timur Indonesia, atau bahkan mampu menempatkan diri dalam peta perguruan tinggi internasional.
Sepuluh kandidat telah berada di garis start. Kini, komunitas akademik UHO menanti satu hal yang paling penting: siapa yang memiliki visi paling kuat untuk membawa universitas ini melangkah ke masa depan
Redaksi









