‘Abusive Behaviour’ Taufik Hidayat dan Jejak Serupa yang Dicatat Sejarah Kriminalitas

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI

David Parker Ray. Ray membangun ruang penyiksaan khusus di sebuah trailer kedap suara. Ia menculik dan menyiksa perempuan selama bertahun-tahun. Banyak korban diduga tidak pernah ditemukan. Kasusnya menjadi terkenal karena metode penyiksaan yang direncanakan secara sistematis dan penggunaan obat-obatan untuk membuat korban kehilangan ingatan.*)

PELAKITA.ID – Kasus Taufik Hidayat di Bandung yang menyekap pacar dan menyiksanya  memunculkan pertanyaan yang sering muncul dalam kajian kriminologi.

“Bagaimana seseorang bisa melakukan kekerasan berkepanjangan terhadap orang lain tanpa empati, bahkan dalam durasi yang lama dan berulang?”

Dalam sejarah kriminal dunia, ada sejumlah kasus yang dianggap berada jauh di luar batas kekerasan “normal” karena melibatkan kombinasi penyekapan, penyiksaan sistematis, dehumanisasi korban, dan dalam beberapa kasus pembunuhan.

Petugas menggiring tersangka kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat Taufik Hidayat (tengah) setibanya di Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Selasa (23/6/2026). Polda Jabar menangkap Taufik Hidayat yang berstatus daftar pencarian orang di Kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung yang selanjutnya akan diperiksa atas kasus penyekapan dan penganiayaan berat terhadap seorang wanita berinisial YTR selama tiga tahun. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nym.(RAISAN AL FARISI)

Berikut beberapa kasus yang sering dijadikan rujukan dalam studi kriminal, psikologi, dan viktimologi.

1. Kasus Junko Furuta (Jepang, 1988)

Junko Furuta. Sering disebut sebagai salah satu kasus penyiksaan paling brutal dalam sejarah kriminal modern Jepang. Junko, siswi SMA berusia 17 tahun, diculik dan disekap selama sekitar 40 hari.

Selama masa penyekapan, ia mengalami penyiksaan fisik dan seksual berulang sebelum akhirnya meninggal akibat luka-luka yang sangat parah.

Tubuhnya kemudian disembunyikan dalam drum berisi beton. Kasus ini mengguncang Jepang dan masih dikenang hingga kini karena tingkat kebrutalannya.

2. Kasus Ariel Castro (Amerika Serikat, 2002–2013)

Ariel Castro. Castro menculik tiga perempuan muda dan menahan mereka di rumahnya di Cleveland selama hampir satu dekade. Para korban mengalami kekerasan fisik, seksual, dan psikologis secara berulang.

Mereka baru berhasil diselamatkan setelah salah satu korban berhasil melarikan diri dan meminta bantuan tetangga. Kasus ini menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang penyekapan jangka panjang di era modern.

3. Kasus Josef Fritzl (Austria, 1984–2008)

Josef Fritzl. Fritzl menyekap putrinya sendiri di ruang bawah tanah rumahnya selama 24 tahun. Selama masa tersebut ia melakukan kekerasan seksual berulang dan memiliki beberapa anak dari korban. Salah satu anak meninggal karena kelalaian.

Ketika kasus ini terungkap pada 2008, dunia internasional terkejut karena kejahatan tersebut berlangsung begitu lama tanpa terdeteksi.

4. Kasus David Parker Ray – “Toy Box Killer” (Amerika Serikat)

David Parker Ray. Ray membangun ruang penyiksaan khusus di sebuah trailer kedap suara. Ia menculik dan menyiksa perempuan selama bertahun-tahun.

Banyak korban diduga tidak pernah ditemukan. Kasusnya menjadi terkenal karena metode penyiksaan yang direncanakan secara sistematis dan penggunaan obat-obatan untuk membuat korban kehilangan ingatan.

5. Kasus Sylvia Likens (Amerika Serikat, 1965)

Sylvia Likens. Remaja berusia 16 tahun ini disiksa selama berbulan-bulan oleh wali yang dititipi untuk merawatnya, bersama sejumlah anak lain yang ikut melakukan kekerasan.

Kasus ini sering dipelajari karena menunjukkan bagaimana kekejaman kelompok dapat berkembang dalam lingkungan sosial yang permisif.

6. Kasus Elisabeth Smart (Amerika Serikat, 2002)

Elisabeth Smart. Diculik dari rumahnya saat berusia 14 tahun dan disekap selama sembilan bulan. Ia mengalami kekerasan dan kontrol psikologis ekstrem sebelum akhirnya berhasil ditemukan hidup.

Kasus ini menunjukkan bagaimana korban dapat tetap berada dalam kendali pelaku meskipun sesekali berada di ruang publik.

7. Kasus Colleen Stan – “The Girl in the Box” (Amerika Serikat)

Colleen Stan. Stan disekap selama sekitar tujuh tahun. Pada sebagian besar waktunya ia dipaksa hidup dalam kotak kayu sempit di bawah tempat tidur pelaku.

Kasus ini terkenal karena manipulasi psikologis ekstrem yang membuat korban merasa tidak mungkin melarikan diri.

8. Kasus Natascha Kampusch (Austria, 1998–2006)

Natascha Kampusch. Diculik ketika berusia 10 tahun dan ditahan selama delapan tahun di ruang bawah tanah tersembunyi.

Ia akhirnya berhasil melarikan diri ketika pelaku lengah. Kasus ini menjadi salah satu penyekapan anak paling terkenal di Eropa.

9. Kasus Kelly Anne Bates (Inggris, 1996)

Kelly Anne Bates. Remaja berusia 17 tahun ini mengalami penyiksaan berkepanjangan oleh pasangannya sebelum dibunuh.

Hakim dalam persidangan menyebut tingkat kekerasan yang dialaminya sebagai salah satu yang paling mengerikan yang pernah mereka temui.

10. Kasus Shanda Sharer (Amerika Serikat, 1992)

Shanda Sharer. Gadis berusia 12 tahun ini diculik oleh sekelompok remaja perempuan, kemudian mengalami penyiksaan selama berjam-jam sebelum dibunuh. Kasus ini mengejutkan publik karena pelakunya juga masih berusia remaja.

11. Kasus Fred dan Rose West (Inggris)

Fred West dan Rosemary West. Pasangan ini melakukan penyiksaan, kekerasan seksual, penyekapan, dan pembunuhan terhadap sejumlah korban selama bertahun-tahun. Banyak jasad ditemukan dikubur di sekitar rumah mereka di Gloucester.

12. Kasus Lawrence Bittaker dan Roy Norris (Amerika Serikat)

Lawrence Bittaker dan Roy Norris. Keduanya menculik, menyiksa, dan membunuh beberapa remaja perempuan di California pada akhir 1970-an. Kasus ini terkenal karena tingkat sadisme yang ekstrem dan dokumentasi audio yang dibuat pelaku.

Mengapa kasus-kasus ini sering dianggap “di luar batas normal”?

Dalam banyak kasus tersebut terdapat beberapa pola yang sama Dehumanisasi korban — korban tidak lagi dipandang sebagai manusia yang setara.

Kontrol total — pelaku menikmati kekuasaan penuh atas hidup korban.

Kekerasan bertahap — tindakan semakin brutal seiring waktu.

Isolasi korban — korban diputus dari dunia luar.

Ketiadaan empati — pelaku tidak menunjukkan rasa bersalah saat melakukan kekerasan.

Normalisasi kekejaman — dalam beberapa kasus, keluarga atau lingkungan mengetahui sesuatu tetapi tidak bertindak.

Bagi banyak kriminolog, yang paling mengerikan bukan hanya kekerasan fisiknya, melainkan fakta bahwa sebagian pelaku mampu menjalani kehidupan sehari-hari secara tampak normal sambil melakukan kekejaman tersebut selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Itu yang membuat kasus-kasus seperti Ariel Castro, Josef Fritzl, dan Junko Furuta terus dipelajari hingga sekarang termasuk mungkin Taufk Hidayat yang tak sesuai makna namanya.

Mengapa terjadi?

Dalam perspektif psikologi, perilaku abusif umumnya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari pola relasi yang ditandai oleh kebutuhan untuk mengontrol, mendominasi, atau menundukkan orang lain.

Psikolog klinis menjelaskan bahwa pelaku kekerasan sering kali memandang korban bukan sebagai individu yang memiliki hak, perasaan, dan kehendak yang setara, melainkan sebagai objek yang dapat dikendalikan.

Dalam kondisi tertentu, rendahnya empati, ketidakmampuan mengelola emosi, kecenderungan narsistik, serta pengalaman kekerasan yang pernah dialami sebelumnya dapat menjadi faktor yang memperkuat munculnya perilaku abusif.

Dari sudut pandang kriminologi, kekerasan yang berlangsung berulang dan dalam jangka waktu panjang sering berkaitan dengan apa yang disebut sebagai proses dehumanisasi korban.

Kriminolog menemukan bahwa ketika pelaku berhasil mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya, kontrol terhadap korban menjadi semakin besar dan tindakan kekerasan cenderung mengalami eskalasi.

Pada tahap ini, pelaku tidak lagi sekadar melakukan penganiayaan, tetapi mulai membangun sistem kontrol yang membuat korban kehilangan kebebasan, kepercayaan diri, bahkan kemampuan untuk mencari pertolongan. Karena berlangsung secara bertahap, pelaku sering kali merasa tindakannya sebagai sesuatu yang normal atau dapat dibenarkan.

Sementara itu, para ahli sosiologi melihat bahwa perilaku abusif tidak hanya berkaitan dengan faktor individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang permisif terhadap kekerasan.

Ketika keluarga, tetangga, atau komunitas mengabaikan tanda-tanda kekerasan, ruang bagi pelaku untuk melanjutkan tindakannya menjadi semakin terbuka.

Karena itu, kasus-kasus penyekapan dan penganiayaan berkepanjangan sering dipahami sebagai kombinasi antara faktor psikologis pelaku, lemahnya kontrol sosial, serta kegagalan lingkungan dalam mendeteksi dan merespons gejala kekerasan sejak tahap awal.

Redaksi

*)Dikutip dari berbagai sumber