PELAKITA.ID – Kabupaten Gowa kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah penyangga pangan utama di Sulawesi Selatan.
Sepanjang tahun 2024, produksi padi sawah di daerah ini mencapai 429.119 ton dengan total luas panen mencapai 68.115,10 hektare dan produktivitas rata-rata sebesar 6,30 ton per hektare.
Data yang tercantum dalam publikasi Kabupaten Gowa Dalam Angka 2025 menunjukkan bahwa sektor pertanian, khususnya komoditas padi sawah, masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di berbagai kecamatan.
Kecamatan Bajeng menjadi kontributor terbesar produksi padi sawah di Kabupaten Gowa. Wilayah ini menghasilkan 59.906 ton gabah dari luas panen 8.558 hektare dengan produktivitas mencapai 7 ton per hektare. Angka tersebut menjadikan Bajeng sebagai sentra produksi padi terbesar di kabupaten ini.
Posisi kedua ditempati Kecamatan Pallangga dengan produksi 45.549 ton, disusul Kecamatan Bontonompo yang menghasilkan 39.592 ton.
Sementara itu, Kecamatan Bontonompo Selatan mencatatkan produksi sebesar 29.421 ton dan Kecamatan Pattallassang sebesar 28.903 ton.
Di kawasan dataran tinggi, produksi padi juga menunjukkan kontribusi yang cukup signifikan. Kecamatan Tombolo Pao menghasilkan 25.779 ton, Tompobulu 25.461 ton, dan Bontolempangan 22.998 ton.
Wilayah-wilayah ini menjadi penopang penting produksi pangan di bagian timur Kabupaten Gowa.
Selain volume produksi, tingkat produktivitas lahan juga menjadi indikator penting dalam mengukur keberhasilan budidaya padi.
Terdapat enam kecamatan yang mencatat produktivitas tertinggi di Kabupaten Gowa, masing-masing mencapai 7 ton per hektare. Kecamatan tersebut adalah Bajeng, Bajeng Barat, Pallangga, Bontonompo, Bontonompo Selatan, dan Somba Opu.
Produktivitas tersebut berada di atas rata-rata kabupaten yang sebesar 6,30 ton per hektare. Tingginya produktivitas menunjukkan efektivitas penggunaan lahan, penerapan teknologi pertanian, serta dukungan sarana produksi yang relatif baik di wilayah tersebut.
Sebaliknya, Kecamatan Parigi mencatat produktivitas terendah yakni 5,50 ton per hektare.
Produksi totalnya hanya mencapai 2.773 ton meskipun memiliki luas panen sekitar 2.766,96 hektare. Angka ini menjadi perhatian karena luas panennya relatif besar dibandingkan beberapa kecamatan lain yang menghasilkan produksi jauh lebih tinggi.
Di antara kecamatan lain, Barombong menghasilkan 24.834 ton dengan produktivitas 6,70 ton per hektare, sementara Bontomarannu menghasilkan 11.584 ton dengan produktivitas yang sama.
Kecamatan Bungaya mencatat produksi 16.103 ton dengan produktivitas 6,40 ton per hektare, sedangkan Parangloe menghasilkan 11.314 ton dengan produktivitas 6,11 ton per hektare.
Jika dikonversi menjadi beras, produksi gabah sebesar 429.119 ton tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 270 ribu hingga 280 ribu ton beras, tergantung pada tingkat rendemen penggilingan yang umumnya berkisar antara 62 hingga 65 persen.
Jumlah ini menunjukkan bahwa Kabupaten Gowa memiliki kapasitas besar sebagai daerah pemasok kebutuhan beras bagi Sulawesi Selatan.
Pencapaian produksi tersebut sekaligus menjadi indikator bahwa sektor pertanian masih memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
Tantangan ke depan adalah mempertahankan produktivitas di wilayah sentra produksi serta meningkatkan hasil panen di kecamatan yang masih memiliki produktivitas di bawah rata-rata kabupaten.
Dengan luas lahan pertanian yang masih cukup besar dan dukungan petani yang tersebar di hampir seluruh kecamatan, Kabupaten Gowa berpeluang terus memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sulawesi Selatan.
Catatan: Angka 429.119 ton merupakan produksi gabah/padi sawah. Jika yang dimaksud adalah produksi beras siap konsumsi, maka dengan asumsi rendemen penggilingan 62–65 persen, produksi beras Gowa tahun 2024 diperkirakan berada pada kisaran 266.000–279.000 ton beras.









