Di Desa Gattareng yang terdiri dari enam dusun, telah dibentuk enam kelompok tani yang tergabung dalam wadah bernama KOGABA (Kopi Gattareng Barru). Nama ini pemberian Ibu Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari.
Andi Maskur Abdullah Ruki, petani kopi Desa Gattareng, Pujananting, Barru
PELAKITA.ID – Andi Maskur Abdullah Ruki, petani kopi muda asal Desa Gattareng, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, optimistis daerahnya memiliki masa depan cerah sebagai salah satu sentra kopi unggulan di Sulawesi Selatan.
Kepada Kamaruddin Azis dari Pelakita.ID dia menjelaskan linimasa jejak historis komoditas kopi di ketinggian Gattareng, Kecamatan Pujananting, kawasan yang disebut sebagai sentra kopi terbaik di Barru termasuk bagaimana hasil kopi bantuan dari pemerintah provinsi dan bantuan Kepala Daerah di Barru.
Mari simak penjelasannya.
Gattareng dan denyut kopi
Menurut Andi Maskur, kondisi geografis Gattareng yang berada pada ketinggian sekitar 800–1.200 meter di atas permukaan laut sangat ideal untuk pengembangan kopi, terutama jenis Arabika.
“Di Gattareng ini ada dua jenis kopi yang berkembang, yaitu Arabika dan Robusta. Untuk Arabika, potensinya sangat bagus karena didukung oleh ketinggian wilayah yang cocok,” sebut Maskur.
“Sementara di Dusun Bendrong, beberapa petani juga berhasil mengembangkan Robusta dengan hasil yang menggembirakan,” ungkapnya.
Maskur menjelaskan bahwa bantuan bibit kopi yang pernah diberikan saat Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari masih menjabat Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan kini mulai menunjukkan hasil.
“Tanaman kopi yang berumur sekitar tiga tahun tumbuh dengan baik dan sebagian telah memasuki masa panen,” ucap Maskur.
Menurutnya, kopi sebenarnya bukan tanaman baru bagi masyarakat Gattareng.
Sejak akhir 1990-an, kopi Arabika Gayo yang bibitnya didatangkan dari Aceh telah dibudidayakan oleh warga. Namun perkembangan kopi selama bertahun-tahun terhambat oleh persoalan ternak yang bebas berkeliaran dan merusak tanaman masyarakat.
“Dulu kopi sudah lama ditanam, tetapi sulit berkembang karena tanaman sering rusak oleh ternak. Akibatnya masyarakat hanya menanam untuk konsumsi sendiri dan tidak pernah panen dalam jumlah besar,” kata Maskur.
“Setelah penertiban ternak berjalan oleh Perda, di masa Bupati Andi Ina dan Wakil Bupati Abustan masyarakat mulai kembali menanam kopi secara serius,” jelasnya.
Perubahan kondisi tersebut mulai terlihat dalam dua tahun terakhir.
Beberapa petani telah membuktikan bahwa kopi dapat menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan. Bahkan salah seorang petani di Dusun Bendrong berhasil memanen sekitar dua ton kopi dari kebunnya.

Motivasi buat generasi muda desa
Keberhasilan itu menjadi pemicu semangat bagi generasi muda desa.
Maskur mengaku aktif mengajak anak-anak muda, termasuk lulusan SMA hingga sarjana, untuk melihat kopi sebagai peluang usaha dan lapangan kerja masa depan.
“Di Gattareng masih ada sekitar 200 hektare lahan tidur yang belum dimanfaatkan. Saya selalu mengajak teman-teman muda untuk menanam kopi. Daripada menunggu pekerjaan yang belum tentu ada, kenapa tidak membangun usaha sendiri dari potensi desa?” katanya.
Ia menjelaskan bahwa satu hektare lahan Arabika dapat ditanami sekitar 3.500–4.000 pohon.
Dengan asumsi produksi rata-rata satu kilogram per pohon, potensi hasil panen dapat mencapai tiga ton per hektare.
Jika harga kopi berada pada kisaran Rp50.000 per kilogram, petani berpeluang memperoleh pendapatan yang sangat menjanjikan.
“Kalau satu hektare menghasilkan tiga ton dan harga rata-rata Rp50 ribu per kilogram, itu sudah bisa mencapai sekitar Rp150 juta per tahun. Ini yang saya sampaikan kepada anak-anak muda agar mereka melihat pertanian kopi sebagai peluang usaha yang layak,” ungkapnya.
Selain aspek budidaya, Maskur juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pascapanen.
Selama ini sebagian besar petani masih menggunakan metode tradisional dalam pengeringan kopi, seperti menjemur langsung di atas terpal yang diletakkan di tanah.
Setelah mendapat pendampingan dari penyuluh pertanian, mereka mulai menggunakan rak atau alas berjaring sehingga biji kopi tidak bersentuhan langsung dengan tanah.
“Ternyata hasilnya berbeda. Kualitas dan cita rasa kopi menjadi lebih baik. Dari sini kami mulai memahami bahwa kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh tanaman, tetapi juga oleh cara pengolahannya,” katanya.
Pemda Barru peduli
Atas dorongan Pemerintah Kabupaten Barru, khususnya Bupati Andi Ina Kartika Sari, Maskur kemudian membentuk kelompok-kelompok tani kopi yang berbasis pemuda.
“Di Desa Gattareng yang terdiri dari enam dusun, telah dibentuk enam kelompok tani yang tergabung dalam wadah bernama KOGABA (Kopi Gattareng Barru),” ucap Maskur.
Nama tersebut, menurut Maskur, diberikan langsung oleh Bupati Barru sebagai simbol semangat baru kebangkitan kopi Gattareng.
Melalui kelompok ini, para pemuda didorong untuk tidak hanya menjadi petani, tetapi juga menjadi wirausahawan yang mampu mengembangkan usaha kopi dari hulu hingga hilir.
Meski demikian, tantangan masih ada.
“Saat ini kebutuhan utama masyarakat adalah ketersediaan bibit untuk memenuhi lahan-lahan yang telah dipersiapkan. Banyak lahan sudah dibuka dan siap ditanami, namun belum seluruh kelompok memperoleh bantuan bibit,” ucapnya.
“Kami berharap dukungan bibit bisa terus berlanjut,” kata dia.

“Semangat masyarakat, terutama anak-anak muda, sudah sangat tinggi. Lahan sudah tersedia, kelompok sudah terbentuk, tinggal bagaimana kebutuhan bibit dan pendampingan bisa dipenuhi agar Gattareng benar-benar berkembang menjadi sentra kopi baru di Kabupaten Barru,” tutupnya.
Bagi Andi Maskur, kopi bukan sekadar komoditas pertanian.
Lebih dari itu, kopi adalah jalan untuk menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi desa, dan memberikan harapan baru bagi generasi muda agar dapat membangun masa depan tanpa harus meninggalkan kampung halamannya.
___
Penulis Kamaruddin Azis















