Bagaimana Kopi Gattareng jadi asa kaum muda dan basis ekonomi kreatif di desa.
PELAKITA.ID – Selama ini, Kabupaten Barru mungkin hanya membekas di ingatan sebagai “daerah perlintasan” bagi mereka yang menempuh perjalanan trans-Sulawesi. Seringkali, pandangan kita terpaku pada jalanan pesisir yang sibuk dan berdebu.
Sosodara, jika Anda bersedia mengarahkan pandangan sedikit lebih tinggi ke arah kabut yang menyelimuti Pujananting, Anda akan menemukan sisi lain dari Barru sebagai sebuah “Kota Hibrida”.
Di sanalah, pada ketinggian 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Gattareng menyimpan rahasia besar: sebuah kebangkitan ekonomi yang dijuluki “emas hitam.”
Musuh Tak Terduga
Gattareng bukan pemain baru dalam dunia kopi. Sebuah jejak sejarah yang menarik mencatat bahwa bibit Arabika Gayo yang legendaris telah menempuh perjalanan jauh dari Aceh hingga mendarat di tanah Pujananting sejak akhir 1990-an.
Selama puluhan tahun, potensi ini layu sebelum berkembang.
Bukan karena alam yang menolak, melainkan karena sebuah perbedaan praktik sosial-budaya yang klasik di pedesaan: benturan antara tradisi ternak liar dan pertanian atau perkebunan modern.
Tanaman kopi yang baru tumbuh seringkali berakhir menjadi santapan ternak yang dilepasliarkan.
Titik balik baru tercipta ketika pemerintah melakukan intervensi melalui social engineering yang cerdas—sebuah Peraturan Daerah (Perda) penertiban ternak di masa awal pemerintahan Bupati Andi Ina Kartika Sari dan wakilnya Abustan Andi Bintang.
Andi Maskur Abdullah Ruki, seorang penggerak kopi muda, memberikan kesaksiannya:
“Dulu kopi sudah lama ditanam, tetapi sulit berkembang karena tanaman sering rusak oleh ternak. Akibatnya masyarakat hanya menanam untuk konsumsi sendiri dan tidak pernah panen dalam jumlah besar. Setelah penertiban ternak berjalan oleh Perda, di masa Bupati Andi Ina dan Wakil Bupati Abustan masyarakat mulai kembali menanam kopi secara serius.”
Membangun Startup di Atas Lahan Tidur
Bagi para pemuda di Gattareng, bertani bukan lagi soal mencangkul dengan peluh yang sia-sia. Ini adalah soal kalkulasi bisnis yang prestisius.
Ada sekitar 200 hektare lahan tidur yang kini mulai “dibangunkan”. Untuk memberikan gambaran betapa menggiurkannya potensi ini, mari kita bedah matematika ekonominya:
-
Kapasitas Lahan: 1 hektare mampu menampung 3.500 hingga 4.000 pohon.
-
Produktivitas: Dengan target 1 kilogram per pohon, satu hektare bisa menghasilkan 3 ton kopi.
-
Potensi Pendapatan: Dengan harga rata-rata Rp50.000 per kilogram, seorang petani bisa meraup Rp150 juta per tahun per hektare.
Data ini bukan sekadar teori di atas kertas.
Kata Andi Maskur, di Dusun Bendrong, seorang petani telah membuktikan keberhasilan nyata dengan memanen sekitar 2 ton kopi dari kebunnya.
Keberhasilan ini menjadi bukti autentik bahwa tanah Gattareng adalah “tambang emas” yang selama ini terabaikan.
Kebangkitan Kopi Gattareng juga ditandai dengan perubahan mindset yang radikal dalam proses pascapanen.
Jika dulu petani terbiasa menjemur biji kopi langsung di atas tanah atau terpal—yang berisiko merusak aroma dan rasa—kini mereka beralih ke metode modern menggunakan rak atau alas berjaring.
Inilah rahasia di balik cita rasa kopi premium. Dengan rak berjaring, sirkulasi udara menjadi sempurna dan biji kopi terhindar dari kontaminasi tanah.
Perubahan sederhana namun krusial ini menunjukkan bahwa petani Gattareng kini telah memahami standar specialty coffee yang mampu bersaing di pasar dunia. Peran penyuluh pertanian menjadi jembatan penting dalam mentransformasi kebiasaan lama menjadi standar industri yang berkelas.
KOGABA: Branding Masa Depan Petani Milenial
Untuk menyatukan semangat ini, dibentuklah sebuah wadah bernama KOGABA (Kopi Gattareng Barru).
Nama ini bukan sekadar akronim, melainkan identitas yang diberikan langsung oleh Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, untuk menaungi kelompok tani di enam dusun.
KOGABA adalah simbol perlawanan terhadap stigma bahwa menjadi petani adalah pekerjaan kelas dua. Andi Maskur secara konsisten mendorong para lulusan SMA hingga sarjana untuk kembali ke desa dan memperlakukan lahan tidur sebagai aset perusahaan.
“Di Gattareng masih ada sekitar 200 hektare lahan tidur yang belum dimanfaatkan. Saya selalu mengajak teman-teman muda untuk menanam kopi. Daripada menunggu pekerjaan yang belum tentu ada, kenapa tidak membangun usaha sendiri dari potensi desa?”
Keberhasilan Gattareng hari ini adalah buah dari komitmen politik jangka panjang.
Dukungan Andi Ina Kartika Sari telah dimulai sejak beliau menjabat sebagai Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan melalui bantuan bibit, dan berlanjut secara konsisten hingga kepemimpinannya sebagai Bupati Barru.
Salah satu bukti nyata sinergi ini adalah distribusi bibit bantuan Pemerintah Kabupaten Barru pada Desember 2025 yang lalu di Dusun Lempang.
Tantangan masih membentang. Minat masyarakat yang meledak menciptakan tantangan baru: keterbatasan bibit.
Lahan-lahan yang telah dibuka kini menanti dukungan berkelanjutan agar seluruh 200 hektare potensi lahan tersebut benar-benar menghijau dan produktif.
Pembaca sekalian, Gattareng sedang menggambar peta jalan takdirnya. Dari sebuah desa di puncak bukit yang sering terlupakan, kini bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan baru yang menjanjikan kemandirian bagi anak muda Sulawesi Selatan.
Di sini, kopi adalah jalan pulang; sebuah peluang karir yang mandiri tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran.
Sebagaimana asa yang sedang dilambungkan oleh Andi Maskur dan kawan-kawan generasi muda desa, baik melalui kelompok petani kopi yang ada maupun ide pribadinya yang sangat ingin melihat desanya mandiri dan maju karena potensi kopi yang dikelola dengan baik.
Kisah dari awan Pujananting ini mengajak kita untuk ikut tersenyum membaca potensi pengembangan kopi Barru.
Pemda Barru telah mendeklarasikan untuk memaksimalkan potensi kopi ini, mari berkolaborasi, menyambut asa dari Gattareng Pujananting itu. Di sana ada Andi Maskur dan kelompoknya siap menjadi mitra strategis anda.
___
Penulis Kamaruddin Azis









